Yazhid Blog

.

Thursday, 7 December 2017

REVIEW JURNAL TRANSUDAT DAN EKSUDAT







JUDUL    : Analisis Cairan Darah (Transudat) Dan Serum Campuran Eksudat Di Penderita Dengan Rembesan Selaput Paru (Efusi Pleura)

PENULIS        : Didi Irwadi , Sulina Y. Wibawa , Hardjoeno
REVIEWER    : Ld. Yazid B,
TAHUN           : 2017
TUJUAN         
Tujuan penelitian ini untuk menganalisis jenis cairan selaput paru dari pelbagai penyakit yang dapat menyebabkan rembesan selaput paru. Yaitu dengan menyebabkan rembesan selaput paru. Yaitu dengan menilai kadar glukosa, protein keseluruhan, LDH dan hitung leukosit dan membandingkan dengan kadar bahan yang sama dari serum penderita.

METODE       
Rancangan penelitian ini adalah potong silang (cross sectional) dan dilaporkan dalam bentuk pemerian (deskriptif). Data diperoleh dari catatan Laboratorium Patologi Klinik di Sub Unit Cairan Tubuh dan Rekam Medik Penderita di RS. Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, kurun waktu (periode) Juni 2006 sampai dengan Juni 2007.
Cairan selaput paru yang dianalisis adalah cairan yang didapatkan melalui penusukan pisau ke rangka dada atau torakosentesis penderita rawat jalan maupun rawat inap. Analisis cairan selaput paru dilakukan berdasarkan uji makroskopis, mikroskopis dan uji kimiawi yang ditentukan secara kendali mutu (kualitatif). Glukosa sewaktu dan protein keseluruhan (total) serum penderita diperiksa. Data disajikan dalam bentuk tabel dan dianalisis dengan uji Anova dan One tail T-Test menggunakan program SPSS indows versi 11,5.

LATAR BELAKANG
Keluar atau merembesnya cairan selaput paru (efusi pleura) adalah penumpukan cairan di dalam rongga selaput paru yang disebabkan oleh proses mencampurnya serum (eksudasi) atau cairan darah (transudasi) yang berlebihan dari permukaan selaput paru. Rembesan cairan selaput paru (efusi pleura bukanlah merupakan diagnosis penyakit, melainkan gejala penyakit berat (serius) yang dapat mengancam jiwa.
Berbagai penyakit bisa menimbulkan rembesan selaput paru. Di antaranya gagal jantung berbendung (kongestif), radang paru (pneumonia), sirosis hepatik, himpunan sindrom nefrotik, penyakit jangkitan (infeksi) baik oleh jamur, parasit, bakteri maupun virus. Namun, yang paling sering ditemukan adalah akibat proses keganasan dan tuberkulosis.
Dalam keadaan patologis rongga selaput paru dapat menampung beberapa liter cairan dan udara. Hal ini terjadi akibat peningkatan tekanan hidrostatik bersistem (sistemik), penurunan tekanan osmotik koloid darah akibat hipoproteinemia, kerusakan dinding pembuluh darah, gangguan penyerapan kembali cairan selaput paru oleh saluran pembuluh getah bening disebabkan oleh berbagai penyakit. Secara umum cairan selaput paru digolongkan dalam cairan darah (transudat) dan serum campuran (eksudat). Terbentuknya cairan darah dan serum campuran bergantung dari penyebab terjadinya efusi pleura.
Perbedaan transudat dan eksudat berdasarkan analisis cairan selaput paru (pleura) dengan pemeriksaan makroskopis, mikroskopis dan uji (tes) kimiawi di antaranya kadar glukosa, protein keseluruhan (total), laktat dehidrogenase (LDH), amilase, kolesterol dan C-Reaktif Protein.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Sampel cairan selaput paru dianalisis berdasarkan uji makroskopis, mikroskopis dan uji kimiawi serta pemeriksaan protein total dan glukose sewaktu terhadap serum penderita. Dari 87 sampel yang diteliti, terdiri atas laki-laki sebanyak 48 orang (55,2%) dan perempuan 39 orang (44,8%), dengan rentang usia 14 tahun hingga 80 tahun. Kejadian rembesan selaput paru terutama pada usia produktif (30–60 tahun) yakni 35%.
Pemeriksaan mikroskopis didapatkan sel leukosit jenis mononuklear lebih banyak (dominan) dibandingkan dengan polimornuklear baik untuk jenis cairan darah maupun serum campuran. Ini menunjukkan proses berlangsung penyakit bersifat menahun (kronis).
Beberapa sampel yang dibiakkan kuman (kultur), dan didapatkan beberapa jenis kuman terutama di jenis cairan serum campuran. Setelah membiakkan kuman dilanjutkan dengan uji kepekaan (sensitifitas) untuk mengetahui jenis obat yang berdaya (potensi) tinggi membunuh kuman penyebab. Dari 11 sampel cairan selaput paru yang dibiakkan oleh karena penyakit tuberkulosis hanya 1 yang menunjukkan BTA positif. Hal ini disebabkan karena cairan rembesan (efusi) timbulnya bukanlah ada bakteri tuberkulosis, tetapi lebih disebabkan oleh aksi balik kelebih-pekaan (reaksi hipersensitivitas) terhadap tuberkuloprotein.

KESIMPULAN
Rembesan selaput paru lebih banyak ditemukan pada usia produktif. Berdasarkan jenis cairan, lebih banyak yang bersifat serum campuran (eksudat) dibandingkan dengan cairan darah (transudat). Penyakit tuberkulosis dan keganasan merupakan penyebab terbanyak jenis serum campuran dan penyakit gagal jantung berbendung (kongestif) di jenis cairan darah.
Kadar glukosa cairan darah dibandingkan dengan serum campuran cairan selaput paru lebih tinggi, sedangkan kadar LDH, protein total dan leukosit lebih rendah. Umumnya kasus rembesan selaput paru yang diderita bersifat menahun dengan lebih banyak ditemukan jenis leukosit mononuklear.
Tidak ada perbedaan bermakna kadar glukose, protein keseluruhan (total), LDH dan leukosit baik dalam kelompok cairan darah maupun serum campuran. Berbagai jenis kuman dapat ditemukan dalam cairan selaput paru.







TUGAS KIMIA KLINIK
REVIEW JURNAL TRANSUDAT DAN EKSUDAT

 
OLEH

LAODE YAZID BASHAR




SEKOLAH TINGGI ILMU KESEAHATAN MANDALA WALUYA
DIV ANALIS KESEHATAN
KENDARI

2017
Comments
0 Comments

No comments

Post a Comment

Recent Posts