Yazhid Blog

.

Monday, 20 March 2017

BAHAYA PENYAKIT DIARE


Tinjauan tentang penyakit diare

1.  Pengertian  Diare
Secara opresional didefinisikan bahwa diare adalah buang air besar lembek cair bahkan dapat berupa air saja yang frekwensinya lebih sering dari biasa atau 3 kali sampai lebih dalam sehari (Pedoman Pelaksanaan Program P2 Diare). Menurut Suharyono (1982), diare adalah buang air besar dengan frekwensi yang tidak normal (meningkat)  dan konsistensi tinja yang lebih lembek atau cair. Diare biasanya mempunyai masa incubasi antara satu hari sampai  dua minggu atau lebih.
Diare dapat diakibatkan oleh 2(dua) sumber ;
a.       Diare infeksi : diare yang disebabkan oleh infeksi kuman seperti bacteri, parasit dan virus.
b.      Diare non infeksi yaitu diare yang disebabkan bukan karena infeksi kuman tetapi disebabkan oleh kurang gizi, allergi maupun intoleran makanan.

2. Epidemiologi  Penyakit  Diare.
 Peyebaran kuman yang menyebabkan diare. Kuman penyebab diare biasanya menyebar melalui fecal oral antara lain melalui makanan/minuman yang tercemar tinja dan atau kontak langsung dengan tinja penderita.
Beberapa perilaku dapat menyebabkan penyebaran kuman enterik dan meningkatkan resiko terjadinya diare, perilaku tersebut antara lain : 
a.  Bayi yang tidak diberi ASI  resiko untuk menderita diare lebih  besar dari pada yang diberi ASI penuh, kemungkinan menderita dehidrasi berat lebih besar.
b. Menggunakan botol susu, penggunaan botol ini memudahkan pencemaran oleh kuman oleh karena botol susah dibersihkan.
c. Menyimpan makanan masak pada suhu kamar. Bila makanan disimpan beberapa jam pada suhu kamar, makanan akan tercemar dan kuman akan berkembang biak.
d. Menggunakan air minum yang tercemar. Air mungkin sudah tercemar dari sumbernya atau pada saat disimpan dirumah. Pencemaran dirumah dapat terjadi kalau tempat penyimpanan tidak tertutup atau apabila tangan yang tercemar menyentuh air pada saat mengambil air dari tempat penyimpanan.
e. Tidak mencuci tangan sesudah buang air besar dan sesudah membuang tinja anak atau sebelum makan dan menyuapi anak.
f.  Tidak membuang tinja ( termasuk tinja bayi ) dengan benar. Sering  beranggapan bahwa tinja bayi tidaklah berbahaya, padahal sesungguhnya mengandung virus atau bakteri dalam jumlah besar. Selain itu tinja binatang dapat pula menyebabkan infeksi pada manusia.

3. Faktor pejamu yang meningkatkan kerentanan terhadap diare.
Beberapa faktor pejamu dapat mengakibatkan insiden, beratnya penyakit dan lamanya diare. Faktor – faktor tersebut adalah :
a.Tidak memberikan ASI sampai 2 tahun.        
ASI mengandung antibodi yang dapat melindungi kita terhadap berbagai kuman penyebeb diare seperti : Shigella dan V. Cholerae.
b.Kurang gizi. Bertanya penyakit, lama dan risiko kematian karena diare  meningkat pada anak – anak yang menderita gangguan gizi, terutama pada penderita gizi buruk.
c.Campak, Diare dan disentri terjadi dan berakibat berat pada anak– anak yang sedang menderita campak dalam 4 minggu terakhir. Hal ini sebagai akibat dari penurunan kekebalan tubuh penderita.
d.Imunodefisiensi / imunosupresi. Keadaan ini mungkin hanya berlangsung sementara, misalnya sesudah infeksi virus ( seperti campak ) atau mungkin yang berlangsung lama seperti pada penderita AIDS ( Autoimmune Deficiency Syndrome ). Pada anak immunosupresi berat, diare dapat terjadi karena kuman yang tidak patogen dan mungkin juga berlangsung lama. Secara proporsional, diare lebih banyak terjadi pada golongan Balita (55%).

4. Surveilans Epidemiologi.
Surveilans epidemiologi penyakit diare dapat diartikan sebagai kewaspadaan dalam mengamati timbulnya dan penyebaran penyakit diare serta faktor – faktor yang mempengaruhi pada masyarakat yang kegiatannya dilakukan secara terus menerus, cepat dan tepat atau dengan kata lain bahwa surveilans adalah pengumpulan data atau informasi untuk kegiatan menentukan tindakan. Adapun tujuan dari pada surveilans ini adalah :
a. Diketahuinya situasi epidemiologi dan besarnya masalah penyakit diare di masyarakat, sehingga dapat dibuat perencanaan dalam pencegahan, penanggulangan maupun pemberantasannya di semua pelayanan.
b. Diketahuinya informasi yang terbaru dan benar mengenai penyakit diare di masyarakat.
c. Dilaksanakannya deteksi dini terhadap peningkatan  penderita  diare serta faktor – faktor yang mempengaruhinya.
d. Dilaksanakannya tatalaksana penderita diare sesegera mungkin, untuk mencegah kematian diare dan meluasnya KLB diare.

5. Patofisiologi  Penyakit  Diare.

Sebagaimana diketahui bahwa etiologi diare dapat dikelompokan dalam 6 (enam) besar yaitu faktor infeksi, faktor malabsorbsi, faktor keracunan, faktor alergi, faktor imunodefisiensi dan faktor psikologis dan setiap penyebab tersebut pathofisiologinya juga berbeda pula, dari etiologi tersebut kurang lebih 30 – 40 % disebabkan oleh virus ( Ilmu Kesehatan Anak,1991 ). Adapun pathofisiolgi diare yang disebabkan oleh faktor infeksi yaitu virus dimana virus masuk kedalam traktus digestivus bersama makanan/ minuman, kemudian berkembang biak didalam usus. Setelah itu virus masuk kedalam epitel usus halus dan menyebabkan kerusakan bagian apikel vili usus halus. Sel dari bagian kripta yang belum matang berbentuk koloid atau gepeng, akibatnya sel-sel epitel killanjut akan terjadi diare osmotik. Vili usus kemudian akan memendek  sehingga kemampuannya untuk menyerap dan mencerna makananpun akan berkurang. Pada saat inilah biasanya diaren mulai timbul. Setelah itu sel retikulum akan melebar, dan kemudian akan terjadi infiltrasi sampai terjadi penyembuhan.
Comments
0 Comments

No comments

Post a Comment

Recent Posts