Yazhid Blog

.

Sunday, 4 December 2016

MATERI JURNAL ANTIBIOTIK

Tinjauan Umum Antibiotik A. PENGERTIAN ANTIBIOTIK      Antibiotika adalah zat -  zat kimia yang dihasilkan fungi dan bakteri... thumbnail 1 summary

Tinjauan Umum Antibiotik


A. PENGERTIAN ANTIBIOTIK

     Antibiotika adalah zat -  zat kimia yang dihasilkan fungi dan bakteri, yang meiliki khasist mematikan atau menghambat pertumbuhan bakteri,  sedangkan toksisitas bagi manusia relatif kecil. Turunan zat tersebut, yang dibuat secara semisintetis, begitu pula senyawa sintetis dengan khasiat antibakteri lazimnya. ( Rahardja, 2001)
     Antibiotika  berbeda dalam susunan kimia dan cara kerjanya. Dari sekian banyak antibiotika yang telah berhasil ditemukan, hanya beberapa saja yang cukup tidak toksik untuk dapat dipakai dalam pengobatan, kebanyakan dari genus Bacillus, Penicillium, dan Streptomyces (Lud Waluyo, 2004). 
1. Pembuatan Antibiotik
    Mikroorganisme dapat menghasilkan obat untuk penyembuh penyakit yang disebabkan oleh mikroba maupun penyakit karena gangguan fisiologis.  Produk metabolisme yang dihasilkan oleh mikroorganisme tertentu yang jumlahnya sangat kecil bersifat menghambat atau merusak mikroorganisme lain. Produk metabolisme tersebut dinamakan antibiotik.
Pembuatan antibiotik terdiri dari beberapa tahap sebagai berikut:
a. Mikroorganisme penghasil antibiotik dikembang biakkan.
b. Mikroorganisme dipindahkan ke dalam bejana fermentasi yang menyerupai tangki besar.
    Di tempat ini, mikroorganisme dipacu dengan lingkungan yang cocok agar berkembang    biak secara cepat.
c.Dari cairan biakan itu, antibiotika diekstrasi dan dimurnikan, selanjutnya diujikan dengan urutan sebagai berikut:
   1. Zat diuji dalam tabung reaksi, berkhasiat membasmi kuman atau tidak.
   2. Kemudian diuji pada hewan percobaan termaksud diteliti efek sampingnya.
   3. Bila ternyata aman, obat ini dapat diuji cobakan kepada sekelompok orang dengan     pengawasan ketat para ahli.
   4. Bila berhasil dengan baik, barulah diujikan pada orang sakit dan selanjutnya dipasarkan.
2. Mekanisme Kerja Antibiotik
    Antibiotik menganggu bagian-bagian yang peka di dalam sel, yaitu:
    a. Antibiotik  yang Mempengaruhi Dinding Sel
        Sel kuman dikelilingi oleh suatu struktur kaku yang disebut dinding sel, yang melindungi   membran protoplasma di bawahnya dari trauma. Karena itu, setiap zat yang mampu merusak dinding sel atau mencegah sintesisnya akan menyebabkan terbentuknya sel-sel yang peka terhadap tekanan osmotik.
    b. Antibiotik yang Mengganggu Fungsi Membran Sel
        Membran sel memegang peranan vital dalam sel, yakni sebagai penghalang dengan permeabilitas selektif, melakukan penggangkutan aktif, dan mengendalikan susunan dalam sel. Beberapa antibiotik diketahui mampu merusak atau memperlemah satu atau lebih dari fungsi-fungsi tersebut.
    c. Antibiotik yang Menghambat Sintesis Protein
        Sintesis protein merupakan hasil akhir dari dua proses utama, yakni transkripsi dan translasi. Antibiotik yang mampu menghambat salah satu proses ini akan menghambat sintesis protein.
    d. Antibiotik yang Menghambat Sintesis Asam Nukleat
3. Sifat-sifat Antibiotik
    Antibiotik haruslah memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
    a. Menghambat atau membunuh patogen tanpa merusak inang (host).
    b. Bersifat bakterisida dan bukan bakteriostatik.
    c. Tidak menyebabkan resistensi pada kuman.
    e. Berspektrum luas.
      f. Tidak bersifat alergenik atau menimbulkan efek samping bila dipergunakan dalam     jangka waktu lama.
      g. Tetap aktif dalam plasma, cairan badan atau eksudat.
       h. Larut di dalam air dan stabil.
        i. Bacterisidal level, di dalam tubuh cepat dicapai dan bertahan dalam waktu lama.    (Lud Waluyo, 2004).
 4. Ampisilin
     Merupakan penisilin semisintesis ketiga, spektrum ini tahan asam dan lebih luas spektrum kerjanya yang meliputi banyak kuman gram-negatif dan gram positif. Ampisilin bersifat sangat bakterisida dan tidak beracun. Ampisilin bekerja menghambat pertumbuhan dinding sel bakteri.( Pelczar dan Chan,1988)
     Ampicillin sebagai antibiotika yang mempunyai spektrum luas, spektrum ampicillin lebih luas dibandingkan spektrum benzyl penicillin yang meliputi juga bakteri gram negatif. Ampicillin sebagai antibiotika terbaik terhadap hemofhilus influensa (termaksud meningitis).
Indikasi              : Terhadap infeksi tractus respiratorius, bronchitis yang cronis, infeksi tractus urinarius dan lain-lain.
Kontraindikasi : Ampicillin jangan diberikan kepada penderita yang peka (hypersensitive)terhadap penicillin.
Cara pemakaian    : Dewasa 2-4 gram sehari atau tergantung pada jenis penyakitnya, misalnya infeksi tractus respiratorius diberikan 250 – 500 mg tiap 6 jam selama 5 – 10 hari. Bronchitis khronis diberikan 250 mg tiap 6 jam selama 1 minggu atau lebih. Infeksi sitemik 250 – 500 mg tiap 6 jam selama 5- 10 hari.
Efek samping     : Pada penderita yang alergi dapat menimbulkan reaksi-reaksi alergi seperti urtikaria, rash dan sebagainya. Bila timbul reaksi ini, maka pemberian ampicillin dihentikan dan ditanggulangi dengan pemberian antihistamin.




5. Kotrimoksazol
    Kotrimoksazol adalah campuran zat-zat kemoterapetik yang terdiri dari sulfametokzasol dan trimetoprin dalam perbandingan 5 : 1 (400 + 80 mg).
Mekanisme kerja kotrimoksazol adalah menghambat biosintesa asam folat dari mikroorganisme. Kombinasi dari kedua zat tersebut bersifat bakterisid, jika terpisah masing-masing bersifat bakteriostatik. Kotrimoksazol adalah antibakteri spektrum luas dan efektif terhadap bakteri gram positif dan bakteri gram negatif.
Indikasi kotrimoksazol efektif unutk pengobatan terhadap :
a. Infeksi saluran pernapasan bagian atas dan bawah misalnya bronkitis akut dan kronis.
b. Infeksi ginjal dan saluran kemih misalnya sistisis akut dan kronis uretritis.
c. Infeksi kandung empedu misalnya kolesistitis, kolangitis.
d. Infeksi dermatosis misalnya pioderma, furun-kulosis, absesis, infeksi akibat operasi.
e. Infeksi lain seperti osteomielitis akut dan kronis.
Kontraindikasi    : Pasien dengan gangguan hati yang parah, insufisiensi ginjal, wanita hamil, bayi prematur atau bayi berumur beberapa minggu, pasien yang hipersensitif terhadap trimetoprim dan obat-obat golongan sulfonamida.
Efek samping     : Jarang terjadi dan umumnya ringan seperti reaksi hipersensitif, rash kulit, sakit kepala, gangguan pencernaan misalnya mual, muntah dan diare.
Dosis                   : Untuk infeksi akut, kotrimoksazol diberikan selama tidak kurang dari 5 hari atau dilanjutakan 2 hari setelah simtom hilang. (Henny L, 1986)

a. Trimetoprim
Nama resmi        : Trimethoprimum
Nama Sinonim   : Trimetoprim
Berat Molekul    :  290, 3
Rumus Molekul : C4 H18 N4 03
Pemerian             : Serbuk putih tidak berbau, rasa sangat pahit
Kelarutan           : Sangat sukar larut dalam air, larut dalam 300  bagian etanol ( 95%) p, dalam 55 bagian kloroform p dan dalam 80 bagian metanol p praktis tidak larut dalam eter p
Khasiat dan penggunaan : antibakteri ( Anonim, 1979).
6. Sulfametoksazol
    Nama resmi        : Sulfamethoxazolum
    Nama Sinonim   :  Sulfametoksazol
    Berat Molekul    :  253,28
    Rumus Molekul : C10 H4 N3 03S
    Pemerian           :  Serbuk hablur, putih samai hampir putih, praktis tidak berbau.
    Kelarutan           : Praktis tidak larut dalam air, larut dalam 50 bagian etanol (95%) p dalam 3 bagian asetin p, mudah larut dalam larutan natrium hidroksida.
    Penyimpanan      : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari  cahaya.
    Khasiat dan penggunaan : antibakteri ( Anonim, 1979).


7.  Tetrasiklin
Nama resmi        : Tetracyclinum
Nama lain           :  Tetrasiklina
Berat Molekul    :  444,44
Rumus Molekul : C22 H24 N2 08  
Pemerian        : Serbuk hablur kuning tidak berbau atau sedikit berbau lemah.
Kelarutan       : Sangat sukar larut dalam air, larut dalam 50 bagian etanol (95 %) praktis tidak larut dalam kloroform dan dalam eter, larut dalam asam encer, larut dalam alkali diserai peruraian.
Efek samping : a. Saluran pencernaan tidak nafsu makan, mual, muntah, glositis, enterokolitis, kelainan inflamasi disekitar alat kelamin luar (disertai pertumbuhan jamur)
b. Kulit : Kelainan makulo popula dan aritematosa, warna kekuningan pada kulit, fluoresensi kulit dengan penyinaran ultraviolet.
Dosis                 :
a.Oral
  1. Pemberian tetracycllin secara oral dilakukan 1 jam sebelum makan atau 2 jam sesudah makan.
  2. Dewasa = 250 – 500 mg setiap 6 jam.
  3. Anak-anak diatas 8 tahun = 25 – 50 mg/kg/hari dalam 4 dosis terbagi untuk infeksi obat beta-hemolitik streptococcus, pengobatan minimum 10 hari untuk pengobatan brucellosis : sehari 4 x 500 mg selama 3 minggu, diberikan bersama streptomisin.
b. Parenteral
1. Suntikan IM.
Dewasa = 25 – 300 mg tiap 8 – 12 jam, anak = 15 – 25 mg/kg (> 8 kg).
Farmakolgi     : Tetracycllin menghambat sintesis terjadi protein bakteri pada ribosomnya, paling sedikit terjadi 2 proses dalam masuknya antibiotik kedalam ribosom bakteri gram negatif. Pertama disebut difusi pasif melalui kanal hidrofilik, kedua yaitu sistem transfor aktif.
Farmakokinetik   : Absorbsi sekitar 30 – 80 % tetracycllin diserap dalam saluran cerna, sebagian besar langsung dilambung dan usus halus bagian atas. Adanya makanan dalam lambung menghambat penyerapan golonagan tetracycllin. 
Penyimpanan      : Dalam wadah tertutup rapat , pada suhu kamar terkendali.

Khasiat dan penggunaan : antibakteri ( Anonim, 1979).
Comments
0 Comments

No comments

Post a Comment

Recent Posts