Yazhid Blog

.

Monday, 12 December 2016

MAKALAH PROMKES PENYAKIT KUSTA




BAB I
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Permasalahan penyakit kusta ini bila dikaji secara mendalam merupakan permasalahan yang sangat kompleks dan merupakan permasalahan kemanusiaan seutuhnya. Masalah yang dihadapi pada penderita bukan hanya dari medis saja tetapi juga adanya masalah psikososial sebagai akibat penyakitnya. Dalam keadaan ini warga masyarakat berupaya menghindari penderita. Sebagai akibat dari masalah-masalah tersebut akan mempunyai efek atau pengaruh terhadap kehidupan bangsa dan negara, karena masalah-masalah tersebut dapat mengakibatkan penderita kusta menjadi tuna sosial, tuna wisma, tuna karya dan ada kemungkinan mengarah untuk melakukan kejahatan atau gangguan di lingkungan masyarakat.
Program pemberantasan penyakit menular bertujuan untuk mencegah terjadinya penyakit, menurunkan angka kesakitan dan angka kematian serta mencegah akibat buruk lebih lanjut sehingga memungkinkan tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. Penyakit kusta adalah salah satu penyakit menular yang masih merupakan masalah nasional kesehatan masyarakat, dimana beberapa daerah di Indonesia prevalens rate masih tinggi dan permasalahan yang ditimbulkan sangat komplek. Masalah yang dimaksud bukan saja dari segi medis tetapi meluas sampai masalah sosial ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan sosial.
Dampak sosial terhadap penyakit kusta ini sedemikian besarnya, sehingga menimbulkan keresahan yang sangat mendalam. Tidak hanya pada penderita sendiri, tetapi pada keluarganya, masyarakat dan negara. Hal ini yang mendasari konsep perilaku penerimaan periderita terhadap penyakitnya, dimana untuk kondisi ini penderita masih banyak menganggap bahwa penyakit kusta merupakan penyakit menular, tidak dapat diobati, penyakit keturunan, kutukan Tuhan, najis dan menyebabkan kecacatan.

1.2  RUMUSAN MASALAH
1.      Defenisi Penyakit Kusta
2.      Penyebab Penyakit Kusta
3.      Gejala Penyakit Kusta
4.      Diagnose Penyakit kusta
5.      Pencegahan penyakit kusta
6.      Pengobatan Penyakit Kusta

1.3  TUJUAN
1.      Mengetahui defenisi penyakit kusta
2.      Mengetahui penyebab penyakit kusta
3.      Mengetahui diagnose penyakit kusta
4.      Mengetahui cara pencegahan dan pengobatan penyakit kusta




BAB II
METODE PROMOSI KESEHATAN PENYAKIT KUSTA

2.1 SASARAN
Adapun sasaran dari penyuluhan ini adalah keluarga dan Masyarakat.
2.2 RUMUSAN TUJUAN
Tujuan instruksional umum :
Setelah mengikuti kegiatan promosi kesehatan ini, diharapkan Masyarakat dapat mengetahui dan memahami tentang penyakit kusta meliputi pengertian, gejala, cara penularannya, pegobatannya, dan pencegahannya.
Tujuan instruksional khusus :
Setelah mengikuti kegiatan promosi kesehatan ini diharapkan Masyarakat mampu :
1. Mendifinisika penyakit kusta
2. Menyebutkan gejala-gejala kusta
3. Menjelaskan cara penularan penyakit kusta
4. Menjelaskan cara pengobatan penyakit kusta
5. Menjelaskan cara-cara pencegahan penyakit kusta


2.3 METODE YANG DIGUNAKAN
Adapun metode yang digunakan pada promosi kesehatan ini adalah ceramah dan tanya jawab.
  v    Garis Besar Materi :
1.      Pengertian penyakit kusta
2.      Penyebab penyakit kusta
3.      Gejala atau tanda-tanda penyakit kusta
4.      Cara penularan penyakit kusta
5.      Pengobatan penyakit kusta
6.      Pencegahan dari penyakit kusta

  v  Alat bantu promosi kesehatan
·         LCD
·         Leptop
·         Slide Presentase

  v  Pengorganisasian :
1.      Pendahuluan
2.      Penyampaian mater
3.      Tanyaa jawab
4.      penutup ( Post Test )

  v  Kriteria Evaluasi :
Menanyakan pada masyarakat promosi kesehatan tentang :
1.      Pengertian penyakit kusta
2.      Penyebab penyakit kusta
3.      Gejala atau tanda-tanda penyakit kusta
4.      Cara penularan penyakit kusta
5.      Pengobatan penyakit kusta
6.      Pencegahan dari penyakit kusta

2.4 MATERI PROMKES
A. Pengertian
Kusta atau lepra disebut juga penyakit Morbus Hansen. Merupakan penyakit infeksi kronik yang disebabakan oleh bakteri atau kuman Mycrobacterium Leprae. Penyakit Kusta menyerang kulit dan syaraf tepi seseorang yang menyebabkan syaraf tepi orang tersebut mati rasa, gangguan pada kulit, kelumpuhan pada tungkai dan kaki, menyerang sistem pernapasan atas, kerusakan mata, dan membran selaput lendir. Bakteri Mycrobakterium leprae adalah jenis kuman anaerob, tidak membentuk spora, berbentuk batang, dan tahan asam. Bakteri ini masuk ke dalam tubuh manusia melalui kulit, muccus membran, dan saluran nafas.
Terdapat tiga macam jenis kusta yakni :
·         Kusta tuberkuloid atau Tuberculoid Leprosy (TT) Merupakan jenis kusta yang tidak menular karena kelainan kulitnya mengandung sedikit kuman, membentuk radang granuloma tuberkel tanpa nekrosis perkejuan yang menyebabkan kulit berwarna pucat dan mati rasa.Bentuk kusta tuberkoloid mempunyai kelainan pada jaringan syaraf sehingga mengakibatkan cacat pada tubuh.
·         Kusta lepromatosa atauLepromatous Leprosy (LL) Jenis kusta satu ini adalah jenis kusta yang menular sebab dalam kulit yang terjejas mengandung banyak kuman. Kusta lepromatosa memiliki ciri kelainan kulit yang menyebar secara simetris di seluruh tubuh, berhubungan dengan lesi, nodul atau plak, dermis kulit yang menipis, dan perkembangan pada mukosa hidung yang menyebabkan penyumbatan hidung atau kongesti nasal dan epistaksis (hidung berdarah) namun pendeteksian terhadap kerusakan saraf sering kali terlambat.
·         Kusta multibasiler Kusta multibasiler merupakan penyakit kusta dengan tingkat keparahan yang sedang dan tipe kusta yang sering ditemukan. Kusata ini bercirikan dengan adanya lesi (bercak atau luka) kulit yang menyerupai kusta tuberkuloid tapi jumlahnya lebih banyak dan tak beraturan. Bagian lesi yang besar dapat mengganggu seluruh tungkai, dan gangguan saraf tepi dengan kelemahan dan kehilangan rasa rangsang. Tipe ini tidak stabil dan dapat menjadi seperti kusta lepromatosa ataupun menjadi kusta tuberkuloid.
B. Penyebab Penyakit Kusta
Penyakit kusta disebabkan oleh kuman yang dimakan sebagai microbakterium, dimana microbacterium ini adalah kuman aerob, tidak membentuk spora, berbentuk batang yang tidak mudah diwarnai namun jika diwarnai akan tahan terhadap dekolorisasi oleh asam atau alkohol sehingga oleh karena itu dinamakan sebagai basil “tahan asam”. Selain banyak membentuk safrifit, terdapat juga golongan organism patogen (misalnya Microbacterium tubercolose, mycrobakterium leprae) yang menyebabkan penyakit menahun dengan menimbulkan lesi jenis granuloma infeksion.
C. Gejala- gejala penyakit kusta
Timbulnya gejala penyakit yang dirasakan penderita dikarenakan telah terjadinya perkembangbiakan bakteri kusta terhadap sistem imun tubuh penderita sehingga merangsang tubuh untuk melakukan perlawanan. Ada tiga jenis kusta maka tanda-tanda atau gejala yang ditimbulkannya pun berbeda-beda yakni sebagai berikut :
1.      Kusta tuberkoloid :
o   Hipopigmentasi kulit
o   Beberapa bagian tubuh mengalami anestesi atau mati rasa
o   Bercak-bercak seperti panu pada permukaan kulit secara simetris dan menyebar serta kering
o   Resistensi yang tinggi
2.      Kusta lepromatosis :
o   Terdapat plak dan nodul pada tubuh
o   Dermis (permukaan kulit) mongering
o   Hidung berdarah (epistaksis)
o   Terjadi kerusakan pada sekat dan tulang hidung
3.      Kusta multibasiler :
o   Pada permukaan kulit terdapat bercak-bercak seperti panu (lesi) yang sangat banyak dan tidak beraturan.
o   Kehilangan rasa rangsang
Adapun tanda-tanda atau gejala kusta secara umum adalah sebagai berikut :
  Ø  Adanya bercak tipis seperti panu (lesi) pada tubuh
  ØPada awalnya bercak putih ini hanya sedikit tetapi lama-lama semakin melebar dan banyak.
  Ø  Bercak putih ini tidak menimbulkan gatal dan rasa sakit.
  Ø  Kepekaan pun berkurang pada daerah yang terdapat bercaj putih ini.
  Ø  Lemah dan mengalami kelainan bentuk pada tangan dan kaki.
  Ø  Adanya pelebaran syaraf terutama pada syaraf ulnaris, medianus, aulicularis magnus seryta peroneus.
  Ø  Kelenjar keringat kurang bekerja sehingga kulit menjadi tipis dan mengkilat.
  Ø  Adanya bintil-bintil kemerahan (nodul) yarig tersebar pada kulit  
  Ø  Alis rambut rontok
  Ø  Muka berbenjol-benjol dan tegang yang disebut facies leomina (muka singa), selain itu terjadi juga kerusakan pada sekat dan tulang hidung.
  Ø  Tubuh panas atau suhu tubuh menurun sampai derajat yang rendah hingga menggigil.
  Ø  Anoreksia.
  Ø  Nausea, kadang-kadang disertai vomitus.
  Ø  Cephalgia.
  Ø  Kadang-kadang disertai iritasi, Orchitis, dan Pleuritis.
  Ø  Kadang-kadang disertai dengan Nephrosia, Nepritis, dan hepatospleenomegali.
  Ø  Neuritis.
D. Cara penularan penyakit kusta
Masih belum bisa dipastikan cara dan bagaimana cara penyakit kusta dapat diderita oleh seseorang. Namun, dari beberapa penelitian dan dugaan penyakit kusta menyebar bisa melalui udara ataupun kontak langsung dengan penderita kusta menular seperti kusta lepromatosis dan kusta multibasiler.
Kusta dapat menyeber melalui udara sebab menurut penelitian yang dilakukan Pedley bahwa sebagian pasien lepromatosa memperlihatkan adanya bakteri atau basil di sekret hidung mereka. Sedangkan dalam penelitian Davey dan Rees mengindikasi bahwa sekret hidung dari pasien lepromatosa dapat memproduksi 10.000.000 organisme per hari. Sekret hidung yang keluar dari hidung penderita kusta ini mengandung basil kusta. Basil kusta ini masih dapat hidup selama 2 – 7 x 24 jam setelah dikeluarkan dari hidung penderita dan mengering oleh udara luar.
Kusta yang menular dengan kontak langsung pada penderita dikarenakan adanya penjalaran bakteri Mycrobacterium Leprae dari kulit penderita pada orang sehat ketika kulit mereka bersentuhan secara langsung. Telah dibuktikan bahwa kasus lepromatosa menunjukkan adanya sejumlah organisme di dermis kulit.
Diduga pula bakteri ini dapat berpindah ke kulit oarang yang sehat melalui kontak dengan keringat si penderita.Perlu diketahiu selain penularan kusta dengan cara di atas bahwa sistem imun tubuh manusia juga turut mempengaruhi apakah seseorang akan terinfeksi penyakit kusta atau tidak setelah ia kontak atau berada di lingkungan orang dengan penyakit kusta.
Sebab menurut penelitian, dalam sebuah keluarga bisa saja antar anggota keluarga menderita penyakit kusta yang berbeda jinisnya, bahkan ada anggota keluarga yang tidak mengidap sama sekali padahal anggota kelurga lainnya menderita penyakit kusta.
Menurut Ress (1975) dapat ditarik kesimpulan bahwa penularan dan perkembangan penyakit kusta hanya tergantung dari dua hal yakni jumlah atau keganasan Mycrobacterium Leprae dan daya tahan tubuh penderita. Disamping itu faktor-faktor yang berperan dalam penularan ini adalah :
o   Usia : Anak-anak lebih peka dari pada orang dewasa
o   Jenis kelamin : Laki-laki lebih banyak dijangkiti
o   Ras : Bangsa Asia dan Afrika lebih banyak dijangkiti
o   Kesadaran sosial :Umumnya negara-negara endemis kusta adalah negara dengan tingkat sosial ekonomi rendah
o   Lingkungan : Fisik, biologi, sosial, yang kurang sehat.
Untuk masa inkubasi kusta sendiri dilaporkan bisa selama 30 tahun. Hal ini dilaporkan berdasarkan pengamatan terhadap tentara veteran yang dulunya pernah terekspos di daerah endemik kusta tapi kemudian berpindah ke daerah yang non endemik. Meski demikian, penyakit kusta secara umum memiliki masa inkubasi rata-rata antara 3 – 5 tahun.
E. Pengobatan
     Obat-obat yang dapat digunakan untuk penyakit kusta :
1.      Rifampicin dapat membunuh bakteri kusta dengan menghambat perkembangbiakan bakteri. Dosis 600mg.
2.      Diaminodiphenylsulfone :Mencegah resistansi bakteri terhadap obat (Dapsone) (dikombinasikan dengan obat lain).
3.      Clofazimine (CLF) :Menghambat pertumbuhan dan menekan efek bakteri yang perlahan pada Mycobacterium Leprae dengan berikatan pada DNA bakteri
4.      Ofloxacin :Synthetic Fluoroquinolone, beraksi menyerupai penghambat bacterial DNA gyrase.
5.      Minocycline :Semisynthetic Tetracycline, menghambat sintesisprotein pada bakteri
Berbagi macam terapi pengobatan penyakit kusta antara lain :
1.      Pada awalnya hanya digunakan satu obat dapson untuk pengobatan penyakit kusta, pengobatan ini disebut juga pengobatan monoterapi tapi kemudian hal ini menyebabkan bakteri kusta menjadi kebal sehingga pemakaian dihentikan.
2.      Untuk pengobatan penyakit kusta dapat juga digunakan metode kombinasi antara obat dopson, rifamfisin, dan klofazimin. Pengobatan dengan multi obat ini cukup berhasil hanya saja diperlukan ketekunan dan kedisiplinan dari penderita untuk terus-menerus meminumnya. Pengobatan multiobat ini disebut juga MULTI DRUGS TREATMENT (MDT).
Cara pengobatan penyakit kusta adalah dengan pengobatan rutin setiap harinya :
1.      Untuk tipe kusta tuberkoloid membutuhkan pengobatan 6 bulan dengan terapi dopson dan rifamfisin.
2.      Untuk tipe kusta multibasiler dan lepromatosis membutuhkan pengobatan selama 24 bulan dengan terapi dopson, rifamfisin, dan klofazimin.
3.      Disarankan juga penderita kusta untuk mengkonsumsi Lamprin, Prednison, Sulfat Feros dan Retinol (Vitamin A) bagi menyehatkan kusta dengan kulit yang bersisik.
Hingga saat ini tidak ada vaksinasi untuk penyakit kusta. Dari hasil penelitian dibuktikan bahwa kuman kusta yang masih utuh bentuknya, lebih besar kemungkinan menimbulkan penularan dibandingkan dengan yang tidak utuh.
Jadi faktor pengobatan adalah amat penting dimana kusta dapat dihancurkan, sehingga penularan dapat dicegah. Kebanyakan penderita kusta mengalami kecacatan disebabkan keterlambatan orang tersebut untuk meminum obat atau meminum obat itu dengan tidak sempurna atau pengobatannya tidak tuntas, jika penderita meminum obat dengan cepat maka kecacatan akibat saraf tepi yang mati tadi dapat di cegah atau dihindari. Saat ini obat kusta sudah gratis dan bisa didapatkan di puskesmas dan rumah sakit milik pemerintah. Obat ini merupakan bantuan dari organisasi kesehatan dunia.
F. Pencegahan
1.      Mencegah kontak dengan kulit penderita
2.      Melakukan vaksinasi
3.      Meningkatkan sistem imun dengan melakukan hidup sehat
4.      Meningkatkan kebersihan pribadi
5.      Diagnosis dan pengobatan yang segera
6.      Biarkan sinar matahari masuk ke dalam rumah sebab bakteri kusta akan mati pada suhu yang panas, serta hindari ruangan yang lembab.
7.      Tidak memakai air kotor untuk mandi
8.      Tidak memakai pakaian–pakaian bekas yang tidak jelas asalnnya (baju-baju bekas di pasar bekas seperti Pasar Tungging di Banjarmasin)
9.      Menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan.




BAB III
PENUTUP

3.1  KESIMPULAN
Kusta atau lepra disebut juga penyakit Morbus Hansen. Merupakan penyakit infeksi kronik yang disebabakan oleh bakteri atau kuman Mycrobacterium Leprae. Penyakit Kusta menyerang kulit dan syaraf tepi seseorang yang menyebabkan syaraf tepi orang tersebut mati rasa, gangguan pada kulit, kelumpuhan pada tungkai dan kaki, menyerang sistem pernapasan atas, kerusakan mata, dan membran selaput lendir.
Kusta yang menular dengan kontak langsung pada penderita dikarenakan adanya penjalaran bakteri Mycrobacterium Leprae dari kulit penderita pada orang sehat ketika kulit mereka bersentuhan secara langsung. Telah dibuktikan bahwa kasus lepromatosa menunjukkan adanya sejumlah organisme di dermis kulit.

3.2  SARAN
Diharapkan setelah menerima materi promosi kesehatan tentang penyakit kusta ini masyarakat dapat menghindari atau mencegah penularan penyakit kusta serta dapat meningkatkan kesehatan mereka dengan cara hidup sehat baik dilingkungan keluarga maupun dilingkuangan sekitar.




DAFTAR PUSTAKA

Ngatimin Rusli HM, Upaya Menciptakan Masyarakat Sehat di Pedesaan, Disertasi
            Pascasarjana, Ujung Pandang, 1987.
Ditjen PPM dan PLP, Buku Pedoman Pemberantasan Penyakit Kusta, Jakarta,
            1996.
Kosasih, A, Bagian Penyakit Kulit dan Kelamin, Kusta, FK-UI, 1988.
Ngatimin Rusli HM, Leprophobia, Majalah Kesehatan Masyarakat, Tahun XXI,
            Nomor 5, 1993.
Ditjen PPM dan PLP, Buku Pegangan Kader dalam Pemberantasan Penyakit Kusta,
            Jakarta, 1990.
Depkes RI, Sistem Kesehatan Nasional, Jakarta, 1982.



Comments
0 Comments

No comments

Post a Comment

Recent Posts