Yazhid Blog

.

Monday, 5 December 2016

MAKALAH PENULARAN VIRUS EPSTEIN BARR ( EBV ) PADA TRANSFUSI DARAH


BAB I
PENDAHULUAN

2.1. Latar Belakang
Transfusi darah adalah proses menyalurkan darah atau produk berbasis darah dari satu orang ke sistem peredaran orang lainnya. Transfusi darah berhubungan dengan kondisi medis seperti kehilangan darah dalam jumlah besar disebabkantraumaoperasisyok dan tidak berfungsinya organ pembentuk sel darah merah. Reaksi transfuse adalah reaksi yang terjadi selama tranfusi darah yang tidak diinginkan berkaitan dengan tranfusi itu. sejak dilakukannya tes komatibilitas untuk menentukan adanya antibody terhadap antigen sel darah merah, efek samping transfusi umumnya disebabkan oleh leokosit , trombosit dan protein plasma.Gejala bervariasi mungkin tidak terdapat gejala atau gejalanya tidak jelas, ringan samapi berat.
pemberian transfusi darah mempunyai risiko penularan penyakit. Di antaranya penyakit infeksi menular lewat transfusi darah (IMLTD), terutama HIV/AIDS, hepatitis C, hepatitis B, sifilis, dan malaria. Dalam transfusi darah, keamanan tindakan transfusi darah bergantung pada seleksi donor, proses dari pengeluaran darah dari vena donor sampai dengan tindakan memasukkan darah ke vena pasien, juga ketepatan indikasi.
Selain itu pendonor memenuhi kriteria sebagai pendonor darah berisiko rendah (low risk donor) terhadap infeksi yang ditularkan melalui transfusi darah. Selama ini uji saring yang dilakukan berupa skrining darah yang telah memenuhi standar WHO.
Di antaranya dengan metode ELISA (enzyme linked immuno sorbent assay), yaitu metode yang umum dipakai untuk mendeteksi antigen atau antibodi yang dihasilkan tubuh sebagai tanggapan atas kehadiran virus. Karena itu, perlu jangka waktu tertentu dari awal terjangkitnya infeksi sampai terdeteksinya antigen atau antibodi dalam darah yang disebut dengan window period.



2.2 Rumusan Masalah
1.      Bagaimana klasifikasi virus EBV ?
2.      Bagaimana pathogenesis virus EBV ?
3.      Bagaimana gejala penyakit virus epstein barr ?
4.      Bagaimana proses penyebaran virus  melalui transfuse darah ?
2.3 Tujuan
1.      Untuk mengetahui klasifikasi virus EBV
2.      Untuk mengetahui pathogenesis virus EBV
3.      Untuk mengetahui gejala penyakit EBV
4.      Untuk mengetahui proses penyebaran melalui transfuse





BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Klasifikasi Virus EBV
Virus Epstein Barr (virus EB) juga disebut herpesvirus manusia 4 yang termasuk dalam famili herpes ( yang juga termasuk dalam virus simplex dan sitomegalovirus). Virus ini merupakan salah satu virus yang paling umum pada manusia dan mampu menyebabkan mononukleosis infeksiosa. Penyakit ini lebih sering terjadi pada anak-anak dan dewasa muda. Sel target virus EB adalah limposit B. Virus EB biasanya ditularkan melalui air liur yang terinfeksi dan memulai infeksi di orofaring. Diagnosis tidak hanya berdasarkan gejala-gejala yang dialami, namun juga dengan pemeriksaan darah. Sampai saat ini belum ditemukan vaksin virus EB. Virus Epstein-Barr berasal dari nama Michael Epstein dan Yvonne Barr, yang bersama dengan Bert Achong, menemukan virus ini tahun 1964.
2.2. Patogenesis Virus EBV
Virus Ebstein Barr masuk ke dalam tubuh manusia kemudian bereplikasi dalam sel-sel epitel dan menjadi laten dalam limfosit B. Infeksi virus ini terjadi pada dua tempat yaitu sel epitel kelenjar saliva dan sel limfosit. EBV memulai menginfeksi dengan cara berikatan dengan komplemen C3d (CD21 atau CR2). Mekanisme masuknya EBV dan terjanya infeksi kemungkinan dengan cara: 1) melaui hubungan langsung antara sel pada membrane bagian apical yang dengan limfosit yang sudah terifeksi virus, 2) melalui membrane basolateral, yang dimediasi oleh adanya interaksi antara integrin β1 atau α5B1 dengan EBV, 3) melalui penyebaran virus secara langung melalui membrane lateral yang terjadi setelah pertama kali terinfeksi EBV (Tugizov at all cit Hariwiyanto). Infeksi virus pada limfosit B dimungkinkan karena adanya ikatan antara reseptor membrane glikoprotein gp350/220 pada kapsul EBV dengan protein CD21 dipermukaan limfosit B sebagai targetnya. Setelah mengikat reseptor CD21 pada limfisit B, EBV dalam waktu 1-2 jam akan masuk ke sitoplasma sel penjamu kemudian terjadi fusi TR (Terminal Repeat), yang menyebabkan epitop berbentuk sirkuler, partikel-partikel EBV akan terurai dan genom-genom EBV akan masuk ke dalam nucleus, yang merupakan bentuk EBV infeksi laten, yang ditandai dengan proses aktivasi dan proliferasi sel yang disebut sebagai pengabadian EBV pada sel limfosit B. Proses ini melibatkan interaksi beberapa kompleks glikoprotein virus termasuk gH dan gL yang merupakan homolog dari molekul gp42 dengan MHC kelas II pada limfosit B. 
Pada kondisi normal infeksi EBV dapat terkontrol dan masuk ke fase latent, dimana hanya sedikit sel B yang terinfeksi. Fase litik dapat terjadi baik di epitel rongga mulut maupun di sel B yang terletak berdekatan dengan epitel rongga mulut sehingga menyebabkan EBV yang infeksious banyak terdapat di rongga mulut sehingga dapat menular pada orang lain. Pada keganasan yang berhubungan dengan EBV, genom EBV genom EBV muncul pada setiap sel tumor dalam bentuk episom yang latent ( latent episomal) dan genom tersebut akan mengadakan replikasi selama pembelaha sel. Ekspresi DNA pada EBV yang berbentuk latent episomal tersebut dapat dijadikan sebagai dasar dalam mendeteksi funsi virus pada perkembangan KNF.
Langkah awal infeksi litik EBV ditandai dengan aktivitas protein ZEBRA yang disandi oleh gen BZLF1 yang terdapat pada sel epitel dan limfosit B. Beberapa produk yang berbeda-beda dari gen yang mempuyai korelasi dengan tahapan siklus replikasi litik dapat diidentifikasi dan dikategorikan menjadi: Early Membrane Antigen (EMA), Early Intra- Celulair Atigen (EA), Viral capcid Antigen (VCA),Late Membrane Antigen (LMA). Pada infeksi latent terjadi ekspresi dari beberapa protein antara lain: Epstein Barr Nucleus Antigen 2 & 5 (EBNA 2 & 5) yang dapat diteksi 2-5 jam setelah infeksi, Latent Membrane Protein 1 & 2 (LMP 1&2) yang dapat diteksi 5-7 jam setelah infeksi.
Infeksi laten yang bersifat diam dan tidak memproduksi partikel-partikel virus yang baru, dikaitkan salah satunya dengan KNF. Bentuk laten infeksi EBV pada KNF termasuk tipe II dengan karakteristik terekspresinya protein LMP disamping protein EBER dan EBNA1.
Mekanisme pasti bagaimana EBV dapat menginduksi terjadinya kanker masih belum bisa dipastikan. Akan tetapi penelitian selanjutnya tentang ekspresi dari gen Latent Membrane Protein (LMP) menunjukkan bisa mengubah sel epitel nasofaring in vitro, dan diperkirakan bahwa LMP pada sel yang terinfeksi EBV memproteksi sel tersebut dari program kematian sel atau apoptosis. Sedangkan pada penelitian lainnya ditemukan juga gen LMP ini terdapat pada 65% penderita KNF .
KNF dibagi berdasarkan stadium-stadium yang telah ditetapkan oleh The American Joint Commission on Cancer (AJCC). Stadium tersebut nantinya dipakai sebagai diagnostik dan terapi serta prognostik suatu penderita KNF.
2.3. Gejala penyakit virus Epstein barr
Adapun gejala-gejala yang biasa dikeluhkan oleh penderita KNF antara lain adanya benjolan dileher(76%), gangguan di hidung (73%), gangguan telinga (62%), sakit kepala (35%), penglihatan ganda (11%), rasa kebas diwajah (8%), penurunan berat badan (7%) dan trismus (3%). Biasanya tanda klinis yang didapatkan pada penderita KNF saat diagnosa ditegakkan adalah pembesaran kelenjar getah bening leher (75%) dan kelainan saraf cranial (20%). Diagnosa pasti suatu KNF diambil melalui biopsi nasofaring yang didukung oleh visualisasi melalui endoskopi atau pencitraan dengan potongan melintang.
Terapi saat ini terhadap KNF masih berupa radioterapi dan kemoterapi. Sedangkan pembedahan hanya sedikit berperan didalam penatalaksanaan KNF, dimana hanya terbatas pada diseksi leher radikal untuk mengontrol kelenjar yang radioresisten dan metastase leher setelah radioterapi dan pada pasien tertentu pembedahan penyelamatan dilakukan pada kasus rekurensi di nasofaring.
Beberapa tanda dan gejala penyakit virus Epstein Barr kronis adalah kehilangan memori, gangguan konsentrasi, nyeri otot, nyeri di sepanjang bergabung dengan gangguan tidur. Saat ini tidak ada bukti klinis hampir didirikan ini Sindrom Kelelahan kronis dapat dikirim dari satu orang ke orang lain. Penyebab sebenarnya dari sindrom kelelahan Namun belum diketahui peneliti percaya individu T-sel penyakit penyakit leukemia, virus herpes manusia-6 bersama dengan Enterovirus mungkin sangat terkait dengan penyebabnya.
2.4. Penyebaran Virus Melalui Transfusi Darah
EBV dapat menginfeksi siapa pun. Orang dewasa, 90% -95% laki-laki dan perempuan telah terinfeksi EBV; infeksi yang paling sering terjadi pada usia 5-25 tahun. Tidak mengherankan, 1% -3% dari mahasiswa terjangkit mono setiap tahun, paling sering ditularkan melalui air liur (sehingga dinamakan kissing disease). Namun, mono juga dapat menyebar melalui darah dan cairan kelamin. Air liur adalah metode utama penularan mono. Infeksi mononukleosis dikenal umum sebagai kissing disease karena ini adalah cara utama penularan di kalangan remaja. Seseorang dengan mono juga dapat menularkan penyakit melalui batuk atau bersin, akibatnya tetesan kecil air liur yang terinfeksi dan / atau lendir akan menyebar melalui udara dan dihirup oleh orang lain. Berbagi makanan atau minuman dari wadah atau peralatan makan yang sama juga dapat mentransfer virus dari satu orang ke orang lain, karena dapat terjadi kontak dengan ludah yang terinfeksi.
Media penularan virus selain dari air liur sebagai media utama atau yang paling sering terjadi, virus EBV juga dapat menular melalui aliran darah. Virus EBV dapat ditularkan melaui proses tranfusi darah dari orang telah terinfeksi virus EBV sebelumnya. Antibody Virus EBV tidak dapat terdeteksi sampai minggu kedua dan ketiga dari penyakit sehingga pada selang waktu tersebut orang yang telah terinfeksi  dan melakukan transfuse darah tidak akan diketahui keberadaan virus EBV dalam darahnya. Sehingga pada proses transfuse darah akan menyebabkan infeksi virus EBV pada resipen yang menerima pemberian darah dari reservoir atau sumber infeksi virus.



BAB III
PENUTUP
2.1 Kesimpulan
Virus Epstein Barr (virus EB) juga disebut herpesvirus manusia 4 yang termasuk dalam famili herpes ( yang juga termasuk dalam virus simplex dan sitomegalovirus). Virus ini merupakan salah satu virus yang paling umum pada manusia dan mampu menyebabkan mononukleosis infeksiosa.
Virus Epstein-Barr berasal dari nama Michael Epstein dan Yvonne Barr, yang bersama dengan Bert Achong, menemukan virus ini tahun 1964.
Epstein Barr Virus ditularkan secara per oral, umumnya ditularkan melalui saliva, menginfeksi epitel nasofaring dan limfosit B.
Beberapa tanda dan gejala penyakit virus Epstein Barr kronis adalah kehilangan memori, gangguan konsentrasi, nyeri otot, nyeri di sepanjang bergabung dengan gangguan tidur.
2.2 Saran
Sebaiknya pada proses tranfusi darah pencegahan dan penanganan terhadap penyakit infeksi menular lewat transfuse darah ( IMLTD ) lebih diutamakan karena lebih membahayakan kesehatan resipien daripada kekurangan darah itu sendiri.



DAFTAR PUSTAKA


http://id.wikipedia.org/wiki/Virus_Epstein-Barr
http://ridwanaz.com/kesehatan/jenis-jenis-virus-yang-menyerang-manusia/
http://id.prmob.net/epstein-barr-virus/yvonne-barr/kanker-320975.html
http://phiijustmuggle.wordpress.com/tag/epstein-barr-virus/
Comments
0 Comments

No comments

Post a Comment

Recent Posts