Yazhid Blog

.

Monday, 12 December 2016

MAKALAH MANAJEMEN LAB ALUR HASIL SAMPEL, LABORATORY SYSTEM, WEB E-CHASQUI



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Pada saat ini perkembangan informasi telah berkembang dengan sangat pesat, oleh karena itu sudah banyak pula perusahaan-perusahaan atau instansi-instansi yang menggunakan sistem informasi untuk meningkatkan usahanya termasuk Rumah Sakit. Cara untuk meningkatkan usaha suatu perusahaan ialah dengan cara membangun sistem informasi yang baik. Dan syarat untuk membangun sistem informasi yang baik yaitu adanya kecepatan dan keakuratan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan. Sistem informasi yang mendukung kinerja suatu instansi akan terlaksana dengan baik dan dapat menangani berbagai pengolahan data apabila menggunakan teknologi informasi. Sistem informasi dibuat untuk mempermudah dalam pengelolaan dan penyimpanan data, maka dapat menghasilkan suatu informasi yang tepat dan akurat.  Komputer adalah suatu alat yang dapat menyimpan data, mengolah data, dan memberikan informasi yang diinginkan secara tepat dan akurat yang berguna bagi perusahaan untuk kemajuan usahanya.
Adanya sistem informasi yang tepat dan akurat dapat mengurangi terjadinya kesalahan yan tidak diinginkan sehingga dapat meningkatkan kinerja yang lebih efisien dan kecepatan operasional instansi. Namun pencatatan data sudah dilakukan dengan komputerisasi tetapi hanya sebatas pendaftaran pasien, transaksi, input hasil pemeriksaan dan cetak hasil. Hal ini masih kurang efektif dan efisien, karena ada proses yang masih berulang dan sulit diterapkan dalam aplikasi yang terintegrasi terutama dengan cabang-cabang lainnya. Pengiriman hasil pemeriksaan dengan pasien  sering mengalami keterlambatan, karena secara manual. Sehingga untuk itu, Rumah Sakit sangat memerlukan sistem informasi laboratorium untuk mempermudah pengerjaan  berbagai hasil sampel pasien demi kepuasan pelayanan rumah sakit kepada pasien.

1.2  Rumusan Masalah

1.      Bagaimana alur dari hasil sampel laboratorium pasien diolah?
2.      Apa saja yang harus diperhatikan apabila kita menggunakan LIS( Laboratory Information System)?
3.      Alat apa saja yang digunaan untuk merancang Sistem Informasi Laboratorium?
4.      Sistem Informasi Laboratorium Berbasis Web e-Chasqui
5.      Metode Sistem Informasi Laboratorium Berbasis Web e-Chasqui
1.3  Tujuan

1.      Mengetahui alur dimana hasil sampel laboratorium pasien diolah
2.      Mengetahui hal- hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan LIS
3.      Mengetahui alat- alat apa saja yang digunanakan untuk merancang sebuah LIS di Rumah Sakit
4.      Mengetahui Sistem Informasi Laboratorium Berbasis Web e-Chasqui
5.      Mengetahui Metode Sistem Informasi Laboratorium Berbasis Web e-Chasqui



BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Sistem Informasi Laboratorium (SIL) Rumah Sakit
Sistem Informasi Laboratorium adalah sebuah system yang khususnya terdapat di dalam Rumah Sakit yang merupakan gabungan perangkat dan prosedur yang digunakan untuk mengelola siklus informasi (mulai dari pengumpulan data sampai pemberian umpan balik informasi) untuk mendukung pelaksanaan tindakan tepat dalam perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan kinerja laboratorium.
LIS adalah sebuah kelas dari perangkat lunak yang menangani penerimaan, pemrosesan dan penyimpanan informasi yang dihasilkan oleh proses laboratorium medis. Sistem ini seringkali harus berinteraksi dengan instrumen dan sistem informasi lainnya seperti Hospital Information Sistem (HIS). Disiplin ilmu yang mendukung LIS termasuk diantaranya yaitu hematologi, kimia, imunologi, bank darah (manajemen donor dan transfusi), surgical pathology, anatomical pathology, flow cytometry and mikrobiologi.
 v  Cara Kerja Sistem Informasi Laboratorium Rumah Sakit :
·         Mengurutkan registrasi
·         Mengirimkan sampel kepada pemeriksa
·         Menerima sampel
Dalam rumah sakit, system informasi laboratorium memiliki peranan yang penting. Berikut merupakan bentuk- bentuk operasi yang secara umum dilakukan oleh system laboratorium yaitu :
·         Memasukkan hasil pemeriksaan
·         Laporan laboratorium
Berdasarkan kemampuan peralatan laboratorium, cara system laboratorium bekerja antar peralatan laboratorium dengan komputer dapat dikategorikan sebagai berikut :
  Ø  Unidirectional :
yaitu peralatan laboratorium hanya bisa mengirim data ke komputer. Data hasil pemeriksaan akan dikirim ke komputer, untuk input pemeriksaannya tetap dilakukan entri sebelum dilakukan pemeriksaan.
  Ø  Bidirectional :
yaitu peralatan laboratorium yang bisa melakukan komunikasi dua arah dengan komputer. Biasa disebut Query Mode. Tidak semua alat lab memiliki fasilitas ini. Biasanya alat-alat lab yang baru menyediakan fitur ini. Cara kerja metode ini:
Petugas lab meng-entry biaya pemeriksaan dan jenis pemeriksaan pada database Hospital Information System (selanjutnya disebut HIS).
  Ø  Sampel dimasukkan ke alat lab.
  Ø  Alat membaca Barcode ID (identifikasi) pasien.
  Ø  Alat berkomunikasi ke HIS meminta data sesuai dengan ID Pasien.
  Ø  HIS mengirimkan data yang ditransaksikan (ID Pasien dan jenis pemeriksaan).
  Ø  Software mengubah transaksi menjadi jenis pemeriksaan.
  Ø  Alat melakukan pemeriksaan.
  Ø  Alat mengirim hasil ke HIS. Metode bidirectional ini memungkinkan  analis lab tidak perlu meng-entry ID pasien dan jenis pemeriksaan, sehingga human error sangat minimal.

  v  Adapun fitur - fitur tambahan yang direncanakan oleh SIL :

1.      Pengiriman hasil pemeriksaan laboratorium melalui  email dan SMS pada pasien
Hal ini diupayakan untuk memudahkan pengaksesan hasil Lab. pasien. Selain itu hal ini dilakukan karena lebih efisien secara waktu. Hasil pemeriksaan tinggal dibuka dimana saja asal bisa membuka account email tanpa harus datang langsung ke Rumah Sakit untuk mengambil hasil pemeriksaan.
2.      Pembuatan berbagai jenis laporan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan   Rumah Sakit ataupun pasien
Hal ini dilakukan agar SIL dapat semakin membantu dan mendukung setiap pihak yang memerlukan hasil data. Hasil pemeriksaan yang telah diolah dapat dirubah menjadi beberapa bentuk tampilan agar dapat memudahkan setiap pihak yang ingin menggunakannya.
3.      Interface HL7
HL7 adalah standar pesan yang memungkinkan aplikasi klinis untuk pertukaran data. HL7 adalah organisasi standar pengembangan terakreditasi oleh American National Standards Institute (ANSI) untuk penulis berbasis konsensus standar mewakili pandangan yang luas dari para stakeholder sistem kesehatan. Dari sudut pandang praktis, komite HL7 telah menyusun koleksi format pesan dan standar klinis terkait yang longgar mendefinisikan presentasi ideal informasi klinis. HL7, yang merupakan singkatan dari Tingkat Kesehatan Tujuh adalah standar untuk bertukar informasi antara aplikasi medis. Standar ini mendefinisikan format untuk transmisi yang berhubungan dengan kesehatan informasi. Informasi yang dikirim menggunakan standar HL7 dikirim sebagai koleksi dari satu atau lebih pesan, masing-masing mengirimkan satu record atau item yang berhubungan dengan kesehatan informasi.
Contoh pesan HL7 termasuk catatan pasien, catatan laboratorium dan informasi penagihan.
Kesehatan Nama Tingkat 7 melambangkan tujuh lapisan Organisasi Standar Internasional (ISO) Model Komunikasi:
·         Fisik                      : Menghubungkan entitas ke media transmisi
·         Data Link              : Menyediakan kontrol error antara node yang berdekatan
·         Jaringan                 : Rute informasi dalam jaringan
·         Transportasi           : Menyediakan end-to-end kontrol komunikasi
·         Sesi                        : Menangani masalah yang tidak masalah komunikasi
·         Presentasi              : Mengkonversi informasi
  v  Adapun tujuan dari Health Level 7 (HL7) adalah sebagai berikut:
a.       Untuk menyederhanakan pelaksanaan antarmuka antara aplikasi software kesehatan
b.      Untuk membuat standar terbaik dan paling banyak digunakan dalam perawatan kesehatan.
c.       Meningkatkan pemberian perawatan, alur kerja mengoptimalkan, mengurangi ambiguitas dan meningkatkan transfer pengetahuan antara semua pemangku kepentingan, termasuk penyedia layanan kesehatan, lembaga pemerintah, komunitas vendor, SDOs sesama dan pasien, tanpa mengorbankan transparansi, akuntabilitas, kepraktisan, atau kesediaan kita untuk menempatkan kebutuhan stakeholder pertama.
d.      Menghasilkan    suatu    framework    berupa template   struktur  data   berdasarkan   Reference   Information Model  (RIM)  yang berisi  spesifikasi  tabel  dan  field  yang sesuai dengan kebutuhan sistem rumah sakit secara spesifik. Template tersebut akan dijadikan sumber    acuan    standar    bagi    para    pengembang    aplikasi perangkat lunak.
  v  Pengecekkan sejarah pemeriksaan medis pasien
Dengan adanya system untuk pengecekkan, maka data yang dihasilkan akan     benar- benar valid, dan semakin kecil kemungkinan terjadi kesalahan. Hal ini akan membantu paramedic dalam mempercepat keputusan tindakan medis yang selanjutnya akan dilakukan dalam usaha pengobatan pasien.

2.2 Pemprosesan Spesimen Laboratorium
Pemrosesan sampel biasanya bermula dengan :
1.      Seperangkat sampel dan nota permintaan. Khasnya satu set tabung vakutainer yang mengandung darah, atau spesimen lain manapun akan tiba di laboratorium di tas plastik kecil bersama dengan nota itu.
2.      Nota dan spesimen itu dicantumkan nomor laboratorium. Biasanya semua spesimen menerima nomor yang sama, sering dengan stiker yang dapat ditempel di tabung dan nota.
3.      Analisator memindai barkod label secara otomatis dan permintaan tes yang dinaikmuatkan dari SIL. Entri permintaan di sistem manajemen laboratorium melibatkan pengetikan atau pemindaian (di mana barkod digunakan) di nomor laboratorium, dan memasuki identifikasi pasien, begitupun tiap tes yang diperlukan. Memerlukan mesin, komputer, dan staf laboratorium untuk mengetahui tes mana yang dinantikan, dan juga memberikan tempat (seperti bagian RS, dokter atau pelanggan lain) agar hasilnya dapat diberikan. Untuk sampel biokimiawi, darah biasanya disentrifugasi dan serum dipisahkan.
4.      Biasanya alur kerja di laboratorium itu padat dari tengah malam hingga pukul 7:00 pagi. Para perawat dan dokter biasanya meminta pasien dites setidaknya sekali sehari dengan penghitungan darah dan profil kimiawi yang lengkap. Permintaan itu kemudian didapat dari selama pengambilan pagi oleh seorang ahli flebotomi. Dengan cara ini teknisi medis dapat menguji spesimen dan mendapatkan hasil di kartu pasien untuk dokter untuk dikonsultasikan selama laporan paginya. Waktu lain buat laboratorium sibuk adalah setelah pukul 3:00 siang saat kantor dokter praktek swasta tutup. Seorang kurir akan membawa spesimen yang telah didapat sepanjang hari itu dan mengantarkannya ke laboratorium. Kurir itu juga akan berhenti di pusat pengambilan dan membawa spesimen.


2.3 Komponen Yang Digunakan Untuk Membangun Sebuah Sistem Informasi     Laboratorium Rumah Sakit
1.      Kabel RS-232 (db9 & db25) dan jack output RS-232 (db9 & db25) serta input PCI RS-232 untuk instrument Interface Server.
2.      Satu set komputer P4, sebagai Instrument Interface Server (server penghubung antara peralatan laboratorium dan HIS)
3.      Operating System Windows XP Home atau Professional.
4.      Printer barcode
5.      Manual book masing-masing alat, khususnya keterangan tentang host-interface.
6.      Sudah terinstal HIS atau Rekam Medis Elektronik dan Billing System
7.      Beberapa alat pendukung lainnya. Jika terdapat perbedaan kode antara billing dan hasil pemeriksaan, software ini akan disesuaikan sesuai kebutuhan masing-masing laboratorium termasuk juga masalah konversi / ekspansi kodesehingga data input-output sesuai yang kita inginkan. Semua peralatan laboratorium bisa diintegrasikan, dengan syarat dilengkapi keterangan tentang host-interface pada buku manual. Untuk saat ini yang telah diintegrasikan adalah alat yang menggunakan port serial (RS-232).
2.4 Sistem Informasi Laboratorium Berbasis Web e-Chasqui
Sistem informasi laboratorium di negara maju telah terbukti menurunkan turn-around-time (TAT) dari hasil laboratorium, mengurangi kelebihan dalam pemanfaatan sumber daya, dan menyediakan pemberitahuan lebih cepat dan lebih lengkap untuk tujuan kesehatan masyarakat. Turn Around Time adalah proses waktu yang diperlukan untuk mengubah arah pengiriman pada sistem komunikasi saat beroperasi. Dalam beberapa hal, turn around time berkisar sampai beberapa milidetik, apabila sering terjadi akan menurunkan unjuk kerja rangkaian komunikasi. TATs yang lebih pendek dikaitkan dengan penurunan waktu pengobatan, mortalitas, morbiditas, dan lamanya penginapan di rumah sakit. Penggunaan sistem laboratorium pada laboratorium pusat di beberapa negara berkembang seperti Peru dan Rusia. Namun, untuk pengetahuan kita, tidak ada laporan dari penggunaan sistem ini untuk tautan pengaturan klinis laboratorium.
Ada manfaat berpotensi besar menggunakan sistem informasi klinis di lokasi dengan infrastruktur terbatas di mana metode komunikasi lain yang lebih mahal. Namun, meskipun mereka dapat memberikan banyak manfaat, sistem ini sulit untuk diterapkan. Pada negara berkembang, diperkirakan bahwa sampai 60% dari semua implementasi teknologi informasi dalam perawatan kesehatan gagal. Di antara banyak tantangan yang perlu diatasi adalah laboratorium yang kewalahan dan personil klinis, sering terjadi pergantian staf, komputer dan akses internet terbatas, dan perubahan yang sering dalam administrasi dan kebijakan.
Sebuah sistem informasi laboratorium berbasis web “e-Chasqui” telah dirancang dan diimplementasikan di Peru untuk meningkatkan ketepatan waktu dan kualitas data laboratorium. Tim ini diterjunkan di laboratorium TB nasional, dua laboratorium regional dan dua belas puskesmas percontohan. Menggunakan penilaian kebutuhan dan alat analisis alur kerja, e-Chasqui dirancang untuk memberikan peningkatan perawatan pasien, meningkatkan kontrol kualitas, dan pemantauan serta pelaporan laboratorium lebih efisien.
TB biasanya dapat didiagnosis secara cepat dengan dahak mikroskop di fasilitas kesehatan setempat, tetapi diagnosis TB resisten multi-obat (MDR-TB) – didefinisikan sebagai strain TB yang resisten terhadap setidaknya isoniazid dan rifampisin – membutuhkan tes kerentanan terhadap obat/drug susceptibility test(DST) yang biasanya dilakukan pada daerah, bahkan tingkat nasional atau supranasional. Munculnya tuberkulosis yang resistan terhadap obat (XDR-TB) mempertinggi urgensi diagnosis resistensi obat mengekang kematian berlebihan dan transmisi berkelanjutan terkait dengan strain yang sangat resisten. Komunikasi tentang hasil DST antara laboratorium pusat dan daerah dan fasilitas klinik dapat menjadi masalah, dan hasil dapat memakan waktu beberapa bulan untuk mencapai tujuan atau tidak pernah tiba, terutama di negara beban tinggi dengan infrastruktur terbatas. Pengobatan yang tepat dengan cara pengobatan individual berdasarkan DST meningkatkan hasil pasien dan mengurangi risiko amplifikasi resistensi obat dan transmisi berkelanjutan. Seperti komentar Raviglione dan Smith dalam editorial terbaru, “informasi penting untuk membangun respon [penyakit yang resistan terhadap obat], dan hanya sistem informasi terkomputerisasi yang memungkinkan pertukaran informasi yang cepat dalam dan antar negara. “
2.5 Metode Sistem Informasi Laboratorium Berbasis Web e-Chasqui
Pelaksanaan desentralisasi, DST cepat berlangsung sebagai bagian dari upaya nasional untuk meningkatkan pelayanan untuk deteksi dan pengobatan MDR-TB dan XDR-TB oleh Kementerian Kesehatan Peru. Padahal awalnya hanya National Reference Laboratory (NRL) Peru yang melakukan DST, kapasitas laboratorium daerah diperluas untuk mencakup lini pertama DSTs yang cepat dan konvensional. Tipe dahak dari sampel sputum pasien TB yang dicurigai dari situs pengobatan awal melalui jaringan laboratorium digambarkan pada Gambar 1. Setiap hasil tes dikomunikasikan berturut-turut, dan dalam setiap langkah, ada penundaan dan kemungkinan kehilangan hasilnya.



Struktur/Alur kerja laboratorium tuberkulosis di Lima, Peru.


*      Metode

   1.      Penilaian Kebutuhan
Langkah pertama dalam menciptakan sistem informasi laboratorium adalah melakukan penilaian kebutuhan stakeholder utama: personil di pusat-pusat kesehatan, laboratorium regional dan nasional. Setelah bekerja sama dengan direktur, teknisi laboratorium dan staf entri data di laboratorium yang berpartisipasi serta dokter, perawat dan teknisi laboratorium lokal di bebernapa pusat-pusat kesehatan, daftar persyaratan informasi diciptakan. Sementara sebagian besar persyaratan yang diidentifikasi selama periode awal ini, muncul selama proses implementasi.
   2.      Integrasi ke Alur Kerja Laboratorium
Sistem informasi laboratorium perlu diintegrasikan dalam alur kerja dari daerah yang sibuk dan laboratorium pusat. Integrasi sistem informasi masih diperlukan penyesuaian alur kerja untuk memasukkan entri data, verifikasi digital, dan pencetakan hasil dari sistem. Ini dilakukan melalui diskusi berulang dengan direksi laboratorium diikuti dengan sesi latihan selama satu jam untuk semua personil laboratorium. Bagaimanapun perubahan-perubahan dalam alur kerja tidak mengakibatkan peningkatan tuntutan waktu; malahan sistem revisi menghasilkan efisiensi yang lebih besar untuk kebanyakan personel laboratorium, karena database (dengan back-up handal) menghindarkan kebutuhan untuk fotokopi dan memelihara salinan fisik dari semua hasil di laboratorium.
3  .      Desain Sistem
Sistem informasi laboratorium elektronik, yang disebut e-Chasqui, mendukung masuknya desentralisasi dan tampilan pemeriksaan bakteriologis (mikroskopi, pemeliharaan, identifikasi spesies, dan DSTs). Para petugas e-Chasqui adalah orang-orang cerdas yang sudah terlatih. Selain itu, ini termasuk aplikasi untuk menilai kontrol kualitas, menghasilkan laporan agregat, memberitahu pusat kesehatan hasil baru atau sampel yang terkontaminasi, dan melacak pasien yang terdaftar dan status tes laboratorium yang tertunda. e-Chasqui memperluas sistem rekam medis elektronik TB berbasis web, PIHEMR, yang telah digunakan di Peru sejak tahun 2001. Untuk melindungi kerahasiaan pasien, e-Chasqui memasukkan enkripsi luas dan fitur keamanan web untuk rekam medis PIH-EMR. Semua pengguna menandatangani perjanjian kerahasiaan sebelum diberikan akses.
Sasaran utama dari sistem ini adalah semua laboratorium, termasuk Pusat-pusat kesehatan, untuk memasuki tes mereka melakukan dan menggunakan sistem untuk tes lebih lanjut. Namun, dalam tahap awal semua data dimasukkan di NRL dan laboratorium regional dengan “read-only” akses yang disediakan untuk Pusat-pusat kesehatan. Oleh karena itu ketika laboratorium e-Chasqui pertama menerima sampel, mereka memasukkan semua hasil tes sebelumnya pada sampel tersebut.
4  .      Perawatan Pasien
Inti dari  e-Chasqui adalah halaman pasien tunggal yang mengandung riwayat dari semua tes yang dilakukan untuk pasien pada sidebar kiri, dan rincian untuk setiap sampel tunggal pada bagian utama dari halaman (Gambar 2). Untuk satu sampel, tes dapat dilakukan hingga empat laboratorium berbeda. Semua hasil tes ditampilkan dalam satu halaman ini untuk memberikan riwayat penuh sampel. Kemampuan pelacakan ini adalah manfaat tambahan, sebelum e-Chasqui ini diimplementasi, sistem personil laboratorium dan klinis kekurangan tanggal permintaan tes atau pemeliharaan data ketika mereka menerima hasil DST. Sistem ini menggunakan algoritma pencarian yang fleksibel baik nama pasien (termasuk nama parsial) atau oleh nomor identifikasi tes sampel. Halaman pasien ini, seperti yang lain, hanya berisi teks dan menggunakan SQL optimal untuk memuat cepat bahkan di daerah dengan bandwidth rendah.
Dari halaman ini, pengguna dapat memilih tes untuk dicetak dalam format laporan resmi. Meskipun masing-masing pusat kesehatan dapat mencetak laporan segera setelah verifikasi laboratorium, setiap laboratorium juga mencetak salinan dan mengirimkan laporan bercap “resmi” kepada pusat kesehatan untuk catatan kertas mereka. Karena muatan yang tinggi dari pasien TB, personil pusat kesehatan meminta kemampuan untuk melihat hasil terbaru mereka pada satu halaman dan melacak status dari semua sampel mereka yang  sedang diproses. Alat dirancang untuk memenuhi persyaratan ini. Akhirnya, semua pengguna pusat kesehatan menerima notifikasi email tiap malam untuk hasil tes baru pasien yang datang ke pusat kesehatan mereka.
*      Kontrol Kualitas Laboratorium
Personil laboratorium menjelaskan masalah lama dengan memastikan ketepatan waktu pelaporan hasil. Karena hasil pemeliharaan atau DST membutuhkan waktu 20 sampai 60 hari untuk dibaca, beberapa tes “jatuh melalui celah-celah” dan tidak terbaca, atau terlambat dibaca. Selain itu, mereka juga meminta cara untuk memastikan semua hasil telah masuk, untuk meminimalkan duplikat tes, dan memantau tingkat kontaminasi. Oleh karena itu, sistem ini diperluas untuk memasukkan kontrol kualitas alat untuk mengingatkan personil membaca sampel pada kontaminasi dasar, duplikasi atau hasil hilang, dan melaporkan angka kontaminasi. Alat ini biasanya secara otomatis memperbarui tabel atau daftar tes yang menunjukkan informasi yang tepat.



BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Sistem Informasi Laboratorium adalah sebuah system yang khususnya terdapat di dalam Rumah Sakit yang merupakan gabungan perangkat dan prosedur yang digunakan untuk mengelola siklus informasi (mulai dari pengumpulan data sampai pemberian umpan balik informasi) untuk mendukung pelaksanaan tindakan tepat dalam perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan kinerja laboratorium. HL7 adalah standar pesan yang memungkinkan aplikasi klinis untuk pertukaran data. HL7 adalah organisasi standar pengembangan terakreditasi oleh American National Standards Institute (ANSI) untuk penulis berbasis konsensus standar mewakili pandangan yang luas dari para stakeholder sistem kesehatan. Dari sudut pandang praktis, komite HL7 telah menyusun koleksi format pesan dan standar klinis terkait yang longgar mendefinisikan presentasi ideal informasi klinis.
3.2  Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun agar dalam pembuatan makalah selanjutnya bias lebih baik lagi, atas perhatiannya penulis ucapkan terimakasih.


Comments
0 Comments

No comments

Post a Comment

Recent Posts