Yazhid Blog

.

Tuesday, 20 December 2016

MAKALAH JENIS BAKTERI PENYEBAB INFEKSI SYSTEM SARAF



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Infeksi pada sistem syaraf pusat dan pada jaringan disekitarnya merupakan kondisi yang mengancam jiwa. prognosis tergantung pada identifikasi tempat dan jenis pathogen yang menyebabkan terjadinya inflamasi sehingga bisa diberikan pengobatan anti biotic yang efektif secepat mungkin. Olehkarena analisis LCS, biopsy, dan analisis laboratorium merupakan Gold standard untuk mengidentifikasi pathogen penyebab meningitis, neuroimaging merupakan pemeriksaan yang sangat penting untuk menggambarkan letak lesi pada otak dan medulla spinalis.
gambaran pola lesi menentukan diagnosis yang tepat dan menentukan tatalaksana terapi selanjutnya. khususnya, neuroimaging memiliki peran yang sangat penting pada penyakit-penyakit oportunistik, bukan hanya untuk penegakan diagnosis, namun juga untuk memantau respon terapi. makalah ini membahas penemuan terkini dalam bidang neuroimaging pada infeksi system saraf pusat seperti meningoensefalitis bacterial, ventrikulitis dan infeksi medulla spinalis, baik oleh virus, bakteri maupun penyakit oportunistik pada system saraf pusat.

1.2  Rumusan Masalah
   1.      Bagaimana kalasifikasi, morfologi, pathogenesis, gejala klinis dan pengobatan Bakteri Haemophilus influenza ?
   2.       Bagaimana kalasifikasi, morfologi, pathogenesis, gejala klinis dan pengobatan terhadap bakteri Neisseria meningitides ?
   3.      Bagaimana kalasifikasi, morfologi, pathogenesis, gejala klinis dan pengobatan terhadap bakteri Streptococcus pneumonia ?

1.3  Tujuan
   1.      Untuk mengetahui jenis bakteri penyebab infeksi system saraf
   2.      Untuk mengetahui klasifikasi, pathogenesis, gejala klinis dan pengobatan dari bakteri Haemophilus influenza
   3.      Untuk mengetahui klasifikasi, pathogenesis, gejala klinis dan pengobatan dari bakteri Neisseria meningitides
   4.      Untuk mengetahui klasifikasi, pathogenesis, gejala klinis dan pengobatan dari bakteri Streptococcus pneumonia.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Haemophilus influenza
*      Klasifikasi
Divisi : Bakteri
Kelas : Schizomicetes
Ordo : Eubacteriales
Famili : Haemophilunaceae
Genus : Haemophilus
Spesies : Haemophilus influenza

*      Morfologi
Haemophilus influenzae adalah kelompok bakteri yang dapat menyebabkan berbagai jenis infeksi pada bayi dan anak-anak. Bakteri yang semula disebut Bacillus Pfeiffer ini diartikan juga sebagai organisme yang hidup bebas pertama yang memiliki seluruh genome sequencing. Haemophilus influenzae atau yang biasa disingkat H. influenzae adalah bagian dari mikroflora normal pada bagian atas saluran pernapasan pada manusia. Haemophilus influenzae bergerak di antara sel-sel epitel pada saluran pernapasan untuk menginvasi dan menimbulkan penyakit.
Haemophilus influenzaemempunyai ukuran 1 m x 0.3 m. Bakteri ini bebentuk batang negative Gram dan merupakan bakteri yang tidak harus  membutuhkan oksigen untuk pertumbuhannya. Pada tahun 1930, bakeri ini dibagi menjadi 2 jenis yaitu koloni R  yang dibentuk oleh kuman-kuman yang tidak ramah lingkungan (tak bersimpai) dan koloni S yang dibentuk oleh sebaliknya, yaitu oleh kuman-kuman yang bersimpai.
Haemophilus influenzae sangat peka terhadap desinfektan dan kekeringan. Bakteri ini tumbuh optimum pada suhu 37oC dan pada pH 7.4 sampai 7.8 dalam suasana CO2 10%. Tumbuh  di media kultur yang membutuhkan faktor X (hemin) suatu derivat haemoglobin yang termostabil, dan faktor V (NAD atau NADP) yang termolabil. Media kultur yang digunakan untuk membiakkan Haemophilus influenzae adalah agar coklat (karena mengandung faktor X dan V). Haemophilus influenzae juga dapat dibiakkan di media agar darah jika diinokulasikan bersama bakteri lain yang menghasilkan dan melepaskan NAD (misal: Staphylococcus aureus), dan dikultur itu akan terlihat mengelilingi bakteri penghasil NAD tersebut atau disebut fenomena satelit. Bakteri Haemophilus influenzae mempunyai kapsul, dan  tidak bergerak. Bakteri  ini dapat ikut aliran darah atau terkadang menetap di sendi dan dapat menyebar melalui droplet pernafasan atau melalui kontak langsung.

*      Patogenesis
H. influenzae menyebabkan sejumlah infeksi pada saluran pernafasan bagian atas seperti faringitis, otitis media, dan sinusitis yang terutama penting pada penyakit paru kronik. H. influenzae dapat menyebabkan pembengkakan saluran pernapasan bagian atas yang hebat yang mengakibatkan obstruksi dan sering menyebabkan kematian kurang dari 24 jam. Hal ini terjadi karena flu yang diderita sudah sangat berat sehingga menyebabkan meningitis. Meningitis adalah peradangan yang terjadi pada meninges, yaitu membrane atau selaput yang melapisi otak dan syaraf tunjang. Meningitis dapat disebabkan berbagai organisme seperti virus, bakteri ataupun jamur yang menyebar masuk kedalam darah dan berpindah kedalam cairan otak. Bakteri ini masuk kedalam tubuh melalui udara yang dihirup, kemudian menetap didalam tubuh. Didalam tubuh manusia, bakteri ini mengadakan pembelahan dan berkembangbiak dengan jumlah yang banyak, kemudian masuk ke dalam darah sampai ke otak, apabila bakteri ini sudah masuk dan menyebar kedalam peredaran darah (bersifat sistemik) dan masuk ke otak, maka dapat menyebabkan kematian.

*      Gejala Klinis
Gejala-gejala klinis yang disebabkan penyakit ini cukup banyak, tergantung letak infeksi dan jenis penyakit yang disebabkannya. Anak-anak mungkin memiliki gejala klinis yang berbeda tiap pribadi, namun jika disimpulkan, gejala klinis tersebut adalah Irritability (kekurangan makanan dan nutrisi saat bayi, demam (pada bayi prematur temperaturnya dibawah normal), sakit kepala, muntah, sakit di leher, sakit di punggung, posisi badan yang tidka biasa, kepekaan terhadap cahaya, epiglottitis, dyspnoea (sulit bernafas), dysphagia (sulit menelan), septic arthritis, cellulitis, pneumonia, sepicaemia, osteomyelitis, bacteramia, dan empyema. Kasus Hib jarang terjadi pada bayi di bawah 3 bulan atau di atas 6 tahun. Biasanya terjadi pada umur 4-18 bulan.

*      Pengobatan
Pemilihan antibiotika yang akan digunakan dapat ditentukan dengan tes kepekaan secara in vitro. Kebanyakan H. influenzae peka terhadap ampisilin, khloramfenikol, tetrasiklin, sulfonamida dan kotrimoksasol, dan terapi dengan salah satu atau kombinasi obat-obat ini, namun kepekaan kumannya sendiri dan hasil suatu terapi tidak dapat diperkirakan. Terapi untuk anak atau bayi yang terinfeksi meningitis karena Hbi dapat diberikan dexamethasone atau campuran dari cefotaxime sodium/ceftriaxone sodium/ampicillin dengan chloramphenicol.

2.2  Bakteri Neisseria Meningitidis


*      Klasifikasi
Kingdom : Bacteria 
Phylum : Proteobacteria 
Class : Beta Proteobacteria 
Order : Neisseriales 
Family : Neisseriaceae 
Genus : Neisseria 
Species : N. meningitidis 

*      Morfologi 
Bakteri Neisseria meningitis (meningokokus) memiliki ciri identik pada warna dan karakteristik morfologinya dengan Neisseria gonorrhoeae. Ciri khas bakteri ini adalah berbentuk diplokokus gram negative, berdiameter kira-kira 0,8 μm. Neisseria meningitis tidak bergerak (nonmotil) dan tidak mampu membentuk spora. Masing-masing dari kokusnya berbentuk seperti ginjal dengan bagian yang rata atau cekung berdekatan. Bakteri meningokokus ini dapat mengalami otolisis dengan cepat, hal ini khususnya dalam lingkungan alkali. Bakteri N. meningtidis ini memiliki enzim oksidase. mikroorganisme ini paling baik tumbuh pada perbenihan yang mengandung zat-zat organik yang kompleks (misalnya : darah atau protein binatang dan dalam atmosfer yang mengandung CO2 5 %). 
Struktur koloni bakteri ini terdiri dari minimal 8 golongan sero menigokokus (A, B, C, D W-135, X, Y dan Z). Golongan telah dikenal melalui kekhusuan imunologi dari masing-masing kapsul polisakaridanya. Pada polisakarida golongan A adalah suatu polimer dari suatu N-asetilmanosamin fosfat. Sedangkan polisakarida golongan C adalah suatu polimer dari asam N asetil O asetineuraminat.
Untuk antigen meningokokus ini dapat ditemukan dalam darah dan cairan serebrospinal. Pada belahan dunia bagian barat penyakit meningitis yang disebabkan oleh N. meningitidis ini terutama disebabkan oleh meningokous golongan B, C, W-135 dan Y, sedangkan di afrika penyakit ini disebabkan oleh golongan A. Pada nucleoprotein meningokokus (zat P) memiliki beberapa efek toksik untuk manusia namun hal ini tidak spesifik untuk organisme ini.

*      Patogenesis Dan Manifestasi Klinik
Meningokokus masuk ke dalam tubuh lewat traktus aspiratorius bagian atas dan berkembang biak dalam selaput nasofaring. Penyebaran meningokokus lewat aliran darah mengakibatkan terjadinnya lesi metastetik di berbagai tempat di badan, misalnnya kulit,selaput otak, persendian  dan paru-paru.manifestasi kliniknnya tergantung kepada lokasi metastasis.
Penyakit yang timbul dapat berupa demam ringan yang dapatdisertai dengan faringitis tanpaa disertai manifestasi spesifik lainnya dari infeksi meningokokus.  Penyakit sistemik yang ditandai demam dan prostasi leebih mudah diketahui.tidak jarang timbul suatu macula eritematosa, yang disusun dengan munculnnya suatu pethikiae yang terus berkembang menjadi suatu ekhimosis. Purpura siklusitik inididahului oleh suatu emboli meningokokuss dan dianggap suatu tanda khas untuk penyakit yang berat. Meningokoksemia dapat disertai meningitis, perikarditis, dan penyakit padaa organ-organ lainnya.

*      Diagnosis Laboratorium
Infeksi meningokokus terutaamaa didiagnosis dengan cara identifikasiNeisseria meningitidis dalam bahan yang didapat dari penderita. Jika bahan berupa eksudat ,misalnnya likuor serebrospinalis, maka dapat dibuat diagnosis presumptive yang cepat dengan cara menemukan diplokokus negative gram dalam sediaan apus. Kuman kadang-kadang juga dapat ditemukan dalam sediaan apus yang berasal dari petekhiae. Dalam kasus septicemia, kuman juga daapaat  ditemukan dalam sediaan apus darah tepi.
Bahan pemeriksaan dapat berupa darah, likuor seebrospinalis, bahan dari pethekiae, cairan sendi, usap tenggorok atau nasofaring. Medium selektif Thayer-martin dipergunakan untuk pemeriksaan bahan yang mengandung bermacam- macam bakteri, sedangkan bahan-bahaan yang berasal dari darah,likuor, atau bahan-bahan yang secara normal steril, ditanam dalam kaldu trypticase soy atau pelat agar coklat dalam cukup CO2.
Counter current immunooelecthroporesis adalah suatu tekhnik atau cara yang dipakai untuk identifikasi polisakarida meningokokus dalam darah, likuor dan cairan sendi secara cepat. Adannya antibody serum dalam penderita dapat diketahui dengan hemaglutinasi hambaatan pasif atau dengan radioactive antigen biding test merupakan cara yang paling sensitive saat ini.

*      Pengobatan
Orang yang terkena bakteri Neisseria meningitidis dianjurkan memperoleh bantuan medis dengan segera. Pasien akan memperlukan perawatan di rumah sakit. Kalau tidak dapat diberi obat penicillin untuk mengobati infeksi terkena bakteri Neisseria meningitidis, karena bakteri ini sensitive terhadap penicillin dengan kosentrasi hambatan minimum 0,3 mikrogram/ml.. penicillin Gin aqua diberikan secara intravena dengan dosis tinggi. Pada penderita yang sensitive penicillin, kloramfenikol merupakan terapi alternative yang efektif. Selain itu perlu juga dihindarkan terjadinnya koagulasi intravaskuler yang menyebar.

2.3  Streptococcus Pneumonia
*      Klasifikasi
Kingdom   : Bakteri
Filum         : Frimicutes
Kelas         : Cocci
Ordo          : Lactobacillales
Famili        : Streptococcaceae
Genus        : Streptococcus
Spesies      : Streptococcus pneumonia

*      Morfologi
Bakteri Streptococcus pneumonia berbentuk diplokokus dan memanjang seperti lanset. Dapat berbentuk tunggal berbentuk kapsul atau seperti rantai yang dikelilingi oleh sebuah kapsul. Bakteri ini tidak membentuk spora dan tidak bergerak. Bakteri ini mudah diwarnai dengan pewarnaan yang sederhana. Bersifat garam positif dan mudah berubah menjadi garam negatif pada sendian yang agak tua.

*      Patogenesis
1. Produksi Penyakit
Streptococcus Pneumoniae menyebabkan penyakit melalui kemampuannya untuk berkembang biak didalam jaringan. Mereka tidak menghasilkan toksin. Virulensi dari organisme merupakan fungsi kapsulnya, yang dapat mencegah atau menunda pencernaan oleh fagosit. Serum yang mengandung antibodi terhadap polisakarida tipe spesifik dapat melindungi dari infeksi. Jika serum tersebut diserap oleh polisakarida tipe tertetu, maka serum tersebut akan kehilangan daya proteksinya. Hewan atau manusia yang diimunisasi dengan tipe pneumococcus tersebut dan memiliki antibodi presipitasi dan antibodi opsonisasi untuk tipe polisakarida tersebut.
2. Resistensi Alamiah
40-70% dari manusia kadang-kadang merupakan carrier pneumococcus yang virulen, maka mukosa pernapasan normal harus memiliki daya tahan alamiah bagi pneumococcus. Diantara faktor-faktor yang mungkin menyebabkan rendahnya resistensi dan berpengaruh pada infeksi pneumococcal adalah sebagai berikut :
Ø  Ketidak normalan saluran pernapasan
Virus dan infeksi-infeksi lain yang merusak sel permukaan : akumulasi abnormal mucus (alergi) yang melindungi pneumococcus dari fagositos, obstruksi bronchus (missal atelectasis) dan kerusakan saluran pernapasan disebabkan oleh bahan iritan yang mengganggu fungsi mucocilary.
Ø  Alkohol atau intoksikasi obat
Menyebabkan menekan kegiatan fagositik, menekan reflex batuk, dan memudahkan aspirasi bahan asing.
Ø  Mekanisme lain
Kekurangan gizi, kelemahan umum, anemia sickle cell, hiposplenisme, nefrosis atau difisiensi bahan tambahan.

*      Gejala Klinis
Serangan pneumonia oleh pneumococcus biasanya mendadak, diikuti dengan demam, menggigil dan nyeri tajam pada pleura. Sputum mirip dengan eksudat alveolar, secara karakteristik berdarah atau berwarna merah kecoklatan. Awal penyakit ini, ketika demam menggigil, maka bakteremia tampak dalam 10-20% kasus. Dengan terapi antimikroba, penyakit biasanya hilang secara bertahap. Jika obat-obat diberikan secara awal, maka perkembangan konsolidasi terganggu.

*      Pengobatan
Karena pneumococcus bersifat sensitif terhadap antimikroba, perawatan awal biasanya berlangsung pada proses pemulihan yang cepat dan respon antibodi agaknya kurang berperan. Penisilin G merupakan obat pilihan. Tapi di Amerika Serikat 5-10% pneumococcus resisten terhadap penisilin dan kira-kira 20% agak resisten (MIC 0,1-1µg/ml). penisilin G dosis tinggi dengan MICs sebesar 0,1-2µg/mL ternyata efektif untuk menangani pneumonia yang disebabkan oleh pneumococcus tetapi tidak efektif menangani meningitis yang disebabkan oleh strain yang sama. Beberapa strain yang resisten penisilin ternyata juga resisten terhadap cefrizoxime, juga resisten terhadap tetrasiklin dan eritromisin. Pneumococcus peka terhadap vankomisin.



BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Haemophilus influenzae adalah kelompok bakteri yang dapat menyebabkan berbagai jenis infeksi pada bayi dan anak-anak. Haemophilus influenzae bergerak di antara sel-sel epitel pada saluran pernapasan untuk menginvasi dan menimbulkan penyakit. Gejala-gejala klinis yang disebabkan penyakit ini cukup banyak, tergantung letak infeksi dan jenis penyakit yang disebabkannya. Bakteri Neisseria meningitis (meningokokus) memiliki ciri identik pada warna dan karakteristik morfologinya dengan Neisseria gonorrhoeae. Bakteri Streptococcus pneumonia berbentuk diplokokus dan memanjang seperti lanset. Dapat berbentuk tunggal berbentuk kapsul atau seperti rantai yang dikelilingi oleh sebuah kapsul.
3.2  Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun agar dalam pembuatan makalah selanjutnya bias lebih baik lagi, atas perhatiannya penulis ucapkan terimakasih.
  



Daftar Pustaka

http://en.wikipedia.org/wiki/Haemophilus_influenzae
http://mikrobia.wordpress.com/2007/05/17/haemophilus-influenzae/
http://www.medicastore.com. Senin 5 Februari 2007
http://www.bmb.leeds.ac.uk/mbiology/ug/ugteach/icu8/introduction/bacteria.html



Comments
0 Comments

No comments

Post a Comment

Recent Posts