Yazhid Blog

.

Thursday, 15 December 2016

LAPORAN PRAKTIKUM PENJERNIHAN AIR

LATAR BELAKANG
Air merupakan suatu kebutuhan yang tidak dapat ditinggalkan untuk kehidupan manusia, karena air diperlukan untuk bermacam-macam kegiatan seperti minum, pertanian, industri, perikanan, dan rekreasi.
Air merupakan senyawa kovalen biner yang tersusun dari dua macam atom (H dan O) dengan rumus molekul H2O. Air adalah suatu senyawa kimia yang termasuk zat kimia yang dapat dijumpai dalam tiga fasa, yaitu gas, cair dan padat. Dalam bentuk gas, air terdapat di udara yang sumbernya dari penguapan air yang ada di darat dan di laut. Dalam bentuk cair, air terdapat di permukaan bumi dalam jumlah besar yaitu mencapai 97 % dari total ketersediaan air, sedangkan dalam bentuk padat terdapat sebagai salju dan es abadi sekitar 25 %. Pada ketiga fasa, secara kimiawi air tidak berubah dan mempunyai rumus H2O.
Air mempunyai daya larut tinggi, kepadatan dan panas tertentu. Dari kemampuan tersebut air mendukung keberadaan ekosistem alam di bumi, mendukung kebutuhan manusia dalam berbagai kehidupan terutama kebutuhan untuk minum.
Proses penjernihan air menggunakan tawas merupakan yang paling aman dan efektif dalam proses sterilisasu dari pencemar organik. Melakukan sistem pengolahan limbah rumah tangga yang murah dan mudah diterapkan juga dapat memberi hasil yang optimal dalam mengolah dan mengendalikan limbah rumah tangga sehingga dampaknya terhadap lingkungan dapat dikurangi.




­­PERCOBAAN VII

I.             Judu Praktikum              :
Penjernihan Air
II.          Tujuan Praktikum           :
1.      Untuk menegtahui pada konsentrasi berapa penambahan tawas yang paling optimum untuk menjernihkan air.
2.      Untuk mengetahui pH sampel air rawa mendekati normal.
III.       Landasan Teori
Air merupakan materi esensial dalam kehidupan. Bukti-bukti menunjukkan semakin tinggi taraf kehidupan, jumlah kebutuhan air semakin meningkat. Kebutuhan yang meningkat mendorong pengadaan sumber air baru, misalnya yang berasal dari air tanah, mengolah dan menawarkan air laut, maupun mengolah dan menyehatkan kembali sumber air kotor yang telah tercemar seperti air sungai dan danau. (Winarno, 1986).
Nilai pH air normal adalah sekitar netral, yaitu antara pH 6-8, sedangkan pH air yang terpolusi, misalnya air buangan, berbeda-beda tergantung dari jenis buangannya. Sebagai contoh, air buangan pabrik pengalingan mempunyai pH 6.2-7.6,air buangan air susu dan produk-produk susu biasanya mempunyai pH 5.3-7.8, air buanga pabrik bier mempunya pH 5.5-7.4, sedangkan air buangan pabrik pulp dan kertas biasanya mempunyai pH 7.6-9.5.
Pada indusri-industri makanan, peningkatan keasaman air buangan umumnya disebabkan oleh kandungan asam-asam organik.Air buangan indusrri-industri bahan anorganik pada umumnya mengandung asam mineral dalam jumlah tinggi sehingga keasamanya juga tinggi atau pHnya rendah. Adanya komponen besi sulfur (FeS2) dalam jumlah tinggi di dalam air juga akan meningkatkan keasamanya karena FeS2 dengan udara dan air akan membentuk H2SO4 dan besi atau (Fe) yang larut (Djajaningrat & Harry, 1993).
Perubahan pengasaman pada air buangan, baik ke arah alkali (pH naik) maupun ke arah asam (pH menurun), akan sangat mengganggu kehidupan ikan dan hewan air di sekitarnya. Selain itu, air buangan yang mempunyai pH rendah bersifat sangat korosif terhadap baja dan sering menyebabkan pengkaratan pada pipa-pipa besi (Djajaningrat & Harry, 1993).
Proses penjernihan air menggunakan tawas merupakan yang paling aman dan efektif dalam proses sterilisasu dari pencemar organik. Melakukan sistem pengolahan limbah rumah tangga yang murah dan mudah diterapkan juga dapat memberi hasil yang optimal dalam mengolah dan mengendalikan limbah rumah tangga sehingga dampaknya terhadap lingkungan dapat dikurangi.Salah satu cara untuk limbah rumah tangga ini dengan pemnfaatan sumber daya alam yang telah diketahui memiliki kaitan erat dengan proses penjernihan air limbah rumah tangga,dengan berbagi jenis tanaman air yang tumbuh pada kolam-kolam atau genangan air disekitar permukiman (Prabhakar, 2009)
Air memiliki sifat pelarut yang baik sehingga dapat melarutkan bahan-bahan organik sisa-sisa pembuangan(limbah).Bahan-bahan organik yang terlarut ini akan mengalami penguraian dan pembusukan,peristiwa inilah yang menyebapkan air menjadi tercemar.Air yang tercemar ini mempunyai kadar oksigen yang menurun dratis sehingga biota air akan mati.Ciri-ciri air yang tercemar dapat dilihat secara kualitatif yaitu warna,viskositas dan bau.(Arutanti, Osi ; 2009).



IV.       Alat Dan Bahan
A.    Alat yang digunakan :
1.      Batang pengaduk
2.      Beaker gelas
3.      Botol semprot
4.      Corong gelas
5.      Erlenmeyer 250 mL
6.      Gelas kimia 250 mL
7.      Karet penghisap
8.      Labu ukur 100 mL, 1000 mL
9.      Pipet ukur 10 mL, 50 mL
10.  Pipet tetes
11.  Pipet volume 50 mL
B.     Bahan yang digunakan :
1.      Aquadest
2.      Koagulan ( tawas )
3.      Kertas pH universal
4.      Kertas saring
5.      Sampel air rawa



V.          Perhitungan Dan Pembuatan Reagen
1.      Perhitungan reagen
1 ppm              = 1 mg/L
1000 ppm        = 1000 mg/L = 1 gram
a.       Untuk konsentrasi 10 ppm, 100 mL
Ppm1 . V1       = ppm2 . V2
1000 . V1        = 10 . 100
            V1       =   
            V1       = 1 mL
b.      Untuk konsentrasi 30 ppm, 100 mL
Ppm1 . V1       = ppm2 . V2
1000 . V1        = 30 . 100
            V1       =   
            V1       = 3 mL
c.       Untuk konsentrasi 50 ppm, 100 mL
Ppm1 . V1       = ppm2 . V2
1000 . V1        = 50 . 100
            V1       =   
            V1       = 5 mL

d.      Untuk konsentrasi 80 ppm, 100 mL
Ppm1 . V1       = ppm2 . V2
1000 . V1        = 80 . 100
            V1       =   
            V1       = 8 mL
e.       Untuk konsentrasi 100 ppm, 100 mL
Ppm1 . V1       = ppm2 . V2
1000 . V1        = 100 . 100
            V1       =
            V1       = 10 mL
2.      Perhitungan reagen
a.       Untuk konsentrasi 10 ppm, 100 mL
1.      Dipipet 1 mL larutan induk
2.      Dimasukkan ke labu ukur 100 mL
3.      Dicukupka volumenya dengan aquadest sampai tanda batas
4.      Dihomogenkan
b.      Untuk konsentrasi 30 ppm, 100 mL
1.      Dipipet 3 mL larutan induk
2.      Dimasukkan ke labu ukur 100 mL
3.      Dicukupka volumenya dengan aquadest sampai tanda batas
4.      Dihomogenkan
c.       Untuk konsentrasi 50 ppm, 100 mL
1.      Dipipet 5 mL larutan induk
2.      Dimasukkan ke labu ukur 100 mL
3.      Dicukupka volumenya dengan aquadest sampai tanda batas
4.      Dihomogenkan
d.      Untuk konsentrasi 80 ppm, 100 mL
1.      Dipipet 8 mL larutan induk
2.      Dimasukkan ke labu ukur 100 mL
3.      Dicukupka volumenya dengan aquadest sampai tanda batas
4.      Dihomogenkan
e.       Untuk konsentrasi 80 ppm, 100 mL
1.      Dipipet 8 mL larutan induk
2.      Dimasukkan ke labu ukur 100 mL
3.      Dicukupka volumenya dengan aquadest sampai tanda batas
4.      Dihomogenkan

VI.       Prosedur Kerja
1.      Pembuatan larutan tawas 1000 ppm
 



1.      Di timbang 1 gram tawas
2.      Dilarutkan dengan aquadest dalam gelas kimia
3.      Dipindahkan ke labu ukur 1000 mL
4.      Dicukupkan volumenya dengan aquadest sampai tanda batas
5.      Rounded Rectangle: Larutan tawas 1000 ppm siap digunakanDikocok dan diberi etiket
2.      Penjernihan Air
 



1.      Dimasukkan sampel air ke dalam gelas kimia 100 mL ( 5x )
2.      Dilakukan pengujian pH
3.      Ditambahkan 10 mL larutan tawas konsntrasi 10, 30, 50, 80, 100 ppm
4.      Dilakukan pangadukan cepat 3 menit
5.      Dilakukan pengadukan lambat 5 menit
6.      Didiamkan selama 15 menit
7.      Diamati bentuk gumpalan ( flok ) dan kecepatan pembentukan flok.
 



8.      Disaring dengan kertas saring
9.      Dilakukan pengujian pH
10.  Diamati perubahan warna
 




11.  Dipilih konsentrasi perubahan tawas yang paling optimum terhadap penjernihan dan pH sampel yang mendekati normal (  pH 7 ).
Rounded Rectangle: 30 ppm

 


VII.    Data Pengamatan

Sampel air rawa

No.
Pengamatan
Variasi
konsntrasi
larutan
tawas
( ppm )


10
30
50
80
100
1
Vol. sampel ( mL)
100
100
100
100
100
2
pH sebelum
7
7
7
7
7
3
pH sesudah
6
7
7
7
7
4
Perubahan warna
Keruh                          Bening
5
Kejernihan
++
+++++
++
++
++
6
Bentuk flok
Pasir halus
Pasir halus
Pasir halus
Pasir halus
Pasir halus
7
Warna
coklat
coklat
coklat
coklat
Coklat




VIII. Pembahasan
Penjernihan air merupakan suatu proses tahap mengolah air, dimana digunakan suatu bahan koagulan untuk membantu pembantu endapan partikel – partikel yang tidak dapat mengendap dengan sendirinya secara gravitasi ( proses koagulasi ). Koagulan yang digunakan pada praktikum ini yaitu tawas atau amilum.
Tawas atau amilum merupakan sejenis koagulan dengan rumus kimia Al2SO4 . 11 H2O atau 14 H20 atau 18 H20. Semakin banyak ikatan molekul hidrat makan semakin banyak ion lawan yang nantinya akan ditangkap akan tetapi umunya tidak stabil. Tawas merupakan senyawa kimia berupa garam sulfat yang memiliki banyak sekali ragamnya salah satunya adalah aluminium sulfat yang banyak digunakan oleh PDAM.
Penjernihan air yang dilakukan pada praktikum ini bertujuan untuk mengetahui pada konsentrasi berapa penambahan tawas yang paling optimum untuk menjernihkan air, dan untuk mengetahui pH sampel air rawa mendekati normal.
Reagen yang digunakan mempunyai konsentrasi 10 ppm, 30 ppm, 50 ppm, 80 ppm,dan 100 pmm. Pada praktikum ini dilakukan penjernihan air pada lima labu Erlenmeyer dengan masing – masing volume 100 mL.
Sebelum dimasukkan atau disaring dalam labu Erlenmeyer sampel air disimpan dalam gelas kimia dimana sampel air tersebut ditambahkan variasi konsentrasi larutan tawas ( ppm ) dengan konsentrasi berbeda pada masing – maisng gelas kimia.
Setelah penambahan larutan tawas maka sampel air didiamkan 15 menit setelah dilakukan pengadukan. Pada prosedur kerjanya dilakukan pengujian pH sebelum dan setelah penambahan larutan tawas untuk kemudian dilakukan perbandingan pH untuk melihat perubahannya. pH yang baik untuk penjernihan air ini yaitu pada pH 7. Pada pH 7 terbentuk Al ( OH ) – 4. Flok – flok Al ( OH )3 mengendap berwarna putih.
Setelah dilakukan praktikum didapatkan hasil yang baik pada labu Erlenmeyer ke 2 dengan variasi konsentrasi larutan tawas 30 ppm. Pada labu Erlenmeyer  lainnya. Dimana pH sebelum dan setelah pemberian tawas tetap pada pH 7. Kejernihannya disimbolkan dengan +5 dengan bentuk flok pasir halus yang berwarna coklat.
IX.       Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan bahwa konsentrasi penambahan tawas yang paling optimum untuk menjernihkan air yaitu, 30 ppm dimana sampel air mengalami pH optimum yaitu 7 dan kejernihannya ( +++++ ), bentuk flok pasir halus dan berwarna coklat.


Daftar Pustaka

Prabakhar, A. 2008. The Effect of Water Purification System on Fluride Content of          Drinking Water.

M. Aryanti. 2009. Penjernihan Air Sungai sefLahan Gambut Menggunakan Karbon           Aktif Gambut. Jakarta : Universitas Indonesia press.
Djajaningrat, Surna T. dan Harry Harsono Amir. 1993. Penilaian Secara Cepat Sumber-     Sumber
Comments
0 Comments

No comments

Post a Comment

Recent Posts