Yazhid Blog

.

Wednesday, 21 December 2016

TEST PROTHROMBIN TIME (PT)

TES PT (Prothrombin Time) Tes PT (Prothrombin Time); adalah tes untuk menentukan defisiensi dari jalur ekstrinsik dan bersama. Memanjan... thumbnail 1 summary
TES PT (Prothrombin Time)

Tes PT (Prothrombin Time); adalah tes untuk menentukan defisiensi dari jalur ekstrinsik dan bersama. Memanjang pada Penyakit hati, Defisiensi vit K, Defisiensi F.VII,X, V, Protrombin dan fibrinogen.  dan secara umum digunakan untuk memonitor penggunaan terapi antikoagulan oral 

A.Pra Analitik
  • Persiapan Pasien    : Tidak dilakukan persiapan khusus
  • Persiapan Sampel   :
1.            Sampel darah dapat diperoleh melalui vena punksi.
2.            Antikoagulan yang dipakai adalah sodium sitrat 3,2 % atau 3,8 % dengan perbandingan 9:1 (9 bagian darah:  l bagian Na.Sitrat).
3.            Sampel darah disentrifus 10‑15 menit dengan kecepatan 2000 rpm
4.            Penampung tidak boleh terbuat dari bahan yang dapat menginduksi aktivasi kontak seperti gelas. Sebaiknya dipakai penampung gelas berlapis silikon atau plastik.

§  Prinsip      : PT tahap pertama mengukur waktu bekuan dari plasma setelah penambahan faktor jaringan (tromboplastin) dan kalsium. Rekalsifikasi dari plasma dengan adanya faktor jaringan menimbulkan aktivasi factor X, akibatnya membentuk trombin dan berakhir menjadi bekuan fibrin.

§  Alat:
                      Cara manual
·         Tabung reaksi                                
·         Rak tabung
·         Inkubator                                       
·         Batang pengaduk
·         Stop watch
                      Cara semi otomatik
·           Pipet
·           Stiring bars
·           Tabung tes                                    
·           Stopwatch
·           Cuvet                                            
·            Alat OTOMATIK

§   Bahan
·     Plasma (whole blood dengan antikoagulan natrium sitrat)
·    Reagen tromboplastin yang mengandung ekstrak lyophilized dari otak kelinci dan kalsium klorida (dilarutkan dengan 2 ml air suling)

B. Analitik :
§ Cara kerja :
Cara manual
Ada dua cara yaitu 1 dan 2 :
Cara 1
  1. Reagen tromboplastin 200 µl  dimasukkan dalam tabung 1
  2. Plasma 200 µl dimasukkan dalam tabung 2
  3. Tabung 1 dan 2 diinkubasi selama 3 menit dalam inkubator yang bersuhu 37 OC
  4. Ambil plasma 100 µl pada tabung 2, masukkan dalam tabung 1
  5. Jalankan stopwatch, aduk, amati hingga terjadi  bekuan (jendolan)
  6. Tes diulang pada plasma kontrol

Cara 2
  1. Lakukan langkah 1-4 di atas
  2. Biarkan tabung selama 6‑8 detik dan miringkan setiap 1‑2 detik, hentikan Stopwatch ketika sudah tampak bekuan fibrin.
Cara semiotomatik
  1. Siapkan sampel dan kontrol, sebelumnya hangatkan tabung tes
  2. Masukkan plasma (100 µl) kedalam tabung tes, inkubasi 3‑5 menit pada suhu, ruang
  3. Tambahkan reagen PT (200 µl), saat itu juga jalankan stop watch
  4. Catat waktu yang dibutuhkan membentuk bekuan (Print out)
  









Sunday, 18 December 2016

Monday, 12 December 2016

MAKALAH PENYAKIT MENULAR SEKSUAL (PMS)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang                  Penyakit menular seksual (PMS, penyakit kelamin) adalah salah satu penyakit m... thumbnail 1 summary
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
                 Penyakit menular seksual (PMS, penyakit kelamin) adalah salah satu penyakit menular yang paling umum ditemukan di berbagai negara. Penyakit menular seksual kadang-kadang disebut sebagai infeksi menular seksual, karena kondisi ini melibatkan transmisi organisme menular antara pasangan seks. Lebih dari 20 PMS yang berbeda telah diidentifikasi, dan jutaan orang baik pria maupun wanita yang terinfeksi setiap tahunnya.
                 Tergantung pada penyakit, infeksi dapat menyebar melalui jenis aktivitas seksual yang melibatkan organ seks, anus, atau mulut, infeksi juga dapat menyebar melalui kontak dengan darah selama aktivitas seksual. Orang-orang yang berbagi jarum yang tidak steril secara nyata meningkatkan kesempatan untuk melewati banyak penyakit, termasuk penyakit kelamin kepada orang lain.
                 Penyakit menular seksual mempengaruhi laki-laki dan perempuan dari segala usia dan latar belakang, termasuk anak-anak. Perkembangan penyakit seksual ini dipicu pleh mengkatnya aktifitas seksual pada usia yang lebih muda, memiliki banyak pasangan, dan tidak menggunakan metode pencegahan penularan penyakit menular seksual.
                
1.2 Rumusan Masalah
1.      Definisi Penyakit Menular Seksual ?
2.      Etiologi  Penyakit Menular Seksual ?
3.      Klasifikasi Penyakit Menular Seksual ?

1.3 Tujuan Penulisan
1.      Agar dapat mengetahui Pengertian Penyakit Menular Seksual (PMS)
2.      Agar dapat mengetahui Etiologi Penyakit Menular Seksual (PMS)
3.      Agar lebih dapat memahami klasifikasi bakteri Penyakit Menular Seksual (PMS)


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
                 Penyakit menular seksual (PMS, penyakit kelamin) adalah salah satu penyakit menular yang paling umum ditemukan di berbagai negara. Penyakit menular seksual kadang-kadang disebut sebagai infeksi menular seksual, karena kondisi ini melibatkan transmisi organisme menular antara pasangan seks. Lebih dari 20 PMS yang berbeda telah diidentifikasi, dan jutaan orang baik pria maupun wanita yang terinfeksi setiap tahunnya.

2.2 Etiologi
                 Penyakit menular seksual dapat hadir tapi tidak menimbulkan gejala, terutama pada wanita (misalnya, klamidia, herpes genital atau gonorrhea). Hal ini tidak menutup kemungkinan bisa terjadi pada beberapa pria. Masalah kesehatan dan konsekuensi jangka panjang dari PMS cenderung lebih parah bagi wanita dari pada laki-laki. Beberapa PMS dapat menyebabkan infeksi panggul seperti penyakit radang panggul (PID), yang dapat menyebabkan abses Tuba ovarium. Abses pada gilirannya dapat menyebabkan parut pada organ reproduksi, yang dapat menyebabkan kehamilan ektopik (kehamilan di luar rahim), infertilitas atau bahkan kematian bagi seorang wanita.

2.3 Klasifikasi
                 Penyebab penyakit menular seksual ini dapat terjadi akibat serangan bakteri seperti Chancroid (Haemophilus ducreyi), Klamidia (Chlamydia trachomatis), Gonore (Neisseria gonorrhea), Granuloma inguinale (Calymmatobacterium granulomatis), Lymphogranuloma venereum (Chlamydia trachomatis), atau Sifilis (Treponema pallidum). Penyakit menular seksual akibat virus contohnya herpes genitalia, hepatitis, HIV, dll. Ada juga akibat infeksi jamur (Candida albicans). Yang terakhir akibat dari parasit seperti pediculosis pubis, sarcoptes scabiei .

1. NEISSERIA GONORRHOEAE



*      Klasifikasi
Kingdom         : Bacteria
Phylum            : Proteobacteria
Class                :  Beta Proteobacteria
Ordo                : Neisseriales
Familia             : Neisseriaceae
Genus              : Neisseria
Spesies             : Neisseria gonorrhoeae
Pewarnaan Gram dari eksudat         pewarnaan Gram dari biakan murni 

*        Morfologi
                        Neisseria gonorrhoeae adalah kuman gram negatif bentuk diplokokus yang merupakan penyebab infeksi saluran urogenitalis. Kuman ini bersifat fastidious dan untuk tumbuhnya perlu media yang lengkap serta baik. Akan tetapi, ia juga rentan terhadap kepanasan dan kekeringan sehingga tidak dapat bertahan hidup lama di luar host-nya. Penularan umumnya terjadi secara kontak seksual dan masa inkubasi terjadi sekitar 2–5 hari.
*      Patogenitas
                        Gonococci menyerang membran selaput lendir dari saluran genitourinaria, mata, rektum dan tenggorokan, menghasilkan nanah akut yang mengarah ke invasi jaringan; hal yang diikuti dengan inflamasi kronis dan fibrosis. Pada pria, biasanya terjadi peradangan uretra, nanah berwarna kuning dan kental, disertai rasa sakit ketika kencing. Infeksi urethral pada pria dapat menjadi penyakit tanpa gejala. Pada wanita, infeksi primer terjadi di endoserviks dan menyebar ke urethra dan vagina, meningkatkan sekresi cairan mukopurulen. Ini dapat berkembang ke tuba uterina, menyebabkan salpingitis, fibrosis dan obliterasi tuba.
                        Bakterimia yang disebabkan oleh gonococci mengarah pada lesi kulit (terutama Papula dan Pustula yang hemoragis) yang terdapat pada tangan, lengan, kaki dan tenosynovitis dan arthritis bernanah yang biasanya terjadi pada lutut, pergelangan kaki dan tangan. Endocarditis yang disebabkan oleh gonococci kurang dikenal namun merupakan infeksi yang cukup parah. Gonococci kadang dapat menyebabkan meningitis dan infeksi pada mata orang dewasa; penyakit tersebut memiliki manisfestasi yang sama dengan yang disebabkan oleh meningococci.
                        Gonococci yang menyebabkan infeksi lokal sering peka terhadap serum tetapi relatif resisten terhadap obat antimikroba. Sebaliknya, gonococci yang masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan infeksi yang menyebar biasanya resisten terhadap serum tetapi peka terhadap penisilin dan obat antimikroba lainnya serta berasal dari auksotipe yang memerlukan arginin, hipoxantin, dan urasil untuk pertumbuhannya.

*      Gejala klinis
                                    Masa tunas sangat singkat, pada pria umumnya bervariasi antara 2-5 hari, kadang-kadang lebih lama dan hal ini disebabkan karena penderita telah mengobati sendiri tetapi dengan dosis yang tidak cukup atau gejala sangat samar sehingga tidak diperhatikan oleh penderita.
                                    Gejala dan tanda pada pasien laki-laki dapat muncul 2 hari setelah pajanan dan mulai dengan uretritis, diikuti oleh secret purulen, disuria dan sering berkemih serta malese. Sebagian besar laki-laki akan memperlihatkan gejala dalam 2 minggu setelah inokulasi oleh organisme ini. Pada beberapa kasus laki-laki akan segera berobat karena gejala yang mengganggu.
                                    Pada perempuan, gejala dan tanda timbul dalam 7-21 hari, dimulai dengan sekret vagina. Pada pemeriksaan, serviks yang terinfeksi tampak edematosa dan rapuh dengan drainase mukopurulen dari ostium. Perempuan yang sedikit atau tidak memperlihatkan gejala menjadi sumber utama penyebaran infeksi dan beresiko mengalami penyulit. Apabila tidak diobati maka tanda-tanda infeksi meluas biasanya mulai timbul dalam 10-14 hari. Tempat penyebaran tersering pada perempuan adalah pada uretra dengan gejala uretritis, disuria, dan sering berkemih. Pada kelenjar bartholin dan skene menyebabkan pembengkakan dan nyeri. Infeksi yang menyebar ke daerah endometrium dan tuba falopii menyebabkan perdarahan abnormal vagina, nyeri panggul dan abdomen dan gejala-gejala PID progresif apabila tidak diobati.

*      Pemeriksaan lab
                                          Untuk pengambilan bahan pemeriksaan, diperlukan  prasarana sebagai berikut:
   a) Kapas steril.
      b) Kapas lidi (kapas yang diberi tangkai dengan panjang 10-20 cm) steril.
c) Speculum vagina, khusus untuk pengambilan bahan pada wanita dari      vagina dan srviks uteri.
d) Tabung steril untuk mengirimkan bahan ke laboratorium atau lebih       baik specimen dimasukkan ke dalam medium transport.
                  Untuk specimen dari penderita laki-laki :
a)      Berupa nanah yang keluar dari urethra.
      b)      Bila terhadi uretrhritis posterior, bahan pemeriksaan diambil dengan        cara memasukkan kapas lidi steril yang dibasahi aquadest ke dalam        urethra.
c)      Dapat berupa hasil sentrifugasi dari urin.
      d)     Pada prostatitis, specimen diperoleh dari endapan urin setelah       pemijatan kelenjar prostat.
                        Selain itu, specimen pada wanita dan laki-laki juga bisa diambil dari rectum (proktitis), sendi (artritis), mata (gonoblenorrhoe), darah (gonokoksemia); faring (faringitis), kulit (lesi kutaneus).
                        Beberapa keadaan yang dapat merupakan rangsangan untuk maksud pengambilan specimen adalah :
      a)      Rangsangan alamiah, misalnya menstruasi;
      b)      Rangsangan fisiologis, misalnya koitus menggunakan kondom;
      c)      Rangsangan artifisial;
·     Mekanik, massase urethra laki-laki dan massase vesikuloprostat,
·     Khemis,
·     Minum alcohol.

                  Selanjutnya, terhadap specimen dilakukan :
a)      Pemeriksaan langsung dengan pewarnaan gram,
b)      Pembiakan pada medium selektif,
c)      Fermentasi gula-gula,
d)     IFA (Immune Fluorescence Antibody) technique.
                        Pada diagnosis laboratorium, perlu diingat adanya bakteri atau organisme lain yang terdapat di daerah system urogenital eksterna yang sering ikut terambil oleh kapas lidi steril yang digunakan sehingga harus berhati-hati dalam menegakkan diagnosis gonorrhoe

*      Pengobatan
                                    Untuk pengobatan, penisilin merupakan obat pilihan, tetapi sekarang diperlakukan dosis yang sangat besar karena mekanisme resitensi bakteri.
      1.      Procaine penicillin G (injeksi) atau ampisilin (per oral), yang             dikombinasi dengan probenisid.
      2.      Obat lainnya : tetrasiklin, spektinomisin, kanamisin, dan golongan              kuinolon
                              Terdapat kesulitan untuk melakukan control terhadap       penyakit gonorrhoe oleh karena beberapa hal berikut ini :
a)      Masa inkubasi yang sangat pendek.
b)      Adanya gonorrhoe asimptomatik.
c)      Aktivitas seksual dengan partner seks yang banyak.
d)     Kadar hambat minimal penisilin terhadap Neisseria gonorrhoeae yang       makin meningkat.

2. TREPONEMA PALIDA



*      Klasifikasi
Kingdom         : Eubacteria
Phylum            : Spirochaetes
Class                : Spirochaetes
Ordo                : Spirochaetales
Familia : Treponemataceae
Genus              : Treponema
Spesies             : Treponema pallidum

*      Morfologi
                                    Treponema pallidum termasuk dalam bakteri gram negatif berbentuk spiral, dengan ukuran panjang 5-10 µm (rata-rata 10-13 µm) dan tebal 0,1-0,2 µm (rata-rata 0,1-0,15 µm). Lilitan spiralya tertata dengan jarak 1 µm satu sama lainya. Susunan Treponema pallidum (bobot kering) kira-kira adalah 70% protein, 20 % liipid dan 5 % karbohidrat.
                                    Treponema palida adalah bakteri penyebab sifilis, yang ditularkan ketika hubungan seksual dengan cara kontak langsung dari luka yang mengandung treponema. Treponema dapat melewati selaput lendir yang normal atau luka pada kulit. 10-90 hari sesudah treponema memasuki tubuh, terjadilah luka pada kulit primer (chancre atau ulkus durum).
                                    Organisme ini bergerak secara aktif dengan mengadakan rotasi secara terus-menerus pada filamen aksialnya yang sentral meskipun telah menambatkan pada sel hospes dengan ujungnya yang meruncing.Treponema pallidum dapat bergerak selama 3-6 hari pada suhu 25ºC. Di dalam darah lengkap atau plasma yang disimpan pada suhu 4ºC, organisme ini tetap viabel selama sedikitnya 24 jam, yang secara potensial penting pada tranfusi darah.
*      Patogenitas
                                    Manusia merupakan hospes alami satu-satunya bagi Treponema pallidum, dan infeksi terjadi akibat kontak seksual. Treponema pallidum yang merupakan patogen yang paling virulen terhadap manusia, menyebabkan sifilis venerik pada manusia dan menimbulkan lesi pada kulit dan testis.
                                    Organisme ini menembus selaput mukosa atau memasuki kulit yang mempunyai luka kecil. Setelah berada di dalam hospes,organisme tersebut terlokalisasi pada tempat masuknya dan mulai memperbanyak diri.
                                    Treponema pallidum segera memasuki aliran darah dan pembuluh limfe kemudian tersebar ke jaringan lainnya. Dengan demikian, sejak awal sifilis merupakan penyakit yang menyerang seluruh bagian tubuh, menyerang jaringan meliputikelenjar limfe, kulit, selaput mukosa, hati, limfa, ginjal, jantung, tulang, laring, mata, otak, selaput otak, dan susunan saraf pusat. Pada wanita lesi awal biasanya terdapat pada labia, dinding vagina atau pada serviks, sedangkan pada pria lesi awal terdapat pada batang penis atau pada dlans penis. Lesi primer dapat pula terjadi pada bibir, lidah, tonsil, atau daerah kulit lainya.
*      Gejala klinis
                                    Manifestasi klinik sifilis bersifat kompleks, serta periode timbulnya masing-masing stadium sangat berbeda. Pada saat jumlah bakteri Treponema meningkat, timbul manifestasi klinik dan apabila jumlahnya berkurang sebagai akibat respon respons hospes yang efektif, maka terjadi periode asimtomatik.
Pembagian sifilis berdasarkan manifestasi klinik
(1)   Masa inkubasi yang berlangsung sekitar 3 minggu
(2)   Stadium primer yang ditandai oleh lesi kulit yang tidak nyeri        (chancre) pada tempat infeksi yang terkait dengan limfadenopati         regional dan bakteremia dini;
(3)   Stadium bakteremia sekunder atau stadium diseminata yang disertai            lesi mukokutan dan limfadenopati umum, sifilis sekunder terjadi         sekitar 3 bulan setelah infeksi dan menampilkan dirinya dengan         berbagai gejala, terutama lesi pada kulit dan selaput lendir. Ini         termasuk ruam umumnya di telapak tangan, telapak kaki, wajah, dan         kulit kepala. Rincian dari selaput lendir muncul sebagai tambalan di         bibir, di dalam vulva, mulut, dan vagina. Individu yang terinfeksi juga         bisa mengalami demam, kehilangan nafsu makan dan kehilangan         berat badan selama tahap ini;
      (4)   Masa infeksi subklinis (sifilis laten). Meskipun individu yang         terinfeksi tidak lagi menunjukkan gejala, pengujian secara serologik         menegaskan bahwa T.pallidum tetap ada. Transmisi pada tahap ini         melalui kontak seksual jarang. Jika tidak diobati, fase laten akan         berlanjut ke fase tersier;
(5)   Pada sejumlah kecil penderita, stadium lanjut atau tersier yang        ditandai oleh penyakit yang progresif dan dapat mengenai  hampir        seluruh organ tubuh, terutama aorta asendens dan susunan syaraf        pusat.

*      Pemeriksaan lab
1.         Spesimen
                        Spesimen yang digunakan dapat berasal dari cairan jaringan yang diambvil dari lesi superfisial dini untuk memperlihatkan adanya bakteri spirochaeta, sedangkan serum digunakan untuk uji serologik. Kadang dapat diperlihatkan adanya spirochaeta dari bahan biopsi. Dari bahan tersebut yang paling umum dilakukan adalah dengan pewarnaan perak (Levaditi).
2.  Pemeriksaan mikroskop lapangan gelap
                        Pada pemerikdsaan sifilis pemeriksaan mikroskop lapangan gelap merupakan pemeriksaan metode paling cepat dan langsung untuk menegakkan diagnosis. Pemeriksaan transudat serosa lesi lembab atau basah, karena lesi dapat menunjukkan jumlahTreponema yang paling banyak.
                        Lokasi pengambilan harus dibersihkan dengan larutan garam faal dan dilakukan abrasi dengan kasa secara hati-hati pada sehingga tidak timbul perdarahan yang nyata. Kemudian eksudat serosanya diperiksa dengan miroskop lapangan gelap atau kontras fase dengan memakai kaca objek yang ditutup dengan deck glass (dapat ditambahkan setetes garam faal nonbakterisidik bila sediaan terlalu tebal) untuk mencari spirochaeta motil yang khas.
                        Treponema pallidum akan tampak seperti pembuka tutup botol (corkscrew), dan akan bergerak seperti spiral, dengan undulasi yang khas pada titik tengahnya.
3.  Imunofluoresensi
                        Cairan jaringan atau eksudat disebarkan pada kaca objek, dikeringkan di udara. Sediaan difiksasi, diwarnai dengan serum antitreponemal berlabel fluroresein, dan diperiksa dengan mikroskop imunofluoresensi untuk mencari spirochaeta yang khas.
*      Pengobatan
                                    Obat pilihan untuk semua stadium sifilis adalah penisilin. Organisme ini mempunyai replikasi yang lambat, sehingga diperlukan anti mikroba yang mempunyai sifat treponemisid jangka panjang meskipun ada alternatif lain selain penisilin, tetapi pengobatan nonpenisilin tidak dianjurkan pada ibu hamil  tau yang disertai HIV.
                        Penisilin dengan kerja jangka panjang digunakan untuk mempertahankan kadarnya yang tinggi dalam serum selama 7-10 hari. Infeksi dapat diobati dengan prokain ppenisilin G. Bila terdapat alergi terhadap penisilin, maka terdapat obat alternatif yaitu eritromisin dan sefalosporin. Dosis yang diberikan tergantung stadium infeksinya.
                        Semua penderita sifilis harus mengalami uji nontrreponemal kuantitatif serial pada bulan ke-3, ke-6 dan ke-12. Atau dengan kata lain dilakukan follow-up dan pengobatan ulang.
Pengobatan ulang harus dipertimbangkan bila:
1.         Tanda dan gejala klinik sifilis menetap atau kambuh
2.         Terdapat kenaikan kadar titer uji nontreponemal
3.         Apabila uji RPR positif selama 12 bulan pada sifilis primer, 24             bulan pada sifilis sekunder dan 5 tahun pada sifilis lanjut.
3. HAEMOPHILUS DUCREYI
*      Morfologi
                        Chancroid disebabkan oleh bakteri gram negatif Haemophilus ducreyi. Bakteri ini merupakan bakteri berbentuk batang pendek, ramping, dengan ujung membulat (coccobasilus), anaerob fakultatif, non-motile, tidak membentuk spora, mereduksi nitrat menjadi nitrit, dan berukuran sekitar 1,5 μm (panjang) da 0,2 μm (lebar). Basil seringkali berkelompok, berderet membentuk rantai (Streptobacillus) pada pewarnaan Gram.

*      Patogenitas
                                    Chancroid (ulkus mole) adalah infeksi bakteri yang disebabkan oleh Gram-negatif streptobacillus Haemophilus ducreyi. Ini merupakan penyakit yang ditemukan terutama di negara-negara berkembang, yang terkait dengan pekerja seks komersial dan klien mereka. Penularannya melalui hubungan seksual.
                                    Pria yang tidak disunat/khitan memiliki risiko tiga kali dibanding pria yang disunat untuk kemungkinan terkena penyakit ini. Mengidap Chancroid menjadi faktor risiko untuk tertular HIV karena Chancroid membuka jalan bagi masuknya HIV ke dalam tubuh (melalui iritasi pada kulit).

*      Gejala klinis
                                    Setelah masa inkubasi satu hari hingga dua minggu, chancroid menimbulkan benjolan kecil yang kemudian menjadi borok/lesi dalam satu hari. Borok yang khas memiliki karakteristik:
Ø  Rentang ukuran 3-50 mm
Ø  Nyeri
Ø  Terlihat jelas tapi batasnya tidak jelas
Ø  Ditutupi oleh lapisan berwarna abu-abu atau abu kekuning-kuningan
Ø  Jika tutupnya dilukai atau dikikis misal dengan kuku maka akan keluar darah.
                                    Sekitar setengah dari orang yang terinfeksi hanya memiliki satu borok. Perempuan sering memiliki empat atau lebih bisul/borok. Bisul yang muncul di lokasi tertentu, seperti pada kulit yang menutupi kepala penis (kulit yang biasanya dihilangkan pada saat khitan/sunat) atau di fourchette dan labia minora perempuan. Borok pada orang yang terkena sipilis memiliki lapisan lebih keras dibanding pada chancroid.

*      Pemerikasaan lab
Adapun pemeriksaan yang dilakukan untuk mendiagnosis chancroid adalah :
Ø Pemeriksaan gram (Gram stain). Spesimen diambil dari apusan eksudat ulkus. Eksudat diperoleh dari dasar ulkus dengan cotton swab. dapat memperlihatkan  basil gram negatif, pendek, berantai, yang disebut dengan tampilan “school of fish”, namun, H. ducreyi sulit dilihat pada apusan gram dan spesimennya sering mengalami kontaminasi polimikrobial. Sensitivitas metode ini < 50%.
Ø Metode kultur. Ini merupakan metode diagnostik yang paling baik. H. ducreyi tidak dapat dibiakkan pada medium rutin. Akan tetapi, dapat dibiakkan pada media khusus yakni media yang diperkaya gonococcal agar dan Mueller-Hinton chocolate agar atau  Mueller-Hinton agar dibagian dasar, kemudian dibagian atasnya ditambah dengan chocolate horse blood and isovitale X (MH-HBC). Selain itu, pada media ini ditambahkan vancomycin hydrochlorida untuk menghambat pertumbuhan yang berlebihan dari bakteri kontaminan. Organisme ini paling baik tumbuh pada suhu 33˚C – 35˚C dengan kelembaban tinggi. Koloni-koloninya berwarna kuning keabu-abuan dan nonmukoid. Sensitivitas metode kultur adalah < 80 %.
Ø PCR. Ini adalah tes diagnostik yang mempunyai sensibilitas dan spesifisitas paling tinggi. Teknik PCR ini disebut juga dengan M-PCR (multiplex polymerase chain reaction) yang melibatkan penambahan pasangan primer multipel ke campuan reaksi dalam rangka memperbanyak sekuans DNA dari bahan lesi. PCR dianggap merupakan tes gold-standar untuk diagnosis chancroid, hanya saja harganya mahal dan tidak tersedia secara komersil.
Ø Tes serologis
a. Enzyme immuno assay (EIA) : Dengan menggunakan seluruh      antigen sel, LOS yang telah dimurnikan atau OMP H. ducreyi      sebagai antigen.
b.  DOT Immunoblot
c.  Compliment fixation test

*      Pengobatan
                                    Untuk pembaca umum, jangan coba beli obat sendiri tanpa resep dokter karena bisa membuat kuman resisten (kebal) terhadap obat. Harap ditanyakan pada dokter/medis yang berkompeten, untuk dokter/medis yang ingin mempelajari bisa dicek di alamat Wikipedia (paling bawah) yang sudah diberi link ke alamat bersangkutan (tampaknya masih diperlukan tambahan literatur).


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
                 Penyakit kelamin atau juga dikenal dengan Sexually Transmitted Diseases (STD) atau Sexually Transmitted Infections (STI) adalah penyakit yang pada umumnya ditularkan lewat hubungan seks. Jenis-jenis penyakit kelamin ini gejala-gejalanya beda-beda dan cara penularannya pun beda. Memang betul bahwa pada umumnya STD ditularkan lewat hubungan seks, tapi ada jenis-jenis STD yang juga bisa nular melalui seks lewat anal atau lewat oral, ada juga yang bisa menular melalui kontak darah,contohnya tersuntik jarum yang terinfeksi. Penyakit kelamin bisa menyerang siapa saja, pria maupun wanita, tua atau muda.
·         STD yang disebabkan oleh bakteri: Syankroid, Klamidia, Gonorea, Granuloma Inguinale, Sifilis.
·         STD yang disebabkan oleh virus: Herpes (Genital Herpes), Kutil Kelamin (Genital Warts), Hepatitis tipe A-E, HIV/AIDS, Molluscum Contagiosum
·         STD yang disebabkan oleh protozoa
·         STD yang disebabkan oleh jamur: Kandidiasis, Kadas/Kurap Selangkangan (Jock Itch)
·         STD yang disebabkan oleh parasit: Kutu Kelamin (Pubic Lice), Scabies

3.2 Saran
                 Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun agar dalam pembuatan makalah selanjutnya bisa lebih baik lagi, atas perhatiannya penulis ucapkan terimakasih.


Recent Posts