Yazhid Blog

.

Saturday, 5 November 2016

PEMERIKSAAN URINE PHENYLKETONURIA (PKU) PORPHYRINS

TES UNTUK KEADAAN KHUSUS – ASAM PHENYLPRUVIC (PKU), PORPHYRINS ASAM PHENYLPYRUVIC             Penyakit yang dikenal dengan ph... thumbnail 1 summary

TES UNTUK KEADAAN KHUSUS – ASAM PHENYLPRUVIC (PKU), PORPHYRINS



ASAM PHENYLPYRUVIC
            Penyakit yang dikenal dengan phenylketonuria atau PKU awalnya ditimbulkan oleh adanya asam phenylpruvic di dalam urin. Hal ini disebabkan oleh ketidakadaan hereditas dari enzim phenylalanine hydroxylase, yang penting untuk mengubah phenylalanine yang terkandung dalam susu dan makanan terhimpun dalam jaringan dan darah. Dalam umur 4 minggu dan mungkin lebih awal dari itu, metabolisme intermedit dari phenylalanine, khususnya asam phenylpyruvic, mulai muncul pada urin anak balita. Ketika tidak ditindaki, PKU bisa menyebabkan kerusakan otak dan keterlambatan mental. Namun, ketika terdeteksi dini dan ditindaki dengan pengurangan phenylalanine, perkiraannya baik untuk perkembangan mental. Oleh karena itu, sering mengetes urin balita diawal kehidupannya untuk mengetahui ada atau tidaknya asam phenylpyruvic dalam urin balita tersebut, merupakan cara yang paling tepat dalam mendeteksi phenylketonuria.
Metode Penentuan
            PHENISTIX Reagent Strip dipenuhi dengan larutan yang berisi ion ferric yang membentuk warna reaksi fosfat dari kelabu kebiru-biruan menjadi abu-abu hijau. Strip ini adalah penghalang untuk mencegah tercampurnya fosfat. Setelah sekitar 30 detik, strip tersebut dibandingkan dengan bagan warna yang berskala pada konsentrasi 0,15 mg, 40 mg dan 100 mg asam phenylpyruvic per 100 ml urin.
            PHENISTIX merubah warna merah muda menjadi ungu dalam urin yang mengandung salisilat dan phenothiazine derivatives. Juga konsentrasi tinggi bilirubin atau amoniak dalam urin mengubah reaksi warna normal yang dikembangkan dengan asam phenylpyruvic.
Tes ferric chloride membentuk warna reaksi yang dapat digunakan untuk mendeteksi phenylketonuria. Untuk melakukan tes:
  1. Tambahkan 2 tetes asam hydrochloric lemah pada 5 ml urin untuk mengasamkan urin tersebut.
  2. Tambahkan 2 tetes larutan ferric chloride 10% dan amati pembentukan warnanya. Hijau gelap, warna sementara yang memudarkan penanda kuning asam phenylpyruvic. Warna merah yang berubah menjadi ungu terjadi pada salisilat, acetiphenetidines, phenol dan phenothiazide derivatives.
Ion fosfat dalam urin dapat menyebabkan hasil negatif yang keliru. Ion tersebut dihilangkan sebelum melakukan tes dengan mengambil:
1.      1 ml reagent magnesium (11 gm MgCl2 , 14 gm NH4Cl, 20,0 ml konsentrasi NH4OH; cairkan menjadi 1 liter dengan air)
2.      Tambahkan 4,0 ml urin dan aduk
3.      Biarkan selama 5 menit; saring
4.      Lalu, lakukan tes ferric chloride
PORPHYRINS
            Porphyrins adalah siklis dari senyawa tetrapyrolle yaitu yang ditemukan dalam erythrocytes, yang menjadi penanda heme, dan yang digunakan tubuh untuk menyatukan atau mensintesis enzim pernafasan yaitu cythochromes. Senyawa ini adalah pigmen atau penanda enzim dan adanya senyawa ini dapat mengubah urin yang awalnya berwarna merah muda menjadi merah. Urin pasien yang mengandung porphyria biasanya berwarna merah pekat tapi bisa juga bervariasi dari merah muda pucat hingga hampir berwarna hitam. Beberapa pasien mengeluarkan urin yang berwarna normal yang mana sesudah itu berubah menjadi gelap setelah diekspos ke cahaya.
Nilai Normal Rata-Rata
Coproporphyrins secara normal biasanya dikeluarkan dalam urin dalam jumlah kisaran 70 sampai 250 µg/hari. Penegluaran uroporpyrin dalam urin normalnya berkisar antara 10 sampai 30 µg/hari, pengeluaran porphobilinogen tidak melebihi 2 µg/hari dan pengeluaran asam delta-aminolevulinic adalah antara 1.0 dan 7,0 mg/hari.
Keadaan Penyakit Dimana Jumlah Abnormal Porphyrins Dikeluarkan
Kesalahan sejak lahir dalam metabolisme
            Dalam penyakit yang melibatkan metabolismen hepatic, produksi porphyrins berlebih tejadi di hati.
            Pada intermittent porphyria akut, hati menghasilkan penanda porphyrins dalam jumlah yang berlebih, umumnya porphobilinogen dan asam delta aminolevulunic. Gejala klinis meliputi sakit abdominal yang parah yang muncul sebentar-sebentar dan manifestasi neurologi seperti peripheral neuropathy, gejala bulbar, perubahan psychotic dalam kepribadian dan keterlibatan sistem saraf autonomi. Serangan penyakit umumnya terjadi setelah pubertas. Penyakit tersebut ditandai dengan pengeluaran urin yang abnormal dengan jumlah porphobilinogen dan asam delta aminoluvelunic yang besar. Urin bisa menjadi tetap berwarna gelap selama konversi porphobilinogen ke porphobilin dan uroporpyrin. Pembusukan akut dapat dipercepat dengan alkohol, obat tidur dan hepatoxins.
            Porphyria cutanea tarda disebabkan oleh cacat dalam metabolisme porphyrin di hati. Hal itu ditandai oleh serangan sakit perut abdominal akut dan manifestasi kulit mulai antara umur 10 dan 30. Kulit mengembangkan bullous luka saat dikenai cahaya matahari atau setelah trauma mekanik. Pengeluaran porphobilinogen dan asam delta aminolevulinic dalam urin meningkat selama masa pembusukan akut; hal ini normal dalam waktu lain. Pengeluaran coproporphyrin dan uroporphyrin dalam urin meningkat selama serangan akut; pengeluaran coproporphyrin dan protoporphyrin dalam kotoran (feses) meningkat setiap waktu. Selama serangan akut, urin berwarna merah.
            Dalam penyakit yang melibatkan metabolisme eritrosit, sejumlah besar porphyrins disintesa dalam eritrosit di sum-sum tulang.
            Congenittal porphyria erythropoletic adalah suatu penyakit yang menjelma dalam masa kanak-kanak dengan serangan yaitu kepekaan pada cahaya matahari, pembentukan besar bullous luka di atas area kulit yang diarahkan ke sinar dan meningkatnya hemolysis dan erythropoiesis. Urin tersebut berwarna merah muda hingga merah dan mengandung uroporphyrin I dan coproporphyrin I dengan jumlah yang meningkat.
Kekacauan Metabolisme Porphyrin Yang Diperoleh
Porphyria cutanea tarda yang diperoleh terjadi pada pasien dengan metabolisme hati yang kacau seperti pecandu minuman beralkohol dan nutritional liver cirrhosis, ekspose ke bahan kimia agen hepatotoxic tertentu dan penyakit hati yang berbahaya. Manifestasi klinis sama seperti yang ditemukan dalam porphyria cutanea tarda sejak lahir dan peningkatan ekskresi urin seperti uroporphyrin dan coproporphyrin terjadi.
            Pengangkatan ekskresi coproporphyrin dalam urin terjadi dalam banyak penyakit; infeksi/peradangan, penyakit berbahaya, alcoholic cirrhosis, hepatitis terinfeksi dan obstructive jaundince.
            Dalam lead poisoning, ekskresi coproporphyrin III dalam urin dengan jelas diangkat diatas kisaran yang terjadi di jenis penyakit lain. Ekskresi coproporphyrin bisa meningkat dari normal menjadi diatas 250 µg/hari bisa sampai 40 kali lebih tinggi, yaitu sekitar 10 mg/hari. Pengukuran level coproporphyrin III cukup penting untuk diagnosa dan manajemen klinis harian pasien dengan lead posioning.
Penentuan
            Screening test adalah tersedia untuk identifikasi porphobilinogen dan coproporphyrin
Porphobilinogen – Watson-Schwartz Test
  1. Masukkan 2,5 ml urin segar kedalam tabung tes
  2. Tambahkan 2,5 ml reagent Ehrlich dan campur
Paradimethylaminobenzaldehyde       3,5 gm
Asam hydrochloric terkonsentrasi      750 ml
Air yang disuling                                500 ml
  1. Tambahkan 5 ml sodium acetate jenuh (1 kg sodium acetate yang dilarutkan dalam 1 liter air pada suhu 600c) dan campur dengan baik
  2. Warna pink kemerah-merahan yang muncul pada waktu ini mengindikasikan porphobilinogen atau Ehrlich lainnya mereaksi substansi seperti urobilinogen
  3. Tambahkan 5 ml chloroform, goncang, dan sentrifus atau biarkan berdiri dan endapkan
  4. Lapisan chloroform akan ke dasar, dengan membawa urobilinogen dan Ehrlich lainnya mereaksi substansi-substansi.
  5. Jika porphobilinogen ada, lapisan yang paling atas akan beralih menjadi warna merah atau merah keunguan.
Tes Coproporphyrin untuk mendeteksi lead poisoning
  1. Masukkan 5 ml urin pada tabung tes
  2. Tambahkan 1,0 ml asam acetic glacial
  3. Kemudian tambahkan 5 ml ethyll ether
  4. Tambahkan 3 tetes dari 3% hydrogen peroxide segar
  5. Sumbat tabung tes. Campur dengan inversi 8 sampai 12 kali
  6. Biarkan berdiri selama 10 sampai 15 menit sampai lapisan ether berpisah.
  7. Uji tabung pada sebuah ruangan gelap dengan cahaya ultraviolet yang direfleksikan (cahaya Wood) untuk mendeteksi fluorescence pada lapisan ether yang paling atas. Fluorescence biru muda menandakan jumlah negatif atau normal coproporphyrins pada urin. Fluorescence berkisar pada warna dari ungu dan merah jambu ke merah jambu muda dan kemudian merah jambu tua menunjukkan konsentrasi +1 sampai +4 coproporphyrin.


Comments
0 Comments

No comments

Post a Comment

Recent Posts