Yazhid Blog

.

Monday, 7 November 2016

MORFOLOGI ERITROSIT DAN KELAINANNYA

MORFOLOGI ERITROSIT DAN KELAINANNYA Erirosit normal berbentuk bulat atau oval dengan diameter 7-8 mikron (normosit). Dilihat da... thumbnail 1 summary
MORFOLOGI ERITROSIT DAN KELAINANNYA



Erirosit normal berbentuk bulat atau oval dengan diameter 7-8 mikron (normosit).
Dilihat dari samping, eritrosit nampak seperti cakram atau bikonkaf dengan sentral akromia kira-kira 1/3-1/2 diameter sel. Pada evaluasi sediaan apus maka yang perlu diperhatikan adalah 4S yaitu size(ukuran), shape(bentuk), staining(warna) dan struktur intraseluler.

Kelainan Ukuran Eritrosit
  1. Mikrosit
Diameter < 7 mikron, biasanya disertai dengan warna pucat (hipokrom). Pada pemeriksaan darah lengkap didapatkan  Mean Cell Volume (MCV) yang rendah, ditemukan pada: - Anemia def. Fe                      - Anemia sideroblastik
                        - Talasemia                              - Hemosiderois pulmoner idiopatik
                        - Keracunan tembaga              - Anemia akibat penyakit kronik

  1. Makrosit
Diameter rata-rata yaitu >8 mikron. MCV lebih dari normal dan MCH biasanya tidak berubah , ditemukan pada:
- Anemia megaloblastik                      -Anemia permisiosa
- Anemia aplastik/hipoplastik              - Leukemia
- Hipotiroidisme                                  - Kehamilan
- Malnutrisi
Anisositosis adalah suatu keadaan dimana ukuran diameter eritrosit yang terdapat didalam suatu sediaan berbeda-beda (bervariasi).

Variasi Kelainan Warna Eritrosit
Sebagai patokan untuk melihat warna eritrosit adalah sentral akromis. Eritrosit yang mengambil warna normal disebut normokromia.
Hipokromia adalah suatu keadaan dimana konsentrasi hb kurang dari normal sehingga sentral akromia melebar (1/2 sel). Pada hipokromia yang berat lingkaran tepi sel sangat tipis disebut dengan eritrosit berbentuk cincin (anulosit). Hipokromia sering menyertai mikrositosis, ditemukan pada:
- Anemia def. Fe                           - Talasemia
- Anemia sideroblastik                  - Hb-pati (C dan E)
- Penyakit menahun (mis. Gagal ginjal kronik)
Hiperkromik adalah eritrosit yang nampak lebih merah/gelap dari warna normal. Keadaan ini kurang mempunyai arti penting karena dapat disebabkan oleh penebalan membran sel bukan karena naiknya Hb (oversaturation). Kejenuhan Hb yang berlebihan tidak dapat terjadi pada eritrosit normal sehingga true hyperchromia  tidak dapt terbentuk.
Polikromasia adalah kejadian dimana terdapat beberapa warna didalam sebuah lapangan sediaan apus. Misalnya ditemukan basofilik dan asidofilik dengan kwantum berbeda-beda karena ada penambahan retikulosit atau defek maturasi eritrosit. Dapat ditemukan pada keadaan eritropoesis yang aktif misalnya anemia pasca perdarahan dan anemia hemolitik. Juga dapat ditemukan pada ganggua eritropoesis seperti mielosklerosis an hemopoesis ekstrameduller.

Variasi Kelainan Bentuk Eritrosit
  1. Poikilositosis
Disebut poikilositosis apabila pada suatu sediaan apus ditemukan bermacam-macam variasi bentuk eritrosit. Ditemukan pada:
-          Anemia yang berat disertai regenerasi aktif eritrosit atau hemopoeis ekstra meduller.
-          Eritropoesis  abnormal (anemia megaloblastik, leukemia,mielosklerosis).
-          Destruksi eritrosit didalam pembuluh darah.
  1. Sferosit
Eritrosit tidak berbentuk bikonkaf tetapi bentuknya sferik dengan tebal 3 mikron atau lebih. Diameter biasanya kurang dari 6,5 mikron dan kelihatan lebih hiperkromik dan tidak mempunyai sentral akromia. Ditemukan pada:
- Sferositosis                                 - Anemia hemolitik
-  Luka bakar
  1. Elliptosit(Ovalosit)
Bentuk sangat bervariasi seperti oval, pensil, dan cerutu dengan konsentrasi Hb umumnya tidak menunjukkan hipokromik. Hb berkumpul pada kedua kutub sel. Ditemukan pada:
-          Elliptositosis herediter (90-95% eritrosit berbentuk ellips)
-          Anemia megaloblastik dan anemia hipokromik (gambaran elliptosit tidak >10%).
-          Elliptositosis dapat menyolok pada mielosklerosis.
  1. Sel Target (Mexican hat cell;bull eye cell)
Eritrosit berbentuk tipis atau ketebalan kurang dari normal dengan bentuk target ditengah(target like appearance). Ratio permukaan /volume sel akan meningkat. Ditemukan pada:
- Talasemia                                                            - Pasca splenektomi
- Penyakit hati kronik(ikterus obstruktif)              - Hb-pati
  1. Stomatosit
Sentral akromia tidak berbenruk lingkaran tetapi memanjang seperti celah bibir mulut. Jumlahnya biasanya sedikit, dan apabila jumlahnya banyak somatositosis. Ditemukan pada:
- Stomatositosis herediter                         - Penyakit hati menahun
- Keracunan timah                                     - Talasemia
- Alkoholisme akut                                    - Anemia hemolitik
  1. Sel sabit(Sickle cell; drepanocyte; crescent cell;menyscocyte
Eritrosit berbentuk bulan sabit atau arit. Kadang-kadang bervariasi berupa lancet huruf ”L”, ”V”, atau ”S” dan kedua ujungnya lancip. Terjadi oleh karena gangguan oksigenasi sel. Ditemukan pada penyakit-penyakit Hb-pati seperti Hb S.
  1. Sistosit (fragmented cell;keratocytes)
Merupakan suatu pecahan eritrosit dengan berbagai macam bentuk. Ukuran lebih kecil dari eritrosit normal. Bentuk fragmen dapat bermacam-macam seperti helmet cell, triangular cell dan sputnik cell. Ditemukan pada:
- Anemia hemolitik                                   - Penyakit keganasan
- Purpura trombotik trombositik               - Hipertensi maligna
- Kelainan katup jantung                           - Uremia
- Talasemia mayor
h.  Sel Spikel (sel bertaji)
Ada dua jenis sel bertaji yaitu akantosit dan ekinosit.
1. Akantosit (spurr cell) adalah eritrosit yang pada dindingnya terdapat tonjolan-tonjolan sitoplasma yang berbentuk duri (runcing),tersebar tidak merata dengan jumlah 5-10 buah, panjang dan besar tonjolan bervariasi, ditemukan pada:
      - A betalipoproteinemia herediter             - Peny. hati dengan anemia hemolitik
- Pengaruh pengobatan heparin                 - Pasca splenektomi
- “Pyruvat kinase deficiency”
2. Echynocyte ( Burr cell, crenated cell, sea-urchin cell) merupakan eritrosit dengan tonjolan duri yang lebih banyak (10-30 buah), berukuran sama, tersebar merata pada permukaan sel ditemukan pada:
- Penyakit ginjal menahun(uremia)           - “Bleeding peptic ulcer”
- Karsinoma lambung                                - “Pyruvat kinase deficiency
- Artefak waktu preparasi                         - Sirosis hepatik
- Hepatitis                                                 - Anemia hemolitik
i.  Tear Drop Cell (buah pir)
Eritrosit memperlihatkan tonjolan plasma yang mirip ekor sehingga seperti tetes air mata atau buah pir. Ditemukan pada:
- Anemia megaloblastik                            - Hemopoesis ekstrameduller
- Myelofibrosis                                          - Kadang-kadang pada talasemia
j.  Sel Krenasi
Eritrosit memperlihatkan tonjolan-tonjolan tumpul pada seluruh pemukaan sel. Letaknya tidak beraturan . Ditemukan pada hemolisis intravaskuler.
k. Kristal  Hemoglobin C
Bentuk kristal tetragonal. Ditemukan pada penderita hemoglobin C yang telah displenektomi.

Kelainan Intra Sellular Eritrosit
  1. Stipling Basofilik
Pada eritrosit terdapat bintik-bintik granula yang halus atau kasar, berwarna biru, multipel dan difus. Ditemukan pada:
- Keracunan timah                                     - Talasemia minor
- Anemia megaloblastik                            - ”Unstable hemoglobin disease’
- “Myelodisplastic syndrom”(MDS)
  1. Benda Papenheimer
Eritrosit dengan granula kasar, dengan diameter kl 2 mikron yang mengandung Fe, Feritin, berwarna biru karena memberikan reaksi Prusian blue positif, eritrosit yang mengandung benda inklusi disebut : siderosit dan bila ditemukan >10% dalam sediaan apus, petanda adanya gangguan sintesa hemoglobin, ditemukan pada:
- Anemia sideroblastik                              - Pasca splenektomi
- Beberapa anemia hemolitik
  1. Benda Howell-Jolly
Merupakan sisa pecahan inti eritrosit, diameter pecahan rata-rata 1 mikron, berwarna ungu kehitaman, biasanya tunggal. Ditemukan pada:
- Pasca splenektomi                                   - Steatorrhoe
- Anemia hemolitik                                   - Osteomyelodisplasia
- Anemia megaloblastik                            - Talasemia
- Kelainan metabolisme hemoglobin
  1. Cincin Cabot (”Cabot Ring” )
Merupakan sisa dari membran inti, warna biru keunguan, bentuk cincin huruf ”8” terdapat pada sitoplasma. Ditemukan pada:
- Talasemia                                                - Keracunan timah
- Anemia Pernisiosa                                  - Pasca splenektomi
- Anemia hemolitik                                   - Anemia megaloblastik
  1. Benda Heinz
Hasil denaturasi hemoglobin yang berubah sifat. Tidak jelas terlihat dengan pewarnaan Wright`s tetapi dengan pengecatan kristal violet sweperti benda-benda kecil tidak teratur berwarna dalam eritrosit. Ditemukan pada:
- G-6-PD defisiensi                                   - Talasemia
- Anemia hemolitik karena obat                - Penyakit Hb Kohn, Hamme
- Pasca splenektomi
  1. Eritrosit Berinti (”Nucleated red cell”)
Eritrosit muda bentuk metarubrisit. Adanya inti didarah tepi disebut “normoblastemia”. Ditemukan pada:
- Perdarahan mendadak                            - Leukemia
- Penyakit hemolitik pada anak                 - Anemia megaloblast
- Kelemahan jantung kongestif                 - Hipoxia
- Anemia megaloblastik                            - Aspeni
- Leuko-eritroblastik anemia
  1. Polikromatofilik
Eritrosit muda yang mengambil zat warna asam dan basa karena adanya RNA, Ribosom dan hemoglobin. Bila diwarnai dengan pulasan supravital sel ini retikulosit.
  1. Rouleaux Formation
-          Suatu eritrosit yang kelihatan tersusun seperti mata uang logam, oleh karena peninggian kadar hemoglobin yang normal karena artefak.
-          Harus dibedakan dari aglutinasi yang dijumpai pada AIHA



Comments
0 Comments

No comments

Post a Comment

Recent Posts