Yazhid Blog

.

Monday, 7 November 2016

MAKALAH NEMATODA USUS (CACINGAN)

BAB I PENDAHULUAN  1.1 LATAR BELAKANG       Di Indonesia masih banyak penyakit yang merupakan masalah kesehatan, salah satu diant... thumbnail 1 summary
BAB I
PENDAHULUAN 

1.1 LATAR BELAKANG

      Di Indonesia masih banyak penyakit yang merupakan masalah kesehatan, salah satu diantaranya ialah cacing perut yang ditularkan melalui tanah. Cacingan ini dapat mengakibatkan menurunnya kondisi  kesehatan, gizi, kecerdasan dan produktifitas penderitanya sehingga secara ekonomi banyak menyebabkan kerugian, karena menyebabkan kehilangan karbohidrat dan protein serta kehilangan darah, sehingga menurunkan kualitas sumber daya manusia. Prevalensi Cacingan di Indonesia pada umumnya masih sangat tinggi, terutama pada golongan penduduk yang kurang mampu mempunyai risiko tinggi terjangkit penyakit ini Penyakit Cacingan tersebar luas, baik di pedesaan maupun di perkotaan. Angka infeksi tinggi, tetapi intensitas infeksi (jumlah cacing dalam perut) berbeda. Hasil survei Cacingan di Sekolah Dasar di beberapa propinsi pada tahun 1986-1991 menunjukkan prevalensi sekitar 60% - 80%, sedangkan untuk semua umur berkisar antara 40% - 60%.
      Dalam rangka menuju Indonesia Sehat 2010, Pembangunan Kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional, pembangunan tersebut mempunyai tujuan untuk mewujudkan manusia yang sehat, produktif dan mempunyai daya saing yang tinggi. Oleh karena itu perlu diadakan pemberatasan penyakit cacingan. Pemberantasan Cacingan menghasilkan perbaikan besar baik bagi kesehatan perorangan maupun kesehatan masyarakat. Setiap negara berkembang harus memberikan perhatian yang tinggi terhadap program pemberantasan penyakit Cacingan. mengingat bahwa Cacingan merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan maka perhatian terhadap sanitasi lingkungan perlu ditingkatkan.
1.2 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan  dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.    Untuk mengetahui jenis-jenis cacing yang dapat menyebabkan penyakit   cacingan.
     2. Untuk mengetahui dampak akibat cacingan.
     3. Untuk mengetahui cara pemeriksaan telur cacing dengan menggunakan metode kato.
4. Untuk mengetahui cara pencegahan penyakit cacingan.
     5 .Untuk mengetahui cara pengobatan penyakit cacingan.

1.3 Rumusan Masalah
Adapun masalah yang akan dibahas pada penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.    Bagaimana jenis-jenis cacing yang dapat menyebabkan penyakit cacingan?
2.    Bagaimana dampak penyakit cacingan?
3.    Bagaimana cara pemeriksaan telur cacing dengan menggunakan metode kato?
4.    Bagaimana  cara pencegahan penyakit cacingan?
5.    Bagaimana pengobatan penyakit cacingan?









BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Jenis-jenis cacing yang dapat menyebabkan penyakit   cacingan.

         Manusia merupakan hospes defenitif beberapa nematoda usus (cacing perut), yang dapat mengakibatkan masalah bagi kesehatan masyarakat. Diantara cacing perut terdapat sejumlah species yang ditularkan melalui tanah (soil transmitted helminths). Diantara cacing tersebut yang terpenting adalah cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus) dan cacing cambuk (Trichuris trichiura). Jenis-jenis cacing tersebut banyak ditemukan di daerah tropis seperti Indonesia.

A.CACING GELANG (Ascaris lumbricoides)



 1.Lingkaran Hidup
Manusia merupakan satu-satunya hospes cacing ini. Cacing jantan berukuran 10 - 30 cm, sedangkan betina 22 – 35 cm, pada stadium dewasa hidup di rongga usus halus, cacing betina dapat bertelur sampai 100.000 – 200.000 butir sehari, terdiri dari telur yang dibuahi dan telur  yang tidak dibuahi. Dalam lingkungan yang sesuai, telur yang dibuahi tumbuh menjadi bentuk infektif dalam waktu kurang lebih 3 minggu. Bentuk infektif ini bila tertelan manusia, akan menetas menjadi larva di usus halus, larva tersebut menembus dinding usus menuju pembuluh darah atau saluran limfa dan dialirkan ke jantung lalu mengikuti aliran darah ke paru-paru menembus dinding pembuluh darah, lalu melalui dinding alveolus masuk rongga alveolus, kemudian naik ke trachea melalui bronchiolus dan broncus. Dari trachea larva menuju ke faring, sehingga menimbulkan rangsangan batuk, kemudian tertelan masuk ke dalam esofagus lalu menuju ke usus halus, tumbuh menjadi cacing dewasa. Proses tersebut memerlukan waktu kurang lebih 2 bulan sejak tertelan sampai menjadi cacing dewasa.

2. Patofisiologi
Disamping itu gangguan dapat disebabkan oleh larva yang masuk ke paru-paru sehingga dapat menyebabkan perdarahan pada dinding alveolus yang disebut sindroma Loeffler. Gangguan yang disebabkan oleh cacing dewasa biasanya ringan. Kadang-kadang penderita mengalami gangguan usus ringan seperti mual, nafsu makan berkurang, diare dan konstipasi. Pada infeksi berat, terutama pada anak-anak dapat terjadi gangguan penyerapan makanan (malabsorbtion). Keadaan yang serius, bila cacing mengumpal dalam usus sehingga terjadi penyumbatan pada usus (Ileus obstructive).

3.Gejala Klinis dan Diagnosis
Gejala penyakit Cacingan memang tidak nyata dan sering dikacaukan dengan penyakit-penyakit lain. Pada permulaan mungkin ada batuk-batuk dan eosinofelia. Orang (anak) yang menderita Cacingan biasanya lesu, tidak bergairah, konsentrasi belajar kurang.

Pada anak-anak yang menderita Ascariasis perutnya nampak buncit (karena jumlah cacing dan kembung perut); biasanya matanya pucat dan kotor seperti sakit mata (rembes), dan seperti batuk pilek. Perut sering sakit, diare, nafsu makan kurang. Karena orang (anak) masih dapat berjalan dan sekolah atau bekerja, sering kali tidak dianggap sakit, sehingga terjadi salah diagnosis dan salah pengobatan. Padahal secara ekonomis sudah menunjukkan kerugian yaitu menurunkan produktifitas kerja dan mengurangi kemampuan belajar.

Karena gejala klinik yang tidak khas, perlu diadakan pemeriksaan tinja untuk membuat diagnosis yang tepat, yaitu dengan menemukan telur-telur cacing di dalam tinja tersebut. Jumlah telur juga dapat dipakai sebagai pedoman untuk menentukan beratnya infeksi (dengan cara menghitung telur).

4. Epidemiologi
Telur cacing gelang keluar bersama tinja pada tempat yang lembab dan tidak terkena sinar matahari, telur tersebut tumbuh menjadi infektif. Infeksi cacing gelang terjadi bila telur yang infektif masuk melalui mulut bersama makanan atau minuman dan dapat pula melalui tangan yang kotor (tercemar tanah dengan telur cacing).

B.CACING CAMBUK (Trichiuris trichiura)

1. Lingkaran Hidup
Manusia merupakan hospes cacing ini. Cacing betina panjangnya sekitar 5 cm dan yang jantan sekitar 4 cm. Cacing dewasa hidup di kolon asendens dengan bagian anteriornya masuk ke dalam mukosa usus. Satu ekor cacing betina diperkirakan menghasilkan telur sehari sekitar 3.000 – 5.000 butir. Telur yang dibuahi dikelurkan dari hospes bersama tinja, telur menjadi matang (berisi larva dan infektif) dalam waktu 3 – 6 minggu di dalam tanah yang lembab dan teduh. Cara infeksi langsung terjadi bila telur yang matang tertelan oleh manusia (hospes), kemudian larva akan keluar dari telur dan masuk ke dalam usus halus sesudah menjadi dewasa cacing turun ke usus bagian distal dan masuk ke kolon asendens dan sekum. Masa pertumbuhan mulai tertelan sampai menjadi cacing dewasa betina dan siap bertelur sekitar 30 – 90 hari.
2. Patofisiologi
Cacing cambuk pada manusia terutama hidup di sekum dapat juga ditemukan di dalam kolon asendens. Pada infeksi berat, terutama pada anak cacing ini tersebar diseluruh kolon dan rektum, kadang-kadang terlihat pada mukosa rektum yang mengalami prolapsus akibat mengejannya penderita sewaktu defekasi. Cacing ini memasukkan kepalanya ke dalam mukosa usus hingga terjadi trauma yang menimbulkan iritasi dan peradangan mukosa usus. Pada tempat pelekatannya dapat menimbulkan perdarahan. Disamping itu cacing ini menghisap darah hospesnya sehingga dapat menyebabkan anemia.

3.Gejala Klinis dan Diagnosis
Infeksi cacing cambuk yang ringan biasanya tidak memberikan gejala klinis yang jelas atau sama sekali tanpa gejala. Sedangkan infeksi cacing cambuk yang berat dan menahun terutama pada anak menimbulkan gejala seperti diare, disenteri, anemia, berat badan menurun dan kadang-kadang terjadi prolapsus rektum. Infeksi cacing cambuk yang berat juga sering disertai dengan infeksi cacing lainnya atau protozoa. Diagnosa dibuat dengan menemukan telur di dalam tinja.

4. Epidemiologi
Penyebaran penyakit ini adalah terkontaminasinya tanah dengan tinja yang mengandung telur cacing cambuk. Telur tumbuh dalam tanah liat, lembab dan tanah dengan suhu optimal + 30oC. Infeksi cacing cambuk terjadi bila telur yang infektif masuk melalui mulut bersama makanan atau minuman yang tercemar atau melalui tangan yang kotor.



C. Cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus)

1.Lingkaran Hidup
Hospes parasit ini adalah manusia, Cacing dewasa hidup di rongga usus halus dengan giginya melekat pada mucosa usus. Cacing betina menghasilkan 9.000 – 10.000 butir telur sehari. Cacing betina mempunyai panjang sekitar 1 cm, cacing jantan kira-kira 0,8 cm, cacing dewasa berbentuk seperti huruf S atau C dan di dalam mulutnya ada sepasang gigi. Daur hidup cacing tambang adalah sebagai berikut, telur cacing akan keluar  bersama tinja, setelah 1 – 1,5 hari dalam tanah, telur tersebut menetas menjadi larva rabditiform. Dalam waktu sekitar 3 hari  larva tumbuh menjadi larva filariform yang dapat menembus kulit dan dapat bertahan hidup 7–8 minggu di tanah. Setelah menembus kulit, larva ikut aliran darah ke jantung terus ke paru-paru. Di paru-paru menembus pembuluh darah masuk ke bronchus lalu ke trachea dan laring. Dari laring, larva ikut tertelan dan masuk ke dalam usus halus dan menjadi cacing dewasa. Infeksi terjadi bila larva filariform menembus kulit atau ikut tertelan bersama makanan.

2. Patofisiologi
Cacing tambang hidup dalam rongga usus halus tapi melekat dengan giginya pada dinding usus dan menghisap darah. Infeksi cacing tambang menyebabkan kehilangan darah secara perlahan-lahan sehingga penderita mengalami kekurangan darah (anemia) akibatnya dapat menurunkan gairah kerja serta menurunkan produktifitas. Tetapi kekurangan darah (anemia) ini biasanya tidak dianggap sebagai cacingan karena kekurangan darah bisa terjadi oleh banyak sebab.


3.Gejala Klinis dan Diagnosis
Gejala klinik karena infeksi cacing tambang antara lain lesu, tidak bergairah, konsentrasi belajar kurang, pucat, rentan terhadap penyakit, prestasi kerja menurun dan anemia (anemia hipokrom micrositer). Disamping itu juga terdapat eosinofilia.

4. Epidemiologi
Kejadian penyakit (Incidens) ini di Indonesia sering ditemukan pada penduduk, terutama di daerah pedesaan, khususnya di perkebunan atau pertambangan. Cacing ini menghisap darah hanya sedikit namun luka-luka gigitan yang berdarah akan berlangsung lama, setelah gigitan dilepaskan dapat menyebabkan anemia yang lebih berat. Kebiasaan buang air besar di tanah dan pemakaian tinja sebagai pupuk kebun sangat penting dalam penyebaran infeksi penyakit ini.
Tanah yang baik untuk pertumbuhan larva adalah tanah gembur (pasir, humus) dengan suhu optimum 32oC – 38oC. Untuk menghindari infeksi dapat dicegah dengan memakai sandal/sepatu bila keluar rumah.

2.2 Dampak penyakit cacingan

Cacingan mempengaruhi pemasukan (intake), pencernaan (digestif), penyerapan (absorbsi), dan metabolisme makanan. Secara kumulatif, infeksi cacing atau Cacingan dapat menimbulkan kerugian zat gizi berupa kalori dan protein serta kehilangan darah. Selain dapat menghambat perkembangan fisik, kecerdasan dan produktifitas kerja, dapat menurunkan ketahanan tubuh sehingga mudah terkena penyakit lainnya.



2.3 Cara pemeriksaan telur cacing dengan menggunakan metode kato?
Pemeriksaan telur cacing pada tinja bertujuan untuk menegakkan diagnosis pasti, ada dan tidaknya infeksi cacing, berat ringannya infeksi serta jenis telur cacing yang ada.

Pemeriksaan telur cacing meliputi:

1. Alat dan Bahan

      a.Alat
Ø  Gelas objek
Ø  Selofan ukuran lebar 2,5 cm
Ø  Karton tebal ukuran 2 mm
Ø  Kawar saring
Ø  Pot plastik atau kantong plastik
Ø  Lidi
Ø  Kertas Saring
Ø  Tutup botol dari karet
Ø  Waskom Plastik Kecil
Ø  Sarung Tangan Karet
Ø  Mikroskop
b.Bahan
Ø  Aquades
Ø  Glyserin
Ø  Malachite green (hijau malasit)
Ø  Faeces
Ø  Formalin 5-10%
2 .Pengambilan Faeces
Pasien penyakit cacingan diberitahukan bahwa faeces yang akan diperiksa dimasukkan ke dalam pot plastik.Sekitar 100 mg atau sebesar kelereng.
Spesimen harus segera diperiksa pada hari yang sama, sebab jika tidak telur cacing akan rusak atau menetas menjadi larva. Jika tidak memungkinkan tinja harus diberi formalin 5-10% sampai terendam.

3. Pemeriksaan Metode Kato

a)  Cara Membuat Larutan Kato
Yang dimaksud dengan Larutan Kato adalah cairan yang dipakai untuk merendam/memulas selofan (cellophane tape) dalam pemeriksaan tinja terhadap telur cacing menurut modifikasi teknik Kato dan Kato-Katz.

(1)      Untuk membuat Larutan Kato diperlukan campuran dengan perbandingan: Aquadest 100 bagian, Glycerin 100 bagian dan Larutan malachite green 3% sebanyak 1 bagian.

(2)      Timbang malachite green sebanyak 3 gram, masukkan ke dalam botol/beker glass dan tambahkan aquadest 100 cc sedikit demi sedikit lalu aduk/kocok sehingga homogen, maka akan diperoleh larutan malchite green 3%.

(3)      Masukkan 100 cc aquadest ke dalam Waskom plastik kecil, lalu tambahkan 100 cc glycerin sedikit demi sedikit dan tambahkan 1 cc larutan malachite green 3%, lalu aduk sampai homogen. Maka akan didapatkan Larutan Kato 201 cc.

               b)Cara merendam / memulas selofan (cellophane tape)

(1)   Buatlah bingkai kayu segi empat sesuai dengan ukuran Waskom   plastik kecil. Contoh: Misal bingkai untuk foto
(2)  Libatkan / lilitkan selofan pada bingkai tersebut.
(3)  Rendamlah selama + 18 jam dalam  Larutan Kato.
(4)  Pada waktu akan dipakai, guntinglah selofan yang sudah direndam sepanjang 3 cm.

                 c) Cara Pemeriksaan Kualitatif (modifikasi teknik Kato)

Hasil pemeriksaan tinja kualitatif berupa positif atau negatif cacingan.  Prevalensi cacingan dapat berupa prevalensi seluruh jenis cacing atau per jenis cacing.

(1)      Cara Membuat Preparat

(a)      Pakailah sarung tangan untuk mengurangi kemungkinan infeksi berbagai penyakit.
(b)      Tulislah Nomor Kode pada gelas objek dengan spidol sesuai dengan yang tertulis di pot tinja.
(c)      Ambillah tinja dengan lidi sebesar kacang hijau, dan letakkan di atas gelas obyek.
(d)      Tutup dengan selofan yang sudah direndam dalam larutan Kato, dan ratakan tinja di bawah selofan dengan tutup botol karet atau gelas obyek.
(e)      Biarkan sediaan selama 20-30 menit.
(f)       Periksa dengan pembesaran lemah 100 x (obyektif 10 x dan okuler 10 x), bila diperlukan dapat dibesarkan 400 x (obyektif 40 x dan okuler 10 x).
(g)      Hasil pemeriksaan tinja berupa positif atau negatif tiap jenis telur cacing.

            
  c) Cara Pemeriksaan Kuantitatif
Pemeriksaan kuantitatif diperlukan untuk menentukan intensitas infeksi atau berat ringannya penyakit dengan mengetahui jumlah telur per gram tinja pada setiap jenis cacing.
(1)  Cara Membuat Preparat
(a)  Saringlah tinja menggunakan kawat saring.
(b)  Letakkan karton yang berlubang di atas slide kemudian masukkan tinja yang sudah di saring pada lubang tersebut.
(c)  Ambillah karton berlubang tersebut dan tutuplah tinja dengan selofan yang sudah direndam dalam larutan Kato.
(d)  Ratakan dengan tutup botol karet hingga merata. Diamkan kurang lebih sediaan selama 20 – 30 menit.
(e)  Periksa di bawah mikroskop dan hitung jumlah telur yang ada pada sediaan tersebut.
(2)  Cara Menghitung Telur
Hasil pemeriksaan tinja secara kuantitatif merupakan intensitas infeksi, yaitu jumlah telur per gram tinja (Egg Per Gram/EPG) tiap jenis cacing.

(a)     Intensitas Cacing Gelang = Jumlah telur cacing gelang                       x   1000/R
                              Jumlah specimen positif telur Cacing Gelang


(b) Intensitas Cacing Cambuk =       Jumlah telur cacing cambuk                   x 1000/R
Jumlah specimen positif telur Cacing Cambuk

(c) Intensitas Cacing Tambang =    Jumlah telur cacing tambang                 x   1000/R
Jumlah specimen positif telur Cacing Tambang
Ket : R = berat tinja sesuai ukuran lubang karton (mg).
          
   d) Klasifikasi Intensitas Infeksi
Klasifikasi intensitas infeksi merupakan angka serangan dari masing-masing jenis cacing.  Klasifikasi tersebut digolongkan menjadi tiga, yaitu ringan, sedang dan berat. Intensitas infeksi menurut jenis cacing dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1 - Klasifikasi Intensitas Infeksi Menurut Jenis Cacing
No.
Klasifikasi
Jenis Cacing
Cacing Gelang
Cacing Cambuk
Cacing Tambang
1.
Ringan
1 - 4.999
1 – 999
1 – 1.999
2.
Sedang
5.000 - 49.999
1.000 – 9.999
2.000 – 3.999
3.
Berat
> 50.000
> 10.000
> 4.000


2.4 Pencegahan Penyakit Cacingan
Upaya pencegahan cacingan dapat dilakukan melalui upaya kebersihan perorangan ataupun kebersihan lingkungan. Kegiatan tersebut dapat dirinci sebagai berikut.

1)  Menjaga Kebersihan Perorangan
a)  Mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar dengan menggunakan air dan sabun.
b)  Menggunakan air bersih untuk keperluan makan, minum, dan mandi .
c)  Memasak air untuk minum.
d)  Mencuci dan memasak makanan dan minuman sebelum dimakan.
e)  Mandi dan membersihkan badan paling sedikit dua kali sehari.
f)   Memotong dan membersihkan kuku.
g)  Memakai alas kaki bila berjalan di tanah, dan memakai sarung tangan bila melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan tanah.
h)  Menutup makanan dengan tutup saji untuk mencegah debu dan lalat mencemari makanan tersebut.

2)  Menjaga Kebersihan Lingkungan
a)  Membuang tinja di jamban agar tidak mengotori lingkungan.
b)  Jangan membuang tinja, sampah atau kotoran di   sungai.
c)  Mengusahakan pengaturan pembuangan air kotor.
d)  Membuang sampah pada tempatnya untuk  menghindari lalat dan lipas.
e)  Menjaga kebersihan rumah dan lingkungannya.


2.5 Pengobatan Penyakit Cacingan

Pengobatan dilakukan untuk memutuskan mata rantai penularan,menurunkan prevalensi dan intensitas infeksi meningkatkan kesehatan dan produktivitas.
Prinsip pengobatan infeksi Cacingan adalah membunuh cacing yang ada dalam tubuh manusia yaitu dengan dengan menggunakan obat yang aman berspektrum luas, efektif untuk jenis cacing yang ditularkan melalui tanah. Menurut berbagai pengalaman frekuensi pengobatan dilakukan 2 kali dalam setahun.
Pada Pengobatan cacingan akibat cacing gelang dapat dilakukan secara individu atau masal pada masyarakat. Pengobatan individu dapat digunakan bermacam-macam obat misalnya  Piperasin, Pyrantel pamoate, Albendazole atau Mebendazole. Untuk pengobatan massal dosis Mebendazole 500 mg (dosis tunggal) dan Albendazole 400 mg (dosis tunggal).
Obat untuk infeksi yang disebabkan oleh cacing cambuk adalah Albendazole/ Mebendazole dan Oksantel pamoate.
Obat  untuk infeksi cacing tambang adalah Pyrantel pamoate (Combantrin, Pyrantin), Mebendazole (Vermox, Vermona, Vircid), Albendazole.




BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut
1. Jenis-jenis cacing penyebab cacingan adalah
Ø  Cacing gelang (Ascaris lumbricoides)
Ø  Cacing Cambuk (Trichiuris trichiura)
Ø  Cacing Tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus)
2. Dampak peyakit cacing adalah Cacingan mempengaruhi pemasukan (intake), pencernaan (digestif), penyerapan (absorbsi), dan metabolisme makanan. Secara kumulatif, infeksi cacing atau Cacingan dapat menimbulkan kerugian zat gizi berupa kalori dan protein serta kehilangan darah. Selain dapat menghambat perkembangan fisik, kecerdasan dan produktifitas kerja, dapat menurunkan ketahanan tubuh sehingga mudah terkena penyakit lainnya.
3.  Pemeriksaan laboratorium pada penyakit cacingan dilakukan untuk menentukan ada tidaknya telur cacing.
4.  Upaya pencegahan cacingan dapat dilakukan melalui upaya kebersihan perorangan ataupun kebersihan lingkungan. Kegiatan tersebut dapat dirinci sebagai berikut.
       a. Menjaga kebersihan perorangan
Ø  Mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar dengan menggunakan air dan sabun.
Ø  Menggunakan air bersih untuk keperluan makan, minum, dan mandi .
Ø  Memasak air untuk minum.
Ø  Mencuci dan memasak makanan dan minuman sebelum dimakan.
Ø  Mandi dan membersihkan badan paling sedikit dua kali sehari.
Ø  Memotong dan membersihkan kuku.
Ø  Memakai alas kaki bila berjalan di tanah, dan memakai sarung tangan bila melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan tanah.
Ø  Menutup makanan dengan tutup saji untuk mencegah debu dan lalat mencemari makanan tersebut.
b. Menjaga kebersihan lingkungan
Ø  Membuang tinja di jamban agar tidak mengotori lingkungan.
Ø  Jangan membuang tinja, sampah atau kotoran di   sungai.
Ø  Mengusahakan pengaturan pembuangan air kotor.
Ø  Membuang sampah pada tempatnya untuk  menghindari lalat dan lipas.
Ø  Menjaga kebersihan rumah dan lingkungannya.
5. Pengobatan dilakukan untuk memutuskan mata rantai penularan,menurunkan prevalensi dan intensitas infeksi meningkatkan kesehatan dan produktivitas.
Prinsip pengobatan infeksi Cacingan adalah membunuh cacing yang ada dalam tubuh manusia yaitu dengan dengan menggunakan obat yang aman berspektrum luas, efektif untuk jenis cacing yang ditularkan melalui tanah. Menurut berbagai pengalaman frekuensi pengobatan dilakukan 2 kali dalam setahun.

3.2 Saran

Saran yang ingin diajukan pada penulisan makalah ini adalah agar kita senantisa selalu menjaga kebersihan diri maupun lingkungan agar kita terhindar dari penyakit cacingan.

Comments
0 Comments

No comments

Post a Comment

Recent Posts