Yazhid Blog

.

Monday, 14 November 2016

MAKALAH CAIRAN PLEURA

TES DAN INTERPRETASI CAIRAN PLEURA   I. PENDAHULUAN Pada keadaan normal rongga pleura mengandung  hanya sedikit cairan yaitu  ... thumbnail 1 summary
TES DAN INTERPRETASI CAIRAN PLEURA

 


I. PENDAHULUAN

Pada keadaan normal rongga pleura mengandung  hanya sedikit cairan yaitu  ± 1 – 10 cc. Cairan ini berada antara pleura visceralis dan pleura parietalis 1,2,3,4,5. Fungsi cairan ini untuk membasahi tunika serosa dan keseimbangannya dijaga oleh tekanan koloid  osmotik kapiler, permeabilitas dinding kapiler serta tekanan hidrostatik  6.

Efusi pleura merupakan suatu keadaan dimana terjadi akumulasi cairan pleura yang abnormal dalam rongga pleura. Efusi ini dapat disebabkan oleh  proses transudasi dan eksudasi. Transudasi adalah akumulasi cairan akibat proses non inflamasi atau bukan radang di dalam  rongga pleura ditandai adanya perubahan tekanan hidrostatik dan tekanan koloid dan proses eksudasi adalah akumulasi cairan akibat proses  inflamasi  di dalam rongga serosa ditandai perubahan permeabilitas membran pada permukaan pleura.. Efusi dapat juga  terjadi akibat bendungan dan hambatan aliran limfe karena tumor. 3,5,6,7 

Pemeriksaan  yang dilakukan untuk mengetahui kelainan cairan pleura adalah  tes makroskopi, tes  kimia, tes mikroskopi,  tes mikrobiologi, petanda tumor  3,4,6,7,9.

PATOLOGI    1,6,7

Akumulasi cairan berlebihan di dalam  rongga  pleura  disebabkan oleh :
1.      Peninggian permeabilitas kapiler karena inflamasi seperti pada pneumonia atau  pleuritis.
2.      Penurunan tekanan koloid osmotik karena hipoproteinemia .
3.      Peninggian tekanan hidrostatik karena meningkatnya tekanan vena misalnya pada payah  jantung kongestif dimana kadar  protein sangat bervariasi tergantung pada hambatan aliran limfe karena hipertensi vena.
4.      Hambatan aliran limfe karena tumor, inflamasi, fibrosis .
5.      Peningkatan tekanan negatif intrapleura seperti atelektasis.
6.      Perpindahan cairan dari rongga peritoneum ke rongga pleura.

Keadaan – keadaan patologik dalam tubuh yang dapat menghasilkan transudat antara lain : nefrosis, dekompensasi kordis, obstruksi sirkulasi vena, kadar protein yang rendah dan lain-lain. Cairan eksudat dapat dibedakan sesuai lokalisasinya seperti pleuritis eksudativa, perikarditis eksudativa. Sifat cairan eksudat tersebut dapat dibedakan : eksudat serous,  fibrinous, purulen atau hemoragik

Indikasi pengambilan transudat/eksudat  1,3,6,7,9:
1.      Untuk mengetahui etiologi efusi  (transudat/eksudat) tersebut.
2.      Untuk mengurangi gejala klinik misalnya : dispneu, perut rasa sesak atau sakit mendadak.
3.      Untuk menghindari terjadinya kumpulan darah atau nanah, misalnya hemitoraks atau  empiema.
4.      Untuk mengurangi cairan di dalam rongga pleura, karena akan diganti dengan obat  yang  akan dimasukkan ke dalam rongga tersebut.

Komplikasi yang mungkin timbul antara lain :
  1. Terjadinya perdarahan karena menusuk pembuluh darah atau organ  dalam tubuh yang mengakibatkan perdarahan.
  2. Perubahan letak organ atau edema organ dalam tubuh karena keseimbangan protein   dan  elektrolit berubah terutama bila pengambilan  cairan transudat/ eksudat tersebut  terlalu banyak. Karena itu dianjurkan untuk sekali pengambilan tidak > 1000 cc .

TUJUAN

Untuk mendiagnosis kelainan  pleura dan menentukan diferensial diagnosisnya serta mengetahui interpretasi hasil-hasil tes yang dilakukan .

Prosedur punksi cairan pleura (Torakosentesis) 7 :
a)      Penderita dimasukkan dalam ruang tindakan/ruang khusus untuk tindakan punksi pleura.
b)      Penderita didudukkan dengan posisi tegak atau bahunya disandarkan ke.bantal atau memeluk bantal dalam keadaan duduk, kemudian dilakukan perkusi dinding toraks belakang untuk menentukan ketinggian cairan pleura dalam rongga pleura.
c)      Tempat melakukan punksi ialah ruang interkostal 6,7 atau 8 (sela iga 8  biasanya setinggi ujung skapula) pada linea aksilaris posterior.
d)     Pada tempat punksi  dilakukan desinfeksi dengan bahan desinfektan (alkohol 70% dan betadine).
e)      Dengan memakai sarung tangan steril, jarum (abbocath) ukuran 16 ditusukkan  ke dalam dinding toraks bagian belakang, kemudian cairan pleura diaspirasi sebanyak 50 cc dengan spoit steril, lalu dimasukkan ke dalam botol-botol yang bersih / steril dan selanjutnya dikirim ke Laboratorium RSUP Dr.Wahidin Sudirohusodo untuk dilakukan tes analisis cairan pleura.

II. METODE

  A. TES MAKROSKOPI  4,6,7,9

1.      Volume  :

-          Pra analitik
o   Persiapan pasien : tidak dibutuhkan persiapan khusus.
o   Persiapan sampel : tidak ada persiapan khusus.
o   Prinsip tes : makin banyak volume cairan pleura  makin besar kerusakan pada rongga pleura.
o   Alat : Gelas ukur.



-          Analitik :
o Cara kerja  :  lihat banyaknya  cairan pleura.
o Nilai rujukan : makin banyak cairan berarti makin besar kerusakan.

-          Pasca  analitik :
                  Interpretasi
o   Makin banyak cairan pleura berarti makin besar kerusakan.

2.      Warna dan kejernihan

-          Pra analitik :
o   Persiapan pasien : tidak dibutuhkan persiapan khusus.
o   Persiapan sampel : tidak ada persiapan khusus.
o   Prinsip tes : setiap kelainan memberi warna dan kejernihan yang berbeda.
o   Alat : tabung yang jernih

-          Analitik :
o   Cara kerja : lihat warna dan kejernihan sampel.
o   Nilai rujukan :  tidak berwarna dan jernih.

-          Pasca analitik :
Interpretasi :
o   Warna transudat biasanya kekuning-kuningan dan jernih, sedangkan warna  eksudat dapat berbeda-beda
o   Bilirubin memberi warna kuning.
o   Darah : warna merah atau coklat.
o   Pus : warna putih-kuning dan keruh.
o   Chylus : warna putih seperti susu dan keruh.
o   Pyocyaneus : warna kehijauan.

3.      Berat jenis (BJ)

-     Pra analitik
o   Persiapan pasien : tidak dibutuhkan persiapan khusus.
o   Persiapan sampel : tidak ada persiapan khusus.
o   Prinsip tes : menentukan jenis cairan.
o   Alat : Urinometer (bila cairannya banyak) dan refraktometer (bila cairan yang dipakai sedikit).

-          Analitik
o   Cara kerja  : melihat berat jenis cairan.
o   Nilai rujukan  : < 1,018 ® transudat ,
                               > 1,018 ® eksudat.



-          Pasca Analitik
Interpretasi :
o   >1,018 : pleuritis tuberkulosa dan infeksi.
o   <1,018 : asites, nefrosis, payah jantung.              

4.      Bekuan

            -     Pra analitik
o   Persiapan pasien : tidak dibutuhkan persiapan khusus.
o   Persiapan sampel : tidak ada persiapan khusus.
o   Prinsip tes : fibrinogen menyebabkan sampel membeku.
o   Alat : tabung yang jernih.

-          Analitik
o   Cara kerja : biarkan sampel selama 1 jam, kemudian lihat apakah ada bekuan atau tidak.
o   Nilai rujukan : tidak membeku.

-          Pasca analitik
   Interpretasi :
o   Bekuan  (+) : ada proses peradangan.
o   Makin besar bekuan, makin berat peradangan.

B. TES KIMIA

1.      Protein Total (secara kuantitatif )

-     Pra analitik
o   Persiapan pasien : pasien harus berpuasa 6 – 8 jam sebelum pengambilan sampel
o   Persiapan sampel : serum tidak boleh hemolisis, cairan pleura disentrifus terlebih dahulu.             
o     Prinsip :
                                                alkaline
      Protein + Cu                    Cu-protein kompleks ditambahkan sampel darah.
                               solution       .     
      Pembacaan dilakukan dengan fotometer 10.
o   Alat dan bahan :
Ø  Pipet mikro 50 μl
Ø  Tabung mikro
Ø  Rak tabung dan rak reagen
Ø  Reagen 1 : Reagen Blank à NaOH 400 mmol/l, K-Na Tartrat 84 mmol/l
Ø  Reagen 2 : Reagen Biuret à KL 61 mmol/l, CuSO4 24,3 mmol/l



-          Analitik
   Cara kerja
o   Masukkan 50 μl sampel cairan pleura ke dalam tabung mikro, lalu letakkan dalam rak sampel sesuai dengan nomor pemeriksaan.
o   Tempatkan reagen pada rak reagen sesuai program tes protein.
o   Masukkan nomor identitas penderita dan program tes.
o   Pengukuran akan dilakukan secara otomatis.
o   Hasil tes akan keluar pada print out.

-          Pasca analitik
      Interpretasi :
o   Bila kadar protein  < 3 gr% à transudat.
o   Bila kadar protein  > 3 gr% à eksudat.

5.      Tes Rivalta 

-          Pra analitik
o   Persiapan pasien : tidak ada persiapan khusus.
o   Persiapan sampel : tidak ada persiapan khusus.
o   Prinsip tes : adanya seromusin akan memberikan gambaran awan putih.
o    Alat dan bahan :
Ø  Gelas ukur
Ø  Aquades
Ø  Asam asetat glasial

-          Analitik
§ Cara kerja :
o   Campurkan 2 tetes asam asetat glasial ke dalam 100 ml aquades dalam gelas ukur.
o   Teteskan setetes cairan pleura yang akan diperiksa ke dalam campuran tersebut .
o   Perhatikan tetesan itu bercampur dan bereaksi.
§  Nilai rujukan  : tidak ada kekeruhan

-          Pasca analitik
    Interpretasi :
o   Bila tidak ada kekeruhan hasil tes negatif à Transudat.
o   Bila terdapat kekeruhan hasil tes positif à Eksudat.

6.      Tes glukosa

-          Pra analitik
   Pra analitik dan analitik tes glukosa pada serum dan cairan pleura adalah sama :
o   Persiapan pasien : pasien harus berpuasa 6 – 8 jam sebelum pengambilan sampel .

o   Persiapan sampel : serum tidak boleh hemolisis, cairan pleura disentrifus terlebih dahulu.
o   Metode : Heksokinase
o   Prinsip : Larutan kerja ( buffer/ATP/NADP/HKG-6-PDH) ditambahkan ke dalam sampel dan akan terjadi reaksi :
                             
Glukosa  +   ATP         HK          G-6-P    +   ADP.

            Heksokinase mengkatalisis fosforilase menjadi glukosa-6-fosfat oleh ATP
                                                   G – 6 -PDH
            G-6-P    +   NADP                                      glukonat- 6 – P  + NADPH +H

o   Alat dan bahan :
Ø  Pipet mikro 50  μl
Ø  Tabung mikro
Ø  Rak tabung
Ø  Reagen 1 : Buffer / ATP/NADP
Ø  Reagen 2 : HK/G-6-PDH

-          Analitik
§  Cara kerja 10 :
§  Masukkan 50  μl sampel ke dalam tabung mikro, lalu letakkan sampel sesuai nomor pemeriksaan.
§  Tempatkan reagen pada rak reagen sesuai program tes glukosa.
§  Masukkan nomor identitas penderita dan program tes.
§  Pengukuran dilakukan secara otomatis.
§  Hasil tes akan keluar pada  print out .
§  Nilai rujukan :  Glukosa darah dan glukosa cairan pleura adalah sama.

-          Pasca analitik
  Interpretasi :
o   Kadar glukosa transudat sama dengan kadar glukosa darah.
o   Kadar glukosa eksudat lebih rendah.
o   Kadar glukosa cairan pleura <60 mg% sangat menyokong etiologi tuber-kulosis paru.

7.      Laktik Dehidrogenase ( LDH )

-          Pra analitik
o   Persiapan pasien : tidak ada persiapan khusus.
o   Persiapan sampel : tidak ada persiapan khusus.
o   Metode : Kinetik UV
o   Prinsip tes  :
       Pyruvate  +  NADH   +  H +  à L – Laktat   +  NAD +
                               NADH akan mengoksidasi secara langsung dengan bantuan aktivasi LDH   
                              dan diukur dengan fotometer 10 .
o   Alat dan bahan :
Ø  Pipet mikro 50  μl
Ø  Tabung mikro
Ø  Rak tabung
Ø  Reagen 1 :  NADH 0,22 mmol
Ø  Reagen 2 : Tris 89 mmol, Pyruvate 1,8 mmol, Sodium Ch/Na Ch 222 mmol,  Sodium Azide  < 0,1%.
-          Analitik
§         Cara kerja :
§  Masukkan 50  μl sampel ke dalam tabung mikro, lalu letakkan dalam rak sampel sesuai nomor pemeriksaan.
§  Tempatkan reagen pada rak reagen sesuai program tes LDH.
§  Masukkan nomor identitas penderita dan program tes.
§  Pengukuran dilakukan secara otomatis.
§  Hasil tes akan keluar pada print out  10
§ Nilai rujukan : 100 – 190 IU
           
            -     Pasca analitik
  Interpretasi :
o   Transudat    à    <  200 IU
o   Eksudat       à    > 200 IU
o   Menurut LIGHT dkk kriteria untuk eksudat sebagai berikut 7:
-          Ratio protein cairan pleura dengan protein serum >0,5.
-          LDH cairan pleura >200 IU.
-          Ratio LDH cairan pleura dengan LDH serum >0,6.

C. TES MIKROSKOPI

1. Jumlah eritrosit 6

-          Pra analitik
o   Persiapan pasien : tidak dibutuhkan persiapan khusus.
o   Persiapan sampel :  Cairan pengencer adalah larutan Hayem dengan perbandingan 1 : 200.
o   Prinsip tes : Sampel diencerkan dan dimasukkan ke dalam kamar hitung  (Hemositometer ) dengan memperhitungkan faktor pengenceran.
o   Alat dan bahan :
o   Larutan Hayem
o   Kamar hitung Improved Neubauer
o   Pipet eritrosit, selang pengisap
o   Mikroskop
o   Kaca objek dan kaca penutup

-          Analitik
§ Cara kerja :
o   Isap sampel ke dalam pipet eritrosit sampai tanda 0,5.
o   Isap larutan Hayem sampai tanda 101, kocok  isi pipet beberapa menit agar isi  pipet bercampur baik, setelah itu buanglah 4-5 tetes isi  pipet .
o   Siapkan kamar hitung dengan kaca penutup di atasnya.
o   Teteskan isi  pipet perlahan-lahan ke dalam kamar hitung.
o   Kemudian dibaca di bawah mikroskop pada 5 kotak eritrosit dengan menggunakan lensa 10 x . Hasilnya dikali 10.000.
§ Nilai rujukan : jumlah eritrosit  < 10.000 mm3 .

-          Pasca analitik
         Interpretasi  7:
o   Sejumlah kecil eritrosit dapat ditemukan dalam semua jenis cairan pleura   (transudat / eksudat).
o   Cairan pleura yang bercampur darah dengan hitung eritrosit  >100.000 mm3 mempunyai nilai prediksi yang tinggi untuk penyakit keganasan, infark paru atau trauma.

2.      Jumlah  lekosit 6
-          Pra analitik
o   Persiapan tes : tidak dibutuhkan persiapan khusus
o   Persiapan sampel : cairan pengencer adalah larutan Turk dengan perbandingan 1:20, bila dengan cairan Turk menggumpal , maka diencer-kan dengan NaCl 0,9%.
o   Prinsip tes : Sampel diencerkan dan dimasukkan ke dalam kamar hitung
      ( hemositometer) ; dengan memperhitungkan faktor pengenceran.
o   Alat dan bahan :
§  Larutan Turk atau NaCl 0,9%
§  Kamar hitung Improved Neubauer
§  Pipet lekosit, selang pengisap
§  Mikroskop
§  Kaca objek dan kaca penutup
-          Analitik
§ Cara kerja :
o   Isap sampel ke dalam pipet lekosit sampai tanda 0,5.
o   Isap larutan Turk atau NaCl 0,9% sampai tanda 11, kocok isi  pipet beberapa menit agar isi  pipet bercampur dengan baik. Setelah itu buanglah  4 – 5 tetes isi  pipet.
o   Siapkan kamar hitung dengan kaca penutup di atasnya.
o   Teteskan isi pipet pelahan-lahan ke dalam kamar hitung.
o   Hitung jumlah lekosit yang tampak dalam 4 kotak lekosit dengan menggunakan lensa 10 x  hasilnya dikali 50.
§  Nilai rujukan : jumlah lekosit  < 1000 mm 3.

-          Pasca analitik
    Interpretasi :
o   Lebih dari 80% transudat dan kurang dari 20 % eksudat menunjukkan jumlah lekosit < 1000 mm 3.
o   Jumlah lekosit  > 10.000 mm 3 dijumpai pada pneumoni, infark paru, pankreatitis, sindroma pasca infark miokard dan SLE 7.

3.      Morfologi dan hitung jenis

-          Pra analitik
o   Persiapan pasien : tidak dibutuhkan persiapan khusus.
o   Persiapan sampel : sampel harus diperiksa paling lambat 1 jam setelah pengambilan untuk mencegah degenerasi sel yang ada. Sampel dapat langsung dari cairan aspirasi atau dari sedimen cairan pleura yang telah disentrifus (paling baik).
o   Prinsip tes : cairan pleura diapuskan di atas kaca objek kemudian diwarnai.
o   Alat dan bahan :
Ø  Alat sentrifus
Ø  Kaca objek
Ø  Metil alkohol
Ø  Larutan Giemsa/Wrigt/ May-Grunwald Giemsa ( MGG).
Ø  Pengukur waktu.
Ø  Mikroskop dan minyak emersi 6.

-          Analitik
§              Cara kerja pewarnaan MGG
o   Ambil cairan  pleura yang telah disentrifus, apuskan di atas kaca objek, biarkan mengering.
o   Fiksasi apusan tersebut dengan metil alkohol selama 5 menit lalu dibilas dengan air mengalir.
o   Tetesi  sediaan apus dengan larutan May Grunwald  ± 1 – 2 menit.
o   Tambahkan larutan buffer pH 6,4, diamkan selama 3 menit .
o   Warnai dengan larutan Giemsa yang sudah diencerkan dengan buffer pH 6,4 dan biarkan 5 – 10 menit, cuci dengan air mengalir, lalu keringkan.
o   Baca apusan di bawah mikroskop dengan pembesaran 100 x menggunakan minyak emersi.
§ Nilai rujukan : jumlah netrofil < 25 %.

-          Pasca analitik
   Interpretasi
o   Jumlah netrofil < 25 % à normal.
o   Predominasi lekosit PMN biasanya dihubungkan dengan pneumonia, pankreatitis, infark paru, tumor dan penyakit vaskular kolagen.
o   Cairan pleura yang mengandung banyak limfosit tidak selalu disebabkan oleh tuberkulosis tetapi dapat pula karena proses keganasan atau infeksi kronik.
o   Eosinofil dapat ditemukan meningkat pada penyakit alergi seperti asma, penyakit parasit, pneumoni yang akan sembuh 7.


D. TES MIKROBIOLOGI

1.      Pewarnaan Gram 11

-    Pra analitik
o   Persiapan sampel : tidak diperlukan persiapan khusus.
o   Persiapan sampel : sampel ditempatkan dalam tabung yang steril tanpa antikoagulan.
o   Prinsip : bakteri akan menyerap zat warna kristal violet. Dengan penambahan lugol, bakteri Gram positif akan tetap mengikat warna ungu meskipun ada penambahan alkohol dan fuschin/safranin, sedangkan bakteri Gram negatif akan  melepaskan warna ungu dengan adanya penambahan alkohol dan akan mengikat safranin atau fuchsin menjadi warna merah.
o   Alat dan bahan :
Ø  Gelas objek
Ø  Minyak emersi
Ø  Mikroskop
Ø  Rak pewarnaan
Ø  Bunsen
o   Reagen :
Ø  Cat Gram A    : Kristal violet …………………         2 gram
(warna ungu)    Alkohol 96%…………………          20 cc
  Amonium oxalat 1 % dalam aqua      80 cc
Ø  Cat Gram B     : Jodium ………………………         1 gram
(warna coklat)   Kalium jodida……………….          2 gram
  Aquades …………………….          300 cc
Ø  Cat Gram C     : Aceton ……………………...          30 cc
(tdk berwarna)  Alkohol …………………….           70 cc
Ø  Cat Gram D    : Safranin …………………….           1 gram
  Alkohol  96% ………………           10 cc
  Aquades ……………………           90 cc

-          Analitik
§ Cara kerja :
o   Buatlah sediaan di atas kaca objek, keringkan pada suhu kamar dan panaskan di atas api  3 – 4 menit. Dinginkan.
o   Letakkan sediaan  di atas rak pewarnaan.
o   Preparat yang telah siap dicat digenangi dengan cat Gram A selama 1- 3 menit. Kuman  Gram (+) dan Gram (-) akan berwarna ungu, kemudian cat dibuang dan tidak dicuci.
o   Kemudian digenangi cat Gram B selama ½ - 1 menit , kemudian dicuci dengan air mengalir.
o   Tetesi / celup kaca objek ke dalam cat Gram C sampai warnanya  luntur.
o   Kemudian ditetesi dengan cat Gram D  selama 1– 2 menit. Gram D merupakan warna kontras maka  bakteri Gram (+) yang telah mengikat cat gram A tidak mampu mengikat Gram D, sehingga bakteri tetap berwarna ungu, sedangkan bakteri Gram (-) yang telah dilunturkan oleh cat Gram C (bakteri tidak berwar-na)  akan mengikat warna cat Gram D sehingga bakteri akan berwarna merah.
o   Cuci dengan air dan keringkan di udara.
o   Setelah kering, lihat di bawah mikroskop pembesaran 100 x menggunakan minyak emersi.
§ Nilai rujukan :
o   Gram positif (+) : bakteri akan berwarna ungu, bentuknya jelas (batang atau kokus).
o   Gram negatif (-)  : bakteri akan berwarna merah, bentuknya jelas (batang atau kokus).

            -    Pasca analitik
    Interpretasi :
o   Transudat  à  gram negatif
o   Eksudat à gram positif

2. Pewarnaan Ziehl Neelsen 11

a. Pra analitik
o   Persiapan pasien : tidak dibutuhkan persiapan khusus.
o   Persiapan sampel : sampel ditempatkan dalam tabung yang steril tanpa antikoagulan.
o   Prinsip tes : bakteri akan mengikat  warna merah sesuai sifatnya.
o   Alat dan bahan :
Ø  Gelas objek
Ø  Minyak emersi
Ø  Mikroskop
Ø  Rak pewarnaan
Ø  Bunsen
Ø  Sengkelit
Ø  Kaca objek
o   Reagen :
Ø  Ziehl Neelsen A  : Fuschin basis …………… 1 gram
(warna merah)      Alkohol …………………. 10 cc
                                   Phenol 5% dalam aqua…..  90 cc
Ø  Ziehl Neelsen B  : Asam khlorida pekat ……  3 cc
(tidak berwarna)    Alkohol 96% ……………   97
Ø  Ziehl Neelsen C  :  Methylen blue 0,2 %
(warna biru )
b.      Analitik
o   Cara kerja :
o   Buatlah sediaan di atas kaca objek, keringkan pada suhu kamar dan panaskan di atas api 3 – 4 menit. Dinginkan.
o   Letakkan sediaan  di atas rak pewarnaan.
o   Preparat yang telah siap dicat dan digenangi dengan cat ZN – A, kemudian dipanasi dengan lampu sampai menguap tetapi tidak mendidih. Bakteri yang tahan asam dan yang tidak tahan asam akan berwarna merah. Tunggu selama 5 menit kemudian dicuci dengan air.
o   Kemudian preparat ditetesi dengan cat ZN – B. Bakteri yang tahan asam akan tetap berwarna merah, sedangkan yang tidak tahan asam menjadi tidak berwarna. Setelah itu preparat segera diangkat dan dicuci dengan air.
o   Setelah preparat digenangi dengan ZN – C selama 2 menit. Bakteri yang tahan asam  tidak akan mengikat warna ZN – C, tetapi akan mengikat warna biru. Setelah itu preparat dicuci  dengan air dan dikeringkan dalam temperatur kamar.
o   Keringkan dan lihat di bawah mikroskop dengan pembesaran 100 x menggunakan minyak emersi.
§ Nilai rujukan
o   Basil tahan asam à  Basil terlihat berwarna merah.
o   Basil tidak tahan asam à Basil berwarna biru

c.  Pasca analitik
Interpretasi
o   Transudat  à tidak ditemukan basil tahan asam.
o   Eksudat à  kadang ditemukan basil tahan asam.

E. PETANDA TUMOR

1.Carcinoembryonic Antigen (CEA) 12

-          Pra analitik
o   Persiapan pasien : tidak ada persiapan khusus.
o   Persiapan sampel : sampel yang digunakan adalah serum atau plasma, hindari sampel yang hemolisis.
o   Prinsip tes : Enzyme immunoassay berdasarkan prinsip “ Sandwich “
o   Alat dan bahan
Alat :
Ø  Instrumen Cobas EIA            
·         fotometer (panjang gelombang 450 nm)
·         alat pencuci (washer)
·         pengeram (inkubator)
·         rak dan tabung reaksi yang dilengkapi adhesive foil.
·         pipet
·         bead dispenser
                      Bahan :
Ø  manik-manik ( bead )
Ø  larutan TMB Substrate : 8 TMB (Tetramethylbenzidine)
Ø  larutan TMB Buffer : 10 substrate buffer
Ø  Stopping solution : Sulphuric acid 5 %
Ø  Larutan standar 3 a – 3 f, kontrol


-          Analitik
§ Cara kerja :
                       I.  Semiotomatis
   Reaksi imunologi :
a)      pipet sesuai skema di bawah ini (volume dalam μL)
Spesimen /
sampel
                        Tabung reaksi
S1
S2
S3
S4
S5
S6
C
P
RB
 Standar 3a
50








Standar 3b

50







Standar 3c


50






Standar 3d



50





Standar 3e




50




Standar 3 f





50



Kontrol






50


Sampel pasien







50

Anti CEA
Conjugate
200
200
200
200
200
200
200
200

Manik
1
1
1
1
1
1
1
1




















S : Standar    C : Kontrol     P : Sampel pasien      RB : Reagen blanko

b). Tutup tabung reaksi dan inkubasi pada inkubator Cobas EIA 37 0 C.
                        c). 30 menit kemudian kocok. Hindari dari cahaya terang.
            d). Angkat tutup tabung dan cuci dengan menggunakan Cobas EIA Washer.

   Reaksi enzimatik
a.       10 menit sebelum akhir reaksi imunologik, larutan kerja substrate disiapkan.
b.      tambahkan 250 μL larutan kerja substrat pada semua tabung reaksi,   termasuk RB dan inkubasi selama 15 menit  pada 37 0 C pada inkubator  Cobas EIA .
c.       Selanjutnya kocok dan jauhkan dari cahaya terang.
d.      Tambahkan stopping solution 1 ml pada semua tabung reaksi, campur  dengan baik.
e.       Setelah 1 jam, baca absorban dari standar, kontrol dan sampel pasien, serta reagen blanko pada fotometer 450 nm.

        II. Otomatis ( Cobas Core® )
-          Prinsip pemeriksaan CEA cara otomatik sama dengan cara semiotomatik.  


                  Perbedaannya antara lain :
1.      Semua tahap reaksi pada pemeriksaan serta pengukuran dilakukan oleh alat Cobas Core secara otomatis.
2.      Pada tahap reaksi enzimatik tidak dibutuhkan stopping solution.
3.      Alat Cobas Core akan mengeluarkan hasil berupa lembar print out.

-          Nilai rujukan
·         Nilai range alat  Cobas Core : 0 – 50 ng/ml.
·         Jika nilai > 50 ng/ml, sampel harus diencerkan 1 : 10 dan 1 : 100, caranya sebagai berikut :
o   Pengenceran 1 :  10 ® 20 μl sampel + 180 μl diluent I .
o   Pengenceran 1 : 100 ® 20 μl dari pengenceran 1:10 tambah-kan 180 μl diluent I.
·         Nilai rujukan kadar CEA  < 2,5 ng/ml.

         - Pasca analitik
               Interpretasi 14 :
o   Pada penyakit neoplasma, perokok berat sering dijumpai kadar CEA hingga    5 ng/ml.
o   Pada keganasan umumnya dijumpai kadar CEA lebih 10 ng/ml.
o   Pemantauan kadar CEA untuk mengetahui respons terhadap terapi dan progresivitas tumor.
o   Nilai >20 ng/ml preoperasi, berprognosis kurang baik oleh karena menun-jukkan tingkat keganasan yang tinggi dan adanya metastase.
o   Dalam klinik, untuk mendiagnosis nilai CEA ditunjang dengan tes lain dan keterangan klinik pasien

 PERBEDAAN TRANSUDAT DAN EKSUDAT 6,7

Parameter
Transudat
Eksudat
Cairan
Jernih
Keruh
Warna
Kuning muda
Kuning – hijau
Berat jenis
< 1,018
> 1,018
Bau
Tidak berbau
Berbau
Bekuan
( - ) bekuan
( + ) bekuan
pH
> 7,31
< 7,31
Protein
< 3 gr%
> 3 gr%
Glukosa
= plasma darah
< plasma darah
Kadar LDH
< 200 I U
> 200 I U
Rivalta
(-)
(+) kekeruhan
Hitung sel PMN
Sedikit
Banyak
Pewarnaan Gram
(-) negatif
(+) biru-ungu
BTA
Tidak ditemukan
Ditemukan berwarna merah
Kultur kuman
(-)
(+)



ANJURAN UNTUK TES CAIRAN PLEURA 3

Rutin :
v  Pemeriksaan makroskopi
v  Cairan pleura/ratio protein serum
v  Cairan pleura/ ratio LD serum
v  Pemeriksaan mikroskopi

Berguna untuk sebagian pasien :
v  Pewarnaan dan kultur mikroorganisme
v  Sitologi
v  Kolesterol cairan pleura

Berguna pada beberapa keadaan :
v  pH
v  LDH
v  Amilase
v  Biopsi pleura
v  Analisis lipid
v  Pemeriksaan immunologi
v  Petanda tumor
v  Cairan pleura/ ratio bilirubin serum




ALGORITME TES  EFUSI PLEURA  11                


KEPUSTAKAAN

  1. Speicher CE, Smith JW : Penyakit Pleura dalam  Pemilihan Uji Laboratorium yang   Efektif, Penerbit Uji Laboratorium, EGC Jakarta. 1996 ; 188 – 195.
  2. Price.SA, Wilson LM : Penyakit  Pleura dan Paremkim Paru-paru dalam  Patofisiologi
            Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, edisi 4, Jakarta, 1995 ; 704 – 707.
  1. Henry JB : Pleural Fluid in Clinical Diagnosis and Management by Laboratory            Methods,  19th WB Saunders Company 1996 ; 472 – 476.
  2. Mukherjee KL : Laboratory Examination of Miscellaneous Body Fluids  in  Medical  Laboratory Technology, Tata Mc Graw, Hill Publishing Company Limited, New Delhi. 1988 ; 847 – 849.
  3. Harrison`s : Pleural Effusion in Principles of Internal Medicine 13 th edition ; 1230-1233.
  4. Cairan Tubuh, Diktat Kuliah : Transudat dan Eksudat, Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Unhas 1997; 1 – 13.
  5. Rany B Syaiful : Analisis Pemeriksaan Cairan Pleura pada Penderita Efusi Pleura Non 
Hemoragis , Karya Akhir Program Pasca Sarjana Fakultas Kedokteran Unhas,  Makassar  2000 ; 4 – 15.
  1. Rab Tabrani : Efusi Paru dalam Ilmu Penyakit Paru, Penerbit Hipokrates Jakarta 1996 ;   574 – 577.
  2. Ganda Subrata R : Transudat dan eksudat dalam Penentuan Laboratorium Klinik,   Penerbit   Dian Rakyat, Jakarta, 1992 ; 147 – 153.
  3. Manual Cobas Mira, Roche, 1999.
  4. Fakultas Kedokteran UGM : Pemeriksaan Mikroskopik dalam  Dasar – Dasar  Peme-riksaan Mikrobiologi, 1993 ; 11 – 18.
  5. Roche , Manual Cobas Core CEA EIA.
  6. Wijaya Andi: Petanda Tumor untuk Diagnosis, Uji Saring dan Pemantauan Terapi Kanker, Program Pustaka Prodia, Seri Petanda Tumor 02, 1992.
  7. Wallach J : Interpretation of Diagnostic Test, Lippincott, Raven Publisher, 1998.



            
Comments
0 Comments

No comments

Post a Comment

Recent Posts