Yazhid Blog

.

Saturday, 5 November 2016

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISA KADAR KALIUM IODAT PADA SAMPEL GARAM

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Garam adalah salah satu kebutuhan pokok manusia yang dalam kehidupan sehari-hari banyak digu... thumbnail 1 summary

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Garam adalah salah satu kebutuhan pokok manusia yang dalam kehidupan sehari-hari banyak digunakan sebagai bahan tambahan bumbu pada makanan, sebagai pengawet makanan seperti ikan asin, asinan buah-buahan, dan dasar pembuatan senyawa kimia (NaOH, Na2SO4, NaHCO3, Na2CO3). Setiap manusia pada umumnya mengkonsumsi garam dengan jumlahnya berbeda-beda tergantung kebiasaan masing-masing individu. Oleh karena itu, penambahan iodium pada produk garam merupakan cara yang sangat efektif dalam menutupi kekurangan tubuh manusia akan kebutuhan iodium. Untuk menunjang program pemerintah dibidang kesehatan masyarakat, setiap produsen garam diwajibkan menambahkan iodium pada produk garamnya.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh para ahli kesehatan, orang yang kekurangan iodium dalam konsumsi makanannya dapat mengalami penyakit gondok. Sedang pada anak-anak dapat menyebabkan pertumbuhan yang terhambat. Oleh karena itu kekurangan iodium pada masyarakat diharapkan tidak ada lagi bila semua garam yang diproduksi sudah mengandung iodium.
Garam beriodium merupakan istilah yang biasa digunakan untuk garam yang telah difortifikasi (ditambah) dengan iodium. Di Indonesia, iodium ditambahkan dalam garam sebagai zat aditif atau suplemen dalam bentuk kalium iodat (KIO3). Penggunaan garam beriodium dianjurkan oleh WHO untuk digunakan di seluruh dunia dalam menanggulangi GAKI. Cara ini dinilai lebih alami, lebih murah, lebih praktis dan diharapkan dapat lestari di kalangan masyarakat.


Hasil Survei Nasional Garam Beriodium yang dilakukan setiap tahun oleh Badan Pusat Statistik terintegrasi dengan SUSENAS menunjukkan bahwa secara nasional persentase rumah tangga yang mengkonsumsi garam beriodium dengan kandungan cukup sejak tahun 1997-2002 hanya berkisar antara 62-68%.
Garam yang beredar di masyarakat masih banyak yang tidak maupun kurang memenuhi syarat kandungan iodium. Hal ini diduga akibat banyaknya produsen garam yang menggunakan iodium kurang dari jumlah yang disyaratkan (30-80 ppm iodium sebagai KIO3), atau kandungan iodium hilang maupun berkurang selama masa penyimpanan atau transportasi. Oleh karena itu kandungan iodium yang terdapat di dalam garam dapur penting untuk dianalisis kadarnya untuk mengetahui apakah kandungannya teah sesuai dengan standar yang telah ditetapkan di dalam SNI maupun WHO.
1.2 Tujuan
Untuk menentukan kadar kalium iodat (KIO3) pada sampel garam pada berbagai merek.







BAB II
LANDASAN TEORI
            Garam beryodium adalah garam yang telah diperkaya dengan yodium yang dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan dan kecerdasan. Garam beryodium yang digunakan sebagai garam konsumsi harus memenuhi standar nasional indonesia (SNI) antara lain mengandung yodium sebesar 30–80 ppm. Yodium merupakan zat essensial bagi tubuh, karena merupakan komponen dari Hormon tiroksin. Terdapat dua ikatan organik yang menunjukkan bioaktifitas hormon ini, ialah trijodotyronin T3 dan Tetrajodotyronin T4, yang terakhir juga disebut juga Tiroksin (Siswono, 2003).
            Dalam tubuh terkandung sekitar 25 mg yodium yang tersebar dalam semua jaringan tubuh, kandungannya yang tinggi yaitu sekitar sepertiganya terdapat dalam kelenjar tiroid, dan yang relatif lebih tinggi dari itu ialah pada ovari, otot, dan darah. Yodium diserap dalam bentuk yodida, yang di dalam kelenjar tiroid dioksidasi dengan cepat menjadi yodium, terikat pada molekul tirosin dan tiroglobulin. Selanjutnya tiroglobulin dihidrolisis menghasilkan tiroksin dan asam amino beryodium, tiroksin terikat oleh protein. Asam amino beryodium selanjutnya segera dipecah dan menghasilkan asam amino dalam proses deaminasi, dekarboksilasi dan oksidasi (Kartasapoetra, 2005).
            Garam KIO3 mampu mengoksidasi iodida menjadi iodium secara kuantitatif dalam larutan asam. Oleh karena itu digunakan sebagai larutan standar dalam proses titrasi Iodometri. Selain itu, karena sifat Iodida yang mudah teroksidasi oleh oksigen dalam lingkungan, menyebabkan iodida mudah terlepas. Reaksi ini sangat kuat dan hanya membutuhkan sedikit sekali kelebihan ion hidrogen untuk melengkapi reaksinya. Namun kekurangan utama dari garam ini sebagai standar primer adalah bahwa bobot ekivalennya yang rendah (Vogel 1994).
Larutan KIO3 memiliki dua kegunaan penting, pertama adalah sebagai sumber dari sejumlah iodin yang diketahui dalam titrasi, larutan ini harus ditambahkan kepada larutan yang mengandung asam kuat, namun tidak dapat digunakan dalam medium yang netral atau memiliki keasaman rendah. Fungsi kedua yaitu dalam penetapan kandungan asam dari larutan secara iodometri atau dalam standarisasi larutan asam keras. Larutan baku KIO3 0,1 N dibuat dengan melarutkan beberapa gram massa kristal KIO3 yang berwarna putih dengan menggunakan akuades dan mengencerkannya (Vogel 1994).




BAB III
ALAT DAN BAHAN
3.1    Alat yang digunakan :
1.      Batang pengaduk
2.      Buret
3.      Botol semprot
4.      Erlenmeyer 250 mL
5.      Gelas kimia 10 mL, 30 mL, 50 mL, 100 mL, 250 mL
6.      Gelas ukur 25 mL, 100 mL
7.      Hot plate
8.      Kaca arloji
9.      Karet penghisap
10.  Klem dan statif
11.  Labu ukur 50 mL, 100 mL, 1000mL
12.  Pipet ukur 1 mL
13.  Pipet volume 1 mL, 2 mL, 5 mL, 25 mL, 50 mL
14.  Sendok tanduk
15.  Timbangan analitik
16.  Timbangan digital
3.2    Bahan yang digunakan
1.      Aquadest
2.      Asam fosfat (H3PO4) pa 85%
3.      Garam kasar merek Bangau biru
4.      Garam kasar merek Garuda mas
5.      Garam halus merek Dolphin
6.      Garam halus merek Indomekar
7.      Garam halus merek Segitiga
8.      Garam halus merek Refina
9.      Garam halus merek Garuda mas
10.  Indikator amylum 1 %
11.  Kalium Iodida (KI)
12.  Kalium Iodat pa (KIO3) 0,005 N
13.  NaCL pa
14.  Natrium Thiosulfat Pentahidrat (Na2S2O3 . 5H2O) 0,005 N
15.  Natrium Thiosulfat Pentahidrat (Na2S2O3 . 5H2O) pa 0,1 N







BAB IV
PROSEDUR KERJA
4.1    Perhitungan Reagen
a.       Amilum 1% dalam 100 mL
%    =  
1 % =  
=
=  1 gram

b.      KIO3 0,1 N 50 mL
N   =   
0,1 =   
g    =   
g    =   0,1783 gram

c.       Na2S2O3 . 5H2O 0,1 N dalam 100 mL


N   =    
0,1 =   
g    =   
g    =   24,8 gram
Pengenceran :
N1 . V=  N2  .  V2
0,1 . V1 =  0,005  .  1000
        V1
         V1=  50 mL




4.2    Prosedur pembuatan reagen
a.    Pembuatan amilum 1% dalam 100 mL
1)        Disiapkan alat dan bahan
2)        Ditimbang 1 gram amylum 1%
3)        Dilarutkan dengan aquadest 100 mL dalam gelas kimia
4)        Dipanaskan sambil diaduk, sampai warnanya menjadi bening
5)        Didinginkan dan diberi etiket
b.   Pembuatan KIO3 0,1 N dalam 50 mL
1)        Disiapkan alat dan bahan
2)        Ditimbang 0,1783 gram KIO3
3)        Dilarutkan dengan aquadest, kemudian dimasukkan kedalam labu ukur 50 mL
4)        Dicukupkan volumenya sampai tanda batas
5)        Dihomogenkan dan diberi etiket
c.    Pembuatan KIO3 0,005 N 100 mL
1)        Disiapkan alat dan bahan
2)        Dipipet 5,05 mL larutan KIO3 0,1 N dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL
3)        Dicukupkan volumenya dengan aquadest hingga tanda batas
4)        Dihomogenkan dan diberi etiket
d.   Pembuatan Natrium Thiosulfat (Na2S2O3 . 5H2O) 0,005 N
1)        Disiapkan alat dan bahan
2)        Ditimbang 2,48 gram Na2S2O3 . 5H2O
3)        Dilarutkan dengan aquadest digelas kimia (aquadest yang telah dididihkan/aqudest bebas CO2) dan didinginkan
4)        Diencerkan hingga 100 mL
5)        Dipipet 50 mL larutan kedalam labu ukur 1000 mL
6)        Diencerkan dengan aquadest yang telah dididihkan hingga tanda batas
7)        Dihomogenkan dan diberi etiket

e.       Pembuatan aquadest bebas CO2
1)         Dimasukan aquadest ke dalam gelas kimia 1000 mL
2)         Dididihkan aquadest tersebut dengan menggunakan hot plate
3)         Didinginkan aquadest dengan ditutup almunium foil
4)         Aquadest bebas CO2 siap digunakan



4.3    Prosedur kerja





 


2.         Penetapan kadar kalium iodat


 





4.4    Data Pengamatan
1.         Penimbangan KIO3 0,1 N secara praktikum :
Berat kertas +sampel                                               = 0,5657 gram
Berat kertas kosong                                                 = 0,3893 gram  _
Berat sampel                                                            = 0,1764 gram
N =
 =
 =
 = 0,0989 ek/L
Pengenceran KIO3 0,005 N 100 mL secara teori :
N1 . V1         =   N2 . V2
0,0989 . V1   =   0,005 . 100
              V1   
              V1   =  5,05 mL

KIO3 0,0989 dalam 100 mL secara praaktikum :
 N1 . V1         =   N2 . V2
0,0989 . 5,05 =   N. 100
               N2   
               N2   =  0,0049 ek/L





2.         Tabel pembakuan Na2S2O3. 5H2O
Erlenmeyer
Vol. KIO3
(mL)
Vol. Na2S2O3.5H2O (mL)
Perubahan warna
I
5 mL
4,35 mL
Bening        kuning muda       biru tua        bening
II
5 mL
4,45 mL
III
5 mL
4,50 mL
5 mL
4,43 mL
Pada saat titik akhir titrasi (TAT) ek Na2S2O3.5H2~ ek KIO3 :
N.Na2S2O3.5H2O x  V. Na2S2O3.5H2O = N. KIO3 x V. KIO3
N. Na2S2O3.5H2O  =
= 0,0055 ek/L
3.         Penimbangan sampel garam

No.
Nama sampel garam
Berat sampel (g)
Volume Na2S2O3.5H2O (mL)
Kadar KIO3 (ppm)
Rata-rata kadar KIO3 (%)
1.
Garam “Bangau Biru”
I
II


25,0065 g
25,0011 g


1 mL
1 mL


8,4446
8,4446



8,4446


2.
Garam kasar “Garuda Mas”
I
II


25,0236 g
25,0771 g


0,85 mL
0,95 mL


7,27
8,10


7,685
3.
Garam halus “Dolphin”
I
II


25,0132 g
25,0087 g


7,20 mL
7,25 mL


57,37
57,76


57,56
4.
Garam kasar “Indomekar”
I
II


25,0403 g
25,0100 g


2,90 mL
2,90 mL


23,20
23,22


23,21
5.
Garam halus “Segitiga”
I
II


25,0083 g
25,0013 g


5,30 mL
5,20 mL


42,46
41,66


42,06
6.
Garam halus “Refina”
I
II


25,0018 g
25,0038 g


8,05 mL
8,10 mL


63,85
62,24


64,84
7.
Garam halus “Garuda Mas”
I
II


25,0076 g
25,0090 g


3,20 mL
3,15 mL


25,78
25,37


25,57
8.
Blanko
25,0000 g
0
-
-

Hasil yang diperoleh dari tabel diatas, dilakukan dengan pengujian pada salah satu sampel garam halus “Dolphin”, persamaan yang digunakan yaitu:

Erlenmeyer
Berat sampel (g)
Vol. Na2S2O3.5H2O
(mL)
Perubahan warna
I
25,0132
7,20 mL
Bening      kuning muda     biru tua    
bening       
II
25,0087
7,25 mL

KIO3 =
KIO3 (I)    =
               =  0,2878 x 0,1784 x 1,1 x 1,0158 x 1000
               =  57,37 ppm
KIO3 (II)  =
               =  0,2898 x 0,1784 x 1,1 x 1,0158 x 1000
               =  57,76 ppm
Jadi kadar rata – rata KIO3      =
                                                        =
                                                        =  57,56 ppm

















BAB V
PEMBAHASAN
            Percobaan penetapan kadar KIO3 dalam garam beryodium pada praktikum kali ini yaitu menggunakan berbagai sampel garam kasar dan garam halus. Percobaan ini dilakukan dengan metode titrasi iodometri, dimana iodometri itu sendiri merupakan penetapan kadar suatu oksidator dalam larutan dengan jalan direaksikan dengan larutan KI berlebihan dalam lingkungan asam dan I2 yang dibebaskan dititrasi dengan larutan standar atau baku (Na.thio). Natrium Thiosulfat adalah suatu senyawa yang mudah sekali teroksidasi, dimana iodium dapat mengoksidasinya menjadi tetrationat. Semua penentuan senyawa secara iodometri didasarkan atas reaksi natrium thiosulfat dengan iodium. Pada titrasi iodium dengan Na.tiosulfat, iodium bertindak sebagai oksidator atau titran. Fungsi larutan standar KI  ialah untuk mencegah menguapnya yodium didalam sampel dan sebagai pereaksi untuk memperlihatkan jumlah yodium yang terdapat dalam sampel menjadi senyawa KIO3 sehingga akan berwarna bening karena pereaksi yang berlebih. Fungsi amylum ialah untuk meningkatkan kecepatan percobaan (sebagai indikator). Reaksi ini disebut reaksi iodometri karena terjadi perubahan dari warna biru kehitaman menjadi tidak berwarna, sedangkan reaksi iodimetri adalah kebalikannya.
            Perhitungan kadar KIO3 pada berbagai jenis garam bertujuan agar kita dapat mengetahui kadar garam yang memiliki iodium dan dapat memenuhi kebutuhan iodium per hari agar terhindar dari berbagai penyakit seperti GAKI. Kebutuhan tubuh akan iodium rata-rata mencapai 1-2 mikrogram per kilogram berat badan per hari. Iodium diperlukan tubuh terutama untuk sintesis hormon tiroksin, yaitu suatu hormon yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid yang sangat dibutuhkan untuk proses pertumbuhan, perkembangan, dan kecerdasan. Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi dalam waktu lama, kelenjar tiroid akan membesar untuk menangkap iodium, yang lebih banyak dari darah. Pembesaran kelenjar tiroid tersebutlah yang sehari-hari kita kenal sebagai penyakit gondok.
            Iodium adalah jenis elemen mineral mikro kedua sesudah besi yang dianggap penting bagi kesehatan manusia walaupun jumlah kebutuhan tidak sebanyak zat-zat gizi lainnya. Manusia tidak dapat membuat iodium dalam tubuhnya seperti membuat protein atau gula, tetapi harus mendapatkannya dari luar tubuh (secara alamiah) melalui serapan iodium yang terkandung dalam makanan serta minuman. Iodium merupakan mineral yang termasuk unsur gizi esensial walaupun jumlahnya sangat sedikit di dalam tubuh, yaitu hanya 0,00004% dari berat tubuh atau sekitar 15-23 mg. Itulah sebabnya iodium sering disebut sebagai mineral mikro atau trace element.
            Pada percobaan penentuan kadar KIO3 didapatkan hasil kadar KIO3 pada garam halus lebih tinggi dari pada garam kasar. Seperti pada garam halus “Segitiga” yang kadar KIO3nya 42,06 ppm yang lebih tingi dari garam kasar “Indomekar” yaitu 23,21 ppm.  Berdasarkan SNI 01-3556-2000 kandungan kalium iodat minimal 30-80 ppm (mgKIO3/kg garam). Hasil ini menandakan bahwa kandungan garam halus tersebut masih sesuai dengan ketetapan SNI 01-3556-2000 sedangkan garam kasar tidak dalam standar yang telah ditetapkan.
Adapun faktor yang mempengaruhi hasil dalam praktikum yaitu kemasan sampel yang akan digunakan telah rusak sehingga hasil yang diperoleh lebih rendah dari hasil yang seharusnya terdapat dalam kemasan.





BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diperoleh kadar KIO3 pada sampel garam halus lebih tinggi daripada garam kasar, hal ini tidak sesuai dengan yang tertera pada kemasan yaitu < 30 ppm, sedangkan untuk garam kasar  masih sesuai dengan SNI – 01 – 3556 – 2000 tidak kurang dari 30 ppm atau minimal 30 ppm kadar KIO3nya.

6.2 Saran
Untuk mencegah adanya penyakit gondok yang dikarenakan kekurangan iodium maka setiap pembelian garam harus dilihat labelnya, agar ditahu kandungan iodium pada garam yang akan dikonsumsi tersebut.






DAFTAR PUSTAKA

            Vogel. 1994. Analisa Kuantitatif Anorganik. Jakarta: EGC.
            Siswono. 2003. Iodium cegah lost generation. www.gizi.net
                        (21 November 2010)
            Kartasapoetra. 2005. Kandungan Iodium.

                      http://behaviovnurdelfautmlo.html 
Comments
0 Comments

No comments

Post a Comment

Recent Posts