Yazhid Blog

.

Tuesday, 29 November 2016

LAORAN PRAKTIKUM ANALISA BORAKS PADA MAKANAN BAKSO DAN SOMAY

BAB I PENDAHULUAN 1.1         Latar Belakang Produk makanan saat ini diproduksi tidak hanya memperhatikan zat gizi yang terkandung, m... thumbnail 1 summary
BAB I
PENDAHULUAN
1.1        Latar Belakang
Produk makanan saat ini diproduksi tidak hanya memperhatikan zat gizi yang terkandung, melainkan juga mensiasati bagaimana jenis makanan yang dikemas, mudah disajikan, praktis, atau diolah dengan cara modern. Makanan tersebut umumnya diproduksi oleh industri pengolahan pangan dengan teknologi tinggi dan memberikan berbagai zat aditif (bahan tambahan makanan) untuk mengawetkan dan memberikan cita rasa bagi produk tersebut. Makanan siap saji contohnya berupa lauk pauk dalam kemasan, mie instan, nugget, atau juga corn flakes sebagai makanan untuk sarapan.
Adapun pengertian Bahan Tambahan Makanan menurut PERMENKES RI No. 722/MENKES/PER/IX/88 : bahan tambahan makanan adalah bahan yang biasanya tidak digunakan sebagai makanan dan biasanya bukan merupakan ingredien khas makanan, mempuyai atau tidak mempunyai nilai gizi, yang dengan sengaja ditambahkan ke dalam makanan untuk maksud teknologi (termasuk organoleptik) pada pembuatan, pengolahan, penyediaan, perlakuan, pewadahan, pembungkusan, penyimpanan atau pengangkutan makanan untuk menghasilkan atau diharapkan menghasilkan(langsung atau tidak langsung) suatu komponan yang mempengaruhi sifat khas makanan.
Penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) yang memang jelas-jelas dilarang, seperti bahan pengawet yang melampaui ambang batas yang telah ditentukan. Namun, dalam kehidupan sehari-hari BTP digunakan secara umum oleh masyarakat termasuk dalam pembuatan makanan jajanan. Namun dalam prakteknya masih banyak produsen makanan yang menggunakan bahan tambahan yang berlebih sehingga dapat menjadi racun dan berbahaya bagi kesehatan yang sebenarnya tidak boleh digunakan dalam makanan, baik mengenai sifat-sifat keamanan Bahan Tambahan Pangan (BTP).
1.2        Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk menentukan adanya asam boraks pada sampel bakso, mpek-mpek, dan somay yang beredar di kota kendari.



BAB II
LANDASAN TEORI
Bahan tambahan pangan (BTP) adalah bahan atau campuran bahan yang secara alami, bukan merupakan again dati baku pangan tetapi ditambahkan kedalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk bahan pangan dan untuk memperbaiki karakter pangan agar memiliki kualitas yang meningkat (Syah, 2005).
Zat adiktif makanan adalah bahan yang di tambahakan dan di campurkan sewaktu pengolahan makanan untuk menigkatkan mutu atau bahan yang di tambahkan pada makanan ataupun minuman pada proses atau pembuautannya dan terdapat pada hasil akhirnya (Pardiazi, 1980).
Menurut peraturan Menteri Kesehatan R.I.No.329/Menkes/PER/XII/76, yang dimaksudkan dengan adiktif makanan adalah bahan yang di tambahkan dan di campurkan sewaktu pengolahan makanan untuk meningkatkan mutu termasuk kedalam aroma, pemantap, antioksidan, pengawet, pengemulsi, antigumpal, pemucat dan pengental (Winarno, 1992).
Boraks merupakan salah satu zat adiktif pada makanan. Yakni zat yang di tambahkan dan di
campurkan pada makanan sewaktu pengolahan makanan dengan maksud untuk menarik (pewarna), menambah selera (pemanis), menyedapkan (penyedap), mengharumkan dan sebagai bahan pengawet makanan dan sebagai pengenyal. Boraks yang di gunakan sebagai pengenyal berupa sodium boraks, yang salam istilahawamnya disebut bleng. Banyak makanan yanng berasal dari jawa menggunakan bleng sebagai salah satu bahan dasar pengolahan makanan seperti gendar atau puli, lopis dan kerupuk gendar atau karak. Memeng dari segi  rasa, makanan tersebut di geamri oleh masyarakat, karena selain enak, gurih dan kenyal juga tahan lama. Bleng juga di pergunakan dalam pembuatan bakso dan mie agar lebih kenyal, menggurihkan makanan, serta tahan lama (Aryani, 2006).
Pemerintah telah meperbolehkan penggunaan boraks sebagai bahan makanan, namun dibatasi oleh UU Kesehatan dana Keselamatan Nasional, batasnya hanya 1 gram per satu kilogram pangan, bila lebih itu ilegal, pelaku akan di penjara 12 tahun bila menambahkan lebih dari 1 gram per 1 kilogram pangan (Anonim, 2013 ).



BAB III
ALAT DAN BAHAN
 3.1       Alat yang digunakan, yaitu :
1)         Batang pengaduk
2)         Botol semprot
3)         Cawan crush
4)         Hot plate
5)         Karet penghisap
6)         Lumpang dan alu
7)         Gegep kayu
8)         Gegep besi
9)         Gelas kimia 100 mL
10)     Labu ukur  100 mL
11)     Pipet tetes
12)     Pipet ukur
13)     Sendok tanduk
14)     Tanur
 3.2       Bahan yang digunakan, yaitu:
1)         Aquadest
2)         HCl 10%
3)         Kertas lakmus
4)         Kertas tumerik
5)         Na2CO3 10%
6)         Pengukur pH universal
7)         Sampel bakso Kelapa Gading
8)         Sampel bakso di belakang mall
9)         Sampel bakso Barokah
10)     Sampel bakso Mager Sari
11)     Somay depan kampus
12)     Somay di swalayan ( Nusa Mart )
13)     Mpek – mpek mentah
14)     Tissue



BAB IV
PROSEDUR KERJA
4.1        Perhitungan Dan Pembuatan Reagen
a.          Na2CO3 10% dalam  100 mL
g = 1 gram
cara kerja :
1.         Disiapkan alat dan bahan
2.         Ditimbang 10 gram Na2CO3 kedalam gelas kimia
3.         Dilarutkan dengan aquadest
4.         Dimasukkan kedalam labu ukur 100 mL
5.         Dicukupkan volumenya hingga tanda batas
6.         Dihomogenkan dan diberi etiket



4.2        Analisa (Prosedur Kerja)
a)      Uji pendahuluan
Sampel
 



1.   Sampel di haluskan menggunakan lumping dan alu
2.   Ditambahkan 2 hingga 3mL aquadest pada sampel
3.   Dipanaskan di atas hot plate hingga membentuk larutan
4.   Diasamkan dengan penambahan 3-4 tetes tetes HCl
5.   Diukur pH menggunakan kertas lakmus merah
6.   Dipertahankan pHnya sampai bersifat asam
7.   Dicelupkan kertas tumeric kedalam larutan sampel
8.   Diamati perubahan warna yang terjadi pada kertas tumerik
Perubahan  warna :  kuning    kuning

kuning





b. Sampel Uji konfirmasi

 


1.         Ditimbang sampel yang telah halus 2 gram di cawan crush.
2.         Ditambahkan sedikit aquades dan Na2CO3 10% hingga keasaan basa (digunakan kertas lakmus untuk  mengukur pH).
3.         Diuapkan sampai kering, diatas hot plate
4.         Dibakar residu didalam tanur hingga bahan organik terbakar sepenuhnya.
5.         Didinginkan didalam desikator
6.         Ditambahkan 15mL aquades
7.         Ditambahkan HCl tetes demi tetes, sampai larutan bersifat asam.
8.         Dicelupkan kertas tumerik kedalam larutan dan dikeringkan
9.         Diamati perubahan warna yang terjadi pada kertas tumerik
Perubahan  warna :  kuning           kuning

kuning 





 


4.3        Data Pengamatan
Tabel Pemeriksaan Boraks Pada Sampel Makanan       
No.
Jenis sampel
Perubahan warna
Hasil
1
Bakso Kelapa Gading
kuning    kuning

Negatif ( - )

2
Bakso dibelakang Mall

kuning    kuning

Negatif ( - )

3
Somay depan Kampus Bina Husada

kuning    kuning

Negatif ( - )

4
Somay di swalayan (Nusamart)

kuning    kuning

Negatif ( - )

5
Mpek–mpek belum digoreng

kuning    kuning

Negatif ( - )

6
Bakso Barokah

kuning    kuning

Negatif ( - )

7
Bakso Mager Sari
kuning    kuning

Negatif ( - )







BAB V
PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini kami melakukan pengujian terhadap sampel makanan yang sering dikonsumsi oleh masyarakat. Adapun pengujian yang dilakukan adalah secara kualitatif dengan melakukan dua pengujian yaitu uji pendahuluan dan uji konfirmasi.
Boraks adalah senyawa dengan nama kimia tetraborat (NaB4O7) berbentuk padat, jika terlarut salam air akan menjadi natrium hidroksida dan asam borat (H3BO3). Dengan demikian bahaya asam borat.  Baik boraks maupun asam borat memiliki asam khasiat antiseptika (zat yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme). Pemakaiannya dalam obat biasanya dalam salep, bedak, larutan kompres, obat oles mulut, bahkan juga untuk pencuci mata. Boraks digunakan juga sebagai bahan solder, bahan pembersih, pengawet kayu dan antiseptik kayu.
Meskipun bukan pengawet makanan , boraks sering pula digunakan sebagai pengawet makanan. Boraks sering di gunakan sebagai pengawet berbagai makanan seperti bakso, mie basah, pisang olen, siomay, lontong, ketupat dan pangsit. Selain bertujuan untuk mengawetkan boraks juga dapat membuat tekstur makanan lebih kenyal dan memperbaiki penampilan makanan.
Pada praktikum kali ini dilakukan analisa bahan tambahan makanan (boraks) dalam berbagai sampel makanan diantaranya bakso dari beberapa tempat seperti bakso Barokah, mpek-mpek yang belum digoreng atau dalam keadaan mentah, siomay serta yang berasal dari mini market yang berada diKendari yang bertujuan untuk menentukan ada atau tidaknya boraks dalam sampel tersebut. Mula – mula bahan uji tersebut dihaluskan hingga halus kemudian dilakukan 2 pengujian yaitu uji pendahuluan dan uji konfirmasi.
Pada uji pendahuluan, pada saat kertas tumerik dicelupkan kedalam larutan sampel kemudian dikeringkan kertas tumerik tersebut diperoleh hasil dari warna kuning tetap warna kuning (tidak mengalami perubahan warna). Apabila dalam sampel terdapat boraks maka kertas tersebut akan berubah warna dari warna kuning menjadi warna merah. Ini berarti bahwa pada uji pendahuluan pada keseluruhan bahan uji diperoleh hasil negatif. Sedangkan untuk mempertegas hasil tersebut dilakukan lagi uji konfirmasi untuk memperjelas bahwa didalam bahan uji terdapat boraks atau tidak. Pada saat kertas tumerik dicelupkan kedalam larutan sampel dan di peroleh hasil dari kuning menjadi kuning yang menandakan bahwa hasilnya negatif. Ini berarti bahwa bahan uji tidak mengandung boraks sehingga aman untuk dikonsumsi.



BAB VI
PENUTUP
6.1     Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah di lakukan di peroleh hasil negative mengandung boraks pada keseluruhan sampel/bahan uji yang berarti layak untuk di konsumsi dan tidak berbahaya.


Comments
0 Comments

No comments

Post a Comment

Recent Posts