Yazhid Blog

.

Monday, 16 May 2016

Laporan praktikum pemeriksaan sifilis

          I.             Judul                       :   Uji serologi penyakit sifilis       II.             Tujuan                  : un... thumbnail 1 summary
         I.            Judul                       :  Uji serologi penyakit sifilis
      II.            Tujuan                 : untuk mendeteksi dan mengidentifikasi penyakit sifilis yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum dengan uji serologi
   III.            Prinsip               : presipitasi atau koagulasi menunjukan adanya reaksi antigen dan antibody  pada serum pasien dan antigen pada reagen TPHA
   IV.            Metode                      TPHA
      V.            Dasar  teori :
Sifilis adalah penyakit kelamin menular yang disebabkan oleh bakteri spiroseta, Treponema pallidum. Penularan biasanya melalui kontak seksual, tetapi ada beberapa contoh lain seperti kontak langsung dan kongenital sifilis (penularan melalui ibu ke anak dalam uterus).
Penyakit sifilis adalah penyakit kelamin yang bersifat kronis dan menahun walaupun frekuensi penyakit ini mulai menurun, tapi masih merupakan penyakit yang berbahaya karena dapat menyerang seluruh organ tubuh termasuk sistem peredaran darah, saraf dan dapat ditularkan oleh ibu hamil kepada bayi yang di kandungnya. Sehingga menyebabkan kelainan bawaan pada bayi tersebut. Sifilis sering disebut sebagai “Lues Raja Singa”.
Sifilis merupakan infeksi kronik menular yang disebabkan oleh bakteri troponema pallidum, menginfeksi dan masuk ke tubuh penderita kemudian merusaknya. Sifilis hanya menular antar manusia melalui kontak seksual, atau Ibu kepada bayinya. Sifilis menular melalui Penis, vagina, anus, mulut, transfusi dan ibu hamil kepada bayinya
Masa inkubasi antara 10 – 90 hari, dengan gejala: Tahap 1 yaitu 9-90 hari setelah terinfeksi. Timbul: luka kecil, bundar dan tidak sakit (chancre) – tepatnya pada kulit yang terpapar/kontak langsung dengan penderita. Chancre sebagai tempat masuknya penyakit hampir selalu muncul di dalam dan sekitar genetalia, anus bahkan mulut. Pada kasus yang tidak dibobati (sampai tahai 1 berakhir), setelah beberapa minggu, chancre akan menghilang tapi bakteri tetap berada di tubuh penderita. Tahap 2 yaitu 1-2 bulan kemudian, muncul gejala lain: sakit tenggorokan, sakit pada bagian dalam mulut, nyeri otot, demam, lesu, rambut rontok dan terdapat bintil. Beberapa bulan kemudian akan menghilang. Sejumlah orang tidak mengalami gejala lanjutan. Tahap 3 yaitu Dikenal sebagai tahap akhir sifilis. Pada fase ini chancre telah menimbulkan kerusakan fatal dalam tubuh penderita. Dalam stase ini akan muncul gejala: kebutaan, tuli, borok pada kulit, penyakit jantung, kerusakan hati, lumpuh dan gila. Tahap letal.
Cara penularannya yaitu jika terjadi kontak langsung dengan kulit orang yang telah terinfeksi disertai dengan lesi infeksi sehingga bakteri bisa masuk ke tubuh manusia. Pada saat melakukan hubungan seksual (misal) bakteri memasuki vagina melalui sepalut lendir dalam vagina, anus atau mulut melalui lubang kecil. Sifilis sangat mudah menginfeksi orang lain pada tahap 1 dan 2 selain itu juga dapat disebarkan per-plasenta. Apabila infeksi pada kehamilan karena tidak melakukan pemeriksaan antenatal yang adekuat akan mempunyai pengaruh buruk pada janin. Dapat menyebabkan kematian janin, partus immaturus, dan partus prematurus, dan dapat juga di dapatkan gejala-gejala sifilis kongenital.
Pengobatan sifilis dalam kehamilan yaitu dengan penisilin.
1 kali penyuntikan penisilin dirasa telah cukup adekuat, meski beberapa penderita memerlukan 1-3 kali injeksi penisilin. Dokter akan meminta penderita yang telah menjalani medikasi untuk melakukan tes darah setahun kedepan, dimaksudkan untuk memastikan bakteri telah lisis dari tubuh penderita. Menerapkan pola hubungan seksual yang sehat dan aman. Bagi penderita yang alergi penisilin, dapat diganti dengan eritromycine atau tetrasiklin.
Sifilis yang mempunyai nama lain Great pox, lues venereum, dan morbus gallicus merupakan suatu penyakit kronik dan bersifat sistemik yang disebabkan oleh Treponema pallidum. Pada perjalanannya dapat menyerang hampir semua alat tubuh, dapat menyerupai banyak penyakit, mempunyai masa laten, dapat ditularkan melalui kontak seksual dan dari ibu ke janin. Penyakit ini juga mempunyai stadium remisi dan eksaserbasi. Di Indonesia insidensinya 0,61% dengan penderita terbanyak adalah stadium laten, disusul stadium 1 yang jarang, dan yang langka adalah sifilis stadium II.
Sifilis dibagi menjadi sifilis kongenital dan akuisita (dapatan). Sifilis kongenital dibagi menjadi sifilis dini (sebelum 2 tahun), lanjut (setelah 2 tahun), dan stigmata. Sifilis akuisita dapat dibagi menurut 2 cara, yaitu secara klinis dan epidemiologik. Menurut klinis sifilis dibagi menjadi 3 stadium: Stadium I, stadium II, dan stadium III. Secara epidemiologik menurut WHO dibagi menjadi: Stadium dini menular (dalam dua tahun sejak infeksi), terdiri atas stadium I (9-90 hari), stadium II (6 minggu-6 bulan atau 4-6 bulan setelah muncul lesi primer, dan stadium laten dini (dalam 2 tahun infeksi). Stadium lanjut tak menular (setelah dua tahun sejak infeksi), terdiri atas stadium laten lanjut (lebih dari 2 tahun), dan stadium III (3-20 tahun).



VI.                   Alat dan Bahan
a.       Alat dan bahan
1.        Mikropipet atau mikrodiluter (25 µl, 75 µl, 100 µl)
2.        Rak tabung
3.        Sentrifuge
4.        Spoid
5.        Sumur TPHA
6.        Tabung K3
7.        Tourniqutte

 Bahan
1.      Kapas alcohol
2.      Reagen TPHA (control cell, test cell, buffer conjugate)
3.      Sampel darah(serum atau plasma)
4.       
VII.            Prosedur kerja
a.              TPHA
    Kualitatif
·         Disiapkan sumur A, B, dan C
·         Ditambahkan 190 чL larutan diluent, dihomogenkan. Lalu ditambahkan 10 чL sampel
·         Dipipet kesumur B dan C sebanyak 75 чL
·         Ditambahkan reagen test disumur B sebanyak 75 чL
·         Dan ditambahkan reagen kontrol di sumur C sebanyak 75 чL
·         Dicampur, dihomogenkan dan diinkubasi selama 45-60 menit


    Kuantitatif
·         Dipipet sebanyak 25 чL kedalam sumur A dan B
·         Kemudian dipipet 25 чL larutan diluent disumur B dicampur dihomogenkan, lalu Diambil sebanyak 25µl dari lubang B, campur lalu pindahkan ke C sebanyak 25 µl, begitu seterusnya hingga ke lubang H dan 25 µl terakhir disisihkan.
·         Ditambahkan reagen test pada sumur B – H sebanyak 75 чL
·         Dicampur, dihomogenkan lalu di inkubasi 45-60 menit



VIII.            Interpretasi hasil
Uji kualitatif
1.      Reaktif (+) : jika terjadi aglutinasi
2.      Non reaktif (-) : jika tidak terjadi aglutinasi
“ catatan ,jika hasil reaktif maka hasil reaksi dilanjutkan ke uji kuantitatif
            Uji kuantitatif
3.      Positif (+) : Terjadi aglutinasi
4.      Negative (-) : tidak terjadi aglutinasi
           

 IX.            Pembahasan
Sifilis adalah penyakit yang pada umumnya berjangkit setelah hubungan seksual. Menahun dengan adanya remisi dan eksaserbasi, dapat menyerang semua organ dalam tubuh terutama system kardiovasikular, otak dan susunan saraf serta dapat terjadi kongenital. Tehnik pemeriksaan sifilis yang bisa dilakukan dengan 2 metode. Dua  metode tersebut yakni metode mikrobiologi dan serologi. Uji mikrobiologi yaitu dengan pemeriksaan mikroskopis, sedangkan pada uji serologi yaitu uji treponema dan non-treponema. Kedua uji serologi tersebut sama-sama untuk mendeteksi antibodi. Tetapi uji treponema menggunakan antigen yang khusus dari treponema sedangkan non-treponema menggunakan antigen lain dari treponema atau yang telah dirusak oleh treponema
Uji treponema merupakan uji yang spesifik terhadap sifilis, karena mendeteksi langsung Antibodi terhadap Antigen Treponema pallidum. Biasanya uji ini digunakan untuk mengkonfirmasi uji non-treponemal (non spesifik) dan untuk menilai respon bakteri treponemal tersebut.Pada uji treponemal, sebagai antigen digunakan bakteri treponemal atau ekstraknya, misalnya Treponema Pallidum Hemagglutination Assay (TPHA),Treponema Pallidum Particle Assay (TPPA), dan Treponema Pallidum Immunobilization (TPI). Walaupun pengobatan secara dini diberikan, namun uji treponemal dapat memberi hasil positif seumur hidup.
Uji non-treponema adalah uji yang mendeteksi antibodi IgG dan IgM terhadap materi-materi lipid yang dilepaskan dari sel-sel rusak dan terhadap antigen-mirip-lipid (lipoidal like antigen) Treponema pallidum. Karena uji ini tidak langsung mendeteksi terhadap keberadaan Treponema pallidum itu sendiri, maka uji ini bersifat non-spesifik. Uji ini akan menjadi negatif 1-4 minggu setelah pertama kali memberi hasil positif (seiring dengan pengobatan atau menyembuhnya lesi), sehingga hanya digunakan untuk melihat keberhasilan pengobatan terhadap penyakit sifilis. Uji non-treponemal meliputi VDRL (Venereal disease research laboratory), USR (unheated serum reagin), RPR (rapid plasma reagin), dan TRUST (toluidine red unheated serum test).

MOHON MAAF DAFTAR PUSTAKA TIDAK DICANTUMKAN^^
Comments
1 Comments

1 comment

Post a Comment

Recent Posts