Yazhid Blog

.

Monday, 16 May 2016

JUDUL KTI ANALIS KESEHATAN LENGKAP DENGAN PROPOSAL

JUDUL KTI ANALIS KESEHATAN UJI DAYA HAMBAT YOGURT TERHADAP PERTUMBUHAN Salmonella thypi ANALISIS PERTUMBUHAN Aspergillu... thumbnail 1 summary

Hasil gambar untuk judul kti analis kesehatan
JUDUL KTI ANALIS KESEHATAN


UJI DAYA HAMBAT YOGURT TERHADAP PERTUMBUHAN Salmonella thypi





ANALISIS PERTUMBUHAN Aspergillus niger PADA MEDIA PADAT BERBAHAN DASAR PISANG AMBON (Musa paradisiaca var. sapientum (L.) Kunt)


PENGARUH PENAMBAHAN ANTIKOAGULAN EDTA (Etilen Diamine Tetra Acetat) 10% DENGAN VARIASI VOLUME TERHADAP MORFOLOGI ERITROSIT PADA SEDIAAN APUS DARAH TEPI


PENYEDAP RASA SEBAGAI MEDIA PENYUBUR ALTERNATIF PENGGANTI TRYPTICASE SOY BROTH (TSB) UNTUK PERTUMBUHAN
Escherichia coli dan Staphylococcus aureus


PEMERIKSAAN INFEKSI Candida albicans PADA MUKOSA MULUT PENDERITA DIABETES
MELLITUS TIPE II PADA PASIEN RAWAT
JALAN DI POLI PENYAKIT DALAM
RSU BAHTERAMAS PROVINSI
SULAWESI TENGGARA


IDENTIFIKASI JAMUR Aspergillus flavus PADA TEPUNG
BERAS PUTIH SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI     MEDIA SDA   (Sabouroud Dextrose Agar)
                                                                 


PERBEDAAN JUMLAH TROMBOSIT MENGGUNAKAN
AMONIUM OKSALAT 1% DENGAN AMONIUM
OKSALAT 1% BERISI ZAT WARNA METIL BIRU 



MODIFIKASI AIR PERASAN JERUK NIPIS
(Citrus aurantifolia Swingle) SEBAGAI PENGGANTI KOMPOSISI LARUTAN TURK UNTUK
 HITUNG JUMLAH LEUKOSIT



PENGARUH EKSTRAK DAUN LIDAH BUAYA (Aloe vera L) TERHADAP PERTUMBUHAN Staphylococcus aureus



HUBUNGAN ANTARA KADAR TRIGLISERIDA DENGAN GLUKOSA PUASA PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS

UJI DAYA HAMBAT AIR REBUSAN DAUN JAMBU BIJI PUTIH Guava Psidium Guajava Linn  TERHADAP Salmonella Sp.



PENGARUH AIR REBUSAN CACING TANAH (Lumbricus rubellus) TERHADAP PERTUMBUHAN Salmonella thypi


Perbedaan Jumlah Leukosit Dengan Volume Larutan Turk dan Darah Pada Metode Tabung





NB: like fanspage FB Yazid blog analis.
untuk melihat proposal lengkap silahkan kirim pesan melalui facebook agar dapat direspon dengan cepat.


LEUKEMIA MIELOBLASTIK AKUT M2

TUGAS HEMATOLOGI III LEUKEMIA MIELOBLASTIK AKUT ( M2 ) OLEH LAODE YAZID BASHAR AK.12.041 AKADEMI ANALIS KESEHATAN B... thumbnail 1 summary
TUGAS HEMATOLOGI III

LEUKEMIA MIELOBLASTIK AKUT ( M2 )


OLEH

LAODE YAZID BASHAR
AK.12.041


AKADEMI ANALIS KESEHATAN BINAHUSADA
KENDARI

2014






A.   DEFENISI LUEKEMIA
Leukimia adalah suatu keganasan pada alat pembuat sel darah berupa poliferasi sel hemopoetik muda yang di tandai oleh adanya kegagalan sumsum tulang dalam pembentuk sel darah normal dan adanya infiltrasi ke jaringan tubuh lain. ( Kapita Selekta kedokteran, 2000 )

Hasil gambar untuk gambar penyakit leukemia mieloblastik


B.     KLASIFIKASI LEUKEMIA
         Leukemia Mielogenus Akut (LMA)
LMA mengenai sel sistem hematopoetik yang kelak berdiferensiasi ke semua sel mieloid; monosit, granulosit (basofil, netrofil, eosinofil), eritrosit, dan trombosit. Semua kelompok usia dapat terkena. Insidensi meningkat sesuai dengan bertambahnya usia. Merupakan leukemia nonlimfositik yang paling sering terjadi.
Leukemia Mielogenus Krinis (LMK)
LMK juga dimasukkan dalam sistem keganasan sel stem mieloid. Namu lebih banyak sel normal dibanding bentuk akut, sehingga penyakit ini lebih ringan. LMK jarang menyerang individu dibawah 20 tahun. Manifestasi mirip dengan gambaran LMA tetapi dengan tanda dan gejala yang lebih ringan. Pasien menunjukkan tanpa gejala selama bertahun-tahun, peningkatan leukosit kadang sampai jumlah yang luar biasa, limpa membesar.
3.      Leukemia Limfositik Kronis (LLK)
LLK merupakan kelainan ringan mengenai individu usia 50 – 70 tahun. Manifestasi klinis pasien tidak menunjukkan gejala. Penyakit baru terdiagnosa saat pemeriksaan fisik atau penanganan penyakit.

4.      Leukemia Limfositik Akut (LLA)
LLA dianggap sebagai proliferasi ganas limfoblast. Sering terjadi pada anak-anak, laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan. Puncak insiden usia 4 tahun, setelah usia 15 tahun. LLA jarang terjadi. Limfosit immatur berproliferasi dalam sumsum tulang dan jaringan perifer sehingga mengganggu perkembangan sel normal.
C.    LEUKEMIA MIELOBLASTIK AKUT

1.      DEFENISI
Leukemia mieloblastik akut (LMA) adalah suatu penyakit yang ditandai dengantransformasi neoplastik dan gangguan diferensiasi sel-sel progenitor dari sel myeloid. Bila tidak diobati,penyakit ini akan mengakibatkan kematian secara cepat dalam waktu beberapa minggusampai bulan sesudah diagnosis. Di Negara maju seperti Amerika Serikat, LMA merupakan 32%dariseluruh kasus leukemia. Penyakit ini lebih sering ditemukan pada dewasa (85%) dari padaanak(15%).
Insidens LMA umumnya tidak berbeda dari masa anak-anak hingga masa dewasamuda.Sesudah usia 30 tahun, insidensi LMA meningkat secara eksponensial sejalan denganmeningkatnya usia. LMA pada orang yang berusia 30 tahun adalah 0,8%, pada orangyangberusia 50 tahun 2,7%, sedang pada orang yang berusia di atas 65 tahun adalah sebesar 13,7%.Secara tidak umum tidak didapatkan adanya variasi antar etnik tentang insidensi LMA,meskipunpernah dilaporkan adanya insidens LMA tipa M3 yang 2,9 hingga 5,8 kali besar pada ras Hispanik yang tinggal di Amerika Serikat dibandingkan dengan ras Kaukasia.

2.      PATOGENESIS
Patogenesis utama LMA adalah adanya blokade maturitas yang menyebabkan proses diferensiasi sel-sel seri mieloid terhenti pada sel-sel muda ( blast ) dengan akibat terjadi akumulasi blast  disumsum tulang. Akumulasi blast  di dalam sumsum tulang akan menyebabkan gangguan hematopoesis normal dan pada gilirannya akan mengakibatkan sindrom kegagalan sumsum tulang ( bone marrow failure syndrome) yang ditandai dengan adanya sitopenia (anemia,leukopenia dan trombositopenia). Adanya anemia akan menyebabkan pasien mudah lelah dan pada kasus yang lebih berat sesak nafas, adanya trombositopenia akan menyebabkan tanda-tanda perdarahan, sedang adanya leukopenia akan menyebabkan pasien rentan terhadap infeksi, termasuk infeksi oportunistis dari flora bakteri normal yang ada di dalam tubuh manusia.
Selain itu, sel-sel blast  yang terbentuk juga punya kemampuan untuk migrasi keluar sumsumtulang dan berinfiltrasi ke organ - organ lain seperti kulit, tulang, jaringan lunak dan sistem syaraf  pusat dan merusak organ - organ tersebut dengan segala akibatnya.
3.      TANDA DAN GEJALA
Tidak selalu dijumpai leukositosis. Leukositosis terjadi pada sekitar 50% kasus LMA, sedang 15% pasien mempunyai angka leukosit yang normal dan sekitar 35% pasien mengalami netropenia. Meskipun demikian, sel-sel blast dalam jumlah yang signifikan di darah tepi akanditemukan pada 85% kasus LMA. Oleh karena itu sangat penting untuk memeriksa rincian jenissel-sel leukosit di darah tepi sebagai pemeriksaan awal, untuk menghindari kesalahan diagnosis pada orang yang diduga menderita LMA. Tanda dan gejala utama LMA adalah adanya rasa lelah, perdarahan dan infeksi yang disebabkanoleh sindrom kegagalan sumsum tulang sebagaimana disebutkan di atas. Perdarahan biasanya terjadi adalam bentuk purpura atau petekia yang sering dijumpai di ekstremitas bawah atau berupa epistaksis, perdarahan gusi dan retina. Perdarahan yang lebih berat jarang terjadi kecualipada kasus yang disertai dengan DIC. Kasus DIC ini paling sering dijumpai ditenggorokan, paru-paru, kulit dan daerah perirektal, sehingga organ-organ tersebut harusdiperiksa secara teliti pada pasien LMA dengan demam.Pada pasien dengan angka leukosit yang sangat tinggi (>100 ribu/mm3), sering terjadi leukostasis, yaitu terjadinya gumpalan leukosit yang menyumbat aliran pembuluh darah vena maupun arteri. Gejala leukostasis, yaitu terjadinya gumpalan leukosit yang menyumbat alira pembuluh darah vena maupun arteri. Gejala leukostasis sangat bervariasi, tergantung lokasi sumbatannya.
Gejala yang sering dijumpai adalah gangguan kesadaran, sesak nafas, nyeri dada dan priapismus. Angka leukosit yang sangat tinggi juga sering menimbulkan gangguan metabolisme berupa hiperurisemia dan hipoglikemia. Hiperurisemia terjadi akibat sel-sel leukosit yang berproliferasi secara cepat dalam jumlah yang besar. Hipoglikemia terjadi karena konsumsi gula in vitro dari sampel darah yang akan diperiksa, sehingga akan dijumpai hipoglikemia yang asimptomatik karena hipoglikemia tersebut hanya terjadi in vitro tetapi tidak in vivo pada tubuh pasien. Infiltrasi sel-sel blast  akan menyebabkan tanda/gejala yang bervariasi tergantung organ yang diinfiltrasi. Infiltrasi sel-sel blast di kulit akan menyebabkan leukemia kutis yaitu berupa benjolan yang tidak berpigmen dan tanpa rasa sakit, sedang infiltrasi sel-sel blast di jaringan lunak akan menyebabkan nodul di bawah kulit (lkoroma). Infiltrasi sel-sel blast ke dalam gusi. Meskipun jarang, pada LMA juga dapat dijumpai infiltrasi sel-sel blast  ke daerah menings dan untuk penegakan diagnosis diperlukan pemeriksaan sitologi dari cairan serebro spinal yangdiambil melalui prosedur pungsi lumbal.
4.      DIAGNOSIS
LMA khas menunjukkan tanda dan gejala yang berkaitan dengan kegagalan sumsum tulang. LMA harus dipertimbangkan dalam evaluasi setiap penderita dengan pucat, demam, infeksi, atau perdarahan. Hepatosplenomegali sering, limfadenopati mungkin ada. Hipertrofi gingiva atau pembengkakan kelenjar parotis jarang tetapi merupakan temuan yang sugestif. Massa lokal darisel leukemia (kloroma), mungkin timbul di tempat manapun, tetapi daerah retro orbital danepidural paling sering. Kloroma dapat mendahului infiltrasi sel leukemia sumsum tulang. Hitung 10 darah biasanya abnormal. Anemia dan trombositopenia sering mencolok. Hitung leukositmungkin tinggi, rendah, atau normal. Blas leukemia mungkin nyata pada preparat apus darah.LMA mungkin timbul pada anak yang mula-mula hanya menunjukkan anemia, leokopenia atautrombositopenia saja. Keadaan ini, yang lebih sering terjadi pada dewasa, khas disebut sindrom mielodisplasia.
Sindrom mielodisplasia mempunyai beberapa kesamaan dengan LMA, tetapisumsum tulang mengandung persentase sel blas yang lebih rendah dan mempunyai gambarandisplasia yang khas, termasuk megaloblastosis. Penderita mungkin tidak tampak sakit padawaktu diperiksa dan hanya anemia dan leukopenia yang mendorong mereka untuk memeriksakan diri ke dokter. Gambaran khasnya meliputi kelainan morfologi sel darah dan sumsum tulang.Perjalanan alamiah sindrom mielodisplasia pada anak tidak begitu jelas, tetapi dapat timbul padaanak yang mendapat terapi keganasan sebelumnya.Secara klasik diagnosis LMA ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik, morfologi sel dan pewarnaan sitokimia. Sejak sekitar dua dekade tahun yang lalu berkembang 2 teknik  pemeriksaan terbaru: immunoserotyping dan analisis sitogenetik. Berdasarkan pemeriksaan morfologi sel dan pengecatan sitokimia, klasifikasi LMA terdiri dari 8 subtipe (M0 sampaiM7).Klasifikasi ini dikenal dengan nama klasifikasi FAB ( French American British ). KlasifikasiFAB saat ini masih menjadi dasar LMA. Pengecatan sitokimia yang penting untuk pasien LMAadalah Sudan Black B (SBB) dan mieloperoksidase (MPO). Kedua pengecatan sitokimia tersebutakan memberikan hasil positif pada pasien LMA tipe M1, M2, M3, M4 dan M6
5.      KLASIFIKASI MENURUT FAB

LMA-M0 : Leukemia mielositik akut : Diferensiasi minimal
LMA-M1 : leukemia mieloblasti akut : tanpa maturasi
LMA-M2 : Leukemia mieloblastik akut : dengan maturasi
LMA-M3 : leukemia promielositik akut
LMA-M4 : leukemia mielomonositik akut
LMA-M5 : leukemia monositik akut
LMA-M6 : Eritroleukemia
LMA-M7 : Leukemia megakariositik akut




D.    LEUKEMIA MIELONLASTIK AKUT M2

a.       Gambar :

Description: M2.jpg
Leukemia tipe M2 ini ditandai dengan banyaknya granulosit yang matang. Leukemia jenis ini diderita oleh sekitar 40% dari seluruh penderita LMA. M2: Akut Mieloblastik Leukemia dengan diferensiasi awal terdiri atas promielosit (sel-sel dengan sedikit granula inti masih bulat atau sedikit melekuk, plasma biru) dan mioblas, Auer rod sering ada.
Sel leukemik pada M2 memperlihatkan kematangan yang secara morfologi berbeda, dengan jumlah granulosit dari promielosit yang berubah menjadi granulosit matang berjumlah lebih dari 10 % . Jumlah sel leukemik antara 30 – 90 %. Tapi lebih dari 50 % dari jumlah sel-sel sumsum tulang di M2 adalah mielosit dan promielosit .
Sel-sel yang terlibat dalam LMA adalah mieloblas, sel paling dini dalam perkembangan granulopoietik. Pasien biasanya datang dengan gambaran kegagalan sumsum tulang. Jarang ditemukan penyakit ekstrameduler dan organomegali juga tidak lazim.
Leukositosis disebabkan oleh mieloblas dalam darah perifer dan >40% sel blas bentuknya besar dengan beberapa nucleoli, granula dan batang Auer dalam sitoplasma. Pulasan Sudan Black, peroksidase dan klorasetat esterase hasilnya positif. M1 tidak memperlihatkan diferensiasi morfologi (20% dari semua LMA), tetapi diidentifikasi dengan adanya batang Auer kadang-kadang, pulasan mieloperoksidase atau sudan black yang positif, atau yang belakangan ini dengan antibody monoclonal, sedangkan M2 memperlihatkan beberapa gambaran diferensiasi granulositik (37% dari semua LMA).
E.     TERAPI
Terapi LMA direncanakan untuk tujuan kuratif. Penderita yang mempunyai peluang besar untuk mencapai tujuan kuratif adalah mereka yang berusia <60 tahun, tanpa komorbiditas yang beratserta mempunyai profil sitogenik yang favorable.
Untuk mendapatkan hasil pengobatan yang maksimal, sangat penting untuk melakukan skrining awal dengan teliti sebelum pengobatan dimulai. Skrining awal ini, terutama ditujukan untuk mendeteksi kemungkinan adanya infeksi, gangguan fungsi jantung (regimen terapi standar LMA mengandungi preparat golongan antrasiklin yang bersifat kardiotoksik) dan adanya koagulopati yang sering ditemukan padapenderita LMA. Selain itu, penderita yang mempunyai angka leukosit pra-terapi yangsangattinggi (>100 ribu/mm3), mungkin memerlukan tindakan leukoparesis emergensi untuk menghindari leukostaisi dan sindrom tumor lisis akibat terapi induksi, sangat penting untuk mengingatkan agar terapi LMA sebaiknya dilakukan di rumah sakit yang mempunyai timleukemia yang bersifat multi-disiplin, sarana laboratorium mikrobiologi yang memadai, akses untuk transfusi darah yang lengkap serta ruang steril/semi-steril untuk pelaksanaan pengobatan.
Tanpa prasarana tersebut angka kematian saat pengobatan akan sangat tinggi.Untuk mencapai hasil pengobatan yang kuratid harus dilakukan eradikasi sel-sel klonal leukemik dan memulihkan hematopoesis normal di dalam sumsum tulang.
Survival jangka panjang hanyadidapatkan pada pasien yang mencapai remisi komplit. Dosis kemoterapi tidak perlu diturunkan karena alasan adanya sitopenia, karena dosis yang diturunkan ini tetap akan menimbulkan efek samping berat berupa supresi sumsum tulang, tanpa punya efek yang cukup untuk mengeradikasi sel-sel leukemik maupun untuk mengembalikan fungsi sumsum tulang.
Eradikasi sel-sel leukemik yang maksimal, memerlukan strategi pengobatan yang baik. Umumnya regimen kemoterapi untuk pasien LMA terdiri dari dua fase: fase induksi dan fase konsolidasi. Kemoterapi fase induksi adalah regimen kemoterapi yang intensif bertujuan untuk mengeradikasikan sel-sel leukemik secara maksimal sehingga tercapai remisi komplit.Istilah remisi komplit digunakan bila jumlah sel-sel darah di peredaran darah tepi kembali normal serta pulihnya populasi sel di sumsum tulang termasuk tercapainya jumlah sel-sel blast  <5%.
Perlu ditekankan disini, meskipun terjadi remisi komplit tidak berarti sel-sel klonalleukemik telah tereradikasi seluruhnya, karena sel-sel leukemik akan terdeteksi secara klinik bila jumlahnya lebih dari 109 log sel. Jadi pada kasus remisi komplit, masih tersisa sejumlah signifikan sel-sel leukemik di dalam tubuh pasien tetapi tidak dapat dideteksi. Bila dibiarkan, sel-sel ini berpotensi menyebabkan kekambuhan di masa-masa yang akan datang.
Oleh karena itu,meskipun pasien telah mencapai remisi komplit perlu ditindak lanjuti dengan program pengobatan selanjutnya yaitu kemoterapi konsolidasi. Kemoterapi konsolidasi biasanya terdiridari beberapa siklus kemoterapi dan menggunakan obat dengan jenis dan dosis yang sama ataulebih besar dari dosisyang digunakan pada fase induksi. Pengobatan eradikasi sel-sel tumor ini sebenarnya dapatmenyebabkan eradikasi sisa-sisa sel hematopoiesis normal yang ada di dalamsumsum tulang, sehingga pasien LMA akan mengalami periode apalsia pasca terapi induksi.Pada saat tersebut pasien sangat rentan terhadap infeksi dan perdarahan. Pada kasus yang beratkedua komplikasi ini dapat berakibat fatal. Oleh karena itu terapi suportif berupa penggunaanantibiotika dan transfusi komponen darah (khususnya sel darah merah dan trombosit) sangat penting untukmenunjang keberhasilan terapi LMA. Terapi LMA dibedakan menjadi 2 yaituterapi untuk LMA pada umumnya dan terapi khusus untuk leukemia promielositik akut (LPA




DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001.
Doenges, Marilynn E. Nursing Care Plans: Guidelines For Planning And Documenting      Patient Care. Alih Bahasa I Made Kariasa. Ed.Jakarta : EGC; 19994.
Price, Sylvia Anderson. Pathophysiology : Clinical Concepts Of Disease Processes. Alih   Bahasa Peter Anugrah. Ed.Jakarta : EGC; 19945.
Reeves, Charlene J et al. Medical-Surgical Nursing. Alih Bahasa Joko Setyono. Ed. I.        Jakarta : Salemba Medika; 2001
Susan Martin Tucker, Mary M. Canabbio, Eleanor Yang Paquette, Majorie Fife      Wells,1998, Standar Perawatan Pasien, volume 4, EGC
Abdoerrachman MH, dkk, 1998, Ilmu Kesehatan Anak, Buku I, penerbit Fakultas             Kedokteran UI, Jakarta.
Anna Budi Keliat, SKp, MSc., 1994, Proses Keperawatan, EGC.
Marilynn E. Doenges, Mary Prances Moorhouse, Alice C. Beissler, 1993, Rencana Asuhan            Keperawatan, EGC.
Rosa M Sacharin, 1996, Prinsip Keperawatan Pediatrik, edisi 2, Jakarta
Soeparman, Sarwono Waspadji, 1998, Ilmu Penyakit Dalam, jilid II, Balai Penerbit FKUI,            Jakarta.




Makalah etika profesi analis kesehatan

KATA PENGANTAR  Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nyalah penulis dapat menyelesaikan mak... thumbnail 1 summary




KATA PENGANTAR
 Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nyalah penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Tidak lupa juga kami mengucapkan terimasih banyak kepada dosen dan teman-teman sekelas yang turut mendukung kami dalam terselesaikannya makalah ini. Makalah ini dibuat sebagai salah satu nilai tugas dari mata kuliah Etika Profesi.
Selanjutnya demi kesempurnaan dari makalah ini kami mengharapkan saran serta kritik yang membangun dari Ibu dosen serta teman-teman sekalian. Terimakasih.


Kendari,    Januari 2015
                                               

                                                                                                            Penulis




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kode etik profesi dapat berubah dan diubah seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga anggota kelompok profesi tidak akan ketinggalan zaman.Kode etik profesi merupakan hasil pengaturan diri profesi yang bersangkutan dan ini perwujudan moral yang hakiki, yang tidak dapat dipaksakan dari luar. Kode etik profesi hanya berlaku efektif apabila dijiwai oleh cita-cita dan nilai-nilai yang hidup dalam lingkungan profesi itu sendiri.
Laboratorium kesehatan kepada masyarakat sebagai unit pelayanan penunjang medis, diharapkan memberikan informasi yang teliti dan akurat tentang aspek laboratoris terhadap spesimen/sampel yang penujianya dilakukan di laboratorium. Masyarakat menghendaki mutu hasil pengujian laboratorium terus ditingkatkan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahian dan teknologi serta perkembangan penyakit.
B.     Rumusan Masalah.
1.      Apa pengertian Etika Profesi Analis Kesehatan?
2.      Bagaimana Kode Etik Analis Kesehatan?
C.    Tujuan.
1.      Untuk mengetahui Etika profesi analis kesehatan!
2.      Untuk mengetahui Kodeetik analis kesehatan!






BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertian Profesi
Profesi merupakan kelompok lapangan kerja yang khusus melaksanakan kegiatan yang memerlukan ketrampilan dan keahlian tinggi guna memenuhi kebutuhan yang rumit dari manusia, di dalamnya pemakaian dengan cara yang benar akan ketrampilan dan keahlian tinggi, hanya dapat dicapai dengan dimilikinya penguasaan pengetahuan dengan ruang lingkup yang luas, mencakup sifat manusia, kecenderungan sejarah dan lingkungan hidupnya; serta adanya disiplin etika yang dikembangkan dan diterapkan oleh kelompok anggota yang menyandang profesi tersebut.
B.     Pengertian Etika
Etika merupakan cerminan dari sebuah mekanisme kontrol yang dibuat dan diterapkan oleh dan untuk kepentingan suatu kelompok sosial atau profesi. Kehadiran organisasi profesi dengan kode etik profesi diperlukan untuk menjaga martabat serta kehormatan profesi, dan di sisi lain melindungi masyarakat dari segala bentuk penyimpangan maupun penyalah-gunaan keahlian

C.     Ciri Etika Profesi Analis Kesehatan
Ø  Kode Etik Analis Kesehatan.
Kode etik adalah sistem norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik, dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi profesional. Kode etik menyatakan perbuatan apa yang benar atau salah, perbuatan apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari. Tujuan kode etik agar profesional memberikan jasa sebaik-baiknya kepada pemakai jasa. Adanya kode etik akan melindungi perbuatan yang tidak profesional.
Orientasi kode etik hendaknya ditujukan kepada : profesi, pekerjaan, rekan, pemakai jasa, dan masyarakat.
v  Profesionalisme Analis Kesehatan :
o  Tangibles (bukti langsung dan nyata) meliputi kemampuan hasil pengujian, dapat menunjukkan konsep derajat kesehatan pada diri sendiri.
o  Reliability (kehandalan), yaitu kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera dan memuaskan.
o  Responsiveness (daya tanggap), yaitu tanggap dalam memberikan pelayanan yang baik terhadap pemakai jasa (pasien, klinisi, dan profesi lain).
o  Assurance (jaminan), mencakup kemampuan, kesopanan, sifat dapat dipercaya yang dimiliki Analis Kesehatan dan bebas dari risiko bahaya atau keragu-raguan.
o  Emphaty (empati) meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi yang baik dan memahami kebutuhan pemakai jasa (pasien, klinisi, dan profesi lain).
v  Kewajiban Terhadap Rekan:
Ø Memperlakukan setiap teman sejawat dalam batas-batas norma yang berlaku
Ø Menjunjung tinggi kesetiakawanan dalam melaksanakan profesi.
Ø Membina hubungan kerjasama yang baik dan saling menghormati dengan teman sejawat dan tenaga profesional lainnya dengan tujuan utama untuk menjamin pelayanan tetap berkualitas tinggi.
v  Kewajiban Terhadap Pasien:
Ø Bertanggung jawab dan menjaga kemampuannya dalam memberikan pelayanan kepada pasien / pemakai jasa secara profesional.
Ø Menjaga kerahasiaan informasi dan hasil pemeriksaan pasien / pemakai jasa, serta hanya memberikan kepada pihak yang berhak.
Ø Dapat berkonsultasi / merujuk kepada teman sejawat atau pihak yang lebih ahli untuk mendapatkan hasil yang akurat.
v  Kewajiban Terhadap Profesi:
Ø Menjunjung tinggi serta memelihara martabat, kehormatan, profesi, menjaga integritas dan kejujuran serta dapat dipercaya.
Ø Meningkatkan keahlian dan pengetahuannya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ø Melakukan pekerjaan profesinya sesuai dengan standar prosedur operasional, standar keselamatan kerja yang berlaku dan kode etik profesi.
Ø Menjaga profesionalisme dalam memenuhi panggilan tugas dan kewajiban profesi.
v  Kewajiban Terhadap Pekerjaan:
Ø Bekerja dengan ikhlas dan rasa syukur.
Ø Amanah serta penuh integritas.
Ø Bekerja dengan tuntas dan penuh tanggung jawab.
Ø Penuh semangat dan pengabdian.
Ø Kreatif dan tekun.
Ø Menjaga harga diri dan jujur.
Ø Melayani dengan penuh kerendahan hati.
v  Kewajiban Terhadap Masyarakat:
Ø Memiliki tanggung jawab untuk menyumbangkan kemampuan profesionalnya kepada masyarakat luas serta selalu mengutamakan kepentingan masyarakat.
Ø  Dalam melaksanakan pelayanan sesuai dengan profesinya harus mengikuti peraturan dan perundang-undangan yang berlaku serta norma-norma yang berkembang pada masyarakat.
Ø Dapat menemukan penyimpangan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar norma yang berlaku pada saat itu serta melakukan upaya untuk dapat melindungi kepentingan masyarakat.
v  Etika Profesi Analis Kesehatan Memiliki Tiga Dimensi Utama, Yaitu :
o   Keahlian (pengetahuan, nalar atau kemampuan dalam asosiasi dan terlatih).
o   Keterampilan dalam komunikasi (baik verbal & non verbal).
o   Profesionalisme (tahu apa yang harus dilakukan dan yang sebaiknya dilakukan).
v  Hak Dan Kewajiban Analis Kesehatan :
o  Mengembangkan prosedur untuk mengambil dan memproses specimen·         
o  Melaksanakan uji analitik terhadap reagen maupun terhadap spesimen yang berkisar dari yang sedrhana sampai dengan kompleks·         
o  Mengoperasikan dan memelihara peralatan lab untuk memastikan akurasi dan keabsahan, menkonfirmasi hasil abnormal, melaksanakan prosedur pengendalian mutu dan mengembangkan pemecahan masalah yang berkaitan dengan data hasil uji.        
o  Mengevaluasi teknik, instrumen dan prosedur baru untuk menentukan manffat dan kepraktisannya.
o  Membantu klinis dalam pemanfaatan yang benar dari data lab untuk memastikan seleksi yang efektif dan efisien terhadap uji laboratorium dalam menginterprestasikan hasil uji.
o  Merencanakan, mengatur, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan laboratorium. Membimbing dan membina tenaga kesehatan lain dalam bidang teknis kelaboratoriuman.     
o  Merancang dan melaksanakan penelitian dalam bidang laboratorium kesehatan.
v  Kemampuan Yang Harus Dimiliki Oleh Seorang Analis Kesehatan :
o  Keterampilan dan pengetahuan  dalam pengembilan spesimen, termasuk penyiapan pasien, labeling, penanganan, pengawetan, atau fiksasi, pemprosesan, penyimpanan dan pengiriman spesimen.
o  Keterampilan dalam mengerjakan prosedur laboratorium·
o  Keterampilan dalam melaksanankan metode pengujian dan pemakaian alat yang benar·         
o  Keterampilan dalam melakukan perawatan dan pemeliharaan alat, kalibrasi, dan penanganan masalah yang berkaitan dengan uji yang di lakukan·
o  Keterampilan dalam pembuatan dan uji kualitas media serta reagen untuk pemeriksaan laboratorium·
o  Kewaspadaan terhadap faktor yang mempengaruhi hasil·
o  Keterampilan dalam mengakses dan menguji keabsahan hasil uji melalui evaluasi mutu hasil, sebelum melaporkan hasil uji·
o  Keterampilan dalam menginterprestasikan hasil uji·
o  Kemampuan merencanakan kegiatan laboratorium sesuai dengan jenjangannya.
v  Etika Menghadapi Seorang Pasien :
o  Bertanggung jawab dan menjaga kemampuannya dalam memberikan pelayanan kepada pasien / pemakai jasa secara profesional.
o  Menjaga kerahasiaan informasi dan hasil pemeriksaan pasien / pemakai jasa, serta hanya memberikan kepada pihak yang berhak..
o  Dapat berkonsultasi / merujuk kepada teman sejawat atau pihak yang lebih ahli untuk mendapatkan hasil yang akurat.
o  Menghadapi pasien dengan ekspresi muka (smile).
o  Menghindari sebuah konflik dengan pasien.      
o  Karakter yang lembut.   
o  Menghargai lawan bicara.       
o  Menjaga kepercayaan dan rahasia - rahasia pasien. 
o  Memberikan informasi yang baik·   
o    Menjaga rahasia dan menyimpan kondisi - kondisi pasien yang di hadapi.
o    Mengontol jarak dengan pasien.
o    Intonasi suara yang jelas.
o    Rileks.
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan.
Kode etik adalah sistem norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik, dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi profesional. Orientasi kode etik hendaknya ditujukan kepada : profesi, pekerjaan, rekan, pemakai jasa, dan masyarakat.
Etika Profesi Analis Kesehatan Memiliki Tiga Dimensi Utama, Yaitu :
• Keahlian (pengetahuan, nalar atau kemampuan dalam asosiasi dan terlatih).
• Keterampilan dalam komunikasi (baik verbal & non verbal).
• Profesionalisme (tahu apa yang harus dilakukan dan yang sebaiknya dilakukan).






DAFTAR PUSTAKA
Http://Ikatan Analis Kesehatan Indonesia ( IAKI) DPC Sidenreng Rappang, SULSEL, Indonesia  ETIKA PROFESI ANALIS KESEHATAN.htm (di akses pada 18/01/2015).
Http://ETIKA PROFESI ANALIS KESEHATAN Etika profesi... - Komunitas Mahasiswa Akademi Analis Kesehatan.htm (di akses pada 18/01/2015).






Recent Posts