Yazhid Blog

.

Tuesday, 28 April 2015

Makalah anemia makrositik

BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Ber dasar kan jumlah sel dan kadar hemoglobin yang merupakan bagian penting dari sel erytro... thumbnail 1 summary
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Berdasarkan jumlah sel dan kadar hemoglobin yang merupakan bagian penting dari sel erytrosit,kelainan sel darah merah (erytrosit) dibedakan menjadi anemia bila jumlah atau kadarnya rendah dan polycythemia bila jumlahnya meningkat. WHO menetapkan kriteria diagnosis anemia bila kadar hemoglobin kurang dari 12 g/dl, kadar hemoglobin ini biasanya sebanding dengan jumlah erytrosit dan hematokrit. Sebaliknya, disebut polycythemia bila kadar hemoglobin lebih dari 18,0 g/dl dan jumlah erytrosit lebih dari 5,5 juta/uL disertai dengan peningkatan sel leukosit dan platelet.
Dibanding polycythemia, penyakit anemia mempunyai prevalensi yang lebih tinggi terutama pada wanita. Pasien anemia tampak pucat, lesuh, lemah dan pusing karena reaksi tubuh yang kekurangan oksigen. Dampak dari penyakit anemia adalah menurunnya kualitas hidup, kinerja rendah, IQ rendah, sampai dengan kematian penderitanya. Pada ibu hamil, anemia bisa berakibat serius pada janin berupa keguguran atau cacat bawaan.
Anemia terjadi karena menurunnya kadar hemoglobin yang terikat pada sel erytrosit atau jumlah erytrosit yang mengikat hemoglobin kurang. Penyebabnya dapat oleh karena kegagalan proses synthesis atau kualitas hemoglobin dan erytrosit yang dihasilkan tidak sempurna, pemecahan erytrosit abnormal, kehilangan darah masif, intake nutrient kurang atau merupakan penyakit sekunder akibat penyakit lain.
Berdasarkan morfologi dan ukuran sel erythrosit, anemia diklasifikasikan menjadi: Anemia mikrositik, anemia normositik dan anemia makrositik.
B.     Rumusan Masalah
a.         Apa yang dimaksud dengan anemia?
b.         Apa yang diketahui tentang anemia makrositik?
c.         Apa penyebab dari anemia makrositik?

d.        Bagaimana gejala anemia makrositik?
e.         Bagaimana pemeriksaan laboratorium dan pengobatannya?

C.    Tujuan
a.         Agar dapat mengetahui defenisi anemia.
b.         Agar dapat mengetahui tentang anemia makrositik.
c.         Agar dapat mengetahui penyebab anemia makrositik
d.        Agar dapat mengetahui gejala anemia makrositik
e.         Agar dapat mengetahui pemeriksaan laboratorium dan pengobatannya.




BAB II
PEMBAHASAN
A.      Defenisi Anemia
Anemia  berasal dari bahasa Yunani yaitu anaimia, artinya kekurangan darah.  Anemia adalah keadaan dimana tubuh kekurangan hemoglobin atau di bawah normal. Hemoglobin merupakan protein pembawa oksigen dalam sel darah merah. Dan hemoglobin itu sendiri terdapat dalam sel darah merah. Oleh karenanya, kekurangan hemoglobin juga berarti kekurangan sel darah merah.
Hemoglobin dapat “membawa” oksigen karena di dalamnya terdapat zat besi (Fe) yang berfungsi menangkap oksigen. Setelah “menangkap” oksigen, Hemoglobin akan membawanya dari paru-paru menuju seluruh sel, lalu dalam ‘perjalanan pulang’, hemoglobin bersama Fe akan menangkap karbon monoksida dan membawanya kembali dari sel menuju paru-paru.

B.      Anemia Makrositik



Makrositik berarti ukuran eritrositnya besar. Biasanya karena proses pematangan eritrositnya tidak sempurna di sumsum tulang. Kalau eritrosit yang matang, ukurannya akan semakin kecil, tapi karena tidak matang, tampaklah ia besar. Penyebabnya bisa karena bahan pematangannya tidak cukup, misalnya pada defisiensi asam folat dan vitamin B12. Atau bisa juga karena  gangguan hepar, hormonal atau gangguan sumsum tulang dalam homopoiesis itu sendiri. Produk yang dihasilkan akibat gangguan ini berupa eritrosit makrositik (MCV > 100fl) yang mudah pecah. Contoh: anemia megaloblastik .
Anemia ini disebabkan  karena kekurangan vitamin B12 (anemia pernisiosa). Selain zat besi, sumsum tulang memerlukan vitamin B12 dan asam folat untuk menghasilkan sel darah merah. Jika kekurangan salah satu darinya, bisa terjadi anemia megaloblastik. Pada anemia jenis ini, sumsum tulang menghasilkan sel darah merah yang besar dan abnorsitimal (megaloblas). Sel darah putih dan trombosit juga biasanya abnormal.
Anemia megaloblastik paling sering disebabkan oleh kekurangan vitamin B12 dan asam folat dalam makanan atau ketidakmampuan untuk menyerap vitamin tersebut. Kadang anemia ini disebabkan oleh obat-obat tertentu yang digunakan untuk mengobati kanker (misalnya metotreksat, hidroksiurea, fluorourasil dan sitarabin).
 Anemia megalobastik merupakan kelainan yang disebabkan oleh gangguan sintesis DNA dan ditandai oleh sel megalobastik. Kebanyakan anemia megalobastik disebabkan karena defisiensi vitamin B12 (kobalamin) dan atau asam folat. Asam folat dan vitamin B12 adalah zat yang berhubungan dengan unsur makanan yang sangat penting bagi tubuh. Peran utama asam folat dan vitamin B12 ialah metabolisme intraseluler. Adanya defisiensi kedua zat tersebut akan menghasilkan tidak sempurnanya sintesis DNA pada setiap sel, dimana pembelahan kromosom sedang terjadi.
Anemia akibat defisiensi B12 disebut dengan anemia pernisiosa, sedangkan anemia akibat defisiensi asam folat disebut anemia defisiensi folat. Penyebab terjadinya anemia megalobastik adalah asupan kedua zat yang tidak cukup, terjadinya malabsobsi, keperluan yang meningkat, metabolisme yang terganggu, obat-obat yang menggangu metabolisme DNA, defisiensi transkobalamin II.
Nutrisi terapi untuk penyebab anemia megaloblastik harus diperlakukan secara istimewa. Suplementasi dengan vitamin B12 dan atau folat dianjurkan. Hal ini sering tepat untuk memberikan multivitamin dan mineral dalam hubungannya dengan administrasi suplemen tunggal pada pasien dengan anemia. Jika anemia sekunder untuk penyerapan terganggu, intramuskular atau intranasal administrasi adalah lebih baik. Tingkat homosistein, MMA, transcobalamin II dan langkah-langkah lain pada status hematologi harus dipantau secara rutin. Edukasi pasien pada peningkatan kepadatan nutrisi diet dengan makanan yang menggabungkan tinggi folat dan B12 dianjurkan. Lansia adalah yang paling berisiko, terutama mereka yang menerima layanan tambahan seperti makanan di atas roda. Biasanya, orang-orang tua dan tidak dapat menerima layanan ini yaitu orang-orang dengan sakit kronis dan cacat, memiliki status gizi buruk dan status sosial ekonomi rendah, yang berarti mereka kurang memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan dan konseling. Status Folat juga buruk pada pasien yang lebih tua, khususnya mereka yang dilembagakan atau fungsional Dete-tion, fisik atau mental.
C.    Penyebab
Penyerapan yang tidak adekuat dari vitamin B12 (kobalamin) menyebabkan anemia pernisiosa.
Vitamin B12 banyak terdapat di dalam daging dan dalam keadaan normal telah diserap di bagian akhir usus halus yang menuju ke usus besar (ilium). Agar dapat diserap, vitamin B12 harus bergabung dengan faktor intrinsik (suatu protein yang dibuat di lambung), yang kemudian mengangkut vitamin ini ke ilium, menembus dindingnya dan masuk ke dalam aliran darah. Tanpa faktor intrinsik, vitamin B12 akan tetap berada dalam usus dan dibuang melalui tinja.
Pada anemia pernisiosa, lambung tidak dapat membentuk faktor intrinsik, sehingga vitamin B12 tidak dapat diserap dan terjadilah anemia, meskipun sejumlah besar vitamin dikonsumsi dalam makanan sehari-hari. Tetapi karena hati menyimpan sejumlah besar vitamin B12, maka anemia biasanya tidak akan muncul sampai sekitar 2-4 tahun setelah tubuh berhenti menyerap vitamin B12.
Selain karena kekurangan faktor intrinsik, penyebab lainnya dari kekurangan vitamin B12 adalah:
·           pertumbuhan bakteri abnormal dalam usus halus yang menghalangi penyerapan vitamin B12
·           penyakit tertentu (misalnya penyakit Crohn)

·           pengangkatan lambung atau sebagian dari usus halus dimana vitamin B12 diserap
·           vegetarian.

D.    Gejala
Selain mengurangai pembentukan sel darah merah, kekurangan vitamin B12  juga mempengaruhi sistem saraf dan menyebabkan:
·         kesemutan di tangan dan kaki
·         hilangnya rasa di tungkai, kaki dan tangan
·         pergerakan yang kaku
·         buta warna tertentu, termasuk warna kuning dan biru
·         luka terbuka di lidah atau lidah seperti terbakar
·         penurunan berat badan
·         warna kulit menjadi lebih gelap
·         linglung
·         depresi
·         penurunan fungsi intelektual.

E.     Pemeriksaan laboratorium dan Pengobatan
Ø  Pemeriksaan laboratorium dilakukan dengan beberapa cara yaitu:
1.        Tes penyaring. Untuk memastikan adanya anemia dan morfologi anemia tersebut. Meliputi kadar hemoglobin, apusan darah tepi dan indeks eritrosit (MCV, MCH dan MCHC)
2.        Pemeriksaan rutin. Untuk melihat kelainan leukosit dan trombosit. Meliputi: laju endap darah, hitung diferensial dan retikulosit.
3.        Pemeriksaan atas indikasi khusus untuk memastikan diagnosis. Misalnya tes serum iron, TIBC (total iron binding capacity), saturasi transferin dan feritin serum pada Anemia defisiensi besi; tes asam folat dan vit B12 pada anemia megaloblastik, dsb.


Ø  pengobatan
Terapi atau pengobatan dilakukan dengan pemberian suplemen vitamin B12, baik diminum maupun di suntik jika dikarenakan kekurangan vitamin B12. Jika anemia karena kekurangan asam folat, maka dapat diberikan suplemen asam folat. Jika anemia sangat berat, maka biasanya dipertimbangkan untuk dilakukan transfusi darah.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Makrositik berarti berukuran besar. Anemia ini disebabkan  karena kekurangan vitamin B12 (anemia pernisiosa). Selain zat besi, sumsum tulang memerlukan vitamin B12 dan asam folat untuk menghasilkan sel darah merah. Jika kekurangan salah satu darinya, bisa terjadi anemia megaloblastik atau anemia makrositik. Pada anemia jenis ini, sumsum tulang menghasilkan sel darah merah yang besar dan abnorsitimal (megaloblas).






















Makalah Imunokromatografi ASSAY (ICA)

BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Imunokromatografi assay (ICA) merupakan perluasan yang logis dari teknologi uji aglutinasi ... thumbnail 1 summary
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Imunokromatografi assay (ICA) merupakan perluasan yang logis dari teknologi uji aglutinasi latex yang berwarna yaitu uji serologi yang telah dikembangkan sejak tahun 1957 singes dan piots untuk penyakit Arthritisrheumatoid.
Disamping itu imunokromatografi assay (ICA) merupakan uji laboratorium yang handal sehingga amat dibutuhkan di negara sedang berkembang. Imunokrimatografi assay tidak membutuhkan alat canggih (mikroskop kliorogens dan radio conts) untuk membacanya cukup hanya dengan melihat adanya perubahan warna memakai mata telanjang sehingga jauh lebih pratktis.

B.     Rumusan masalah
1.         Apa yang dimaksud dengan immunokromatografi ?
2.         Sebutkan jenis-jenis immunokromatografi ?
3.         Bagaimana immunokromatogravi assay terapan pada penyakit infeksi bakterial?
4.         Bagaimana imunoassay untuk penyakit yang berkaitan dengan infeksi jasad renik?
5.         Bagaimana imunoassay untuk penyakit sifilis?
6.         Bagaimana kekurangan dan kelemahan dari immunogromatografi ?




C. Tujuan
1.         Untuk mengetahui pengertian dari immunokromatografi.
2.         Untuk mengetahui jenis-jenis immunokromatografi.
3.         Untuk mengetahui immunokromatogravi assay terapan pada penyakit infeksi bakterial
4.         Untuk mengetahui imunoassay untuk penyakit yang berkaitan dengan infeksi jasad renik
5.         Untuk mengetahui imunoassay untuk penyakit sifilis
6.         Untuk mengetahui kekurangan dan kelemahan dari immunogromatografi.






BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian
Imunokromatografi ASSAY (ICA) atau disebut juga aliran samping (lateral flow test) atau dengan singkat disebut uji strip (strip test) tergolong dalam kelompok imuno ASSAY berlabel sampel seperti imunofluerens (IF) dan imuno enzim (EIA).
Imunokromatografi assay (ICA) merupakan perluasan yang logis dari teknologi uji aglutinasi latex yang berwarna yaitu uji serologi yang telah dikembangkan sejak tahun 1957 singes dan piots untuk penyakit Arthritisrheumatoid.
Disamping itu imunokromatografi assay (ICA) merupakan uji laboratorium yang handal sehingga amat dibutuhkan di negara sedang berkembang. Imunokrimatografi assay tidak membutuhkan alat canggih (mikroskop kliorogens dan radio conts) untuk membacanya cukup hanya dengan melihat adanya perubahan warna memakai mata telanjang sehingga jauh lebih pratktis.
B.     Jenis-jenis Imunokromatografi ASSAY
1.      HbsAg
·            Pra analitik
Judul : pemeriksaan HbzAg Rapid test
Metode : imunokromatografi
Tujuan : untuk mengetahui adanya virus hepatitis B dalam serum penderita

Prinsip :
imunokromatografi dengan prinsip serum yang diteteskan pada bantalan sampel bereaksi dengan partikel yeng telah dilapisi dengan anti HBs (antibodi). Campuran ini selanjutnya akan bergerak sepanjang strip membran untuk berikatan dengan antibody spesifik. Pada daerah tes, sehingga akan menghasilkan garis warna.
Dasar teori :
HBsAg merupakan suatu tahap secara kualitatif yang menggunakan serum atau plasma dimana bertujuan untuk mendeteksi adanya HBsAg dalam serum atau plasma membrane yang dilapisi dengan anti HBsAg antibody pada daerah garis test selama proses pemeriksaan, sampel serum atau plasma bereksi dengan partikel yang ditutupi dengan anti HBsAg antibodi, campuran tersebut akan meresap sepanjang membrane kromatografi dengan anti HBsAg, anti pada membrane dan menghasilkan suatu hasil posotif pada daerah test, jika tidak menghasilkan garis yang berwarna pada daerah test menunjukan hasil yang negatif.
Alat dan Bahan
1.         Tabung reaksi
2.         Serum
3.         Strip HBsAg atau strip ACON
·            Analitik
  1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
  2. Siapkan serum dalam tabung reaksi
  3. Keluarkan strip HBsAg dari kemasannya
  4. Celupkan kedalam seru, biarkan selama 15 menit
  5. Amati hasil test yang terjadi
·            Pasca analitik
1.          Positif (+) : terdapat 2 garis pada daerah control dan test
2.          Invalid : tidak terjadi garis merah pada control test
3.          Negatif (-) : terdapat satu garis pada kontrol
2.      Plano test
·           Pra analitik
Judul : pemeriksaan plano test
Metode : imunokromatografi
Tujuan :
HCG merupakan suatu tahap tes yang menggunakan urine secara imunokromatografi untuk mendeteksi adanya human karionik gonadotropin dalam urine dan juga mendeteksi adanya kehamilan
Dasar teori :
HCG (hormone charionoc Gonadotronpin) merupakan hormone yang dihasilkan oleh plasenta yang mencapai puncaknya pada 8 minggu kehamilan kemudian untuk kembali keminggu-mingu berikutnya hormone ini adalah hormone yang disekresi oleh sel-sel troboflas kedalam cairan ibu Negara setelah nidasi terjadi. HCG dalam urin dapat digunakan untuk penentuan kehamilan dengan cara sederhana penentuan kehamilan dengan menggunkan urin dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara biologis dan cara immunologic. Percobaan biologic dengan 3 cara yaitu cara ascheim zondek, cara friendam, dan caragali mainini. Sedangkan pemeriksaan secara imunologic dapat dilakukan secara langsung dengan cara direct latex aglutination (DLA) atau cara tidak langsung dengan latex aglutination inhibitor serta dengan cara hemaglutination inhibitiom (HAI).


Alat dan Bahan
1.    Tabung reaksi
2.    Test strip
3.    Urine
·            Analitik
  1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
  2. celupkan strip kedalam urine selama 10-15 detik
  3. keluarkan kemudian baca hasilnya setelah 3 detik
·           Pasca analitik
1.    Positif : jika ada dua garis pada daerah control dan test
2.    Negatif : jika terdapat satu garis pada daerah control
3.    terjadi aglutinasi

3.      Narkoba
·            Pra analitik
Judul : pemeriksaan Test Narkoba
Metode : Imunokromatografi
Tujuan : untuk mengetahui ada tidaknya narkoba pada pasien
Prinsip :
Berdasarkan prinsip pemeriksaan Imunokromatografi methamphetamine akan terbentuk garis merah jika terdapat narkoba jenis mertham pethamin.

Dasar Teori :
Berdasarkan reaksi imunokromatografi di mana urine yang mengandung narkoba berkaitan dengan obatconjugate untuk mengikat antibody dalam strip. Urine yang mengandung obat(narkoba) akan memberikan satu garis warna pada strip, sedangkan urine yang tidak mengandung narkoba akan memberikan 2 garis warna pada strip.
Alat dan Bahan :
1.Strip test narkoba
2.Pipet tetes
3.Tabung reaksi
4.Timer
5.Urine
·            Analitik
1.       Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
    1. Pipet sebanyak 100ul dalam tabung reaksi
    2. Celupkan strip kedalam tabung tersebut yang berisi urine
    3. Keluarkan kemudian baca hasilnya.
·           Pasca analitik
1.      Positif : jika terbantuk satu garis
2.      Negative : jika terbentuk 2 garis
3.      Invalid : tidak terbentuk garis warna pada control dan test
4.      Pemeriksaan dengue
Demam berdarah dengue masih merupakan masalah kesehatan yang penting di Indonesia, sebab prevalensinya maupun angka kematiannya tergolong tinggi.
Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue yang termasuk virus Arbo.
·            Pra Analitik
Judul : pemeriksaan dengue
Metode : Imunokromatografi
Tujuan : untuk mengetahui adanya virus dengue dalam tubuh
Prinsip :
bila antibody lgM dan lgG dari virus dengue dalam sampel akan ditemukan secara spesifik oleh antibody anti human lgM dan lgG yang terikat pada membrane netro selulosa sebagai fase padat, kemudian berikatan dengan anti dengue yang telah membentuk kompleks dengan gold babelled anti dengue monokorald antibody dan member warba pink pada garis test.

Alat dan bahan :
1.    Tabung reaksi
2.    Tes acon
3.    Serum
·            Analitik
1.         Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2.         Teteskan serum atau plasma pada strip acon sebanyak 10 tetes
3.         Tambahkan larutan buffer sebanyak 3 tetes
4.         Baca hasil setelah 5-15 menit
·            Pasca analitik
1.          Positif (+) : terrdapat2 garis warna pada daerah control dan test
2.          Negative (-) : hanya terbentuk satu garus pada daerah control
3.          Invalid : tidak terbentuk garis warna
5.      Pemeriksaan HIV
·            Pra analitik
Judul : pemeriksaan HIV
Metode : Imunokromatografi
Tujuan : Untuk Mengetahui Adanya Human Imuno Defisiensi Virus pada serum pasien
Prinsip :
ultra rapid test device (serum/plasma) adalah bersifat kualitatif selaputnya memiliki kekebalan dengan system antigen ganda untuk mendeteksi antibody terhadap antibody HIV dalam serum atau plasma
Dasar Teori :
HIV adalah agen penyebab acquired immunedefisiency syndrome (AIDS) virus ini berkembang lewat lapisan luar lipid yang dibawah dari membrane sel inang. Beberapa virus gliko protein menepati lapisan luar tersebut, setiap virus memiliki 2 salinan anti positif genomic RNA. HIV 1 terisolasi dari pasien denan AIDS dan AIDS hubungan kompleks dan dari orang sehat potensi resiko yang tinggi untuk mengembangkan AIDS. HIV 2 terisolasi dari pasien-pasien AIDS di afrika barat dan dari individu-individu yang tidak memiliki gejala sero positif. Keduanya HIV 1 dan HIV 2 mndatangkan suatu respon kekebalan. Pemeriksaan antibody HIV dalam serum atau plasma merupakan cara yang umum yang lebih efisien untuk menentukan apakah seseorang tak terlindungi dari HIV fan melindungi darah dan elemen-elemen yang dihasilkan darah untuk HIV. Perbedaan dalam sifat-sifat biologis,aktifitas serologis, dan deretan genom, HIV 1 dan 2 positif sera dapat diidentifikasi dengan menggunakan tes serologis dasar HIV.

Alat dan Bahan :
1.    Pipet tetes
2.    Strip HIV
3.    Tabung reaksi
4.    Serum
5.    Reagen HIV/Buffer HIV
·            Analitik
1.         Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2.         Pindahkan tes device dari kantung pembungkus dan gunakan sesegera
3.         mungkin. Hasil terbaik akan didapatkan jika pengujiannya dikerjakan dalam satu jam
4.         Tempatkan tes device pada permukaan yan bersih dan bermutu atau permukaan yang tinggi
5.         Pegeng penetes secara partikel teteskan 1 tetes serum/plasma (sekitar 25 ul), kemudian tanbahkan satu tetes larutan beffer sekitar 40 ul.
6.         Tunggu sampai garis merah terlihat. Hasil akan terbaca dalam 10 menit.

·            Pasca analitik
Intesitas dari warna merah garis daerah test (T) akan berubah tergantung dari konsentrasi antibody HIV yang ada pada sampel. Oleh k]arena itu adanya beberapa bayangan merah didaerah test dapat diperiksa positif.
6.      Pemeriksaan HCV
·            Pra analitik
Judul : Pemeriksaan anti HCV
Metode : Imunokromatografi
Tujuan : Untuk mengetahui adanya virus hepatitis C dalam serum
Dasar teori :
Tes human anti HCV lgG antibody dikembangkan untuk mendeteksi sirkulasi anti HCV lgG antibody dinyatakan sebagai petunjuk infeksi hepatitis C virus, tes ini berdasarkan prinsip yang menggunakan rekombinan HCV protein sebagai viral antigen. Pada langkah pertama anti HCV lgG dalam specimen bila ada akan terikat pada protein rekombin;an HCV yang dilabel pada permukaan sumur microtitir.
Setelah inkubasi bagian specimen yang tidak terikat akan dipisahkan melalui pencucian, pada pencucian ke dua anti human lgG konjugat ditambahkan akan mengikat antibody spesifik manusia anti HCV lgG pada permukaan sumur akan membentuk sandwich complex.

Alat dan bahan :
1.         Pipet tetes
2.         Strip Anti HCV
3.         Tabung reaksi
4.         Serum sampel
5.         Reagen HCV / buffer HCV
·            Analitik
1.         Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2.         Tempatkan kemasan strip pada temperature ruangan sebelum dibaca
3.         Siapkan serum dalam tabung reaksi kemudian diambil kurang lebih satu tetes serum, lalu masukan strip HCV setelah itu masukan buffer HCV kurang lebih 2 tetes.
4.         Tunggu sampai muncul garis merah pada strip
·            Pasca analitik
1.          (+) : terdapat 2 garis pada daerah control dan tes
2.         (-) : terbentuk satu garis pada daerah control
3.         Invalid : tidak terdapat garis pada daerah control dan tes
7.      Pemeriksaan Anti HbsAg
·            Pra analitik
Judul : pemeriksaan anti HBs
Metode : imunokromatografi
Tujuan : untuk mengetahui adanya antibody dalam serum.
Prinsip :
serum diteteskan kedalam wadah dan reaksi yang terjadi akan memberikan hasil dengan tanda garis




Dasar teori :
 viral hepatitis adalah penyakit infeksi yang umumnya sering disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV) yang menjangkit hampir 5% dari populasi dunia dengan beberapa variasi setempat, penyakit ini dapat timbul tanpa gejala, akut(dengan kasus berat dan kematian) atau hepatitis kronik yang akan memburuk ke erisis dan atau hepatocalullar carcinoma dan kematian. Penyakit ini biasanya ditularkan melalui pertikaran cairan tubuh antara seseorang yang sehat dengan orang yang sakit.

Alat dan Bahan :
1.    Strip anti HBs
2.    Tabung reaksi
3.    Tips
4.    Tissue
5.    Serum
·            Analitik
1.         Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2.         Darah dicentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 10 menit
3.         Buka strip anti HBs dari kemasannya
4.         Celupka strip tersebut kedalam tabung yang berisi serum
5.         Biarkan selama 15 menit , angkat dan baca hasilnya
  • Pasca analitik
1. (+) : terdapat 2 garis pada daerah control dan tes
2.(-) : hanya terdapat 1 garis pada daerah control
3.Invalid : tidak terdapat garis pada daerah control dan tes

C.    Immunokromatogravi Assay Terapan Pada Penyakit Infeksi Bakterial
1.         Penyakit demam tipoid
Demam tifoid (typoid fever) atau yang lebih terkenal dengan penyakit tifus ini merupakan suatu penyakit pada saluran pencernaan yang sering menyerang anak-anak bahkan orang dewasa. Penyebab penyakit tersebut adalah bakteri salmonella typhi.
Gejala-gejala yang kerap terjadi antara lain seperti nyeri pada perut, mual, muntah, demam tinggi, sakit kepala dan diare kadang-kadang bercampur darah.
Penularan penyakit tifus ini, pada umumnya itu di sebabkan oleh karena melalui makanan atau pun minuman yang sudah tercemar oleh agen penyakit tersebut. Biasa juga, karena penanganan yang kurang begitu higienis atau pun juga disebabkan dari sumber air yang sering digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Salmonella merupakan kuman berbentuk batang gram negatif yang umumnya bergerak dengan flagel dan bersifat aerobic. Salmonella memiliki sedikitnya 5 macam antigen, yaitu :
1.    Antigen o (antigen somatik), yang terletak pada lapisan luar pada tubuh kuman. Bagian ini tahan terhadap panas dan alcohol tetapi tidak terhadap formaldehid.
Lipopolisakarida dari antigen O terdiri dari 3 regio sebagai berukut :
·      Region I, mengandung antigen O spesifik atau antigen dinding sel dan merupakan polimer dari unit oligosakarida yang berulang-ulang. Antigen O ini berguna untuk pengelompokan serologis.
·      Region II, terikat pada antigen O dan terdiri dari core polysaccharide serta merupakan sifat yan konstan dalam suatu genus Enterobacteriaceace tetapi berbeda antara genera.
·      Region III, mengandung lipid yang terikat pada core polysaccharide yang merupakan bagian yang toksik dari molekul. Lipid A menempelkan lipopolisakarida pada membran permukaan sel.
2.         Antigen H (antigen flagela), yang terletak pada flagella, fimbrie atau pili dari kuman. Antigen ini mempunyai struktur kimia suatu protein dan tahan terhadap formaldehid tetapi tidak tahan terhadap panas dan alcohol.
3.         Antigen Vi, yang terletak pada kapsel (envelope) dari kuman yang dapat melindungi kuman terhadap fagositosis. Ketiga macam antigen tersebut diatas, didalam tubuh penderita akan menimbulkan pula pembentukan 3 macam antibody yang lazim tersebut agglutinin.
4.         Outer membrane protein (OMP), antige n OMP S.typhi merupakan bagian dari didin sel yang terletak di luar membrane sitoplasma lapisan peptidoglikan yang membatasi sel terhadap lingkungan sekitarnya. OMP berfungsi sebagai barier fisik yang mengendalikan masuknya zat dan cairan kedalam membrane sitoplasma, dan berfungsi sebagai reseptor untuk bakteriofag dan bakterisin.
5.         Heat hock protein (HSP) atau stress protein adalah protein yang memproduksi oleh jasad renik dalam lingkungan yang terus berubah, terutama yang menimbulkan stress pada jasad renik tersebut dalam usahanya mempertahankan hidupnya.
Sarana laboratorium untuk membantu menegakan diagnosis demam tifoid dalam garis besarnya dapat digolongkan dalam tiga komponen,  yaitu :
1.         Isolasi kuman menyebabkan S. typhi, dari specimen klinis, seperti darah, sum-sum tulang, urin, tinja dan cairan duodenum.
2.         Imunoasay untuk malacak kenaikan kadar antibody terhadap antigen.S typhi menentukan adanya antigen spesifik dari S. typhi.
3.         Uji polymerase chain reaction (pcr) untuk melacak DNA spesifik dari S.typhi.
Pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan hematologi,urinalis, kimia klinik . imunoserologi, dan biologi molekuler. Pemeriksaan m,enunjukan untuk membantu menegakkan diagnosis (adalkalanya bahkan menjadi penentu diagnosis), menetapkan prognosis, memantau perjalanan penyakit dan hasi pengobatan serta timbulnya penyulit.
Usaha yang tertua untuk melacak adanya kenaikan titer kadar antibody terhadap S.typi yaitu dengan cara penentuan titer agglutinii O dan II dengan uji widal yang telah di pakai sejak tahun 1896. Uji widal yang menggunakan suspensi basil s.typhi atau paratyphi untuk menentukan titer agglutinin dalam serum penderita demam tifoid atau paratifoid, walaupun banyak mempunyai kelemahan, sampai sekarang ini masih merupakan imunoasay yang paling banyak dipakai untuk menunjang diagnosis demam typhoid di klinik.
Antigen dari uji widal :
1.         Antigen H (antigen flagella)dibuat dari S. typhi yang motil dengan permukaan koloni yang licin. Kuman dimatikan dengan larutan formalin 0,1%
2.         Antigen O (antigen somatic)dibuat dari strain S. typhi yang tidak motil. Untuk membunuh kuman dipakai alkohol absolute dan sebagai pengawet di pakai larutan phenol 0,5%. Sebelum dipakai konsentrasi alcohol harus di encerkan sampai menjadi 12%.
3.         Antigen PA (S.paratyphi A)dibuat dari strain S.paratyphi A. untuk membunuh kuman dipakai formalin 0,1%.
4.         Antigen PB (S. paratyphi B)dibuat dari strain S.paratyphi B. untuk membunuh kuman di pakai formalin 0,1%.
5.         Sebelum dipakai, suspense beberapa antigen tersebut diatas harus diencerkan lebih dahulu dengan larutan salin normal steril sampai mencapai kekeruhan sama dengan tabung nomor 3 dari Mc. Forland (3 unit Mc.farland yang sesuai dengan 9 x 10 kuman/ml).

1.    Pemeriksaan widal
·            Pra Analitik
Judul : pemeriksaan widal
Tujuan : untuk mengetahui ada tidaknya antibody spesifik terhadap
antigen salmonella SP dalam serum.
Metode : slide
Prinsip :
adanya antibody salmonella typhi dan salmonella paratyphi dalam
serum sampel akan bereaksi dengan antigen yang terdapat dalam
reagen widal. Reaksi dengan adanya aglutinasi.

Alat dan Bahan:
1.    Serum
2.    Reagen Widal
3.    Rotator atau batang pengaduk
4.    Pipet tetes
5.    Slide
·            Analitik
1.         Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2.         Pipet satu tets serum (20µ) keadaan lingkaran yang terdapat dalam slide dengan kode O,H,HA dan CP dan CN
3.         Tambakan masing-masing satu tetes reagen widal sesuia dengan kode slide, begitu pula pada CN dan Cp
4.         Campur antigen dan serum dengan batang pengaduk berbeda dan lebarkan kemudian goyang-goyangkan selama satu menit
5.         Amati reaksi yang terjadi.
·            Pasca Analitik
1.         Positif : Bila terjadi aglutinasi
2.         Negative : Bila tidak terjadi aglutinasi

D.    Imunoassay untuk Penyakit Sifilis
Immunoassay untuk sifilis memegang peranan yang penting dalam diagnosis laboratorium dari penyakit sifilis ,sebab perjalanan penyakit lama dan sampai dewasa ini T. pallidum belum berhasil untuk dibenihkan pada suatu media perbenihan . Sedangkan pemeriksaan secara langsung (mikroskopis) hanya dapat dikerjakan pada bahan yang diambil dari lesi lues (ulcus durum,condylomata lata,dan reseola) yang seringkali hanya muncul dalam waktu yang relative singkat dan sering member hasil yang negative semu.
Suatu infeksi dengan suatu kuman,umumnya akan membangkitkan pembentukan antibody pada tubuh penderita.Demikian juga halnya pada infeksi dengan T.pallidum . pembentukan antibody pada penderita sifilis baru terjadi setelah agak lama penderita menderita penyakit tersebut,yaitu dimulai pada akhir stadium pertama atau permulaan stadium kedua.
Hal ini terutama disebabkan oleh karena kuman ini diliputi oleh suatu selaput mucoid yang menyebabkan kuman ini menjadi kebal terhadap fagositosis. Baru setelah kuman ini agak lama berada dalam tubuh atau telah menyebar ke kelenjar lemfe regional(akhir stadium pertama), pembentukan antibody humoral yang nyata mulai terjadi.
Dari segi imunoassai ,suatu infeksi dengan T .pallida.yang dikenal sebagai penyebab dari sifilis akan menimbulkan 2 jenis antibody sebagai berikut :
1.         Antibody nontreponemal atau regain sebagai akibat dari sifilis atau penyakit infeksi yang lain. Antibody ini baru terbentuk setelah penyakit menyebar ke kelenjar limfe regional dan menyebabkan kerusakan jaringan. Antibody ini memberikan reaksi silang dengan beberapa antigen dari jaringan lain seperti misalnya dengan antigen lipoid dari ekstrak otot jantung.
2.         Antibody treponemal yang bereaksi dengan T.pallida. dan closelyrelatedstrains. Dalam golongan antibody ini dapat dibedakan 2 jenis antibody,yaitu:
a)         Group treponemal antibody, yaitu antibody terhadap antigen somatic yang dimiliki oleh semua Treponema.
b)         Antibody treponemal yang spesifik,yaitu antibody terhadap antigen spesifik dari T.Pallidum.
  1. Pemeriksaan VDRL (Veneral Disease Research Laboratory)
·            Pra Analitik
Judul        : pemeriksaan VDRL(Veneral Disease Research
Laboratory)
Metode: kualitatif
Tujuan  : untuk menentukan ada tidaknya reaksi antara serum penderita dengan antigen lipoid
Prinsip :
adanya antibody regain (antibody non treponema) dalam serum penderita akan bereaksi dengan antigen lipoid yang terkandung dalam reagen VDRL membentuk presipitan.
Dasar teori:
ada tiga jenis pemeriksaan sipilis yaitu VDRL (Veneral Disease Reseach Laboratory) , RPR (Rapiud Plasma Reagin) , dan TPHA (Treponema phalid hemaglutination). Untuk VDRL dan RPR mendeteksi antibody non tropenema,sedangkan TPHA untuk mendeteksi antibody troponema phalida. Pemeriksaan VDRL , yaitu pemeriksaan yang di pakai untuk penyakit sifilis.

Alat dan Bahan :
1.             Slide
2.             Clinipet
3.             Batang pengaduk
4.             Centrifuge
5.             Tips
6.             Tissue
7.             Reagen VDRL
8.             Serum
  • Analitik
1.         Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2.         Pipet pada tempat berbeda 1 tetes serum sampel , control positif dan control negative
3.         Tambahkan masing-masing reagen VDRL lebarkan dan goyang-goyangkan ± 8 menit
  • Pasca Analitik
1.          Reaktif (+) : jika terbentuk agregan besar ditengah dengan dipinggirlungkaran
2.          Weak (positif lemah) : jika agregatnya halus pada pinggir lingkaran
3.          Non Reaktif : jika terbentuk agregat



E.     Imunoassay untuk Penyakit yang Berkaitan Dengan Infeksi Jasad Renik
1.         Demam Rematik
·       Imunoassay Untuk Melacak Rheumatoid Factor (Rf)
Factor rematoid (RF) petama kali ditemukan oleh Wolker (1940), dan Rose et.al (1948), sebagai immunoglobulin dalam sera penderita dengan arthritis trematoid yang dapat mengaglutinasi sel darah merah domba yang di lapisi IgG kelinci.
Factor rematoid adalah suatu antibody (IgG,atau IgA) yang ditunjukan terhadap IgG (anti IgG), dan berbentuk dalam stadia yang agak lanjut dari penyakit arthritis rematoid; biasanya setelah penderita penyakit lebih dari sEtengah tahun.
Pathogenesis dari penyakit arthritis rematoid, dan mekanisme pembentukan factor rematoid masih belum diketahui dengan tepat (masih merupakan hipotensis).
Arthritis rematoid adalah suatu penyakit radang sendi yang di timbulkan oleh suatu kelainan pada proses regulasi imun (immune regulation) yang kelainan imunopatologisnya disebabkan oleh kegagalan dalam koordinasi dari beberapa fungsi imunitas mediasi seluler (cell mediated immunity) terhadap suatu antigen di dalam sendi(intra-arthicular) yang berasal dari luar. Antigen penyakit ini sampai sekarang belum diketahui dengan tepat, dan oleh karena itu sering di sebut antigen x.
1.         pemeriksaan Rf (Rematoid Factor) / RA (Rheumatoid Arthritis)
·            Pra Analitik
Judul : pemeriksaan rematoid factor
Tujuan :untuk mengetahui adanya RF dalam serum yaitu immunoglobulin antibody yang dapat mengikat antibodi lainnya.
Prinsip : antibody RF (serum) + Reagen latex (anti-antibodi) = aglutinasi.
Alat dan Bahan
1.         Slide
2.         Klinipet
3.         Tips
4.         Sentrifuge
5.         Batang pengaduk
6.         Serum
7.         Reagen latex
8.         Control positf
9.         Control negatif
  • Analitik
1.         Siapkan alat dan bahan
2.         Dengan menggunakan klinipet pipet 40 ul dari tiap-tiap tabung pengenceran kemudian teteskan pada slide dengan latar hitam
3.         Tambahkan masing-masing reagen latex sama banyak
4.         Pada slide yang lain buat control positif dan control negatif sebagai pembanding.
5.         Campur dengan gerakan memurat beberapa detik hingga campuran tersebut menyebar keseluruh tubuh arah lingkaran
6.         Putar perlahan selama 1 menit dan amati aglutinasi yang terjadi
  • Pasca Analitik
1.          Positif : terjadi aglutinasi
2.          Negatif : tidak terjadi aglutinasi

C.            Kelemahan dan Kekurangan
  1. Format yang disukai oleh pemakai (teknisy laboratorium)
  2. Waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil tes amat singkat
  3. Stabil untuk jangka panjang dan dalam tantangan iklim yang luas
  4. Kerjanya amat praktis
  5. Baru dalam pemeriksan kualitatif belum kuantitatif
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Imunokromatografi ASSAY (ICA) atau disebut juga aliran samping (lateral flow test) atau dengan singkat disebut uji strip (strip test) tergolong dalam kelompok imuno ASSAY berlabel sampel seperti imunofluerens (IF) dan imuno enzim (EIA).
Macam-macam imunokromatogravi:
1.        HbsAg
2.        Narkoba
3.        Pemeriksaan dengue
4.        HIV
5.        Plano test
6.        Anti HbsAg
7.        HCV



Recent Posts