Yazhid Blog

.

Monday, 24 November 2014

Makalah anemia Makrositik

BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Ber dasar kan jumlah sel dan kadar hemoglobin yang merupakan bagian penting dari sel erytro... thumbnail 1 summary
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Berdasarkan jumlah sel dan kadar hemoglobin yang merupakan bagian penting dari sel erytrosit,kelainan sel darah merah (erytrosit) dibedakan menjadi anemia bila jumlah atau kadarnya rendah dan polycythemia bila jumlahnya meningkat. WHO menetapkan kriteria diagnosis anemia bila kadar hemoglobin kurang dari 12 g/dl, kadar hemoglobin ini biasanya sebanding dengan jumlah erytrosit dan hematokrit. Sebaliknya, disebut polycythemia bila kadar hemoglobin lebih dari 18,0 g/dl dan jumlah erytrosit lebih dari 5,5 juta/uL disertai dengan peningkatan sel leukosit dan platelet.
Dibanding polycythemia, penyakit anemia mempunyai prevalensi yang lebih tinggi terutama pada wanita. Pasien anemia tampak pucat, lesuh, lemah dan pusing karena reaksi tubuh yang kekurangan oksigen. Dampak dari penyakit anemia adalah menurunnya kualitas hidup, kinerja rendah, IQ rendah, sampai dengan kematian penderitanya. Pada ibu hamil, anemia bisa berakibat serius pada janin berupa keguguran atau cacat bawaan.
Anemia terjadi karena menurunnya kadar hemoglobin yang terikat pada sel erytrosit atau jumlah erytrosit yang mengikat hemoglobin kurang. Penyebabnya dapat oleh karena kegagalan proses synthesis atau kualitas hemoglobin dan erytrosit yang dihasilkan tidak sempurna, pemecahan erytrosit abnormal, kehilangan darah masif, intake nutrient kurang atau merupakan penyakit sekunder akibat penyakit lain.
Berdasarkan morfologi dan ukuran sel erythrosit, anemia diklasifikasikan menjadi: Anemia mikrositik, anemia normositik dan anemia makrositik.
B.     Rumusan Masalah
a.         Apa yang dimaksud dengan anemia?
b.         Apa yang diketahui tentang anemia makrositik?
c.         Apa penyebab dari anemia makrositik?

d.        Bagaimana gejala anemia makrositik?
e.         Bagaimana pemeriksaan laboratorium dan pengobatannya?

C.    Tujuan
a.         Agar dapat mengetahui defenisi anemia.
b.         Agar dapat mengetahui tentang anemia makrositik.
c.         Agar dapat mengetahui penyebab anemia makrositik
d.        Agar dapat mengetahui gejala anemia makrositik
e.         Agar dapat mengetahui pemeriksaan laboratorium dan pengobatannya.




BAB II
PEMBAHASAN
A.      Defenisi Anemia
Anemia  berasal dari bahasa Yunani yaitu anaimia, artinya kekurangan darah.  Anemia adalah keadaan dimana tubuh kekurangan hemoglobin atau di bawah normal. Hemoglobin merupakan protein pembawa oksigen dalam sel darah merah. Dan hemoglobin itu sendiri terdapat dalam sel darah merah. Oleh karenanya, kekurangan hemoglobin juga berarti kekurangan sel darah merah.
Hemoglobin dapat “membawa” oksigen karena di dalamnya terdapat zat besi (Fe) yang berfungsi menangkap oksigen. Setelah “menangkap” oksigen, Hemoglobin akan membawanya dari paru-paru menuju seluruh sel, lalu dalam ‘perjalanan pulang’, hemoglobin bersama Fe akan menangkap karbon monoksida dan membawanya kembali dari sel menuju paru-paru.

B.      Anemia Makrositik
Makrositik berarti ukuran eritrositnya besar. Biasanya karena proses pematangan eritrositnya tidak sempurna di sumsum tulang. Kalau eritrosit yang matang, ukurannya akan semakin kecil, tapi karena tidak matang, tampaklah ia besar. Penyebabnya bisa karena bahan pematangannya tidak cukup, misalnya pada defisiensi asam folat dan vitamin B12. Atau bisa juga karena  gangguan hepar, hormonal atau gangguan sumsum tulang dalam homopoiesis itu sendiri. Produk yang dihasilkan akibat gangguan ini berupa eritrosit makrositik (MCV > 100fl) yang mudah pecah. Contoh: anemia megaloblastik .
Anemia ini disebabkan  karena kekurangan vitamin B12 (anemia pernisiosa). Selain zat besi, sumsum tulang memerlukan vitamin B12 dan asam folat untuk menghasilkan sel darah merah. Jika kekurangan salah satu darinya, bisa terjadi anemia megaloblastik. Pada anemia jenis ini, sumsum tulang menghasilkan sel darah merah yang besar dan abnorsitimal (megaloblas). Sel darah putih dan trombosit juga biasanya abnormal.
Anemia megaloblastik paling sering disebabkan oleh kekurangan vitamin B12 dan asam folat dalam makanan atau ketidakmampuan untuk menyerap vitamin tersebut. Kadang anemia ini disebabkan oleh obat-obat tertentu yang digunakan untuk mengobati kanker (misalnya metotreksat, hidroksiurea, fluorourasil dan sitarabin).
 Anemia megalobastik merupakan kelainan yang disebabkan oleh gangguan sintesis DNA dan ditandai oleh sel megalobastik. Kebanyakan anemia megalobastik disebabkan karena defisiensi vitamin B12 (kobalamin) dan atau asam folat. Asam folat dan vitamin B12 adalah zat yang berhubungan dengan unsur makanan yang sangat penting bagi tubuh. Peran utama asam folat dan vitamin B12 ialah metabolisme intraseluler. Adanya defisiensi kedua zat tersebut akan menghasilkan tidak sempurnanya sintesis DNA pada setiap sel, dimana pembelahan kromosom sedang terjadi.
Anemia akibat defisiensi B12 disebut dengan anemia pernisiosa, sedangkan anemia akibat defisiensi asam folat disebut anemia defisiensi folat. Penyebab terjadinya anemia megalobastik adalah asupan kedua zat yang tidak cukup, terjadinya malabsobsi, keperluan yang meningkat, metabolisme yang terganggu, obat-obat yang menggangu metabolisme DNA, defisiensi transkobalamin II.
Nutrisi terapi untuk penyebab anemia megaloblastik harus diperlakukan secara istimewa. Suplementasi dengan vitamin B12 dan atau folat dianjurkan. Hal ini sering tepat untuk memberikan multivitamin dan mineral dalam hubungannya dengan administrasi suplemen tunggal pada pasien dengan anemia. Jika anemia sekunder untuk penyerapan terganggu, intramuskular atau intranasal administrasi adalah lebih baik. Tingkat homosistein, MMA, transcobalamin II dan langkah-langkah lain pada status hematologi harus dipantau secara rutin. Edukasi pasien pada peningkatan kepadatan nutrisi diet dengan makanan yang menggabungkan tinggi folat dan B12 dianjurkan. Lansia adalah yang paling berisiko, terutama mereka yang menerima layanan tambahan seperti makanan di atas roda. Biasanya, orang-orang tua dan tidak dapat menerima layanan ini yaitu orang-orang dengan sakit kronis dan cacat, memiliki status gizi buruk dan status sosial ekonomi rendah, yang berarti mereka kurang memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan dan konseling. Status Folat juga buruk pada pasien yang lebih tua, khususnya mereka yang dilembagakan atau fungsional Dete-tion, fisik atau mental.
C.    Penyebab
Penyerapan yang tidak adekuat dari vitamin B12 (kobalamin) menyebabkan anemia pernisiosa.
Vitamin B12 banyak terdapat di dalam daging dan dalam keadaan normal telah diserap di bagian akhir usus halus yang menuju ke usus besar (ilium). Agar dapat diserap, vitamin B12 harus bergabung dengan faktor intrinsik (suatu protein yang dibuat di lambung), yang kemudian mengangkut vitamin ini ke ilium, menembus dindingnya dan masuk ke dalam aliran darah. Tanpa faktor intrinsik, vitamin B12 akan tetap berada dalam usus dan dibuang melalui tinja.
Pada anemia pernisiosa, lambung tidak dapat membentuk faktor intrinsik, sehingga vitamin B12 tidak dapat diserap dan terjadilah anemia, meskipun sejumlah besar vitamin dikonsumsi dalam makanan sehari-hari. Tetapi karena hati menyimpan sejumlah besar vitamin B12, maka anemia biasanya tidak akan muncul sampai sekitar 2-4 tahun setelah tubuh berhenti menyerap vitamin B12.
Selain karena kekurangan faktor intrinsik, penyebab lainnya dari kekurangan vitamin B12 adalah:
·           pertumbuhan bakteri abnormal dalam usus halus yang menghalangi penyerapan vitamin B12
·           penyakit tertentu (misalnya penyakit Crohn)

·           pengangkatan lambung atau sebagian dari usus halus dimana vitamin B12 diserap
·           vegetarian.

D.    Gejala
Selain mengurangai pembentukan sel darah merah, kekurangan vitamin B12  juga mempengaruhi sistem saraf dan menyebabkan:
·         kesemutan di tangan dan kaki
·         hilangnya rasa di tungkai, kaki dan tangan
·         pergerakan yang kaku
·         buta warna tertentu, termasuk warna kuning dan biru
·         luka terbuka di lidah atau lidah seperti terbakar
·         penurunan berat badan
·         warna kulit menjadi lebih gelap
·         linglung
·         depresi
·         penurunan fungsi intelektual.

E.     Pemeriksaan laboratorium dan Pengobatan
Ø  Pemeriksaan laboratorium dilakukan dengan beberapa cara yaitu:
1.        Tes penyaring. Untuk memastikan adanya anemia dan morfologi anemia tersebut. Meliputi kadar hemoglobin, apusan darah tepi dan indeks eritrosit (MCV, MCH dan MCHC)
2.        Pemeriksaan rutin. Untuk melihat kelainan leukosit dan trombosit. Meliputi: laju endap darah, hitung diferensial dan retikulosit.
3.        Pemeriksaan atas indikasi khusus untuk memastikan diagnosis. Misalnya tes serum iron, TIBC (total iron binding capacity), saturasi transferin dan feritin serum pada Anemia defisiensi besi; tes asam folat dan vit B12 pada anemia megaloblastik, dsb.


Ø  pengobatan
Terapi atau pengobatan dilakukan dengan pemberian suplemen vitamin B12, baik diminum maupun di suntik jika dikarenakan kekurangan vitamin B12. Jika anemia karena kekurangan asam folat, maka dapat diberikan suplemen asam folat. Jika anemia sangat berat, maka biasanya dipertimbangkan untuk dilakukan transfusi darah.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Makrositik berarti berukuran besar. Anemia ini disebabkan  karena kekurangan vitamin B12 (anemia pernisiosa). Selain zat besi, sumsum tulang memerlukan vitamin B12 dan asam folat untuk menghasilkan sel darah merah. Jika kekurangan salah satu darinya, bisa terjadi anemia megaloblastik atau anemia makrositik. Pada anemia jenis ini, sumsum tulang menghasilkan sel darah merah yang besar dan abnorsitimal (megaloblas).






















Comments
0 Comments

No comments

Post a Comment

Recent Posts