Yazhid Blog

.

Thursday, 27 November 2014

Makalah anemia mikrositik hipokrom

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR   ...............................................................................................1 DAFTAR I... thumbnail 1 summary
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR   ...............................................................................................1
DAFTAR ISI  ...............................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN     .......................................................................................3
1.1. Latar Belakang Masalah  ...........................................................................3
1.2. Rumusan Masalah            ...........................................................................3
1.3.Tujuan       ...................................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN      .......................................................................................5
2.1. Defenisi anemia mikrositik hipokrom      ...................................................5
2.2. Gejala anemia mikrositik hipokrom         .................................................. 8
2.3.Gambar anemia mikrositik hipokrom        .................................................. 9
2.4. Patofisiologi anemia mikrositik hipokrom           ......................................11
2.5. Pengobatan anemia mikrositik hipokrom ......................................12
2.6. Pemeriksaan laboratorium anemia mikrositik hipokrom ..........................12
BAB III PENUTUP   ..................................................................................................13
            3.1. Kesimpulan          ......................................................................................13
            3.2. Saran        ..................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA                        ......................................................................................14




BAB I
PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang
Definisiensi besi adalah suatu keadaan dimana jumlah sel darah merah atau hemoglobin (protein pengangkut oksigen) dalam sel darah berada dibawah normal, yang disebabkan karena kekuranganzatbesi. Terdapatnya zat Fe dalam darah baru diketahui setelah penelitian oleh Lemery dan Goeffy (1713), kemudian Pierre Blaud (1831) mendapatkan bahwa FeSO4 dan K2CO3 dapat memperbaiki keadaan krorosis, anemia akibat defisiensi Fe. Penyebab defisiensi besi merupakan penyebab utama anemia di dunia. Khususnya terjadi pada wanita usia subur, sekunder karena kehilangan darah sewaktu menstruasi dan peningkatan kebutuhan besi selama hamil.

1.2.   Rumusan masalah
1.      Apa itu anemia mikrositik hipokrom ?
2.      Apa gejala dari anemia mikrositik hipokrom ?
3.      Apa penyebab dari anemia mikrositik hipokrom ?
4.      Berapa macam pemeriksaan anemia mikrositik hipokrom?

1.3.   Tujuan
1.      Agar mengetahui apa itu anemia mikrositik hipokrom ?
2.      Agar mengetahui Apa gejala dari anemia mikrositik hipokrom ?
3.      Agar mengetahui Apa penyebab dari anemia mikrositik hipokrom ?
4.      Agar mengetahui Berapa macam pemeriksaan anemia mikrositik hipokrom?








BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian
Mikrositik berarti kecil, hipokrom artinya mengandung hemoglobin dalam jumlah yang kurang dari normal. Defisiensi besi adalah penyebab anemia yang terseringdi semua negara di dunia. Defisiensi besi merupakan penyebab terpenting suatu anemia mikrositik hipokrom, dengan ketiga indeks eritrosit (MCV, MCH, MCHC) berkurang dan sediaan apus darah menunjukkan eritrosit yang kecil (mikrositik) dan pucat (hipokrom).

2.2. Anemia mikrositik hipokrom dapat disebabkan karena
a. Kehilangan besi (perdarahan menahun)
b. Asupan yang tidak adekuat / absorbsi bei yang kurang
c. Kebutuhan besi yang meningkat (pada masa kehamilan dan prematuritas)
Kemungkinan yang terjadi pada anemia mikrositik hipokrom adalah
a. Anemia defisiensi besi (gangguan besi)
b. Anemia pada penyakit kronik (gangguan besi)
c. Thalasemia (gangguan globin)
d. Anemia sideroblastik (gangguan protoporfirin)




2.3. Gambar

2.4. Patofisiologi anemia mikrositik hipokrom tergantung dari penyebabnya
1.    Anemia defisiensi besi terjadi dalam 3 tahap
a.       Tahap 1 (tahap prelaten), dimana yang terjadi penurunan hanya kadar feritin (simpanan besi)
b.      Tahap 2 (tahap laten), dimana feritin dan saturasi transferin turun (tetapi Hb masih normal)
c.       Tahap 3 (tahap def. besi), dimana feritin, saturasi transferin dan Hb turun (eritrosit menjadi mikrositik hipokrom)
2.    Anemia pada penyakit kronis
Anemia ini biasanya bersifat sekunder, dalam arti ada penyakit primer yang mendasarinya. Perbedaan anemia ini dengan anemia defisiensi besi tampak pada feritin yang tinggi dan TIBC yang rendah
3.    Anemia sideroblastik
Terjadi karena adanya gangguan pada rantai protoporfirin. Menyebabkan besi yang ada di sumsum tulang meningkat sehingga besi masuk ke dalam eritrosit yang baru terbentuk dan menumpuk pada mitokondria perinukleus.
4.    Thalasemia
Terjadi karena gangguan pada rantai globin. Thalasemia dapat terjadi karena sintesis hb yang abnormal dan juga karena berkurangnya kecepatan sintesis rantai alfa atau beta yang normal
2.5. Pengobatan  Anemia Mikrositik Hipokrom
1.      Anemia defisiensi besi
a. Terapi besi oral Ferro sulfat, mengandung 67mg besi Ferro glukonat, mengandung 37 mg besi.
b. Terapi besi parenteral biasa digunakan untuk pasien yang tidak bisa mentoleransi penggunaan besi oral. Besi-sorbitol-sitrat diberikan secara injeksi intramuskular Ferri hidroksida-sukrosa diberikan secara injeksi intravena lambat atau infus
c. Pengobatan Lain Diet, diberikan makanan bergizi tinggi protein terutama yang berasal dari protein hewani Vitamin C diberikan 3 x 100mg per hari untuk meningkatkan absorpsi besi Transfusi darah, pada anemia def. Besi dan sideroblastik jarang dilakukan (untuk menghindari penumpukan besi pada eritrosit)
2.   Anemia pada penyakit kronik. Tidak ada pengobatan khusus yang mengobati penyakit ini, sehingga pengobatan ditujukan untuk penyakit yang mendasarinya. Jika anemia menjadi berat, dapat dilakukan transfusi darah dan pemberian eritropoietin.
3.  Anemia sideroblastik. Penatalaksanaan anemia ini dapat dilakukan dengan veneseksi dan pemberian vit b6 (pyridoxal fosfat). Setiap unit darah yang hilang pada veneseksi mengandung 200-250 mg besi.
4.   Thalasemia. Transfusi darah dapat dilakukan untuk mempertahankan kadar Hb >10 g/dL. Tetapi transfusi darah yang berulang kadang mengakibatkan penimbunan besi, sehingga perlu dilakukan terapi kelasi besi


2.6. Pemeriksaan Laboratorium yang mendukung
Untuk anemia mikrositik hipokrom, dilakukan pemeriksaan NER (Nilai eritrosit rata-rata) yang terdiri dari VER, HER, KHER
1.      VER (Volume Eritrosit Rata-rata). Yaitu perbandingan nilai hematokrit dengan jumlah eritrosit (dalam juta) x 10. Satuannya fL. Nilai normalnya 80-98 fL. Jika lebih besar dari pada normal : eritrositnya makrositer Jika lebih kecil dari pada normal : eritrositnya mikrositer.
2.      HER (Hemoglobin Eritrosit Rata-rata). Yaitu perbandingan nilai hemoglobin dengan jumlah eritrosit (dalam juta ) x 10 . Satuannya pg. Nilai normalnya 27-32 pg Jika lebih kecil dari normal biasanya eritrosit hipokrom
3.      KHER (Konsentrasi Hemoglobin Eritrosit Rata-rata). Yaitu perbandingan nilai hemoglobin dengan nilai hematokrit x 100. Satuannya g/dL. Nilai normalnya 31-35 g/dL.Jika lebih kecil dari normal biasanya eritrosit hipokrom. Kalau perhitungan sudah menunjukan bahwa eritrosit mikrositik hipokrom, maka dilanjutkan dengan pemeriksaan apus darah tepi untuk melihat morfologi darah tepi.




BAB III
PENUTUP

3.1.       Kesimpulan
Mikrositik berarti kecil, hipokrom artinya mengandung hemoglobin dalam jumlah yang kurang dari normal. Defisiensi besi adalah penyebab anemia yang terseringdi semua negara di dunia. Defisiensi besi merupakan penyebab terpenting suatu anemia mikrositik hipokrom, dengan ketiga indeks eritrosit (MCV, MCH, MCHC) berkurang dan sediaan apus darah menunjukkan eritrosit yang kecil (mikrositik) dan pucat (hipokrom).

3.2.       Saran
Di harapakan agar mahasiswa dapat mempelajari makalah ini agar dapat mengetahui tentang penyakit anemia serta cara pengobatan.



DAFTAR PUSTAKA



















Tuesday, 25 November 2014

Makalah Cairan otak

BAB I PENDAHULUAN 1.1     Latar Belakang                  Otak adalah organ yang luar biasa, bekerja mengkoordinasikan seluruh yang... thumbnail 1 summary
BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
                 Otak adalah organ yang luar biasa, bekerja mengkoordinasikan seluruh yang terjadi di dalam tubuh kita, kepribadian, metabolisme, tekanan darah, emosi, hormon, ingatan , bekerja melebihi komputer manapun didunia ini. Kelainan kecil pada otak akan mempengaruhi aktifitas tubuh, karenanya kita harus selalu menjaga nutrisinya dan menjaga kesehatannya dan mengembangkannya
                 Otak manusia mempunyai berat 2% dari berat badan orang dewasa (3 pon) , menerima 20 % curah jantung dan memerlukan 20% pemakaian oksigen tubuh dan sekitar 400 kilo kalori energi setiap harinya. Otak merupakan jaringan yang paling banyak memakai energi dalam seluruh tubuh manusia dan terutama berasal dari proses metabolisme oksidasi glukosa. Jaringan otak sangat rentan terhadap perubahan oksigen dan glukosa darah, aliran darah berhenti 10 detik saja sudah dapat menghilangkan kesadaran manusia. Berhenti dalam beberapa menit, merusak permanen otak. Hipoglikemia yang berlangsung berkepanjangan juga merusak jaringan otak.
                 Cairan tubuh (bahasa Inggris: interstitial fluid, tissue fluid, interstitium) adalah cairan suspensi sel didalam tubuh makhluk multiselular seperti manusia atau hewan yang memiliki fungsi fisiologis tertentu. Cairan tubuh merupakan komponen penting bagi fluida ekstraselular, termasuk plasma darah dan fluida transelular. Cairan tubuh dapat ditemukan pada spasi jaringan (bahasa Inggris: tissue space, interstitial space). Rata-rata seseorang memerlukan sekitar 11 liter cairan tubuh untuk nutrisi sel dan pembuangan residu jaringan tubuh. Kelebihan cairan tubuh dikeluarkan melalui air seni. Kekurangan cairan tubuh menyebabkan seseorang kehausan dan akhirnya dehidrasi.  Contoh cairan tubuh adalah : darah dan plasma darah, sitosol, cairan serebrospinal (CSS), cairan limfa, cairan pleura, dan cairan amnion.
                 Pada makalah ini akan dibahas secara khusus pemeriksaan laboratorium klinik terhadap specimen cairan otak atau Liquor Cerebro Spinalis (LCS). Pemeriksaan LCS ini berperan penting dalam mendiagnosa adanya gangguan terhadap selaput otak/ meningia.  Pemeriksaan Terhadap LCS ini terbagi atas pemeriksaan Makroskpis, Mikroskopis, dan Kimiawi.
1.2    Tujuan Penulisan
1.      Apa pengertian cairan otak ?
2.      Bagaimana anatomi dan fisiologi otak ?
3.      Bagaimana cara pengambilan cairan serebrospinal ?
4.      Bagaimana parameter pemeriksaan cairan serebrospinal?
1.3    Rumusan Masalah
1.      Untuk mengetahui cairan otak ?
2.      Untuk mengetahui anatomi dan fisiologi otak ?
3.      Untuk mengetahui cara pengambilan cairan serebrospinal ?
4.      Untuk mengetahui parameter pemeriksaan cairan serebrospinal?



BAB II
PEMBAHASAN

2.1    Pengertian Cairan Otak
     Cairan otak ialah cairan jernih, tak berwarna yang 70 % dibuat oleh plexus choroideus di dalam ruang atau ventrikel otak melalui transport akitf dan ultrafiltrasi, sedangkan 30% dibentuk pada tempat lain, termasuk pada ventrikel dan rongga subarachnoid. Pada orang   dewasa   volume   intrakranial   kurang   lebih 1700 ml,  volume otak  sekitar  1400  ml,  volume  cairan  serebrospinal  52-162  ml  (rata-rata  104  ml) dan  darah  sekitar  150  ml.  80%  dari  jaringan  otak  terdiri  dari  cairan,  baik  ekstra sel  maupun  intra  sel.
     Rata-rata  cairan  serebrospinal  dibentuk  sebanyak  0,35  ml/menit  atau  500 ml/hari,  sedangkan  total  volume  cairan  serebrospinal  berkisar  75-150  ml  dalam sewaktu.  Ini  merupakan  suatu  kegiatan  dinamis,  berupa  pembentukan,  sirkulasi dan  absorpsi.  Untuk  mempertahankan  jumlah  cairan  serebrospinal  tetap  dalam sewaktu, maka  cairan  serebrospinal  diganti  4-5  kali  dalam  sehari.
     Liquour Cerebrospinalis adalah cairan otak yang diambil melalui lumbal punksi, Cairan otak tidak boleh dipandang sama dengan cairan yang terjadi oleh proses ultrafiltrasi saja dari plasma darah. Di samping filtrasi, faktor sekresi dari plexus choriodeus turut berpengaruh. Karena itu cairan otak bukanlah transudat belaka. Akan tetapi seperti transudat, susunan cairan otak juga selalu dipengaruhi oleh konsentrasi beberapa macam zat dalam plasma darah.
     Pengambilan cairan otak itu dilakukan dengan maksud diagnostik atau untuk melakukan tindakan terapi. Kelainan dalam hasil pemeriksaan dapat memberi petunjuk kearah suatu penyakit susunan saraf pusat, baik yang mendadak maupun yang menahun dan berguna pula setelah terjadi trauma.

2.2    Anatomi dan Fisiologi
Dalam   membahas cairan  serebrospinal ada  baiknya diketahui mengenai anatomi yang berhubungan  dengan  produksi  dan  sirkulasi  cairan serebrospinal,yaitu:
§  Sistem  Ventrikel
                        Sistem  ventrikel  terdiri  dari  2  buah  ventrikel  lateral,  ventrikel  III dan  ventrikel IV. Ventrikel lateral terdapat di bagian dalam      serebrum, masing-masing ventrikel   terdiri   dari   5   bagian   yaitu   kornu   anterior,   kornu   posterior,   kornu inferior, badan  dan  atrium. Ventrikel   III   adalah   suatu   rongga   sempit   di   garis   tengah   yang   berbentuk corong  unilokuler,  letaknya  di  tengah  kepala,  ditengah  korpus  kalosum  dan bagian  korpus  unilokuler  ventrikel  lateral,  diatas  sela  tursica,  kelenjar  hipofisa dan     otak     tengah dan diantara hemisfer serebri, thalamus dan   dinding hipothalanus. Disebelah anteropeoterior   berhubungan   dengan   ventrikel   IV melalui  aquaductus sylvii. Ventrikel  IV  merupakan  suatu  rongga  berbentuk  kompleks,  terletak  di  sebelah
ventral  serebrum  dan  dorsal  dari  pons dan  medula  oblongata.
§  Meningen dan ruang subarakhnoid
Meningen   adalah   selaput   otak   yang   merupakan   bagian   dari  susunan saraf yang bersifat non neural. Meningen terdiri dari   jaringan   ikat berupa membran   yang   menyelubungi   seluruh   permukaan   otak,  batang    otak  dan medula  spinalis. Meningen  terdiri  dari  3  lapisan, yaitu  Piamater, arakhnoid  dan  duramater. Piameter  merupakan  selaput  tipis  yang  melekat  pada  permukaan  otak  yang mengikuti  setiap  lekukan-lekukan  pada  sulkus-sulkus  dan  fisura-fisura,  juga melekat  pada  permukaan  batang  otak  dan  medula  spinalis,  terus  ke  kaudal sampai  ke ujung  medula  spinalis setinggi  korpus vertebra.
Arakhnoid   mempunyai   banyak   trabekula   halus   yang   berhubungan   dengan piameter,  tetapi  tidak  mengikuti  setiap  lekukan  otak.  Diantara  arakhnoid  dan piameter   disebut   ruang   subrakhnoid,   yang   berisi   cairan  serebrospinal  dan pembuluh-pembuluh darah.             Karena             arakhnoid tidak            mengikuti lekukan- lekukan   otak,   maka   di   beberapa   tempat   ruang   subarakhnoid   melebar  yang disebut  sisterna.  Yang  paling  besar  adalah  siterna  magna,  terletak  diantara bagian  inferior  serebelum  danme  oblongata.  Lainnya  adalah  sisterna  pontis di permukaan         ventral     pons, sisterna            interpedunkularis di permukaan venttralmesensefalon,   sisterna   siasmatis   di   depan   lamina   terminalis.   Pada sudut   antara   serebelum   dan   lamina   quadrigemina   terdapat   sisterna   vena magna   serebri.   Sisterna   ini   berhubungan   dengan   sisterna   interpedunkularis melalui  sisterna  ambiens.
                        Ruang  subarakhnoid  spinal  yang  merupakan  lanjutan  dari  sisterna  magna  dan sisterna  pontis  merupakan  selubung  dari  medula  spinalis  sampai  setinggi  S2. Ruang  subarakhnoid  dibawah  L2  dinamakan  sakus  atau  teka  lumbalis,  tempat dimana  cairan  serebrospinal  diambil  pada  waktu  pungsi  lumbal. Durameter  terdiri  dari  lapisan  luar  durameter  dan  lapisan  dalam  durameter. Lapisan   luar   dirameter   di   daerah   kepala   menjadi   satu   dengan   periosteum tulang  tengkorak dan  berhubungan  erat  dengan  endosteumnya.
§  Ruang Epidural
                        Diantara  lapisan  luar  dura  dan  tulang  tengkorak  terdapat  jaringan  ikat  yang mengandung  kapiler-kapiler  halus  yang  mengisi  suatu  ruangan  disebut  ruang epidural.
§  Ruang Subdural
                        Diantara  lapisan  dalam  durameter  dan  arakhnoid  yang  mengandung  sedikit cairan, mengisi  suatu  ruang  disebut  ruang  subdural.
*   Pembentukan, Sirkulasi   dan  Absorpsi  Cairan  Serebrospinal  (CSS)
                        Sebagian besar CSS (dua pertiga atau lebih) diproduksi di pleksus choroideus ventrikel serebri (utamanya ventrikel lateralis). Sejumlah kecil dibentuk oleh sel ependim yang membatasi ventrikel dan membran arakhnoid dan sejumlah kecil terbentuk dari cairan yang bocor  ke ruangan perivaskuler di sekitar pembuluh darah otak (kebocoran sawar darah otak).Pada orang dewasa, produksi total CSS yang normal adalah sekitar 21 mL/jam (500 mL/ hari),volume CSS total hanya sekitar 150 mL.
*   Tekanan Cairan Serebrospinal
                        Tekanan normal dari sistem cairan serebrospinal ketika seseorang berbaring pada posisi horizontal, rata-rata 130 mm air (10 mmHg), meskipun dapat juga serendah 65 mm air atau setinggi 95 mm air pada orang normal.. Pengaturan Tekanan Cairan Serebsrospinal oleh Vili Arakhnoidalis. Normalnya, tekanan cairan serebrospinal hampir seluruhnya diatur oleh absorpsi cairanmelalui vili arakhnoidalis.
*   Komposisi dan fungsi cairan serebrospinal (CSS)
                        Cairan  serebrospinal  dibentuk  dari  kombinasi  filtrasi  kapiler  dan  sekresi  aktif dari epitel.   CSS   hampir   meyerupai   ultrafiltrat   dari   plasma   darah   tapi   berisi konsentrasi   Na,   K,   bikarbonat,   Cairan,   glukosa   yang  lebih  kecil   dan konsentrasi Mg  dan  klorida  yang  lebih  tinggi. Ph  CSS  lebih rendah  dari  darah.
                        Perbandingan  komposisi  normal  cairan  serebrospinal  lumbal  dan  serum adalah sebagai berikut :

CSS
Serum
Osmolaritas
295  mOsm/L
295  mOsm/L
Natrium          
138  mM
138  mM
Klorida           
119  mM
102  mM
PH
7,33
7,41  (arterial)
Tekanan          
6,31  kPa
25,3  kPa
Glukosa          
3,4  mM
5,0  mM
Total  Protein 
0,35  g/L
70  g/L
Albumin         
0,23  g/L
42  g/L
Ig  G
0,03  g/L
10  g/L




2.3    Pengambilan Cairan Serebrospinal
                 Cairan otak biasanya diperoleh dengan melakukan punksi lumbal pada lumbal III dan IV di cavum subarachnoidale, namun dapat pula pada suboccipital ke dalam cisterna magma atau punksi ventrikel, yang dapat disesuaikan dengan indikasi klinik. Seorang klinik yang ahli dapat memperkirakan pengambilan tersebut. Hasil punksi lumbal dimasukkan dalam 3 tabung atau 3 syringe yang berbeda, antara lain :
1.    Tabung I berisi 1 mL
                 Dibuang karena tidak dapat digunakan sebagai bahan pemeriksaan karena mungkin mengandung darah pada saat penyedotan.
2.      Tabung II berisi 7 mL
                 Digunakan untuk pemeriksaan serologi, bakteriologi dan kimia klinik.
3.      Tabung III berisi 2 mL
                 Digunakan untuk pemeriksaan jumlah sel, Diff.count dan protein kualitatif/kuantitatif.

v  Tata Cara
1.    Pasien dalam posisi miring pada salah satu sisi tubuh. Leher fleksi maksimal (lutut di tarik ke arah dahi )
2.    Tentukan daerah pungsi lumbal di antara L4 dan L5 yaitu dengan menentukan garis potong sumbu kraniospinal ( kolumna verterbralis ) dan garis antara kedua spina ishiadika anterior superior ( SIAS ) kiri dan kanan. Pungsi dapat pula di lakukan anatara L4 dan L5 atau antara L2 dan L3 namun tidak boleh pada bayi.
3.    Lakukan tindakan antisepsis pada kulit di sekitar daerah pungsi radius 10 cm dengan larutan Povidon iodin di ikuti larutan alkohol 70% dan tutup dengan duk steril di mana daerah pungsi lumbal di biarkan terbuka.
4.    Tentukan kembali daerah pungsi dengan menekan ibu jari tangan yang telah memakai sarung tangan steril selama 15 – 30 detik yang akan menandai titik pungsi tersebut selama 1 menit.
5.    Tusukan jarum spinal/stylet pada tempat yang telah di tentukan. Masukan jarum perlahan-lahan menyusur tulang vertebra sebelah proksimal dengan mulut jarum terbuka ke atas sampai menembus duramater. Jarak antara kulit dan ruang subarakhnoi berbeda pada tiap anak tergantung umur dan keadaan gizi. Umumnya 1,5 – 2,5 cm pada bayi dan meningkat menjadi 5 cm pada umur 3 –5 tahun. Pada remaja jaraknya 6 – 8 cm.
6.    Lepaskan stylet perlahan-lahan dan cairan keluar. Untuk mendapatkan aliran cairan yang lebih baik, jarum di putar hingga mulut jarum mengarah ke kranial. Ambil cairan untuk pemeriksaan
7.    Cabut jarum dan tutup lubang tusukan dengan plester.

2.4    Parameter Pemeriksaan Cairan Serebrospinal
Parameter yang umum diperiksa pada cairan otak adalah sebagai berikut :
A.    Makroskopik
§   Warna
§   Kekeruhan (Kejernihan)
§   Bekuan
§   BJ
§   pH
B.     Mikroskopik
§   Hitung Jumlah Sel
§   Hitung Jenis Sel (Diff.Count)
C.     Kimiawi
§  Pandy
§  Nonne
§  Protein
§  Glukosa
§  Chlorida
D.    Bakteriologi (Pembiakan)


a.       Makroskopik
§  Metode            : Visual (Manual)
§  Tujuan             : Untuk mengetahui cairan LCS secara makroskopik                            meliputi : warna, kejernihan, bekuan, pH dan BJ.
§  Alat dan Bahan   
1.      Tabung reaksi
2.      Beaker gelas
3.      Kertas indikator pH universal
4.      Refraktometer abbe
§  Spesimen         : Cairan LCS
§  Cara Kerja
1.      Cairan LCS dimasukkan dalam tabung bersih dan kering.
2.      Diamati warna, kejernihan, adanya bekuan pada cahaya terang.
3.      Dicelupkan indikator pH universal pada LCS dan diukur pH dengan membandingkan deret standar pH.
4.      Cairan LCS diteteskan 1-2 tetes pada refraktometer dan diperiksa pada eye piece BJ.
Hasil dan Interpretasi
No
Parameter
Penilaian
Interpretasi Normal
1.
Warna
Tidak berwarna, Kuning muda, Kuning, Kuning tua, Kuning coklat, merah, hitam coklat
Tidak berwarna
2.
Kejernihan
Jernih, agak keruh, keruh, sangat keruh, keruh kemerahan
Jernih
3.
Bekuan
Tidak ada bekuan, ada bekuan
Tidak ada bekuan
4.
pH
7,3 atau setara dengan pH plasma/serum

5.
BJ
1.000 – 1.010
1.003 – 1.008


§  Hal yang perlu diperhatikan :
1.    LCS yang bercampur darah dalam jumlah banyak pada kedua tabung, tidak dapat diperiksa karena karena akan sama hasilnya dengan pemeriksaan dalam darah, terutama bila ada bekuan merah sebagaimana darah membeku.
2.    Adanya bekuan terlihat berupa kabut putih yang menggumpal karena bekuan terdiri atas benang fibrin.

b.      Mikroskopik
1)   Hitung Jumlah Sel
§  Metode            : Bilik Hitung
§  Prinsip             : LCS diencerkan dengan larutan Turk pekat akan ada sel                           leukosit dan sel lainnya akan lisis dan dihitung selnya                           dalam kamar hitung di bawah mikroskop.
§  Tujuan             : Untuk mengetahui jumlah sel dalam cairan LCS.
§  Alat dan Reagensia :      
1.    Mikroskop
2.    Hemaocytometer : Bilik hitung Improved neubauer, kaca penutup, pipet thoma leukosit
3.    Tissue
4.    Larutan Turk Pekat : Kristal violet 0,1 gram, asam asetat glacial 10 mL dan aquadest 90 mL.
§  Spesimen         : LCS
§  Cara Kerja   
1.         Larutan Turk pekat diisap sampai tanda 1 tepat
2.         Larutan LCS diisap sampai tanda 11 tepat.
3.         Dikocok perlahan dan dibuang cairan beberapa tetes.
4.         Diteteskan pada bilik hitung dan dihitung sel dalam kamar hitung pada semua kotak leukosit di mikroskop lensa objektif 10x/40x.


§  Perhitungan         :
PDP     : 1/10  = 0,1x
TKP     : 1/0,1 = 10x
KBH   : 4 kotak leukosit
            Ʃ Sel    : Jumlah sel ditemukan (berwarna keunguan dengan inti dan                           sitoplasma)
Sel    = PDP x  TKP  x Jumlah sel ditemukan
                        KBH
         = 0,1   x  10   x Ʃ
                          4
         = 2,5   x  Ʃ
         = ……..sel/mm3 LCS
§  Interpretasi           : Jumlah sel normal = 0 – 5 sel/mm3 LCS
2)   Hitung Jenis Sel
§  Metode            : Giemsa Stain
§  Tujuan             : Untuk membedakan jenis sel mononuklear dan                           polinuklear dalam cairan LCS
§  Alat dan Reagensia
1.         Objek Gelas
2.         Kaca Penghapus
3.         Sentrifuge
4.         Tabung reaksi
5.         Metanol absolut
6.         Giemsa
7.         Timer
§  Spesimen         : LCS
§  Cara Kerja          
1.    Cairan LCS di masukkan dalam tabung secukupnya.
2.    Disentrifugasi selama 5 menit 2000 rpm
3.    Supernatant dibuang dan endapan diambil.
4.    Diteteskan pada objek gelas dan dibuat preparat hapusan tebal
5.    Di keringkan dan difiksasi selama 2 menit dengan metanol absolut.
6.    Diwarnai dengan Giemsa selama 15-20 menit.
7.    Dicuci dan diperiksa dimikroskop lensa objektif 100x denga imersi.
§  Perhitungan
Jenis Sel
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Jumlah
%
MN












PMN












Jumlah












§  Interpretasi : Normal MN 100% dan PMN 0%



BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
                 Cairan otak ialah cairan jernih, tak berwarna yang 70 % dibuat oleh plexus choroideus di dalam ruang atau ventrikel otak melalui transport akitf dan ultrafiltrasi, sedangkan 30% dibentuk pada tempat lain, termasuk pada ventrikel dan rongga subarachnoid. Pada orang   dewasa   volume   intrakranial   kurang   lebih 1700 ml,  volume otak  sekitar  1400  ml,  volume  cairan  serebrospinal  52-162  ml  (rata-rata  104  ml) dan  darah  sekitar  150  ml.  80%  dari  jaringan  otak  terdiri  dari  cairan,  baik  ekstra sel  maupun  intra  sel.
                 Perbandingan  komposisi  normal  cairan  serebrospinal  lumbal  dan  serum adalah sebagai berikut :

CSS
Serum
Osmolaritas
295  mOsm/L
295  mOsm/L
Natrium          
138  mM
138  mM
Klorida           
119  mM
102  mM
PH
7,33
7,41  (arterial)
Tekanan          
6,31  kPa
25,3  kPa
Glukosa          
3,4  mM
5,0  mM
Total  Protein 
0,35  g/L
70  g/L
Albumin         
0,23  g/L
42  g/L
Ig  G
0,03  g/L
10  g/L

3.2    Saran
                 Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun agar dalam pembuatan makalah selanjutnya bisa lebih baik lagi, atas perhatiannya penulis ucapkan terimakasih.


Recent Posts