Yazhid Blog

.

Thursday, 3 October 2013

Makalah senyawa non protein

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang                  Ginjal merupakan salah satu organ yang sangat penting di dalam tubu h k... thumbnail 1 summary


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
                 Ginjal merupakan salah satu organ yang sangat penting di dalam tubuh kita, karena ginjal memiliki fungsi yang sangat penting yaitu menyaring darah dalam tubuh dan mengekskresikan urin.
                 Setiap harinya pasti kita selalu mengeluarkana air kemih yang disebut urin tanpa mengetahui proses yang terjadi sebelum air kemih itu di keluarkan, atau bagaimana darah dalam nadi kita mengalir tanpa kita ketahui apakah darah itu disaring pada saat dialirkan.
                 Kelompok bahan kimia mengacu kepada senyawa berberat molekul rendah yang mengandung nitrogen dan dibedakan dari protein. Nitrogen nonprotein (NNP) mencakup ureum, kreatinin, asam urat, amonia, dan asam amino. Senyawa-senyawa ini adalah produk sampingan dari metabolisme protein atau asam nukleat. Senyawa ini terdapat dalam konsentrasi miligram/desiliter atau kurang karena cepat dikeluar melalui urine. Dahulu, sebelum tersedianya analisis spesifik-enzim, pengukuran NNP digunakan sebagai indeks fungsi ginjal. Namun, dengan tersedianya pemeriksaan modern untuk masing-masing senyawa tidak lagi diperlukan penentuan NNP.

1.2  Tujuan Penulisan
Tujuan yang ingin dicapai pada penulisan makalah ini adalah  sebagai berikut :
1.         untuk mengetahui apa itu ureum,kretinin, asam urat dan urea clearance
2.         untuk mengetahui pemeriksaan ureum, kreatinin, asam urat,dan ureaclearence
3.         untuk mengetahui pengaruh akan kelebihan kadar urea, kreatinin, asam urat, dan urea clearance terhadap tubuh khususnya ginjal
4.         untuk mengenal apa itu urin
5.         untuk mengetahui kandungan dalam urine
6.         untuk dapat mengetahui warna urine
7.         untuk mengetahui fungsi urine
8.         untuk mengetahui bagaimana pemeriksaan urine  

1.3 Rumusan Masalah
     Adapun masalah yang akan dibahas pada penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Apa itu ureum, kretinin, asam urat, dan urea klearence ?
2.      Bagaimana tes laboratorium teradap ureum, kreatinin, asam urat, dan urea clearence ?
3.      Penyakit apa yang disebabkan apabila kelebian kadar ureum, kreatinin,asam urat, dan urea clearence dalam darah ?
4.      Apa yang dimaksud dengan urine ?
5.      Apa kandungan urine ?
6.      Mengapa urine berwarna – warni ?
7.      Apa fungsi urine ?
8.      Bagaimana pemeriksaan urine ?






BAB II
PEMBAHASAN


2.1 SENYAWA NON PROTEIN NITROGEN (NPN)

                 Senyawa Non Protein Nitrogen (NPN) adalah senyawa – senyawa nitrogen bukan protein yang berasal dari katabolisme protein dan asam nukleat.
                        Dalam plasma terdapat lebih dari 15 macam zat NPN, antara lain :
2.1.1 Asam urat
                 Asam Urat merupakan sampah hasil metabolisme normal dari pencernaan protein atau dari peguraian senyawa purin (sel tubuh yang rusak), yang seharusnya dibuang  melalui ginjal, feses atau keringat. Penyakit yang timbulkan asam urat.
                 Biasanya 25 persen orang yang asam uratnya tinggi akan menjadi penyakit gout. Itu disebut awal stadium, asimtomatik, tanpa gejala. Pada setiap orang berbeda-beda. Ada yang bertahun-tahun sama sekali tidak muncul gejalanya, tetapi ada yang muncul gejalanya di usia 20 tahun, 30 tahun, atau 40 tahun.
                 Artristis gout muncul sebagai serangan keradangan sendi yang timbul berulang-ulang. Gejala khas dari serangan artritis gout adalah pembengkakan, kemerahan, nyeri hebat, panas dan gangguan gerak dari sendi yang terserang yang terjadi mendadak (akut) yang mencapai puncaknya kurang dari 24 jam.
                 Perjalanan penyakit gout sangat khas dan mempunyai tiga tahapan. Tahap pertama disebut tahap artritis gout akut. Pada tahap ini penderita akan mengalami serangan artritis yang khas dan serangan tersebut akan menghilang tanpa pengobatan dalam waktu 5-7 hari.
                 Karena cepat menghilang, maka sering penderita menduga kakinya keseleo atau kena infeksi sehingga tidak menduga terkena penyakit gout dan tidak melakukan pemeriksaan lanjutan.
                 Bahkan, dokter yang mengobati kadang-kadang tidak menduga penderita terserang penyakit gout. Karena serangan pertama kali ini singkat waktunya dan sembuh sendiri, sering penderita berobat ke tukang urut dan waktu sembuh menyangka hal itu disebabkan hasil urutan/pijatan. Padahal, tanpa diobati atau diurut pun serangan pertama kali ini akan hilang sendiri.
                 Setelah serangan pertama, penderita akan masuk pada gout interkritikal. Pada keadaan ini penderita dalam keadaan sehat selama jangka waktu tertentu. Jangka waktu antara seseorang dan orang lainnya berbeda. Ada yang hanya satu tahun, ada pula yang sampai 10 tahun, tetapi rata-rata berkisar 1-2 tahun. Panjangnya jangka waktu tahap ini menyebabkan seseorang lupa bahwa ia pernah menderita serangan artritis gout akut atau menyangka serangan pertama kali dahulu tak ada hubungannya dengan penyakit gout.
                 Tahap kedua disebut sebagai tahap artritis gout akut intemiten. Setelah melewati masa gout interkritikal selama bertahun-tahun tanpa gejala, penderita akan memasuki tahap ini, ditandai dengan serangan artritis yang khas. Selanjutnya penderita akan sering mendapat serangan (kambuh) yang jarak antara serangan yang satu dan serangan berikutnya makin lama makin rapat dan lama, serangan makin lama makin panjang, serta jumlah sendi yang terserang makin banyak.
                 Tahap ketiga disebut sebagai tahap artritis gout kronik bertofus. Tahap ini terjadi bila penderita telah menderita sakit selama 10 tahun atau lebih. Pada tahap ini akan terjadi benjolan-benjolan di sekitar sendi yang sering meradang yang disebut sebagai tofus. Tofus ini berupa benjolan keras yang berisi serbuk seperti kapur yang merupakan deposit dari kristal monosodium urat. Tofus ini akan mengakibatkan kerusakan pada sendi dan tulang di sekitarnya. Tofus pada kaki bila ukurannya besar dan banyak akan mengakibatkan penderita tidak dapat menggunakan sepatu lagi
                 Yang paling penting untuk diketahui adalah kalau asam urat tinggi dalam darah, tanpa kita sadari akan merusak organ-organ tubuh, terutama ginjal, karena saringannya akan tersumbat. Tersumbatnya saringan ginjal akan berdampak munculnya batu ginjal, atau akhirnya bisa mengakibatkan gagal ginjal.

Pemeriksaan Asam Urat :
A.       Pra Analitik
Pra analitik meliputi persiapan pasien, dan pengambilan sampel. Pada pemeriksaan asam urat tidak dibutuhkan adanya persiapan sampel yang khusus seperti halnya pada pemeriksaan glukosa darah.

B.        Analitik
Prosedur kerja

Bahan
Blanko
Standar
Sampel
1.   Larutan kerja
2.   Larutan standar
3.   Sampel
4.   H2O
1000 µL
-
-
20 µL
1000 µL
20 µL
-
-
1000 µL
-
20 µL
-

     Campur dan inkubasi selama 5-30 menit pada 30 0c , baca pada spektrofotometer dengan panjang gelombamg λ 546 nm.

C.     Pasca Analitik
Pada pasca analitik meliputipembacaan hasil
Nilai rujukan
Laki-laki : 3,4-7,0 mg/dl
Wanita  : <5,7mg/dl
Anak      : 2,5-5,5 mg/dl
Lansia    : 3,5-8,5 mg/dl
2.1.2  Kreatinin
                 Kreatinin adalah hasil akhir dari metabolisme keratin. Penyakit yang ditimbulkan akibat kelebihan kadar kreatinin yaitu gagal ginjal, penyakit ini dapat dibantu diagnosis dengan melihat hasil tes laboratorium disamping pemeriksaan penunjang lainnya, anamnesis dan pemeriksaan fisik. Fungsi utama ginjal adalah membersihkan darah dari sisa-sisa hasil
                 Metabolisme tubuh yang berada di dalam darah dengan cara menyaringnya. Jika kedua ginjal gagal menjalankan fungsinya (tahap akhir penyakit ginjal), sisa-sisa hasil metabolisme yang diproduksi oleh sel normal akan kembali masuk ke dalam darah (uremia). Gagal ginjal bisa terjadi jika terdapat gangguan pada pembuluh darah vena atau sistem penyaringannya. Namun, bisa juga berasal dari masalah-masalah kesehatan yang lain, seperti tekanan darah tinggi dan diabetes atau adanya masalah dengan sistem penyaringan pada ginjal (seperti pada keadaan glomerulonefritis atau penyakit ginjal polikistik). Pada kasus lainnya juga ditemukan adanya masalah pada saluran kemih.
                 Ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar fungsi ginjal tidak bertambah parah, yakni:
1.      Mengkonsumsi makanan rendah protein. Tubuh memerlukan protein untuk  membentuk otot. Tapi bagi penderita penyakit ginjal, kelebihan protein menyebabkan gang-guan pada proses filtrasi atau penyaringan, sehingga terjadilah peningkatan sisa hasil metabolisme protein dalam darah. Anda dapat mencegah hal ini dengan mengkonsumsi makanan rendah protein.
2.      Mengkonsumsi sedikit garam. Garam natrium berfungsi untuk mempertahankan cairan dalam tubuh Anda. Untuk mengurangi kadar garam dalam tubuh, bila Anda membeli makanan, periksalah label makanan carilah makanan yang mempunyai kandungan natrium di bawah 400 mg untuk sekali makan, gunakan saus yang berkadar natrium rendah, dan jangan gunakan garam pengganti yang mengandung kalium.
3.      Tidak minum terlalu banyak. Ginjal yang normal dapat mengatur keseimbangan cairan yang masuk dan ke luar dari tubuh. Jika ginjal Anda mengalami gangguan, maka akan terjadi masalah pada pembentukan urine. Anda harus membatasi konsumsi air. Sebaiknya hisaplah air jeruk lemon untuk membasahi bibir yang kering, minumlah hanya untuk mengatasi haus, dan jika Anda menderita diabetes, jagalah kadar gula Anda, agar Anda tidak merasa terlalu haus.
4.      Tidak mengkonsumsi fosfat. Makanan dari produk susu, kacang-kacangan yang dikeringkan dan coklat mengandung banyak fosfat. Jika banyak mengkonsumsi makanan ini, maka kadar fosfat dalam darah meningkat dan menyebabkan tulang menjadi lebih rapuh.
A.    Pra Analitik
Meliputi persiapan pasien,pengambilan sampel dan penyiapan alat dan bahan.
B. Analitik
Meliputi prosedur kerja

Tes
Standar
Blanko
1. Filtrat

2. standar Kerja

3. NaOH

4. Asam Pikrat

5. Aquadest

3 ml

-

0.5 ml

0.5 ml

-
-

1,5 ml

0.5 ml

0.5 ml

-
-

-

0.5 ml

0.5 ml

3 ml

Dicampur,lalu dibaca pada spekterofotometer dengan panjang  λ 520 nm.
C. Pasca Analitik
Meliputi hasil pemeriksaan
Nilai Normal :
Pada Laki – Laki  = 0,9 –  1,5 / 100 ml
Pada Wanita = 0,8 – 1,2 / 100 ml

2.1.3 Ureum
                 Ureum adalah merupakan hasil akhir dari metabolisme protein yang mengandung nitrogen. Hal ini dinyatakan dengan meningkatnya jumlah urea padaurea dalam darah yang menjadi sumber  sebagai hyperuremia atau azotemia.
                 Pemisahan paralel dari urea dan kreatinin yang ditunjukan untuk membedakan antara prerenal dan post-renal azotemia. Pre-renal azotemia disebabkan oleh dehidrasi (kekurangan air), menurunnya katabolisme protein, pembersih cortisol, atau berkurangnya perfusi renal, penyebab utama  bertambahnya jumlah urea, dimana jumlah creatin tidak seperti jarak semula pada aotemia post-renal, disebabkan oleh terhalangnya saluran kencing.
                 Metode klasik untuk pemeriksaan urea memerlukan konversi menjadi ammonia oleh enzim urease yang spesifik dan pengukuran ammonia. Suatu metode kolori meter berdasarkan atas reaksi dengan diasetil monoksida yang sering dipakai.
                 Urea plasma bertambah dengan bertambahnya usia walaupun tanpa penyakit ginjal yang bisa dideteksi, walau perubahan ini jelas karena perubahan fungsi ginjal. Konsentrasi juga sedikit lebih tinggi pada laki-laki, satu makanan protein tidak meningkatkan kadar urea plasma secara bermakna. Urea plasma puasa lebih tingi pada diet tinggi protein dari pada diet rendah protein.




A. Pra Analitik
Meliputi persiapan pasien,pengambilan sampel dan penyiapan alat dan bahan.

B. Analitik
Meliputi prosedur kerja

R1 & R2 = 4: 1 (800 µL : 200 µL)


Blanko
Standar
Sampel
1.       Larutan kerja (R1 & R2)
2.      Larutan standar
3.      Sampel
4.      H2O
1000 µL
-
-
10 µL
1000 µL
10 µL
-
-
1000 µL
-
10 µL
-






Dicampur,lalu dibaca pada spekterofotometer dengan panjang  λ 340 nm.

C. Pasca Analitik
Meliputi hasil pemeriksaan

Nilai Normal : 1,7 – 8.3 mmol/L (10 – 50 mg/dL)

2.1.4 Urea Clearance
                 Fungsi urea clearance yaitu mengukur fungsi glomeruli, karena ureum  melalui glomeluri itu. Tetapi nilai urea clearance tidak boleh dipandang sama dengan nilai glomerular filtration, karena sebagian dari ureum itu dalam tubuh mendifusi kembali kedalam darah. Banyaknya ureum yang mendifusi kembali ikut ditentukan oleh besarnya urea.


Pemeriksaan pada Urea Clearence
  1. Pra Analitik
Kirakira setengah jam sebelum pemeriksaan dimulai, pasien disuruh minum aior atau the sebanyak 400-500 ml .
  1. Analitik
§  Pada saat pemriksaan, dimulai pada saat pasien kencing (misalkan P).  Pada saat kencing yang pertama ini,urin pasien dibuang.
§  Kira-kira 1 jam kemudian diambil5 ml darah fena dari penderita.
§  Kemudian pada saat  pasien kencing(misalkan P+2), uri9n pasien ditampung dan disimpan untuk pemeriksaan. Catatlah tepat dengan menit waktu itu.
§  Ukurlah tinggi dan berat badan pasien.
§  Tentukan volume urin yang dikeliarkan tadidan tentukan pula kadarureum urin.
§  Kadar ureum darah juga dipastikan.
  1. Pasca Analitik
Rumus perhitungan nilai ureum clearance:

U /B X V = UREA CLEARENCE (ml/menit)
Dik:
U = kadar ureum dalam urin
B = kadar ureum dalam darah
V = diuresa disebut dengan ml/menit

Nilai normal:
64-99 ml/mn

2.2 URIN
2.2.1 Mengenal Urine
                 Urin atau air seni maupun air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikanoleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Namun, ada juga beberapa spesies yang menggunakan urin sebagai sarana komunikasi olfaktori. Urin disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra.
                 Dari urin kita bisa memantau penyakit melalui perubahan warnanya. Meskipun tidak selalu bisa dijadikan pedoman namun Ada baiknya Anda mengetahui hal ini untuk berjaga-jaga. Urin merupakan cairan yang dihasilkan oleh ginjal melalui proses penyaringan darah. Oleh kaena itu kelainan darah dapat menunjukkan kelainan di dalam urin.
2.2.2 Komposisi Urine
                 Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misalnya glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam urin dapat diketahui melalui urinalisis. Urea yang dikandung oleh urin dapat menjadi sumbernitrogen yang baik untuk tumbuhan dan dapat digunakan untuk mempercepat pembentukan kompos. Diabetes adalah suatu penyakit yang dapat dideteksi melalui urin. Urin seorang penderita diabetes akan mengandung gula yang tidak akan ditemukan dalam urin orang yang sehat.
2.2.3 Pandangan Awal Mengenai Warna
1. Kuning jernih
                 Urin berwarna kuning jernih merupakan pertanda bahwa tubuh Anda sehat. Urin ini tidak berbau. Hanya saja, beberapa saat setelah meninggalkan tubuh, bakteri akan mengontaminasi urin dan mengubah zat dalam urin sehingga menghasilkan bau yang khas.
2. Kuning tua atau pekat
                 Warna ini disebabkan karena tubuh mengalami kekurangan cairan. Namun bila terjadi terus, segera periksakan diri Anda ke dokter karena merupakan tahap awal penyakit liver.
3. Kemerahan
                 Urin merah. Kondisi ini bisa menandakan gangguan batu ginjal dan kandung kemih. Namun bisa juga karena mengonsumsi obat pencahar maupun rifampisin secara berlebihan.
4. Oranye
                 Mengindikasikan penyakit hepatitis atau malaria. Pyridium, antibiotik yang biasa digunakan untuk infeksi kandung kemih dan saluran kencing juga dapat mengubah warna urin menjadi oranye.
                 Selain warna, bau urin juga bisa digunakan untuk mendeteksi penyakit. Misalnya pada penderita diabetes dan busung lapar, urin cenderung berbau manis, sementara jika seseorang mengalami infeksi bakteri E. coli, urinnya cenderung berbau menyengat.

2.2.4 Fungsi Urin
                 Fungsi utama urin adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau obat-obatan dari dalam tubuh. Anggapan umum menganggap urin sebagai zat yang "kotor". Hal ini berkaitan dengan kemungkinan urin tersebut berasal dari ginjal atau saluran kencing yang terinfeksi, sehingga urinnya pun akan mengandung bakteri. Namun jika urin berasal dari ginjal dan saluran kencing yang sehat, secara medis urin sebenarnya cukup steril dan hampir bau yang dihasilkan berasal dari urea. Sehingga bisa diakatakan bahwa urin itu merupakan zat yang steril.
                 Urin dapat menjadi penunjuk dehidrasi. Orang yang tidak menderita dehidrasi akan mengeluarkan urin yang bening seperti air. Penderita dehidrasi akan mengeluarkan urin berwarna kuning pekat atau cokelat.

2.2.5 Pemeriksaan Urine
                 Yang dimaksud dengan pemeriksaan urin rutin adalah pemeriksaan makroskopik, mikroskopik dan kimia urin yang meliputi pemeriksaan protein dan glukosa. Sedangkan yang dimaksud dengan pemeriksaan urin lengkap adalah pemeriksaan urin rutin yang dilengkapi dengan pemeriksaan benda keton, bilirubin, urobilinogen, darah samar dan nitrit.
1. Pemeriksaan Makroskopik
                 Yang diperiksa adalah volume, warna, kejernihan, berat jenis, bau dan pH urin. Pengukuran volume urin berguna untuk menafsirkan hasil pemeriksaan kuantitatif atau semi kuantitatif suatu zat dalam urin, dan untuk menentukan kelainan dalam keseimbangan cairan badan.
Pemeriksaan Makroskopik adalah pemeriksaan yang meliputi :
a) Volume urin
                 Banyak sekali faktor yang mempengaruhi volume urin seperti umur, berat badan, jenis kelamin, makanan dan minuman, suhu badan, iklim dan aktivitas orang yang bersangkutan. Rata-rata didaerah tropik volume urin dalam 24 jam antara 800--1300 ml untuk orang dewasa. Bila didapatkan volume urin selama 24 jam lebih dari 2000 ml maka keadaan itu disebut poliuri.
                 Bila volume urin selama 24 jam 300--750 ml maka keadaan ini dikatakan oliguri, keadaan ini mungkin didapat pada diarrhea, muntah -muntah, deman edema, nefritis menahun.
                 Anuri adalah suatu keadaan dimana jumlah urin selama 24 jam kurang dari 300 ml. Hal ini mungkin dijumpai pada shock dan kegagalan ginjal


b) Warna urin
                 Pemeriksaan terhadap warna urin mempunyai makna karena kadang-kadang dapat menunjukkan kelainan klinik. Warna urin dinyatakan dengan tidak berwarna, kuning muda, kuning, kuning tua, kuning bercampur merah, merah, coklat, hijau, putih susu dan sebagainya. Warna urin dipengaruhi oleh kepekatan urin, obat yang dimakan maupun makanan. Warna normal urin berkisar antara kuning muda dan kuning tua yang disebabkan oleh beberapa macam zat warna seperti urochrom, urobilin dan porphyrin.
c) Berat jenis urin
                 Pemeriksaan berat jenis urin bertalian dengan faal pemekatan ginjal, dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu dengan memakai falling drop, gravimetri, menggunakan pikno meter, refraktometer dan reagens 'pita'
d) Bau urin
                 Bau urin normal disebabkan oleh asam organik yang mudah menguap. Bau yang berlainan dapat disebabkan oleh makanan seperti jengkol, petai, obat-obatan seperti mentol, bau buah-buahan seperti pada ketonuria.
e) pH urin
                 Penetapan pH diperlukan pada gangguan keseimbangan asam basa, kerena dapat memberi kesan tentang keadaan dalam badan. pH urin normal berkisar antar 4,5 - 8,0. Selain itu penetapan pH pada infeksi saluran kemih dapat memberi petunjuk ke arah etiologi. Pada infeksi oleh Escherichia coli biasanya urin bereaksi asam, sedangkan pada infeksi dengan kuman Proteus yang dapat merombak ureum menjadi atnoniak akan menyebabkan urin bersifat basa.

2. Pemeriksaan Mikroskopik
                 Yang dimaksud dengan pemeriksaan mikroskopik urin yaitu pemeriksaan sedimen urin. Ini penting untuk mengetahui adanya kelainan pada ginjal dan saluran kemih serta berat ringannya penyakit

3. Pemeriksaan Kimia Urin
                 Di samping cara konvensional, pemeriksaan kimia urin dapat dilakukan dengan cara yang lebih sederhana dengan hasil cepat, tepat, spesifik dan sensitif yaitu memakai reagens pita. Reagens pita (strip) dari berbagai pabrik telah banyak beredar di Indonesia. Reagens pita ini dapat dipakai untuk pemeriksaan pH, protein, glukosa, keton, bilirubin, darah, urobilinogen dan nitrit.
a) Pemeriksaan glukosa
                 Dalam urin dapat dilakukan dengan memakai reagens pita. Selain itu penetapan glukosa dapat dilakukan dengan cara reduksi ion cupri menjadi cupro. Dengan cara reduksi mungkin didapati hasil positip palsu pada urin yang mengandung bahan reduktor selain glukosa seperti : galaktosa, fruktosa, laktosa, pentosa, formalin, glukuronat dan obat-obatan seperti streptomycin, salisilat, vitamin C. Cara enzimatik lebih sensitif dibandingkan dengan cara reduksi. Cara enzimatik dapat mendeteksi kadar glukosa urin sampai 100 mg/dl, sedangkan pada cara reduksi hanya sampai 250 mg/dl.
b) Benda- benda keton
                 Dalam urin terdiri atas aseton, asam asetoasetat dan asam 13-hidroksi butirat. Karena aseton mudah menguap, maka urin yang diperiksa harus segar. Pemeriksaan benda keton dengan reagens pita ini dapat mendeteksi asam asetoasetat lebllh dari 5--10 mg/dl, tetapi cara ini kurang peka untuk aseton dan tidak bereaksi dengan asam beta hidroksi butirat. Hasil positif palsu mungkin didapat bila urin mengandung bromsulphthalein, metabolit levodopa dan pengawet 8-hidroksi-quinoline yang berlebihan.
                 Dalam keadaan normal pemeriksaan benda keton dalam urin negatif. Pada keadaan puasa yang lama, kelainan metabolisme karbohidrat seperti pada diabetes mellitus, kelainan metabolisme lemak didalam urin didapatkan benda keton dalam jumlah yang tinggi.


c) Pemeriksaan bilirubin
                 Dalam urin berdasarkan reaksi antara garam diazonium dengan bilirubin dalam suasana asam, yang menimbulkan warna biru atau ungu tua. Garam diazonium terdiri dari p-nitrobenzene diazonium dan p-toluene sulfonate, sedangkan asam yang dipakai adalah asam sulfo salisilat.
                 Adanya bilirubin 0,05-1 mg/dl urin akan memberikan basil positif dan keadaan ini menunjukkan kelainan hati atau saluran empedu. Hasil positif palsu dapat terjadi bila dalam urin terdapat mefenamic acid, chlorpromazine dengan kadar yang tinggi sedangkan negatif palsu dapat terjadi bila urin mengandung metabolit pyridium atau serenium.
d) Pemeriksaan urobilinogen
                 Dengan reagens pita perlu urin segar. Dalam keadaan normal kadar urobilinogen berkisar antara 0,1 - 1,0 Ehrlich unit per dl urin. Peningkatan ekskresi urobilinogen urin mungkin disebabkan oleh kelainan hati, saluran empedu atau proses hemolisa yang berlebihan di dalam tubuh.
                 Dalam keadaan normal tidak terdapat darah dalam urin, adanya darah dalam urin mungkin disebabkan oleh perdarahan saluran kemih atau pada wanita yang sedang haid. Dengan pemeriksaan ini dapat dideteksi adanya 150-450 ug hemoglobin per liter urin. Tes ini lebih peka terhadap hemoglobin daripada eritrosit yang utuh sehingga perlu dilakukan pula pemeriksaan mikroskopik urin. Hasil negatif palsu bila urin mengandung vitamin C lebih dari 10 mg/dl. Hasil positif palsu didapatkan bila urin mengandung oksidator seperti hipochlorid atau peroksidase dari bakteri yang berasal dari infeksi saluran kemih atau akibat pertumbuhan kuman yang terkontaminasi.





BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapt diambil dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.    Asam urat merupakan sampah hasil metabolisme normal dari pencernaan      protein atau dari peguraian senyawa purin (sel tubuh yang rusak)
2.    Kreatinin adalah hasil akhir dari metabolisme keratin. Penyakit yang      ditimbulkan akibat kelebihan kadar kreatinin yaitu gagal ginjal
3.    Ureum adalah merupakan hasil akhir dari metabolisme protein yang      mengandung nitrogen.
4.    Penyakit yang diakibatkan karena kelebihan urem, kreatinin, asam urat yaitu      gagal ginjal
                 Urine merupakan hasil metabolisme tubuh yang dikeluarkan melalui ginjal. Dari 1200 ml darah yang melalui glomeruli permenit akan terbentuk filtrat 120 ml per menit. Filtrat tersebut akan mengalami reabsorpsi, difusi dan ekskresi oleh tubuli ginjal yang akhirnya terbentuk 1 ml urin per menit.
                 Secara umum dapat dikatakan bahwa pemeriksaan urin selain untuk mengetahui kelainan ginjal dan salurannya juga bertujuan untuk mengetahui kelainan-kelainan diberbagai organ tubuh seperti hati, saluran empedu, pankreas, korteks adrenal, uterus dan lain-lain.

3.2 Saran
                 Adapun saran yang ingin diajukan pada penulisan makalah ini adalah agar kita senantiasa selalu menjaga kesehatan dan pola hidup kita dimana salah satunya jangan mengkonsumsi alkohol dan minuman lainnya yang dapat merusak kesehatan ginjal.




DAFTAR PUSTAKA

Ganda soebrata. R . 1967. penuntun laboratorium klinik. Dian Rakyat. Jakarta.
Hardjoeno.H. 2006. Interpretasi Hasil Tes Laboratorium. Hasanuddin University Press. Makassar.
Irianto, Kusm, DRS . 2004. struktur dan fungsi tubuh manusia para medis. PT. Yrama Widya. Bandung.

 




Comments
0 Comments

No comments

Post a Comment

Recent Posts