Yazhid Blog

.

Sunday, 7 July 2013

Laporan Praktikum Pemeriksaan telur cacing metode fluotasi

I.                    Judul Praktikum                : Identifikasi Nematoda Usus Pada Sampel                                              ... thumbnail 1 summary
I.                   Judul Praktikum                : Identifikasi Nematoda Usus Pada Sampel                                                     Tinja metode Fluotasi ( Pengapungan )
II.                Tanggal Praktikum            : 19 April 2013
III.             Tujuan Praktikum              : Mengidentifikasi Keberadaan Telur Cacing                                                    Dalam Sampel Tinja
IV.             Prinsip Pemeriksaan          : Sampel diemulsikan kedalam larutan NaCl                                                    jenuh, dimana telur cacing akan                                                                  mengapung kepermukaan larutan                                                                     dikarenakan perbedaan berat jenis antara                                                 telur cacing dan larutan NaCl.
V.                Landasan Teori
Parasit merupakan kelompok biota yang pertumbuhan dan hidupnya bergantung pada makhluk lain yang dinamakan inang. Inang dapat berupa binatang atau manusia. Menurut cara hidupnya, parasit dapat dibedakan menjadi ektoparasit dan endoparasit. Ektoparasit adalah jenis parasit yang hidup di permukaan luar tubuh, sedangkan endoparasit adalah parasit yang hidup di dalam organ tubuh inangnya. Parasit yang hidup pada inangnya dalam satu masa/tahapan pertumbuhannya seluruh masa hidupnya sesuai masing-masing jenisnya (Setyorini dan Purwaningsih, 1999).
Manusia merupakan satu-satunya hospes Ascaris lumbricoides. Penyakit yang disebabkanya disebut askariasis. Cacing jantan berukuran 10-30 cm, sedangkan cacing betina 22-35 cm. Stadium dewasa hidup di rongga usus muda. Seekor cacing betina dapat bertelur sebanyak 100.000-200.000 butir sehari, terdiri telur yang dibuahi, dan yang tidak dibuahi. Telur yang dibuahi, besarnya kurang lebih 60x45 mikron dan yang tidak dibuahi 90x40 mikron. Dalam lingkungan yang sesuai, telur yang dibuahi berkembang menjadi bentuk infektif dalam waktu kurang lebih 3 minggu. Bentuk infektif ini, bila tertelan oleh manusia, menetas di usus halus. Larvanya menembus dinding usus halus menuju pembuluh darah atau saluran limfe, lalu dialirkan ke jantung, kemudian mengikuti aliran darah ke paru. Larva di paru menembus dinding pembuluh darah, lalu dinding alveolus, masuk ke rongga alveolus, kemudian naik ke trakea melalui bronkiolus dan bronkus. Dari trakea penderita batuk karena rangsangan ini dan larva akan tertelan ke esofagus, lalu menuju ke usus halus. Di usus halus, larva berubah menjadi cacing dewasa. Sejak telur matang tertelan sampai cacing dewasa bertelur diperlukan waktu kurang lebih 2 bulan (Gandahusada dkk, 1998).
Cacing ascaris lumbricoides merupakan jenis cacing gilig penyebab ascariasis pada manusia maupun hewan diseluruh dunia. Kejadian ascariasis sangat tinggi pada daerah tropis dan sub tropis cacing ini berparasit pada usus halus, infeksi dapat terjadi melalui pakan, air minum, melalui kolostrum dan uterus ( Levine, 1990 ).
















VI.             Alat Dan Bahan

A.    Alat Yang Digunakan             :

1.      Batang pengaduk
2.      Cover glass
3.      Mikroskop
4.      Objek gelas
5.      Pipet tetes
6.      Rak tabung
7.      Tabung reaksi

B.     Bahan Yang Digunakan          :

1.      Aquadest
2.      Garam dapur atau Kristal NaCl
3.      Tinja
4.      Tisu













VII.          Prosedur Kerja

1.      Buatlah larutan NaCl jenuh dengan melarutkan garam ke dalam aquadest
2.      Buatlah larutan emulsi larutan tinja dengan menggunakan larutan NaCl jenuh
3.      Pipet emulsi tinja dalam tabung reaksi, kemudian cukupkan volumenya dengan menggunakan NaCl jenuh sampai rata dengan permukaan tabung
4.      Letakkan cover glass diatas permukaan tabung reaksi sehingga menyentuh permukaan larutan, hindari terbentuknya gelembung
5.      Biarkan 3 menit, sampai telur cacing naik ke permukaan larutan
6.      Pindahkan cover glass tersebut diatas objek glass yang bersih dan kering
7.      Periksalah dibawah mikroskop dengan pembesaran 10x10.











VIII.       Data Pengamatan

A.    Makroskopis

1.      Bau                        : Khas
2.      Warna                    : Kuning kecoklatan
3.      Lendir                   : Tidak ada
4.      Konsistensi            : Padat
5.      Darah                    : Tidak ada

B.     Mikroskopis

1.      Telur                      : Negatif ( - )
2.      Larva                     : Negatif ( - )
3.      Eritrosit                 : Negatif ( - )
4.      Leukosit                : Negatif ( - )
5.      Epitel sel               : Positif ( + )
6.      Serat makanan       : Positif ( + )
7.      Granula pati          : Positif ( + )
8.      Tetesan minyak     : Positif ( + )
9.      Gelembung udara  : Positif ( + )


C.     Garmbar









Keterangan gambar :

1.     trichuris trichiura

  


IX.             Pembahasan
Pemeriksaan parasit dengan sampel feses pada manusia atau hospes dapat dilakukan dengan pemeriksaan kualitatif dan kuantitatif. Pemeriksaan feses secara kualitatif yaitu pemeriksaan yang didasarkan pada ditemukannya telur pada masing – masing metode pemeriksaan tanpa dihitung jumlahnya. Metode pemeriksaan yang termasuk dalam pemeriksaan kualitatif adalah pemeriksaan metode apung ( fluotasi ).
Pada praktikum ini metode yang digunakan yaitu metode pengapungan atau fluotasi. Pada metode ini menggunakan larutan NaCl jenuh atau larutan gula jenuh dan terutama dipakai untuk pemeriksaan feses yang sedikit telur.
Cara kerjanya didasarkan atas berat jenis telur yang lebih ringan dari pada berat jenis larutan yang digunakan, sehingga telur – telur terapung dipermukaan dan juga untuk memisahkan partikel – partikel yang besar yang terdapat dalam feses. Pemeriksaan ini hanya berhasil untuk telur – telur nematode.
Sampel yang digunakan dalam praktikum ini yaitu tinja yang diambil langsung dari manusia dengan criteria tertentu sekitar 5 – 6 jam sebelum praktikum. Penggunaan tinja dalam praktikum sebesar biji kelereng dan langsung dimasukkan ke dalam larutan NaCl yang disimpan dalam tabung reaksi kemudian dilarutkan sampai tidak ada feses yang menumpuk.
Pada permukaan tabung reaksi diletakkan cover glass sampai menyentuh permukaan larutan emulsi dan dibiarkan kurang lebih 3 menit tujuannya agar telur cacing nematode mengendap ke atas dan menempel pada cover glass. Jika pada proses pendiaman terlalu lama bisa menyebabkan telur cacing kembali jatuh kedalam larutan. Akibatnya dapat menimbulkan hasil negative palsu.
Sertelah dilakukan pendiaman diambil cover glass dan diletakkan diatas objek gelas yang bersih dan kering kemudian diperiksa dibawah mikroskop. Pada praktikum ini tidak didapatkan telur cacing dan dapat dinyatakan bahwa negative terhadap infeksi parasit atau terdapat kesalahan dalam pemeriksaan.
Kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi dalam pemeriksaan feses diantaranya adalah:
Ø  Kesalahan pemeriksa/praktikan (human error)
Kesalahan yang termasuk antara lain kesalahan saat melakukan pemeriksaan/melaksanakan praktikum, kesalahan dalam menggunakan alat dan bahan, dan kesalahan dalam pengambilan feses saat praktikum.
Ø  Kesalahan saat awal pengambilan feses
Kesalahan yang dimaksud yakni kesalahan saat pengambilan feses dari manusia/hospes, apakah diambil pada tempat pembuangan/kloset atau tidak langsung dari perianal, apakah tercampur dengan urin.
Ø  Kesalahan penyimpanan feses
Kemungkinan kesalahan saat proses penyimpana feses tidak dalam suhu rendah dan ruangan yang tidak steril.
Kelebihan dari metode fluotasi ( pengapungan ) yaitu tidak menyebabkan penumpukan telur cacing sehingga memudahkan dalam pemeriksaan telur cacing.




X.                Kesimpulan
Setelah dilakukan pemeriksaan telur cacing nematode usus pada sampel tinja, tidak ditemukan adanya telur cacing nematode usus yang menandakan bahwa sampel tidak terinfeksi parasit.





DAFTAR PUSTAKA

Gandahusada, Srisasi dkk. 1998. Parasitologi Kedokteran. Balai Penerbitan           FKUI, Jakarta.
Setyorini, A. C. dan Purwaningsih, E. 1999. Pengelolaan Koleksi Spesimen            Zoologi. Puslitbang Biologi-LIPI, Bogor.

Levine,ND. 1990. Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. Diterjemhakan oleh        Prof. Dr. Gatut Ashadi. Gadjah Mada University Press. Jakarta.

Recent Posts