Yazhid Blog

.

Tuesday, 23 April 2013

pemeriksaan telur cacing metode sedimentasi

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1   Latar Belakang Pembangunan disektor kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia... thumbnail 1 summary


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pembangunan disektor kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia. Penyakit cacingan termasuk salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kualitas Sumber Daya Manusia karena cacingan akan mempengaruhi status gizi, daya kognitif dan produktifitas kerja. Dalam rangka menuju indonesia sehat 2010, pembangunan kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional, pembangunan tersebut mempunyai tujuan untuk mewujudkan manusia yang sehat, produktif dan mempunyai daya saing yang tinggi. Salah atu ciri bangsa yang maju adalah bangsa yang mempunyai derajat kesehatan yang tinggi dengan mutu kehidupan yang tinggi pula.
Di indonesia masih banyak penyakit yang merupakan masalah kesehatan, salah satu diantaranya adalah cacing perut yang ditularkan melalui tanah. Cacingan ini dapat mengakibatkan menurunnya kondisi kesehatan, gizi, kecerdasan dan produktifitas penderitanya sehingga secara ekonomi banyak menyebabkan kerugian, karena menyebabkan kehilangan karbohidrat dan protein serta kehilangan darah, sehingga menurunkan kualitas sumber daya manusia.
Manusia merupakan hospes defenitif beberapa nematoda usus (cacing perut), yang dapat mengakibatkan masalah bagi kesehatan masyarakat. Diantara cacing perut tardapat sejumlah spesies yang ditularkan melalui tanah (soil transmitted helminths). Diantara cacing tersebut yang terpenting adalah cacing gelang (Ascaris lumricoides), cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus) dan cacing cambuk (Trichuris trichiura). Jenis – jenis cacing tersebut banyak temukan di daerah tropis seperti Indonesia.
Dalam diagnosis infeksi cacing usus secara parasitologi, bahan yang diperiksa adalah tinja penderita. Kepekaan suatu metode diagnosis sangat penting tidak hanya untuk menentukan ada tidaknya infeksi, namun juga untuk menguji keberhasilan penggunaan obat cacing yang dipakai dalam pengobatan. Ada beberapa metode pemeriksaan tinja  Dimana metode konsentrasi terdiri atas cara sedimentasi dan cara pengapungan. Baik sedimentasi maupun pengapungan lebih sensitif dibanding pemeriksaan langsung.

1.2    Tujuan
1.  Untuk mengetahui jenis cacing perut yang paling banyak mengakibatkan masalah bagi kesehatan masyarakat di Indonesia
2.  untuk mengetahui hospes, nama penyakit, distribusi geografik, lingkaran hidup, patofisiologi, gejala klinik, diagnosis, epidemiologi dan pengobatan dari cacing gelang ( Ascaris lumricoides ) , cacing tambang ( Ancylostoma duodenale ) dan cacing cambuk ( Trichuris trichiura ).
3.  untuk mengetahui cara identifikasi / pemeriksaan telur cacing cacing gelang ( Ascaris lumricoides ) , cacing tambang ( Ancylostoma duodenale ) dan cacing cambuk ( Trichuris trichiura ) menggunakan cara sedimentasi.
4.  untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari pemeriksaan telur cacing  dengan cara sedimentasi.
5.   Untuk mengetahui pencegahan dan pengobatan penyakit cacingan

1.3    Rumusan masalah
1.      Apa saja jenis cacing perut yang paling banyak menimbulkan masalah bagi kesehatan masyarakat di Indonesia ?
2.      Apa dan bagaimana  hospes, nama penyakit, distribusi geografik, lingkaran hidup, patofisiologi, gejala klinik, diagnosis, epidemiologi dan pengobatan dari cacing gelang ( Ascaris lumricoides ) , cacing tambang ( Ancylostoma duodenale ) dan cacing cambuk ( Trichuris trichiura ) ?
3.      Bagaimana cara identifikasi / pemeriksaan telur cacing cacing gelang ( Ascaris lumricoides ) , cacing tambang ( Ancylostoma duodenale ) dan cacing cambuk ( Trichuris trichiura ) menggunakan cara sedimentasi ?
4.      Apa kelebihan dan kekurangan dari pemeriksaan telur cacing dengan cara sedimentasi ?
5.      Bagaiman pengobatan dan pencegahan pada penyakit cacingan?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Jenis cacing perut yang paling banyak mengakibatkan masalah bagi kesehatan masyarakat di Indonesia

Manusia merupakan hospes defenitif beberapa nematoda usus (cacing perut), yang dapat mengakibatkan masalah bagi kesehatan masyarakat. Diantara cacing perut tardapat sejumlah spesies yang ditularkan melalui tanah (soil transmitted helminths). Diantara cacing tersebut yang terpenting adalah cacing gelang (Ascaris lumricoides), cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus) dan cacing cambuk (Trichuris trichiura). Jenis – jenis cacing tersebut banyak temukan di daerah tropis seperti Indonesia. Pada umumnya telur cacing bertahan pada tanah yang lembab, tumbuh menjadi telur yang infektif. Dalam diagnosis infeksi cacing usus secara parasitologi, bahan yang diperiksa adalah tinja penderita. Kepekaan suatu metode diagnosis sangat penting tidak hanya untuk menentukan ada tidaknya infeksi, namun juga untuk menguji keberhasilan penggunaan obat cacing yang dipakai dalam pengobatan. Ada beberapa metode pemeriksaan tinja, yaitu metode langsung dan metode konsentrasi. Dimana metode konsentrasi terdiri atas cara sedimentasi dan cara pengapungan. Baik sedimentasi maupun pengapungan lebih sensitif dibanding pemeriksaan langsung.

2.2  Hospes, nama penyakit, distribusi geografik, lingkaran hidup, patofisiologi, gejala klinik, diagnosis, epidemiologi dan pengobatan dari cacing gelang (Ascaris lumricoides), cacing tambang (Ancylostoma duodenale) dan cacing cambuk (Trichuris trichiura )

v  Cacing Gelang ( Ascaris lumricoides )

·           Hospes dan nama penyakit
Manusia merupakan satu – satunya hospes Ascaris lumricoides. Penyakit yang disebabkannya disebut askariasis.
·         Distribusi geografik
Parasit ini ditemukan kosmopolit. Survei yang dilakukan di indonesia antara tahun 1970 – 1980 menunjukkan pada umumnya prevalensi 70 % atau lebih.
·         Lingkaran hidup
Cacing jantan berukuran 10 – 30 cm, sedangkan betina 22 – 35 cm. Pada stadium dewasa hidup dirongga usus halus. cacing betina dapat bertelur sampai 100.000 – 200.000 butir sehari, terdiri dari telur yang dibuahi dan telur yang tidak dibuahi. Dalam lingkungan yang sesuai, telur yang dibuahi tumbuh menjadi bentuk infektif dalam waktu kurang lebih 3 minggu. Bentuk infektif ini bila tertelan manusia, akan menetas menjadi larva di usus halus, larva tersebut menembus dinding usus menuju pembuluh darah atau saluran limfa dan dialirkan ke jantung lalu mengikuti aliran darah ke paru – paru menembus dinding pembuluh darah, lalu melalui dinding alveolus masuk rongga alveolus, kemudian naik ke trachea melalui bronchiolus dan broncus. Dari trachea larva menuju ke faring, sehingga meninbulkan rangsangan batuk, kemudian tertelan masuk ke dalam esofagus lalu menuju ke usus halus, tumbuh menjadi cacing dewasa. Proses tersebut memerlukan waktu kurang lebih 2 bulan sejak tertelan sampai menjadi cacing dewasa.
·         Patofisiologi
Disamping itu gangguan dapat disebabkan oleh larva yang masuk ke paru – paru sehingga dapat menyebabkan perdarahan pada dinding alveolus yang disebut sindroma loeffter. Gangguan yang disebabkan oleh cacing dewasa biasanya ringan. Kadang – kadang penderita mengalami gangguan usus ringan seperti mual, nafsu makan berkurang, diare dan konstipasi. Pada infeksi berat, terutama pada anak - anak dapat terjadi gangguan penyerapan makanan ( malabsorbtion ). Keadaan yang serius, bila cacing menggumpal dalam usus sehingga terjadi penyumbatan pada usus ( ileus obstructive ).

·         Gejala klinik dan diagnosis
Gejala penyakit cacingan memang tidak nyata dan sering dikacaukan dengan penyakit - penyakit lain. Pada permulaan mungkin ada batuk – batuk eosinofilia. Orang ( anak ) yang menderita cacingan biasanya lesu, tidak bergairah, konsentrasi belajar kurang. Pada anak – anak yang menderita Ascariasis perutnya nampak buncit ( karena jumlah cacing dan kembung perut ) ; biasanya matanya pucat dan kotor seperti sakit mata ( rembes ), dan seperti batuk pilek. Perut sering sakit, diare, nafsu makan kurang. Karena orang ( anak ) masih dapat berjalan dan sekolah atau bekerja, sering kali tidak dianggap sakit, sehingga terjadi salah diagnosis dan salah pengobatan. Padahal secara ekonomis sudah menunjukkan kerugian yaitu menurunkan produktifitas kerja dan mengurangi kemampuan belajar. Karena gejala klinik yang tidak khas, perlu diadakan pemeriksaan tinja untuk membuat diagnosis yang tepat, yaitu dengan menemukan telur – telur cacing didalam tinja tersebut. Jumlah telur juga dapat dipakai sebagai pedoman untuk menentukan beratnya infeksi ( dengan cara menghitung telur ).
·         Epidemiologi
Telur cacing gelang keluar bersama tinja pada tempat yang lembab dan tidak terkena sinar matahari, telur tersebut tumbuh menjadi infektif. Infeksi cacing gelang terjadi bila telur yang infektif masuk melalui mulut bersama makanan atau minuman dan dapat pula melalui tangan yang kotor ( tercemar tanah dengan telur cacinh ).
·         Pengobatan
Pengobatan dapat dilakukan secara individu atau masal pada masyarakat. Pengobatan individu dapat digunakan bermacam – macam obat misalnya piperasin, pirantel pamoat, mebendazol atau albendazol. Pengobatan masal dapat dipilih obat dengan beberapa parsyaratan yaitu :
-          Mudah diterima dimasyarakat
-          Mempunyai efek samping yang minim
-          Bersifat polivalen sehingga dapat berkhasiat terhadap beberapa jenis cacing
-          Harganya murah ( terjangkau )
·         Prognosis
Pada umumnya askariasis mempunyai prognosis baik. Tanpa pengobatan, infeksi cacing ini dapat sembuh sendiri dalam waktu 1,5 tahun. Dengan pengobatan kesembuhan diperoleh antara 70 – 99 %.

v  Cacing cambuk ( Trichuris trichiura )

·         Hospes dan nama penyakit
Manusia merupakan hospes cacing ini. Penyakit yang disebabkan disebut trikuriasis.
·         Distribusi geografik
Cacing ini bersifat kosmopolt ; terutama ditemukan didaerah panas dan lembab seperti di indonesia.
·         Lingkaran hidup
Cacing betina panjangnya sekitar 5 cm dan yang jantan sekitar 4 cm. Cacing dewasa hidup di kolon asendens dengan bagian anteriornya masuk ke dalam mukosa usus. Satu ekor cacing betina diperkirakan menghasilkan telur  sehari sekitar 3.000 – 5.000 butir. Telur yang dibuahi dikeluarkan dari hospes bersama tinja, telur menjadi matang ( berisi larva dan infektif ) dalam waktu 3 – 6 minggu di dalam tanah yang lembab dan teduh. Cara infeksi langsung terjadi bila telur yang matang tertelan oleh manusia ( hospes ), kemudian larva akan keluar dari telur dan masuk kedalam usus halus sesudah menjadi dewasa cacing turun ke usus bagian distal dan masuk ke kolon asendens dan sekum. Masa pertumbuhan mulai tertelan sampai menjadi cacing dewasa betina dan siap bertelur sekitar 30 – 90 hari.


·         Patofisiologi
Cacing cambuk pada manusia terutama hidup di sekum dapat juga ditemukan di dalam kolon asendens. Pada infeksi berat, terutama pada anak cacing ini tersebar diseluruh kolon dan rektum, kadang – kadang terlihat pada mukosa rektum yang mengalami prolapsus akibat mengejannya penderita sewaktu defekasi. Cacing ini memasukkan kepalanya ke dalam mukosa usus hingga terjadi trauma yang menimbulkan iritasi dan peradangan mukosa usus. Pada tempat pelekatannya dapat menimbulkan perdarahan. Disamping itu cacing ini menghisap darah hospesnya sehingga dapat menyebabkan anemia.
·         Gejala klinik dan diagnosis
Infeksi cacing cambuk yang ringan biasanya tidak memberikan gejala klinis yang jelas atau sama sekali tanpa gejala. Sedangkan infeksi cacing cambuk yang berat dan menahun terutama pada anak menimbulkan gejala seperti diare, disentri, anemia, berat badan menurun dan kadang – kadang terjadi prolapsus rektum. Infeksi cacing cambuk yang berat juga sering disertai dengan infeksi cacing lainnya atau protozoa. Diagnosis dibuat dengan menemukan telur di dalam tinja.
·         Epidemiologi
Penyebaran penyakit ini adalah terkontaminasinya tanah dengan tinja yang mengandung telur cacing cambuk. Telur tumbuh dalam tanah liat, lembab dan tanah dengan suhu optimal ± 30˚ C. Infeksi cacing cambuk terjadi bila telur yang infektif masuk melalui mulut bersama makanan atau minuman yang tercemar atau melalui tangan yang kotor.
·         Pengobatan
Obat infeksi cacing cambuk adalah mebendazol / albendazol dan oksantel pamoat.




v  Cacing tambang ( Ancylostoma duodenale )

·         Hospes dan nama penyakit
Hospes parasit ini adalah manusia, cacing ini menyebabkan ankilostomiasis.
·         Distribusi geografik
Penyebaran cacing ini diseluruh daerah khatulistiwa dan di tempat lain dengan keadaan yang sesuai, misalnya di daerah pertambangan dan perkebunan. Prevalensi di Indonesia tinggi, terutama di daerah pedesaan sekitar 40 %.
·         Lingkaran hidup
Cacing dewasa hidup dirongga usus halus dengan giginya melekat pada mukosa usus. Cacing betina menghasilkan 9.000 – 10.000 butir telur sehari. Cacing betina mempunyai panjang sekitar 1 cm, cacing jantan kira – kira 0,8 cm, cacing dewasa berbentuk seperti huruf S atau C dan di dalam mulutnya ada sepasang gigi. Daur hidup cacing tambang adalah sebagai berikut : telur cacing akan keluar bersama tinja setelah 1 – 1,5 hari dalam tanah , telur tersebut menetas menjadi larva rabditiform. Dalam waktu sekitar 3 hari larva tumbuh menjadi larva filariform yang dapat menembus kulit dan dapat bertahan hidup 7 – 8 minggu di tanah. Setelah menembus kulit, larva ikut aliran darah ke jantung terus ke paru – paru. Di paru – paru menembus pembuluh darah masuk ke bronchus lalu ke trachea dan laring. Dari laring, larva ikut tertelan dan masuk ke dalam usus halus dan menjadi cacing dewasa. Infeksi terjadi bila larva filariform menembus kulit atau ikut tertelan bersama makanan.
·         Patofisiologi
Cacing tambang hidup dalam rongga usus halus tapi melekat dengan giginya pada dinding usus dan menghisap darah. Infeksi cacing tambang menyebabkan kehilangan darah secara perlahan – lahan sehingga penderita mengalami kekurangan darah ( anemia ) akibatnya dapat menurunkan gairah kerja serta menurunkan produktifitas. Tetapi kekurangan darah ( anemia ) ini biasanya tidak dianggap sebagai cacingan karena kekurangan darah bisa terjadi oleh banyak sebab.
·         Gejala klinik dan diagnosis
Gejala klinik karena infeksi cacing tambang antara lain tidak bergairah, konsentrasi belajar berkurang, pucat dan anemia.
·         Epidemiologi
Kejadian penyakit ini di indonesia sering ditemukan pada penduduk, terutama di daerh pedesaan khususnya di perkebunan atau pertambangan. Cacing ini menghisap darah hanya sedikit namun luka – luka gigitan yang berdarah akan berlangsung lama, setelah gigitan dilepaskan dapat menyebabkan anemia yang lebih berat. Kebiasaan buang air besar di tanah dan pemakaian tinja sebagai pupuk kebun sangat penting dalam penyebaran infeksi penyakit ini. Tanah yang baik untuk pertumbuhan larva adalah tanah gembur ( pasir, humus ) dengan suhu optimum 32 - 38˚ C. Untuk menghindari infeksi Manusia merupakan hospes defenitif beberapa nematoda usus (cacing perut), yang dapat mengakibatkan masalah bagi kesehatan masyarakat dapat dicegah dengan memakai sandal / sepatu bila keluar rumah.
·         Pengobatan
Obat untuk infeksi cacing tambang adalah pirantel pamoat, mebendazol dan albendazol.

2.3  Identifikasi / pemeriksaan telur cacing cara sedimentasi

·         Tujuan
Untuk mengidentifikasi adanya telur cacing gelang ( Ascaris lumricoides ), cacing tambang ( Ancylostoma duodenale ), dan cacing cambuk ( Trichuris trichiura ) pada tinja / faeces dangan cara sedimentasi.
·         Alat dan bahan
Alat :  
-     pemusing listrik
-          tabung sentrifuge vulume 15 ml yang dilengkapi dengan penutup
-          botol
-          kasa
-          corong
-          silinder berskala
-          swab kapas
Bahan :
-          larutan formaldehida
-          eter murni ( bila tidak ada, dapat dipakai petrol atau gasoline )
-          larutan sodium klorida
-          larutan iodin lugol
-          sampel tinja / faeces
·         Cara kerja
1.            Ambil kira – kira 2 ml tinja. Hancurkan dan campur larutan sodium klorida.
2.            Saring dengan dua lapis kasa, tampung pada tabung sentrifuge berskala ( dengan tanda angka 10 dan 13 ).
3.            Pusingkan dengan kecepatan medium selama 1 menit kemudian tuang supernatan. Bila supernatan masih keruh, endapan dicuci lagi dengan menambahkan 10 ml sodium klorida, pusingkan selama 1 menit dengan kecepatan medium dan buang supernatan.
4.            Tambahkan 10 ml formaldehida pada endapan.
5.            Campur dengan baik dan biarkan selama 5 menit.
6.            Tambahkan 3 ml eter atau petrol ( sampai di atas tanda 13 ). Yakinkan tidak ada api ( gas terbuka ) di dekat dan sekitar tempat pemeriksaan.
7.            Tutup tabung pegang pada satu sisi dan kocok selama 30 menit.
8.            Buka tutupnya secara hati – hati. Pusingkan dengan kecepatan rendah selama 1 menit. Akan tampak 4 lapisan pada tabung yaitu :
-          lapisan pertama : eter
-          lapisan kedua : debris
-          lapisan ketiga : larutan formaldehida
-          lapisan keempat : endapan mengandung telur dan kista parasit.
9.            Bebaskan lapisan debris dengan memutar ujung  pengaduk kayu diantaranya dengan tepi tabung. Balik tabung dan buang semua supernatan. Gunakan swab kapas untuk membuang semua debris yang menempel pada tepi tabung.
10.        Campur cairan yang tinggal dengan endapan dengan mengetuk – ngetuk dasar tabung.
11.        Teteskan didua tempat pada gelas benda masing – masing 1 tetes endapan. Tambahkan sedikit larutan iodin pada tetesan endapan kedua.
12.        Tutup dengan gelas penutup pada kedua tetesan. Periksa di bawah mikroskop.
Sediaan 1 ( tidak dicat ) : gunakan obyektif 10 X , 40 X . ( telur, larva )
Sediaan 2 ( dicat ) : gunakan obyektif 40 X ( kista )
Catatan :Ikuti cara yang sama, tetapi pada langkah nomor 1 digunakan aquades untuk mengganti larutan sodium klorida  ( jika tinja yang diawetkan dengan formaldehide ).
·         Hasil pengamatan
Pada pemeriksaan tinja secara sedimentasi semua protozoa, telur dan larva yang jika ada dalam tinja akan terdeteksi.

2.4  Kelebihan dan kekurangan dari pemeriksaan telur cacing cara sedimentasi dibanding cara pengapungan dan cara langsung.

Adapun kelebihan dan kekurangan dari pemeriksaan telur cacing cara sedimentasi dibanding cara pengapungan dan cara langsung adalah cara sedimentasi lebih sensitif sebab volume tinja yang diperiksa bisa lebih banyak, dengan demikian hasil negatif dari pemeriksaan langsung bisa menunjukkan hasil positif bila diperiksa dengan metode konsentrasi. Meskipun pada sediaan cara sedimentasi terdapat partikel – partikel tinja, namun semua protozoa, telur dan larva yang ada akan terdeteksi, telur – telur cacing tetap utuh dan tidak terdistorsi mengendap di dasar lubang. Dan cara ini juga merupakan cara yang lebih kecil kemungkinannya menjadi subjek kesalahan teknik.

2.5  Pencegahan dan pengobatan
·         Pencegahan
Upaya pencegahan cacingan dapat dilakukan melalui upaya kebersihan perorangan ataupun kebersihan lingkungan.
F Menjaga Kebersihan perorangan
a). Mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar dengan menggunakan air dan sabun.
b). Menggunakan air bersih untuk keperluan makan, minum dan mandi.
c). Memasak air untuk minum.
d). Mencuci dan memasak makanan dan minuman sebelum dimakan
e). Mandi dan membersihkan badan paling sedikit 2x sehari
f). Memotong dan membersihkan kuku.
g). Memakai alas kaki bila berjalan ditanah dan memakai sarung tangan bila melakukan pekerjaan yang berhubunga dengan tanah.
h). Menutup makanan dengan tutup saji untuk mencegah debu dan lalat mencemari makanan tersebut
F Menjaga Kebesihan lingkungan
a). Membuang tinja dijamban agar tidak mengotori lingkungan
b). Jangan membuang tinja, sampah atau kotoran disungai
c). Mengusahakan pengaturan pembuangan air kotor
d). Membuang sampah pada tempatnya untuk menghindari lalat dan lipas
e). Menjaga kebersihan rumah dan lingkungannya

·       Pengobatan
Pengobatan cacingan dilakukan sesuai dengan hasil pemeriksaan tinja.

BAB III
PENUTUP

3.1        Kesimpulan

·         Jenis cacing perut yang paling banyak mengakibatkan masalah bagi kesehatan masyarakat di Indonesia.
Diantara cacing perut tardapat sejumlah spesies yang ditularkan melalui tanah (soil transmitted helminths). Diantara cacing tersebut yang terpenting adalah cacing gelang (Ascaris lumricoides), cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus) dan cacing cambuk (Trichuris trichiura).
·         Identifikasi / pemeriksaan telur cacing cara sedimentasi.
Pada pemeriksaan tinja secara sedimentasi semua protozoa, telur dan larva yang jika ada dalam tinja akan terdeteksi.
·         Kelebihan dan kekurangan dari pemeriksaan telur cacing cara sedimentasi dibanding cara pengapungan dan cara langsung.
Adapun kelebihan dan kekurangan dari pemeriksaan telur cacing cara sedimentasi dibanding cara pengapungan dan cara langsung adalah cara sedimentasi lebih sensitif sebab volume tinja yang diperiksa bisa lebih banyak, dengan demikian hasil negatif dari pemeriksaan langsung bisa menunjukkan hasil positif bila diperiksa dengan metode konsentrasi. Meskipun pada sediaan cara sedimentasi terdapat partikel – partikel tinja, namun semua protozoa, telur dan larva yang ada akan terdeteksi, telur – telur cacing tetap utuh dan tidak terdistorsi mengendap di dasar lubang. Dan cara ini juga merupakan cara yang lebih kecil kemungkinannya menjadi subjek kesalahan teknik.
·         Pencegahan dan pengobatan
Upaya pencegahan cacingan dapat dilakukan melalui upaya kebersihan perorangan ataupun kebersihan lingkungan. Sedangkan pengobatan cacingan dilakukan sesuai dengan hasil pemeriksaan tinja.

3.2        Saran
 Upaya pencegahan cacingan dapat dilakukan melalui upaya kebersihan perorangan ataupun kebesihan lingkungan. Salah satu contohnya adalah cuci tangan sebelum makan dengan menggunakan sabun serta menjaga kebersihan rumah dan lingkungan.  





DAFTAR PUSTAKA


Http:///www.Cermin dunia kedokteran No. 124, 1999 39.htm

Gandahusada,srisasi,dkk. 2000. Parasitologi Kedokteran Edisi Ketiga. FKUI. Jakarta

Prasetyo,R heru. 2002. Pengantar praktikum helmintologi kedokteran edisi kedua. Airlangga universiti press. Surabaya.

Umar fahmi ahmadi. 2004. Pedoman umum program nasional pemberantasan cacingan di era desentralisasi. Depkes RI : jakarta.
Comments
0 Comments

No comments

Post a Comment

Recent Posts